The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Penyusup 2


__ADS_3

Wanita berambut pirang yang telah menyamar menjadi seorang pelayan dengan pandangan mendelik menatap Thomas yang ada dihadapannya.


"Katakan, apa Adrick Rudolf yang menyuruhmu untuk melakukan penculikan kepada putra Nyonya lexia?" Tanyanya.


Wanita itu tersenyum miring tiba-tiba tertawa lepas tanpa ketakutan sedikitpun di wajahnya. "Adrick Rudolf? Hahaha kau bisa bertanya padanya, jika dia memang yang menyuruhku melakukan penculikan ini." Ucapnya.


Thomas mengambil senjata lalu memainkan senjata itu di hadapannya. "Kau yakin tidak mau bicara? Saya yakin senjata ini lebih menyakitkan jika langsung menembus kulitmu dengan jarak sangat dekat seperti ini." Ucap Thomas dengan suara pelan tetapi dengan nada mengancam yang kental.


"Kalau kau begitu ingin menembak, tembakkan bodoh, kau pikir aku takut dengan ancaman remeh darimu? Sungguh kau pria bodoh, mau saja diperintah oleh wanita tidak tahu malu itu." Ucapnya geram.


"Tidak tahu malu?"


"Ya, dia tidak tahu malu, berani-beraninya dia menggoda Tuan Adrick." Tiba-tiba saja dia terdiam, menyesal karena berbicara terlalu banyak.


"Jadi, kau melakukan semua ini karena kau cemburu dengan perhatian Adrick kepada Nona lexia?" Ucap Thomas tenang.


"Beraninya kau menyebut Nama tuan Adrick dengan mulut kotormu, gara-gara wanita rendahan itu, dia mengalihkan segala perhatiannya demi wanita yang telah bersuami itu, dia tidak tahu malu, padahal sudah menikah tetapi masih berani menggoda lelaki lain, cih." Ucapnya.


"Jadi, kau salah satu pelayan Adrick Rudolf?" Tanyanya.


"Sudah kubilang panggil dia dengan Nama tuan, bodoh." Teriaknya.


Thomas tersenyum meremehkan lalu menatapnya tajam seakan dia tidak berharga sama sekali. "Kau pikir dia akan bersimpati dengan kelakuan memalukan pelayannya? Dia tentu saja malu memiliki pelayan yang memalukan sepertimu, bertindak tanpa sepengetahuan tuannya, apakah dia akan berterima kasih dengan tingkah memalukanmu ini? Mungkin saja ketika kau kembali dia akan melepaskan tembakan langsung di kepalamu itu." Ucap Thomas sambil tersenyum sinis meremehkan.


Wajahnya tiba-tiba saja menjadi pucat pasi, dia gemetar lalu menatap tajam Thomas. "Tu...tuanku akan mengampuniku, aku sudah mengabdi bertahun-tahun padanya." Ucapnya.


"Dan pelayannya itu dengan tidak tahu malu jatuh hati kepada tuannya, dia tentu akan berterima kasih dengan tingkah tidak tahu malu pelayannya itu." Thomas terkekeh melihat wajahnya kini berubah ketakutan.


~


Daren kembali ke mansion pada sore hari, dia membuka pintu mansion dan seperti biasa lexia menyambut kedatangannya lalu memberikan ciuman singkat di bibirnya.


"Bagaimana harimu sayang?" Tanyanya. Kemudian matanya beralih ke wajah lexia yang terlihat bengkak di bagian bibirnya dan terlihat membiru.


"Wajahmu? Ada apa dengan wajahmu lexia?" Tanyanya sambil memegang wajah lexia dan memberikan tatapan tajam kepada lexia agar dia menceritakan semua kepadanya.


"Ada seorang penyusup yang masuk kedalam mansion dan ingin membawa Axton, untungnya Sebelum dia membawanya, aku mengetahui tingkah anehnya dari cctv, dan menghajarnya." Ucap lexia mengangkat bahunya.


"Bagaimana bisa mansion ini di tembus oleh seorang penyusup??" Ucapnya marah. "Bagaimana Thomas menjaga mansion ini?" Ucap Daren Sambil menggelengkan kepalanya, dia sangat geram, wajah lexia terluka dan jika saja lexia tidak melawan pelayan itu, bisa-bisa putranya menghilang.


Sementara itu Xaphier sudah mengetahui kondisi di mansion dan segera pulang, dengan menahan rasa marahnya karena lagi-lagi mereka kecolongan, dan tindakan yang akan di ambilnya adalah menembak di tempat siapa saja yang mencoba masuk ke dalam mansionnya. Apalagi Nara istrinya yang sedang hamil hampir saja menjadi korban pukulan dari wanita penyusup itu.


~

__ADS_1


Daren dan Xaphier baru saja menginterogasi pelayan yang menyusup itu, meskipun dia berbicara jujur, Daren sama sekali tidak mempercayai ucapannya, bisa saja wanita itu berbohong demi menyelamatkan nama baik tuannya dan berpura-pura melakukan semua ini karena rasa cintanya.


"Bagaimana menurutmu Xaphier?" Tanya daren ketika mereka berada di ruang kerja Xaphier.


"Wanita itu terlihat meyakinkan ketika dia mengatakan kalau tindakannya itu atas keinginannya sendiri, dan bukan karena di perintah oleh Adrick." Ucap Xaphier.


"Meskipun begitu kita tidak bisa mempercayainya seratus persen, dia berani masuk ke dalam mansion, siapa yang memberikan akses masuk semudah itu?" Ucap Daren jengkel.


Xaphier tiba-tiba berdiri dan menekan tombol di ponselnya. "Thomas bereskan wanita itu, dia berani melukai Nara dan lexia." Ucapnya marah. Dia kemudian menghembuskan nafasnya.


"Kali ini, Adrick akan tahu jika kita tidak bermain-main dengannya, dia akan melihat pelayan setianya akan menghilang untuk selamanya." Ucap Xaphier dengan senyum mengerikan.


~


Halaman itu begitu luas di penuhi oleh pengawal berseragam hitam yang berdiri layaknya seperti patung dengan tampang kaku yang bengis tidak memiliki ekspresi, seseorang berjalan dengan cepat lalu mengetuk pintu ruangan yang berwarna hitam dengan garis panjang pada pintunya yang berbentuk ukiran.


"Masuk."


Pria itu membuka pintu dan segera melaporkan setiap kejadian yang terjadi di mansion tuan Caesaar.


"Ada berita apa?" Tanyanya.


"Tuan, Emm..salah satu pelayan yang bekerja di mansion tuan Rudolf sedang menyusup di kediaman Mansion tuan Caesaar dan ingin menculik putra Nyonya Lexia."


"Terus, di mana pelayan itu sekarang?"


"Karena ketahuan ingin menculik putra Nyonya lexia, pelayan itu sempat bertengkar dan berkelahi dengan Nyonya lexia dan saling merebut putranya, tetapi kemudian para penjaga datang dan menangkap pelayan itu, tuan." Ucapnya lagi.


Adrick kini mengalihkan perhatiannya kepada pria yang berbicara tenang di hadapannya, sorot matanya tajam dengan aura mengerikan di sekelilingnya.


"Bawa pelayan itu kepadaku." Perintahnya.


"Sayangnya, tuan Xaphier menyembunyikan keberadaan pelayan itu tuan, dan saya dengar dia sudah dibereskan oleh salah satu pelayan mereka bernama Thomas karena dia berani melukai Nyonya lexia dan hampir melukai istri tuan Xaphier." Ucapnya lagi.


"Hem, benarkah? Pantas baginya untuk mendapatkan hukuman seperti itu karena berani melukai lexia, kau boleh pergi." Perintahnya.


"Baik tuan."


Pria itu kemudian pergi lalu menutup pintu ruangan Adrick. Matanya masih terpaku di tempat pria itu berdiri, seringainya tiba-tiba muncul dengan wajah mengerikan.


"Sepertinya kau tidak main-main Xaphier, meskipun pelayan itu bodoh melakukan hal tidak berguna seperti itu tetapi kau juga harus kehilangan barang berharga milikmu bukan? Setidaknya kita impas dan kehilangan orang-orang kita masing-masing.


~

__ADS_1


Rentetan kejadian mengerikan di mansion tuan Caesaar membuat Daren tidak tenang berangkat bekerja esok harinya, dia sangat khawatir dengan kejadian yang baru saja menimpa lexia dan putranya.


"Sayang, kau baik-baik saja?" Tanya lexia setelah makan malam usai dan menggendong Ax dari ruang bermain menuju ruangan Daren dan duduk di sampingnya.


"Hemm ya aku baik-baik saja sayang." Ucap Daren sambil memijat-mijat keningnya.


"Kau sakit kepala ya?" Lexia mendudukkan Ax di kursi lalu mulai memijat-mijat pelan kepala daren.


"Bagaimana? Sudah mendingan? Lihat, Ax khawatir melihat ayahnya tertunduk seperti itu." Ucap lexia menatap Ax yang memperhatikan Ayahnya di pijat dengan mata bulatnya yang bersinar, sambil bertepuk tangan dan mengarahkan tangan kecilnya kepada Daren.


"Mm mommy?" ucap Ax terbata-bata dengan suara gemasnya.


Daren tersenyum dan kemudian mengambil Ax dan memangkunya di atas pangkuannya lalu memeluknya.


"Aku takut lexia...aku takut sesuatu menimpamu dan Ax seperti kejadian kemarin dan aku tidak ada di sana." Ucap Daren lalu bersandar di kursinya. Lexia kemudian duduk di sampingnya masih memijat-mijat kening Daren perlahan.


"Tidak usah khawatir Daren, aku akan melindungi Ax, bagaimanapun juga, Hem bagaimana sakit kepalamu? Sudah merasa mendingan?" Tanyanya.


Daren memegang tangan lexia yang berada di keningnya lalu menautkan jari-jari mereka dengan erat kemudian memeluknya.


"Kalian berdua sangat penting dalam hidupku, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi, aku akan langsung menembak kepala pria itu jika dia masih berulah lagi dan membahayakanmu dan Axton." Ucap Daren sambil memeluk erat lexia dan Axton.


~


Matahari telah bersinar di pagi itu, Xaphier perlahan membuka kedua matanya dan mengalihkan pandangannya kepada istrinya yang masih terbuai di alam mimpinya. Xaphier menatapnya lalu memberikan kecupan selamat pagi.


Dia kemudian berbaring dengan merentangkan tubuhnya, sambil berpikir mengenai kejadian kemarin, dia begitu risau ketika melihat cctv kemarin malam, Nara hampir saja dipukul oleh pelayan itu, jika saja lexia tidak menarik rambutnya, Nara pasti terkena pukulan. Xaphier tiba-tiba bangun dari tidurnya, menatap Sebentar Nara kemudian bangun dan masuk ke dalam kamar mandi, dia ingin bertemu dengan semua penjaga yang ada di mansion ini mengenai penyusup yang bisa lolos, padahal pengamanan di mansion ini begitu ketat.


Dia harus tahu dalang orang yang memiliki akses masuk ke dalam mansion ini. Xaphier melangkah perlahan, matanya menatap tajam puluhan pengawal yang berdiri di hadapannya. 'Siapa sebenarnya pengawal yang berani-berani mengkhianatinya sampai-sampai akses mansion ini begitu mudah di tembus? Xaphier kemudian berdiri di hadapan mereka semua dan mulai berbicara.


"Kejadian akhir-akhir ini sungguh memalukan." Ucap Xaphier menatap mereka tajam.


"Saya ingin memberitahu kepada kalian semua, jika mendapati penyusup yang masuk ke mansion ini segera saja tembak di tempat, biar mereka tahu hukuman yang patut mereka dapatkan jika masih berani menyusup di kediamanku." ucap Xaphier jelas.


Mereka semua menjawab serentak. "Baik tuan." Seseorang menatap tajam Xaphier lalu tersenyum miring, setelah itu dia kemudian menunduk. Pria itu berada di barisan bagian belakang, memantau dan mengintai setiap pergerakan mereka yang ada di sana.


~


Lexia dan Daren berencana berjalan-jalan bersama di pantai pagi itu, Daren yang meluangkan waktu dari kesibukan kantornya untuk istri dan Putranya.


"Hari ini kita akan berjalan-jalan bersama ke pantai." Ucap lexia sambil membiarkan Ax berdiri di pangkuannya sambil bertepuk-tepuk tangan senang.


"Daren aku tidak menyiapkan apapun untuk makan siang kita, hanya peralatan Ax saja yang aku bawa." Ucap lexia terkejut sendiri, bagaimana bisa dia begitu lupa untuk membuat makanan selagi mereka akan pergi liburan.

__ADS_1


"Tidak masalah sayang, kita bisa makan siang di salah satu restaurant di sana." ucapnya. Mata Daren memperhatikan mobil SUV berwarna hitam mengikuti mereka dari Mansion sampai sekarang, daren mencoba bersikap tidak terjadi apa-apa agar mobil itu tidak mencurigai jika Daren sudah mengetahui keberadaan mereka.


__ADS_2