
Alat pelacak di kalung lexia membawa Daren dan Xaphier ke titik keberadaan lexia, dengan jantung berdebar Daren akhirnya menuju ke tempat lexia berada, segala perasaannya saat itu menjadi satu, Daren mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Menuju ke tempat lexia berada.
~
Setelah saling melepas rindu, mereka berdua masih berpelukan. "Kau tidak menghubungiku lexia? Kenapa kau tidak segera meneleponku? Berbulan-bulan aku mencarimu seperti aku akan gila ketika aku tidak menemukanmu." Daren menarik wajah lexia kearahnya sesekali memberikan kecupan singkat di bibirnya.
Lexia menyandarkan kepalanya di dada bidang Daren dan menutup matanya merasakan aroma yang sangat di rindukannya.
"Aku takut mereka kembali mengejarku daren dan akan melukai bayi kita." Ucap lexia. Dia merekatkan tangannya di pinggang Daren, kemudian dia mendongakkan kepalanya menatap wajah Daren yang sedikit di tumbuhi jenggot di dagunya. "Kau tidak bercukur?" Tanya lexia yang menatapnya dan mengelus dagu Daren yang kasar.
"Aku akan melakukannya sayang, aku tahu kalau kau tidak suka jika aku ditumbuhi janggut seperti ini." Ucap Daren menatapnya dengan sayang.
"Kita kembali ke rumah, aku kedinginan." Bisik lexia. Mereka berjalan sambil bergandengan, Daren mengamati lexia yang perutnya sudah membesar, dia terlihat sangat seksi dengan kehamilannya sekarang. "Ada apa?" Tanya lexia, karena Daren tidak berhenti menatapnya.
"Kau terlihat sangat cantik." Bisik daren sambil memegang erat tangan lexia.
"Ck, Daren sudah lupa diri ketika bertemu dengan lexia, mereka lama sekali." Ucap Xaphier menatap mereka yang berjalan setelah begitu lama saling berpelukan. Nara mengernyitkan alisnya ketika menatap Xaphier.
"Setelah lima bulan baru bertemu tentu saja mereka akan melepaskan rindu paman, anak kecil saja tahu." Ucap Nara sambil menggelengkan kepalanya ketika menjawab pertanyaan Xaphier. Mendengar ocehan gadis ini, Xaphier menatap wajah Nara, lalu dia berdiri di hadapannya mengganggu ketenangan Nara yang melihat lexia dan daren.
"Ada apa paman?" Tanyanya. Sambil mendongakkan kepalanya menatap pria tinggi yang menghalangi pemandangan dihadapannya.
"Siapa namamu?" Tanya Xaphier sambil tersenyum miring, tidak ada seorangpun wanita yang pernah berbicara kasar kepadanya selain lexia.
"Namaku? Untuk apa paman tahu?" Ucap Nara cuek, dia mengabaikan pertanyaan Xaphier dan menaikkan satu alisnya lalu berjalan meninggalkannya. Xaphier tersenyum miring menatap gadis kecil yang mengabaikan dirinya, tidak ada seorangpun yang berani melakukan hal itu kepadanya, dan xaphier benci dengan sikap pura-pura Nara yang mengabaikannya, semua wanita seperti itu, berpura-pura dihadapannya setelah itu mereka akan membuang dirinya ke pelukan Xaphier.
Nara kembali ke rumah bibi Elma diikuti oleh Xaphier di belakangnya.
Daren menatap rumah kecil yang di sebut rumah oleh lexia. Rumah itu sangat asri dan indah meskipun kecil, karena lexia merawat bunga-bunga untuk mengisi hari-harinya selam bersembunyi di tempat ini, selain itu dia banyak belajar memasak dari bibi Elma dan belajar bersama Nara, dia sangat senang dan menikmati waktunya bersama mereka semua. Hari-harinya diisi dengan mereka yang menyayanginya, hingga lexia merasakan mereka semua seperti keluarga lexia sendiri.
Lexia menyalakan lampu di rumahnya dan mempersilahkan Daren dan xaphier untuk duduk di ruang tamunya kecil namun rapi dan nyaman. Foto berukuran besar lexia sedang tersenyum dengan memegang perutnya di tepi danau yang melekat di dinding rumah itu membuat Daren melepaskan foto itu dari tempatnya.
"Apa yang kau lakukan Daren?" Tanya Xaphier ketika Daren berusaha melepaskan foto itu dan mengambilnya. "Aku akan membawa foto ini pulang bersama kami." Ucapnya. Xaphier hanya menggelengkan kepalanya. "Apakah seperti ini model pria yang sudah jatuh ke jurang cintanya lexia?" Ucap Xaphier mengejek.
"Aku tidak mau meninggalkan foto ini di sini ketika kami kembali nanti." Ucap Daren.
"Kenapa anda melepasnya paman?" Ucap bocah cilik berumur 5 tahun menatap tidak suka dengan kedatangan Daren dan xaphier. "Jangan mengganggu lexiaku." Ucap eric menunjuk Daren dengan marah.
"Ck, kau memiliki saingan Daren, lihat saja tingkah bocah kecil ini sangat bossy." Ucap Xaphier. Eric mempelototi daren yang juga menatap eric dengan pandangan persaingan. "Siapa kau bocah cilik, foto ini adalah foto istriku." Ucap Daren dengan tersenyum miring kepada bocah cilik itu.
"Bohong ! Lexia akan menikah denganku jika aku sudah besar nanti." Ucap eric sambil menunjuk-nunjuknya. Daren menyilangkan kedua tangannya lalu menatap angkuh kepada Eric.
"Sayang sekali bocah kecil, karena aku adalah suami lexia, kau lihat perut lexia yang besar? Bayi itu adalah bayi kami, sayang sekali kau harus menyerah." Ucap Daren dengan angkuh. Xaphier menggelengkan kepalanya melihat tingkah daren yang terlihat cemburu hanya karena anak kecil.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan Daren, dia nanti akan menangis!" Ucap lexia membawa nampan berisi dua cangkir kopi untuk mereka berdua.
Lexia menghampiri Eric yang cemberut dan sebentar lagi akan mengeluarkan air matanya.
"Eric kenapa? Mau makan biskuit?" Tanya lexia. Eric mengangguk sambil tersenyum ceria ketika lexia berada di sampingnya.
Lexia mengambilkannya biskuit, Eric segera mengambilnya dan mengecup pipi lexia. Dia kemudian menatap daren dan menjulurkan lidahnya kemudian dia berlari keluar rumah.
"Haha, bocah itu tidak menyukai Daren, tentu saja dia saingan beratmu Daren." Ucap Xaphier sambil menyeruput kopi buatan lexia. "Em, kopi ini lezat." Ucap Xaphier.
"Kau akan menginap di sini atau kau akan pulang malam ini?" Tanyanya kepada Daren.
"Aku akan menginap, besok pagi kami akan pulang, aku akan memberikan kesempatan kepada lexia untuk bersama teman-temannya di sini sehari." Ucap Daren sambil menarik tangan lexia dan mendudukkannya di pangkuannya.
"Baiklah, aku akan pulang malam ini sebaiknya aku pergi sebelum terlalu larut." Ucap Xaphier. Dia kemudian berdiri dan mengenakan mantelnya dia meminum habis kopinya dan segera keluar dari rumah lexia.
"Jika kalian sudah tiba hubungi aku, ayah ingin bertemu denganmu lexia." Ucap Xaphier tersenyum kemudian dia keluar dari rumahnya menuju ketempat parkiran mobilnya. Tiba-tiba ingatannya teringat dengan gadis bermata biru yang mengabaikannya. Dia menatap rumah kayu yang kedengaran berisik, dia kemudian masuk ke dalam dan mulai mengendarai mobilnya.
Daren menutup pintu rumah lexia dan duduk di sana sambil menarik tubuh lexia agar duduk di pangkuannya. "Kau tidak merindukanku sayang?" Bisik daren memeluk tubuhnya dengan hati-hati.
Lexia menyandarkan tubuhnya di tubuh Daren, dia memainkan jari-jarinya di dada bidang Daren. "Aku tentu saja merindukanmu daren." Ucapnya lalu menyembunyikan wajahnya di dada Daren, menjalarkan tangannya kedalam kemeja daren.
Tanpa mengatakan apapun Daren mengangkat tubuh lexia perlahan, dan masuk ke dalam kamar tidur lexia yang kecil, tempat tidurnya tidak terlalu besar seperti yang ada di villa tetapi cukup untuk mereka berdua. Daren membaringkan tubuh lexia dan memeluknya erat, membisikkan kata-kata cinta di telinga lexia membuat lexia tidak tahan akan sentuhan tangan Daren yang ahli.
~
"Benarkah suami lexia ada di sebelah, Nara?" Tanya bibi Elma sambil membuat susu cokelat hangat untuk Eric dan anak-anak lainnya.
"Dia ada di sebelah bersama dengan lexia, mungkin besok lexia akan kembali bersama suaminya kembali ke rumahnya." Ucap Nara sambil menyeruput coklat hangat itu.
"Benarkah?" Wajah bibi Elma terlihat sedih, tetapi dia menepisnya. "Tentu dia harus pulang apalagi lexia sedang hamil, dia butuh bersama suaminya." Ucap bibi Elma sambil mencuci beberapa piring yang ada di westafel.
~
Malam itu begitu spesial bagi lovelia, karena dia sudah kepesta untuk ke tiga kalinya walaupun bersama dengan ibunya, dia ingin sekali sesekali paman Alvin yang mengajaknya untuk pergi ke pesta seperti ini.
Sesampainya di ball room Barbara membisikkan sesuatu kepada lovelia. "Ibu pergi sebentar, kau carilah pria tampan dan nanti kenalkan pada ibu." Bisiknya. Lovelia hanya menggelengkan kepalanya mendengarkan nasehat aneh ibunya.
Lovelia berjalan dan mencoba terbiasa dengan suasana pesta yang ramai seperti ini, seseorang menabrak pundaknya dengan tidak sengaja, dia berbalik dan menatap wajah pria yang pernah di lihatnya.
"Eh, bukankah dia teman lexia? Siapa namanya? Em..Ya, dia Edoardo. Apa yang dilakukannya di sini?" Ucap lovelia melihatnya berjalan mendekati seseorang dan berbicara dengannya lalu sedikit menunduk. "Apa dia bekerja dengan orang itu?" Ucap lovelia memperhatikannya yang berjalan menjauh.
Lovelia masih berdiri seorang diri di tempat itu, dia berinisiatif mengambil minuman yang lebih ringan dan tidak keras, dia memilih minuman bersoda yang tersaji di atas nampan yang di bawa oleh seorang pelayan, tiba-tiba matanya teralihkan, paman Alvin baru saja tiba di pesta itu, lovelia tersenyum senang, dia hendak menghampiri pamannya Alvin tetapi sesuatu menghentikan langkahnya, matanya menatap wajah cantik seorang wanita yang bergandengan tangan dengan Alvin.
Tubuhnya menjadi kaku, dia tidak bisa bergerak, dia melihat wajah bahagia pamannya yang tersenyum senang menatap wanita yang ada di sampingnya. Lovelia mundur beberapa langkah, menghilang dan bersembunyi balik pilar besar berwarna putih, matanya tiba-tiba saja memanas, dia tidak kuasa menahan air matanya yang ingin mengalir.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?" Ucap pria itu menghampiri lovelia. Wajahnya terlihat khawatir melihat kesedihan di wajah lovelia. Lovelia menghapus air matanya dengan tangannya.
"Gunakan ini, aku kebetulan membawa sapu tangan." Ucap Edo. "Jika kau sakit sebaiknya duduk di sana saja, di sini tidak ada kursi." Ucapnya lagi. Setelah saling menatap dengan canggung, Edo meninggalkan lovelia yang menatap punggungnya menjauh.
~
Suara napas mereka menggema di kamar kecil itu, bertahan dari dekapan Daren selama 5 bulan bukan waktu yang singkat bagi keduanya, mereka bergerak seirama dan memainkan tempo dengan irama yang aman, Daren harus melakukannya perlahan karena perut lexia sudah besar dan dia harus melakukannya dengan aman.
"Kau baik-baik saja lexia?" Bisik daren di sela-sela pergerakannya, lexia tidak bisa menjawabnya karena napasnya yang memburu, Mereka larut dengan percintaan mereka berdua hingga kelelahan melanda keduanya, mereka berhenti ketika fajar hampir menyambut mereka berdua.
~
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 mereka masih terlelap karena aktivitas panas mereka semalaman.
"Kenapa lexia belum bangun juga? Aku ingin sarapan bersama lexia, di mana lexia." Rengek Eric di depan halaman rumah lexia. "Kenapa sih mereka belum bangun?" Teriak Eric.
Nara menutup mulut Eric yang merengek-rengek.
"Jangan berisik Eric, lexia pasti kelelahan, jadi jangan membangunkannya, ayo kita berangkat ke sekolah, aku akan mengantarmu dengan sepedaku." Ucap Nara memegang sepeda bututnya berwarna merah, wajah cantiknya membingkai dengan senyuman sambil menaikkan alisnya kepada Eric yang menjulurkan lidahnya kepada Nara.
"Naik saja sendiri aku mau naik bis sekolah." Ucap eric sambil berlari meninggalkan nara yang tertawa melihat bocah kecil itu. Nara naik ke sepedanya dan segera berangkat kerja di pagi hari.
~
Lexia membuka kedua matanya, dia menatap wajah tampan itu masih tertidur lelap dengan bibirnya sedikit terbuka. lexia merona mengingat percintaannya semalam bersama daren, mengapa dirinya seperti ini semenjak kehamilannya? tubuhnya begitu sensitif, apalagi sentuhan daren membuat lexia tidak tahan untuk menyerang Daren.
lexia bangun dari pembaringannya, lalu menarik selimut agar tubuh telanjangnya dapat tertutupi, dia segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan ingin menyiapkan sarapan untuk Daren. "Ukh aku lupa, Eric pasti kesal karena aku tidak mengantarnya menunggu bis sekolah." ucap lexia setelah keluar dari kamar mandi, dia segera mengenakan dressnya dan bersiap-siap ke dapur membuatkan Daren sandwich dan kopi asli di daerah itu.
Daren membuka kedua matanya dan Melihat disampingnya sudah kosong, dia mencium aroma harum kopi buatan lexia, semenjak lexia membuat kopi itu, Daren seakan terhipnotis dengan wangi dan rasanya yang lebih enak di bandingkan kopi yang sering diminumnya di kantor atau dibelinya.
Daren bangun dari tidurnya dan segera mandi, dia melihat t-shirt dan jeans hitam sudah tersedia di sana, lexia rupanya mempersiapkan kedatangan Daren jika dia menjemputnya kelak dan membelikan pakaian itu dari pasar.
Setelah mandi, Daren segera menghampiri lexia dan memberikan kecupan manis selamat pagi. "emm aku sangat suka wanginya sayang." ucap Daren sambil menyeruput secangkir kopi dan memakan sepotong sandwich.
"Siang ini kita akan segera pergi lexia, aku ingin kau berpamitan kepada mereka." ucap daren yang sibuk dengan menyeruput secangkir kopinya. Lexia mengalungkan tangannya di tubuh Daren. "Aku ingin sesekali kita berkunjung kembali ke sini." ucap lexia.
"erm..kau ingin berkunjung lagi karena pacar kecilmu itu yang akan kau temui?" bisik daren dia merujuk pada Eric yang mengatakan akan menikahi lexia ketika dia besar nanti, hal itu membuat lexia tertawa. "kau sungguh konyol Daren." ucap lexia menarik hidungnya yang mancung.
Pagi itu lexia ingin berpamitan kepada mereka semua Sebelum mereka berdua pergi, Elma memeluk lexia dan menepuk-nepuk punggungnya. "Jika kau bertengkar lagi kau bisa datang kapan saja kemari, kami akan menyambutmu dengan tangan terbuka sayang, kami akan merindukanmu lexia." ucap bibirnya.
"Aku akan berkunjung bibi, jaga kesehatanmu." ucap lexia sambil memeluknya erat. Mata bibi Elma tertuju kepada Daren. "Jangan bertengkar lagi, kalian harus saling menjaga dan menyayangi." ucapan bibi Elma membuat Daren menaikkan alisnya lalu menatap lexia.
"bertengkar, kapan kita bertengkar sayang?" bisik daren membuat pipi lexia merona. Hari itu mereka akhirnya pergi setelah mengucapkan selamat berpisah dan saling berpelukan. Daren bersalaman kepada bibi Elma dan tiba-tiba memberikan sesuatu kepada bibi Elma di tangannya.
"Gunakan ini mungkin saja membantu untuk tempatmu." ucap Daren, lalu masuk ke dalam mobilnya menunggu lexia yang masih saling berpamitan.
__ADS_1