The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Alvin 2


__ADS_3

Restaurant dengan nuansa Mediterania berada tidak jauh dari kediaman Burchard, tempat itu yang menjadi sasaran lexia untuk menemui Alvin tangah malam ini, entah bagaimana caranya lexia harus keluar dari mansion Burchard, untung saja edo ada di sana membantunya mengendap-endap, apalagi sekarang penjagaan lexia cukup berkurang karena kesibukan daren akhir-akhir ini membuatnya sering keluar kota atau pergi ke beberapa negara di Eropa dalam beberapa hari.


Restauran dengan nuansa Eropa kuno itu mengusung konsep mediterania dengan dominasi bergaya Spanyol abad pertengahan, tempat itu begitu nyaman dan tenang, dinding yang bertekstur kasar dengan beraksen batu bata merah, serta lantai yang juga di dominasi keramik warna warni semakin mengentalkan restaurant itu dengan gaya kunonya namun tetap bergaya klasik yang nyaman.


Atas bantuan Edo, lexia sudah duduk di salah satu meja yang cukup privat, dia dan Edo menunggu kedatangan Alvin yang belum datang juga.


"Berhenti menggoyangkan kakimu lexia, lihat meja ini bergetar." Ucap Edo sambil menyeruput cola yang di pesannya.


"Diamlah, aku sedang konsentrasi dengan kalimat yang akan aku sampaikan kepadanya Sebentar." Ucap lexia sambil menggigit sepotong pizza yang dipesannya.


"Konsentrasi? Tapi mulutmu tidak berhenti mengunyah."


"Kalau aku tegang aku menjadi lapar, jangan berisik aku mau menyusun kalimat-kalimatku kepada pria itu." Ucap lexia yang mengambil potongan kedua pizza-nya.


Mobil mewah itu terparkir di pelataran restaurant pizza dengan nama Mediterania Pizza, dia keluar dari mobilnya lalu melirik ke bangunan tua itu, dia berjalan sendiri dan kemudian masuk ke dalam restaurant. Dia mengedarkan pandangannya lalu akhirnya menatap dua orang yang duduk cukup jauh dari pintu masuk.


Lexia membelalakkan matanya dan menyenggol kaki Edo.


"Psst, dia datang." bisik lexia.


Alvin melangkahkan kakinya mendekati meja tempat lexia duduk, senyuman masih melekat di wajahnya meskipun dia mengetahui siapa lexia.


"Lovelia, ah bukan lexia Kenzo bukan?" Ucapnya, dia lalu duduk di depan lexia dan Edo yang menatapnya dengan wajah tegang.


Matanya teralihkan dengan kehadiran Edo di samping lexia.


"Kau tidak sendirian lexia." Ucap Alvin.


"Dia temanku, jangan perdulikan dia." Ucap lexia dengan wajah yang ingin dibuat sedatar mungkin tetapi kakinya masih bergoyang di bawah sana.


'Berhenti menggoyangkan kakimu bodoh.' ucap Edo menyenggol kaki lexia yang tidak mau berhenti bergerak.


'Diamlah, jangan bicara.' bisik lexia.


Alvin lalu tertawa melihat mereka berdua. "Tidak perlu tegang lexia, kau hanya cukup menjawab semua pertanyaanku." Ucapnya.

__ADS_1


Wajah Alvin kembali serius, "Ceritakan kepadaku, mengapa daren ingin menyembunyikan lovelia, keponakanku yang asli?" Ucapnya.


Lexia menatapnya sekilas lalu melirik kepada Edo, wajahnya kembali menatap pria yang duduk di hadapannya, kali ini lexia sudah melepaskan softlensnya sehingga warna matanya yang berwarna safir cerah begitu nampak jelas terlihat.


"Love..lovelia memiliki penyakit... tubuhnya maupun wajahnya tidak bisa di lihat, dia harus berada di tempat yang steril setiap waktu, tubuhnya terus menerus melepuh, apalagi jika terpapar dengan bakteri dari luar maka kondisinya akan semakin memburuk dan itu akan bisa menghilangkan nyawa...nyawa lovelia." Ucap lexia dengan suara tercekat.


"Dimana dia sekarang?" Tanyanya.


"Lovely dan ibunya sedang pergi ke UKA, setelah lama berobat di LA, dokter di sana menyarankan mereka berobat di UKA, karena kata daren, beberapa pasien yang mengalami penyakit yang sama seperti lovely dapat sembuh dan mereka bisa hidup dengan normal."


Alvin terlihat berpikir, dia terdiam beberapa saat, lalu kembali menatap lexia.


"Jadi, Daren mengambil tindakan seperti ini agar menyelamatkan lovelia dan keluarganya bukan?" Ucap Alvin.


"Langkah yang di ambil daren cukup beresiko besar, karena ayah bukan tipe orang yang pemaaf, apalagi mengetahui kondisi cucu satu-satunya itu, dia tentu saja akan menyembunyikan lovelia." Ucap alvin, dia berbicara lebih kepada dirinya sendiri.


Raut wajahnya tiba-tiba berubah. "Tetaplah menjadi lovelia, jangan pernah membocorkan pertemuan kita ini kepada siapapun apalagi daren, meskipun apa yang dilakukan daren salah, tetapi seperti yang dilakukan oleh daren, aku juga ingin menyembunyikan kondisi lovelia dari ayahku, kau pasti tahu bagaimana tuan Robert lexia, dia tidak bisa menerima jika salah satu keturunannya mengalami kondisi seperti lovelia."


Ucapnya.


"Jadi, namamu lexia Kenzo?" Ucapnya.


"I..iya." jawab lexia.


"Dimana Kau bertemu dengan daren?" Tanyanya.


"Aku..aku begitu saja bertemu dengannya." Ucapnya. Setelah mengetahui jati dirinya, sikap lexia berubah, dia tidak perlu lagi berpura-pura menjadi lovelia yang lembut dan baik hati.


"Orang tuamu?" Tanyanya.


Lexia lalu menggelengkan kepalanya. "Aku di rawat oleh kakek dan nenek Kenzo, kami adalah seorang pemulung di Manhattan." Ucap lexia tanpa ragu sedikitpun.


"Pemulung?" Tanyanya, wajahnya sedikit terkejut dia tidak menyangka jawaban lexia seperti ini.


"Ya, aku seorang pemulung, karena keadaanku dan kondisi nenekku yang sakit-sakitan aku harus bekerja pada daren." Ucap lexia, edo berbalik menatap lexia, ada sedikit kebanggaan di wajah Edo karena lexia tidak malu menyebutkan siapa dirinya di masa lalu, tidak ada yang akan percaya dengan ucapan lexia jika melihat penampilannya sekarang ini, dia layaknya nona besar yang hidup di rumah mewah, bukan seorang pemulung yang mengais-ngais sampah di kota besar.

__ADS_1


Alvin menatap lurus kepada lexia, dia lalu tersenyum.


"Aku akan tetap merahasiakan ini dari ayahku dan aku akan berupaya agar rahasia ini tidak akan diketahuinya selama lovelia masih dalam proses penyembuhan, jika tiba waktunya aku akan mencari cara untuk menjelaskan kepada ayahku." Ucapnya.


"Bagus lexia, kau bisa bernapas lega sekarang." Ucap Edo memukul-mukul punggung lexia.


"Ck, berisik.." ucapnya.


Tatapan Alvin jatuh kepada Edo yang terlihat begitu akrab dengan lexia.


"Kau teman lexia?" Tanyanya.


"Ya sir, aku temannya sejak kecil." Jawab Edo.


"Dia hanyalah pembuat masalah." Ucap lexia sambil menunjuk kepada Edo.


"Bukannya kau yang selalu membuat masalah." Balas Edo.


"Kalian berdua jangan membuat masalah karena akupun tahu bagaimana seorang Daren itu. Sebaiknya kalian kembali, kita sudah terlalu lama di luar." Alvin menatap jam yang ada di pergelangan tangannya, tepat pukul 1 malam.


Lexia dan Edo begitupun Alvin lalu berdiri dan berniat meninggalkan restaurant itu. Lexia yang cuek pergi begitu saja tanpa memberi salam perpisahan, berbeda dengan Edo yang sedikit tunduk ketika Alvin naik ke dalam mobilnya dan dia sedikit tersenyum melihat tingkah lexia yang serampangan dengan gayanya yang cuek.


"Untuk apa kau menunduk segala, memangnya dia membayarmu?" Ucap lexia heran dengan pemandangan di depan matanya.


"Kau pasti bekerja dengan sekelompok preman, mafia, atau bos besar? Sikapmu itu terlihat kau terbiasa menunduk kepada orang-orang."


"Ck, aku tidak sadar melakukannya, tetapi itulah kenyataannya lexia, jika aku ingin hidup di kota besar ini, hal seperti itu sudah biasa aku lakukan, kau tahu kan aku bekerja kepada William Luther." Ucapnya.


Lexia berhenti berjalan, matanya membelalak menatap wajah Edo. "Kau bekerja kepada pria itu?" Ucap lexia dengan wajah ngeri dan jijik membayangkannya.


"Kenapa?" Tanya Edo.


"Tidak, tidak apa-apa, sebaiknya kita bergegas masuk, sebelum para penjaga memergoki kita berdua bodoh." Mereka masuk lewat jalan belakang yang untungnya malam itu tidak di jaga oleh seorangpun.


"Psst, ayo cepat." Bisik Edo menarik tangan lexia dari atas tembok, mereka berdua mengendap-endap di keheningan malam, tanpa mengetahui seseorang menatapnya dari dalam jendela besar di lantai atas.

__ADS_1


__ADS_2