
Lexia melirik kepada Daren di dalam mobil, apakah dia marah? Sikapnya yang berlebihan tadi membuatnya merasa malu bertingkah seperti wanita barbar tidak ada kontrol emosi yang di miliki seperti seorang wanita anggun, apalagi sekarang dia sudah menjadi seorang ibu.
"Daren? Kau marah padaku?" Tiba-tiba lexia membuka pembicaraan karena sejak tadi Daren diam saja di sampingnya. Daren mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Aku tidak marah lexia aku hanya khawatir, bagaimana jika sesuatu terjadi padamu jika kau bersikap seperti tadi dan aku tidak ada di sana? Untung saja William Luther hanya bercanda dan dia memang mengenalmu tetapi bagaimana jika itu pria lain? Aku tidak mau kau disakiti, dan itu membuatku khawatir."
Lexia mengalungkan kedua lengannya di leher Daren dan memeluknya erat, menyembunyikan wajahnya di kedalaman tubuh Daren.
"Aku minta maaf, aku tadi tidak bisa menahan kemarahanku, Edo kuanggap seperti saudaraku sendiri, dalam masa sulitku sejak kecil, kami selalu bersama dan kini dia sudah pergi, aku khawatir kepadanya." Ucapnya.
"Kau khawatir dengannya tetapi tidak khawatir padaku? Jika sesuatu terjadi padamu kau pikir aku bisa hidup tenang lexia, aku akan menjadi gila jika kau menghilang dari pandanganku." Ucap Daren memeluk tubuhnya erat-erat.
Lexia mendongakkan kepalanya lalu memberikan ciuman mesra kepada daren. "Aku mencintaimu Daren." Bisik lexia.
"Hm aku tahu sayang, aku juga mencintaimu." Bisiknya.
~
Mata itu memandang langit malam yang bertabur bintang, kesendiriannya malam itu membuatnya terlihat kesepian, hari-harinya diisi dengan pekerjaan saja tanpa ada perasaan yang terlibat di hari-harinya. Dia menutup kedua matanya, tetapi mata safir itu kembali terbayang di kepalanya, membuatnya menggertakkan giginya ingin menghapus bayang-bayang wanita itu, dia mencoba menghabiskan waktunya dengan menelepon Alfon untuk membawa seorang wanita ke kamarnya, tetapi setelah melihat wanita itu hasratnya yang tadinya menggebu-gebu kini menghilang, yang ada hanya rasa jijik melihat dress seksi yang dikenakan wanita itu.
Dia menatapnya kemudian menyuruhnya keluar dari kamarnya. "Bastard, sial ! Kenapa aku selalu mengingat wanita itu?" Ucapnya. Dia ingin mencari sesuatu untuk mengalihkan pikirannya yang liar. Dia kemudian meminta kembali kepada sekretarisnya untuk mengirimkan beberapa pekerjaannya yang belum selesai agar pikirannya teralihkan dari wajah wanita bermata safir itu.
~
Lobi di hotel nampak kosong, dia tahu jika Adrick Rudolf menginap di hotel miliknya dan dia menempati kamar VVIP yang paling privat dan di jaga ketat oleh para pengawalnya, dengan langkah percaya diri dan profesional dia terus berjalan dan menekan tombol lift dan segera naik ke lantai atas di mana kamar Adrick berada. Alfon baru saja menghubunginya kalau tuan Adrick lagi mabuk berat dan anehnya dia menyuruh wanita yang baru saja di pesannya kepada Alfon untuk segera meninggalkan kamarnya.
"Adrick Rudolf mabuk? Hehe ini kesempatanku, jika dia sudah mabuk, pikirannya menjadi tidak terkontrol, dia langsung menyerang siapa saja yang mendekati dirinya dan mungkin jika aku beruntung aku bisa berakhir di tempat tidurnya." Ucap Melda percaya diri.
"Hah ! Meskipun dia tidak mabuk aku sudah menyiapkan obat untuk merangsangnya agar dia memilikiku malam ini, yang penting sekarang ini adalah kesempatanku untuk masuk ke dalam kamarnya. Dan jika aku berhasil saatnya kemenanganku akan tiba dan kehancuran Keluargamu segera di depan mata lexia." Bisiknya.
Beruntung penjaga yang bodoh itu membiarkannya masuk setelah mengelabui mereka dengan mengatakan jika dia di minta oleh tuan Adrick untuk membawa berkas yang diinginkannya, segera penjaga itu membiarkannya lewat begitu saja, dia telah tiba di satu-satunya pintu berwarna coklat yang berada di hadapannya. Dia memasukkan begitu saja card yang diberikan Alfon kepadanya agar Melda bisa masuk. Dia menatap ke kiri dan ke kanan dan segera menempelkan card itu, tidak lama pintu akhirnya membuka.
Melda masuk dengan percaya diri menyimpan tasnya di atas meja, dia segera berjalan perlahan dan membuka pintu kamar yang gelap yang sedang tertutup. Wajahnya mengernyit karena dia tidak ada di sana. Dia kemudian berjalan kembali ke ruangan lain tetapi lagi-lagi dia tidak ada di tempat itu.
"Apakah Alfon membohongiku, awas saja." Ucapnya.
"Jadi Alfon mengirimmu kemari !"
__ADS_1
Melda begitu terkejut dengan suara yang didengarnya. Wajahnya yang tampan membingkai dengan seringainya yang kejam.
"Siapa kau, apa yang kau inginkan !" Suaranya masih datar tetapi nada ancaman mengerikan terdengar dari suaranya.
Melda gelagapan, dia mencoba mencari kata-kata agar menenangkan pria murka dihadapannya.
"Tu..tuan Adrick perkenalkan aku Melda Harper, aku datang untuk....
"Keluar !
"Tapi tuan andrick dengarkan dulu ucapanku, aku bisa memberikan apa saja untukmu termasuk tubuhku, tapi dengarkan ucapanku dulu." Ucap Melda mulai ketakutan.
Tanpa berkata-kata Adrick menekan tombol keamanan dan segera saja beberapa pengawal masuk ke dalam ruangan Adrick.
"Bawa wanita gila ini dari hadapanku, bawa dia ke kantor polisi karena sudah menerobos masuk ke dalam kamarku." Ucap Adrick menatapnya dengan wajah jijik.
Adrick tidak habis pikir, Alfon berani-beraninya dia menyuruh wanita tua itu masuk ke dalam kamarnya, apa tujuannya? Apakah dia berharap aku menyerang wanita tua itu? Adrick segera mengambil ponselnya. "Hery ! Buat surat pemecatan sekarang juga untuk Alfon." Ucapnya menggelegar.
Malam itu juga Melda dibawa ke kantor polisi, dengan bukti-bukti yang diberikan oleh salah satu kepala pengawal adrick, hari itu juga melda di masukkan kedalam penjara.
"Aku ingin menelepon pengacaraku sekarang juga." Ucapnya. Melda menatap dinding penjara yang dingin dan lembab, matanya menatap tempat itu dengan pandangan mengerikan baru kali ini dia menginjak tempat seperti ini.
Pengacara Melda menatapnya dengan tatapan aneh. "Saya minta maaf Nyonya Melda, tetapi ini terakhir kalinya saya bisa membantu anda, karena ini merupakan perintah tuan Adrick Rudolf, agar anda tidak dibebaskan."
Melda menganga, dia tidak pernah berpikir akan membuatnya marah, dan berakhir di tempat mengerikan ini.
"Tuan Adrick marah besar, dia tidak membiarkan siapapun mengeluarkan anda dari penjara begitupun tuan Alfon yang membantu anda, jika anda ketahuan keluar dari sini, dia memastikan akan membuat anda menghilang selamanya, jadi..saya ingin mengatakan ini untuk terakhir kalinya, saya ada di sini sebagai pengacara anda tetapi setelah ini saya berhenti, karena siapapun yang membantu anda akan berhadapan dengan tuan Adrick, sepertinya anda terlalu memandang enteng seorang Adrick Rudolf nyonya Melda.
Dia tergagap, bibirnya bergetar. "Tidak..tidak mungkin, aku hanya ingin berbicara kepadanya, aku hanya....
"Saya minta maaf Nyonya, saran saya sebaiknya anda berada di tempat ini untuk meredakan emosi tuan Adrick dan meminta maaf kepada keluarga tuan Adrick Rudolf, tetapi saya tidak menjamin dia mau bertemu dengan anda." Ucapnya.
Pengacara itu pergi begitu saja dan lepas tangan dengan masalah yang di hadapi Melda. Dia menggigit kuku-kukunya berpikir cepat dan segera meminta beberapa pengacaranya yang lainnya untuk menyelesaikan masalahnya, tetapi sayangnya mereka semua menolak, tidak ada yang berani melawan keluarga Rudolf.
"Sial ! Aku tidak mungkin berakhir seperti ini, aku tidak melakukan apa-apa, apa dia tidak mau memaafkanku dengan masalah sepele seperti ini? tidak..tidak, aku harus melakukan sesuatu, Melda Harper tidak akan berakhir di penjara terkutuk ini
~
__ADS_1
Xaphier sedang berada di ruangannya ketika Paulo memberikan informasi mengenai Melda yang di penjara oleh Adrick Rudolf karena melakukan kesalahan yang fatal.
Xaphier menyunggingkan senyumnya. "Untung benar aku mengeluarkan wanita itu dari nama Caesaar Sebelum dia membuat lebih malu nama Caesaar, apa yang dilakukan Melda hingga dia di masukkan ke penjara." tanyanya.
"Dia merencanakan masuk ke kamar tuan Adrick dengan bantuan orang dalam, mulanya dia ingin bekerjasama dengan pihak Rudolf tetapi dia di tolak Sebelum bertemu, dan kini dia merencanakan sesuatu, erm dia ingin menyerang tuan Adrick selagi mabuk, tetapi untungnya malam itu dia tidak berada di bawah pengaruh minuman keras jadi Melda kedapatan masuk dengan sembunyi-sembunyi oleh tuan Adrick." ucap Paulo menjelaskan sedetail mungkin.
"Dasar wanita bodoh, Adrick tipe yang tidak pernah puas jika musuh yang dibencinya tidak hancur sehancur-hancurnya, dia tidak mungkin hanya memenjarakan Melda saja pasti dia akan melakukan sesuatu sampai dia betul-betul puas." ucap Xaphier menegakkan punggungnya. Dia kemudian berdiri lalu berpikir sebentar. Bagaimana keadaan Perusahaannya?" tanyanya.
"Saya belum memastikannya tuan, tetapi masih berjalan lancar seperti biasanya.
Xaphier tersenyum miring. "Tidak, pasti Adrick melakukan sesuatu pada perusahaan Melda, tunggu saja apa yang akan dia lakukan, kau amati terus perkembangannya." perintahnya.
"Baik tuan." jawabnya.
Xaphier mengambil ponselnya kemudian segera menghubungi Nara yang berada di perpustakaan di mansionnya.
"Kau sudah selesai membaca?" tanyanya.
"Hem ya, aku sudah selesai."
"Bagus, aku menunggumu di ruanganku sayang." ucapnya.
"Aku akan segera ke sana."
Nara mengetuk ruangan Xaphier dan segera masuk ke dalam, dia melihatnya sedang duduk di sofa empuk miliknya sedang duduk santai sambil melipat kedua kakinya yang panjang.
"Kemarilah." perintahnya. Nara berjalan perlahan dan menyambut uluran tangan Xaphier kemudian dia duduk di sampingnya, meskipun pernyataan cinta Xaphier masih terus membekas di ingatan Nara tetapi dia masih ragu untuk mengambil inisiatif untuk mencium Xaphier lebih dahulu, Nara sangat pemalu, pipinya merona ketika Xaphier menarik tubuhnya dan mendudukkannya di atas pangkuannya.
Xaphier mengecup sudut bibir Nara, dia sangat menyukai pipinya yang merona ketika Xaphier menciumnya. "Kenapa kau masih malu sayang? bukankah kita sudah melakukan banyak hal? kau bisa melakukan apapun kepadaku." ucap Xaphier tersenyum miring.
Nara merona, dia menyembunyikan wajahnya di leher Xaphier, jantungnya masih berdetak cepat. "Ayolah, lakukan sesuatu kepadaku." ucap Xaphier menahan senyumnya.
"A..aku harus apa Xaphier?" ucapnya.
"Lakukan sesutu yang membuatku menyukainya, apapun itu." bisiknya menggoda. Nara berpikir, apa yang di sukai Xaphier? bukan dalam bentuk makanan atau barang tentu saja, wajah Nara semerah tomat, mereka saling menatap.
"tu...tutup matamu." ucapnya.
__ADS_1
Xaphier menahan dirinya untuk tidak langsung menyerang Nara karena dia begitu menggemaskan. Xaphier mengikuti keinginannya kemudian dia menutup kedua matanya. Nara perlahan menyapu bibirnya dengan lembut ke bibir Xaphier, dengan pengalaman yang di rasakannya langsung dari Xaphier dia mencoba mencumbunya dan perlahan-lahan membuka bibir Xaphier dan mengecupnya pelan. Dia menarik wajahnya dan menyembunyikan wajahnya kembali di dada Xaphier, dia tahu wajahnya kini semerah Tomat.