
"Kau harus melepaskan Nama Burchard dan Caesaar, jika kau ingin bersama dengan Fairley jill, kau harus merasakan bagaimana mencari kehidupan yang sebenarnya dan memenuhinya sendiri seperti Fairley bekerja tanpa mengandalkan orang tua yang tidak menyokongnya, jika kau mampu melewati semua yang kakek pinta, kakek akan menjamin, tidak ada seorangpun yang akan menghalangimu untuk bersama Fairley suatu hari nanti."
Ucapan itu membuat Axton terdiam cukup lama, dia tidak menatap kepada Fairley tetapi menatap lurus kepada kakeknya, dia terlihat sedang bertarung dan bertaruh dengan dirinya sendiri, apakah dia mampu menjalani hidup seperti Fairley sampai batas yang di tentukan oleh kakeknya, apakah dia bisa hidup dengan mencari nafkah di jalanan seperti Fairley? Semua itu dipikirkan oleh Ax dan dengan keyakinan yang mantap dia menjawab persyaratan kakeknya, ini adalah sebuah tantangan untuknya, dia ingin membuktikan bahwa dia bukanlah pria yang tidak bertanggung jawab, dan dia bukan lagi anak-anak, dia sekarang memiliki Fairley, dan harus melindunginya.
Fairley menunggu jawaban Ax, dia kemudian menatap tajam kakeknya lalu berkata dengan suara tegas dengan punggung yang tegak.
"Aku akan melakukan apa yang kakek inginkan."
~
"Apa kau gila?!" Ucap Fairley, "Kenapa kau ingin melakukan semua itu Ax, apa kau akan sanggup hidup sepertiku? Kau tidak tahu bagaimana sulitnya hidup di luar sana, bagaimana sulitnya mencari dollar hanya untuk makan." Fairley tidak bisa menerima kenyataan bahwa Ax akan rela berkorban hanya untuknya, dia bisa mencari cara lain agar kakeknya menyetujui hubungan mereka berdua.
"Jadi, kau ingin aku menyerah sebelum aku bertarung? kau pikir aku selemah itu Fairley? Aku melakukan semua ini bukan hanya untukmu saja tetapi aku melakukan ini untuk membuatku belajar dan mengenal kehidupan luar sana, jadi kau jangan merasa terbebani nantinya, karena ini adalah pilihanku." Ucap Ax, dia duduk dengan tenang di kursi menatap Fairley di depannya yang sedang berjalan bolak balik, dia tidak mengira Ax akan melakukan syarat dari kakeknya.
Ax tiba-tiba berdiri dan memegang bahu Fairley agar menatap matanya.
"Kau tidak percaya padaku?" Tanyanya. Mereka saling menatap, "Aku percaya padamu Ax." Bisiknya.
"Itu sudah cukup bagiku jadi, kau harus mendukungku, apapun keputusanku, ini untuk kita berdua, mungkin kau berpikir usia kita masih sangat muda untuk berpikir tentang masa depan sampai ke jenjang pernikahan, tetapi bagiku itu semua sangat penting, ini masa depan hubungan kita, aku ingin kau yang menjadi milikku seutuhnya." Bisiknya.
Fairley mengangguk perlahan, dia sangat lemah dengan kata-kata yang diucapkan Ax kepadanya, seakan dia sangat dibutuhkan dan berarti bagi diri Ax, Fairley memeluknya erat membenamkan wajahnya di ceruk leher Ax dan menggantungkan tubuhnya di sana.
Mereka berpelukan dalam diam. "Kau tidur Fairley?" Tanyanya.
"Mmm, tidak." Ucap Fairley sambil menutup matanya.
"Aku menginginkanmu sekarang." Ucap Ax. Fairley tiba-tiba menatap Ax dengan gugup.
"Sekarang?? Tapi Ax...orang tuamu ada di sini, kita tidak bisa, aku tidak ingin mereka memandangku seakan aku gadis semudah itu memberikan tubuhnya," ucap Fairley.
Ax memberikan kecupan kilat, "mereka tidak akan berpikir seperti itu, lagi pula sepertinya mereka sudah tahu sampai di mana hubungan kita berdua." Ucapnya.
Senyuman menggoda Ax membuat Fairley merona dan menyambut bibirnya. Ciuman intens namun perlahan membuat bibir Fairley membuka sehingga Ax lebih leluasa untuk mendapatkan semua yang diinginkannya.
Ax membawa Fairley ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya, mereka telah larut dalam suasana percintaan yang panas, Ax sudah siap untuk berada di dalam diri Fairley ketika telepon di atas nakas berdering dengan keras. Ax sekali lagi mengabaikannya dan memulai menggerakkan tubuhnya tetapi bunyi ponsel itu bukan hanya dari sakunya tetapi dari telepon di dalam kamar itu turut berdering.
"Ck sial," umpat Ax. Dia melepaskan diri dari tubuh Fairley dan segera menerima panggilan teleponnya.
"Kakek sedang menunggumu di ruang pertemuan, jangan lupa bawa Fairley bersamamu." Ucap Daren.
Fairley menutupi tubuhnya dengan selimut lalu menatap Ax. "Sepertinya kita harus segera menemui kakek lagi Fairley." Ucapnya.
~
Setibanya di ruang keluarga tiba-tiba mereka berdua dipisahkan, Fairley di bawa oleh lima orang pelayan wanita dan Ax di bawa oleh pengawal berseragam hitam.
Seketika Ax sudah mengenakan tuxedo hitam dengan bunga di sakunya, dia menatap semua orang yang ada di Ball room itu.
"Apa..apa yang terjadi? Ayah ibu mengapa aku mengenakan pakaian ini?" Tanyanya.
"Ini adalah keinginan kakekmu, kau harus menerimanya," ucap lexia menatap Putranya sambil memperbaiki rambutnya.
"Hari ini kau akan menikah dengan Fairley." Ucap lexia.
__ADS_1
Mata Ax melotot mendengarnya. "Apa? Menikah? Bukankah aku harus melakukan dulu syarat yang kakek inginkan?" Tanyanya.
"Kau sudah memenuhi syarat itu, ini adalah awalnya Ax, jadi kau ikuti saja keinginan kakekmu." Ucap lexia.
Tidak lama kemudian Fairley telah masuk ke dalam ruangan, dia juga sangat terkejut melihat semua anggota keluarga Ax ada di sana, dia mengenakan wedding dress panjang sederhana namun cantik dan elegan, dia menatap Ax yang berdiri di ujung sana dengan wajah sama seperti dirinya, penuh dengan pertanyaan di benaknya.
Langkah kaki sepatu dan tongkat milik tuan Caesaar menggema di ruangan itu.
Dia kemudian berhenti di tengah-tengah orang-orang yang berkumpul. "Hari ini aku akan menikahkan cucuku Axton Burchard Caesaar dan Fairley Jill, dan dengan menikahnya mereka berdua aku akan melepas nama Caesaar dan Burchard dari nama Axton cucuku sampai batas waktu yang telah aku tentukan." Ucapnya.
Semua orang saling berbisik-bisik, dia tidak menyangka kejutan ini telah di persiapkan oleh tuan Caessar untuk cucunya.
Air mata Fairley tiba-tiba jatuh, dia tidak menyangka Ax akan rela melakukan semua ini hanya untuk dirinya, dia berjalan menuju tempat berdirinya Axton yang sedang menunggunya.
~
"Apakah ini tidak apa-apa sayang? Aku sangat khawatir dengan rencana Ayah, apa yang diinginkannya dengan melepaskan nama Burchard dan Caesaar dari Axton." Ucap lexia. Dia menatap Putranya berdiri disana bersama dengan wanita yang dicintainya mengucapkan ikrar cintanya.
Pernikahan biasanya dipenuhi dengan suasana kebahagiaan dan orang-orang yang tersenyum bahagia apalagi sang pengantin, tetapi semua yang hadir di sana tidak menyetujui tindakan keras tuan Caesaar, mengapa ide gila ini bisa terbersit di benaknya.
Tidak lama berselang, mereka sudah terikat menjadi sepasang suami istri yang sah dalam usia yang sangat muda.
Hari itu pula tuan Caesaar berbicara kepada pengantin baru itu di ruangannya.
Lexia dan Daren berada di depan pintu tuan caesaar, mereka sangat khawatir dengan rencana ayahnya.
"Tenanglah lexia, ayah melakukan ini pasti semua ada alasannya, dan itu pasti untuk kebaikan Axton dan Fairley." Ucap Xaphier yang mendatangi mereka yang terlihat cemas.
~
Dia kini memandang kepada Fairley.
"Aku sudah berbicara kepada ibumu Fairley, dia sangat ingin datang melihat putrinya menikah tetapi karena keadaannya jadi dia tidak bisa hadir, dia mengirimkan video ini untukmu, kau bisa melihatnya Sebentar." Fairley mengambil ponsel yang diberikan tuan Caesaar kepadanya.
"Kakek melakukan ini bukan karena ingin mengusirmu atau ingin mengeluarkanmu dari nama Caesaar maupun Burchard, Ax tetapi kakek ingin melihat bagaimana kau bisa menjalani hidup tanpa bantuan nama kakek dan nama ayahmu, kau harus mengetahui dan belajar hidup yang sebenarnya sama seperti hidup ibumu, selama 17 tahun ibumu hidup dengan mengais sampah di kota besar New York."
Ax terkejut, "Mommy?" Tanyanya.
"Apakah lexia tidak pernah menceritakan bagaimana kisah hidupnya ketika usianya 17 tahun?" Tanyanya.
Axton menggelengkan kepalanya kepada kakeknya.
"Mom, tidak pernah bercerita mengenai kehidupannya." Ucapnya.
Tuan Caesaar melepaskan kacamatanya lalu menghembuskan napasnya. "Kakek pernah kehilangan ibumu selama 17 tahun, kau tahu bagaimana hidup ibumu ketika usianya seperti itu? Dia bekerja sebagai pemulung, dia mengais sampah-sampah ibukota di New York untuk menghidupi dirinya di kerasnya kehidupan di kota New York." Ucapnya.
"Ya, kakek pernah kehilangan ibumu tapi untungnya aku menemukannya kembali." Ucapnya.
"Kakek ingin kau belajar hidup mandiri bersama Fairley, dengan kekuatanmu sendiri, sampai batas waktu yang kakek tentukan, kakek akan mengirim kalian berdua di salah satu desa bernama Turtle of the Reaves, kalian akan tinggal di sana dan merasakan bagaimana hidup di suatu desa terpencil." Ucap tuan Caesaar.
~
Pintu tiba-tiba membuka lebar, tanpa mengetuk, lexia menghambur ke dalam ruangan ayahnya, dia menatap kepada ayahnya dengan pandangan marah.
__ADS_1
"Ayah, apakah harus seperti ini? Apalagi mereka sudah menikah, jadi...
"Ini sudah keputusanku dan sudah final Lexia, tidak ada yang bisa merubah apa yang aku putuskan, itulah mengapa aku menikahkan mereka berdua dulu sebelum memutuskan mengirim mereka ke desa itu, biarkan mereka mencoba tantangan dariku."
Lexia terlihat tidak bersemangat, dia berdiri di sana tanpa bisa berbuat apa-apa untuk putranya dan menantunya.
Axton berdiri begitupun Fairley, mereka menghampiri lexia. "Mommy jangan cemas, kakek memberikan yang terbaik untukku jadi jangan khawatir, aku juga ingin merasakan seperti mom pernah merasakan hidup di luar sana seorang diri, tapi kali ini aku lebih beruntung karena aku bersama Fairley." Ucap Ax bersemangat.
Sementara itu Dazon Daneil dan Jennifer sudah berdiri di sana mendengarkan semuanya.
Dazon berjalan dan memegang bahu Axton, dia menatapnya dengan serius dan tatapan simpati itu penuh intrik. "Selamat berbahagia Ax, kau sekarang sudah menikah di usia 18 tahun, aku tidak menyangka akan memiliki seorang keponakan secepat ini." Ucapnya.
"Tenanglah, nanti aku akan berkunjung ke desa itu dan katakan saja apa yang kau inginkan, aku pasti akan.....
"Segala bentuk bantuan dari luar, kakek anggap kamu gagal dalam menerima tantangan dari kakek, dan jika saja ada orang idiot yang berniat merusak rencanaku, aku pastikan akan langsung mengirimnya ke Inggris dan akan di asramakan di sana sampai dia botak." Ucapnya serius.
Dazon langsung menepuk bahu Ax dan berbicara dengan penuh simpati dan nasehat. "Maaf Ax, ini adalah takdirmu kau harus menjalaninya sendiri, aku sebagai sepupu tercintamu hanya akan memberikan dukungan kepadamu, hubungi aku jika waktunya habis dan segeralah kembali bersama kami." Ucapnya lalu berkedip kepada Ax dan segera menunduk karena tuan Caesaar masih menatap tajam kepada Dazon.
~
Malam itu mereka berdua berdiri di balkon kamarnya sambil menikmati rembulan malam yang mengintip malu-malu dari langit yang separuh menutupinya.
"Indah ya." Bisik Fairley.
"Mmm, ya indah, langit malam memang indah jika bertabur bintang." Ucapnya, Ax memeluk Fairley dari belakang, sementara itu Fairley menyandarkan kepalanya di dada Axton.
"Kau tidak akan menyesali keputusanmu Ax?" Tanya Fairley.
"Aku tidak pernah menyesali setiap keputusan yang aku buat Fairley, aku sudah memutuskan untuk bersamamu dan menerima semua tantangan yang diberikan kakek kepadaku, karena aku menerimanyalah maka sekarang ini kita sudah menikah dan aku sangat menyukai ide kakek ini." Ucapnya.
"Benarkah? Kalau begitu apakah aku gadis beruntung yang telah menerimamu menjadi suamiku?" Tanya Fairley.
Ax memutar tubuh Fairley, dia kemudian memegang kedua pipi Fairley, "dan aku pria beruntung karena bertemu denganmu dan sekarang kau menjadi istriku." Bisiknya.
Ax mengangkat Fairley sehingga kedua kaki Fairley melingkar sempurna di tubuh Ax. "Sekarang waktunya bekerja." Ucap Ax sambil tersenyum miring menatap penuh arti kepada Fairley.
"Bekerja?" Tanyanya. Tiba-tiba semburat kemerahan menempel di pipi Fairley ketika mengerti apa yang di maksudkan oleh Ax. Dia mengangkat tubuh Fairley dan memberikan kecupan-kecupan di wajahnya, Ax melanjutkan apa yang tertunda tadi, "malam ini kau milikku sepenuhnya." Bisik Ax.
~
Pagi hari menjadi awal bagi keduanya, mentari yang bersinar sangat cerah membuat kedua insan itu terbangun karena cahaya yang masuk dari sela-sela jendela. Ax membuka kedua matanya perlahan, dia menatap Fairley sedang meringkuk di pelukannya dengan napas teratur, dia masih di buai di alam mimpi.
Ax menarik tubuh mungil istrinya dan memeluknya, dia menatap wajah cantik Fairley, bibirnya sedikit membuka dan napasnya terdengar mengalun lembut di telinga Ax. Sangat berbeda dengan napasnya semalam yang memburu dan tersengal-sengal karena ulahnya.
Ciuman pelan diberikan Ax untuk menyambut paginya, dia mengecupnya perlahan dan menariknya dengan lembut, tangannya mulai bergerak seirama dengan ciumannya yang mulai intens.
Fairley merasa tertarik dari mimpinya ke alam nyata hingga dia merasakan gelenyar aneh di bagian perutnya seakan kupu-kupu tengah beterbangan, dia kemudian membuka matanya, dan melihat Ax sedang menyambutnya dengan penuh gairah.
"Ax?" bisik Fairley bergetar, napasnya menjadi memburu dan pagi itu mereka kembali di mabuk dengan percintaan panas.
Beberapa saat kemudian kembali dering telepon mereka berbunyi, tetapi kali ini mereka sudah selesai merasakan puncak cinta mereka dan kini mereka tengah berpelukan memandang satu sama lain dengan senyum di wajah mereka masing-masing.
Ax berdiri dari tempat tidurnya begitu saja, Fairley memalingkan wajahnya, masih belum terbiasa menatap ketelanjangan suaminya di depannya, dengan pipi merona dia melemparkan bathrobe milik Ax berwarna hitam kepadanya. Ax hanya berbalik, dengan senyum mengejek penuh arti menatap Fairley yang membenamkan wajahnya malu-malu di bawah selimut.
__ADS_1