
Sinar matahari sudah masuk lewat kisi-kisi jendela menampakkan sinarnya yang hangat. Di dalam sebuah ruangan yang tidak begitu luas dua tubuh saling menempel satu sama lain tidak juga menyadari bahwa matahari sudah menyinari kamar mereka meskipun jendela kamar masih tertutup rapat tetapi sinarnya masih bisa menyinari dua tubuh di bawah selimut yang saling berpelukan.
Lovelia mengerjap merasakan jika kamar di ruangan itu tidak lagi gelap, dia membuka kedua matanya lalu menatap wajah Alvin yang tertidur pulas di hadapannya. Sedetik ingatannya kembali kepada percintaan panas mereka semalam membuat pipi lovelia memerah dan jantungnya berdetak kencang.
Meskipun tubuhnya masih terasa sakit apalagi sakit di antara pahanya, tetapi dia sama sekali tidak menyesalinya. Semalam merupakan malam yang tidak akan dilupakan oleh lovelia, rasa itu masih dapat diingatnya dan di rasakannya.
Ingatannya kembali membawa lovelia mengingat kegiatan panasnya dengan Alvin, malam itu Alvin yang menjulang diatasnya, memberikan cintanya melalui ciuman-ciuman panasnya, perlahan meminta izin kepada lovelia agar memilikinya malam itu. Lovelia perlahan mengangguk malu-malu, kini Alvin perlahan membuka kaki lovelia lebar-lebar tetapi lovelia segera menutupnya karena malu. Dengan ketenangan yang diberikan Alvin kepadanya akhirnya malam itu mereka menyatu dan melepaskan hasrat mereka.
Tidak ada jarak atau pemisah diantara mereka berdua, tubuhnya menyatu selaras dengan Alvin malam itu membuat lovelia semakin mencintai pria yang masih terlelap di hadapannya ini.
Lovelia memberikan satu kecupan manis kepada Alvin yang masih tidur, perlahan dia menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka berdua, tetapi setelah dia keluar dari selimut, lovelia kembali menyelimuti Alvin dan segera mengambil handuk kecil dan melilitkannya di tubuhnya. Dinginnya air membuat tubuh Lovelia menjadi segar kembali, sehabis mandi tubuhnya yang tadinya sakit kini betul-betul telah segar, sakit yang di rasakannya telah menghilang. Dia mengeringkan rambutnya yang basah, tidak lama kemudian dia mengeringkan tubuhnya Sebelum mengenakan pakaiannya.
"Kau sudah mandi lovelia?" Suara itu membuat lovelia terkejut, dia berbalik dan menemukan Alvin bersandar di Sandaran tempat tidur masih dengan ketelanjangannya, cuma selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Dia tersenyum lalu tiba-tiba merentangkan kedua tangannya kepada lovelia.
"Kemarilah lovelia." Ucap Alvin masih membuka lebar-lebar kedua tangannya.
Lovelia melangkahkan kakinya sambil tersenyum tipis. Dia menyambut tangan Alvin dan segera memberikan pelukan hangatnya. Alvin mengecup puncak kepala lovelia.
"Tubuhmu baik-baik saja?" Bisik Alvin. Dengan malu-malu lovelia mengangguk.
"Aku baik-baik saja Alvin." Mereka saling memeluk untuk beberapa lama tanpa memperdulikan masalah yang sedang menunggu keduanya.
~
Kediaman Caesaar,
Mereka semua sarapan pagi, ruangan makan yang biasanya kosong di pagi hari nampak ramai sejak kedatangan mereka semua. Lexia sedang menyuap Axton sambil bermain-main dengannya agar dia mau membuka mulutnya, sementara itu Daren dan xaphier berbincang mengenai bisnis mereka masing-masing, tentu saja percakapan mereka tidak dimengerti oleh lexia dan Nara.
Nara sedang membantu lexia menyuapi Ax karena pria tampan itu harus dibujuk untuk membuka mulut kecilnya, dia hanya bermain-main dengan makanannya.
__ADS_1
Nara tertawa melihat wajah Ax yang mengerutkan hidungnya ketika sendok kecil itu sudah sampai ke depan mulutnya. "Ax ayo makan, aaaa.." ucap Nara sambil tertawa kembali melihat kepala Ax menggeleng kuat tanda tidak mau makan lagi.
Hal itu tentu saja tidak luput dari pandangan Xaphier, dia memperhatikan Nara yang tertawa lepas, dia nampak cantik terlihat bebas dan nyaman. Daren memperhatikan pandangan Xaphier, lalu tersenyum miring dan menaikkan satu alisnya.
"Sudah ada tanda-tanda?" Ucap Daren pelan.
"Tanda? Tanda apa?" Ucapnya tidak mengerti dengan perkataan daren. Daren tertawa mendengar ketidaktahuan Xaphier.
"Kau tidak lihat? sepertinya Nara sangat menyukai Anak kecil, kenapa kau tidak berusaha keras agar kau memiliki bayimu sendiri bersama Nara." Ucap Daren.
Xaphier mengangkat alisnya. "Jangan meremehkanku, aku hanya tinggal bekerja keras bersama Nara bukan?? Tunggu saja Axton sebentar lagi akan memiliki teman bermain." Ucap Xaphier melengkungkan bibirnya.
Setelah sarapan Nara berlama-lama di dapur agar tidak berduaan saja dengan Xaphier, dia tidak tahan dengan ciuman Xaphier kemarin, bukannya menolak malahan tubuh Nara merasa menginginkan lebih dari sekedar ciuman, dia merasakan gelenyar aneh menjalar di tubuhnya terhadap reaksi yang diberikan oleh Xaphier ke bibirnya, dan itu membuat Nara mengakui bahwa dirinya juga membutuhkan Xaphier tapi dia tentu saja tidak akan mengungkapkannya kepada Xaphier, dia tidak mungkin terus terang mengenai keinginannya karena dia juga tidak mengetahui bagaimana perasaannya sendiri terhadap Xaphier. Nara hanya berpikir bahwa Xaphier menikahinya karena dia menginginkan tubuhnya, rasa suka atau ungkapan cinta tidak mungkin terucap dari bibir pria itu.
Seorang pelayan mendekati mereka berdua. Nara berbalik dan menatapnya.
"Nyonya Nara, tuan Xaphier meminta anda ke kamar sekarang." Ucapnya.
Nara melangkah perlahan-lahan dan membuka pintu kamarnya. Dia menatap sosok itu yang sedang duduk sambil menyilangkan kedua kaki panjangnya di sofa sambil memainkan ponselnya. Dia mengerling Nara ketika dia membuka pintu kamarnya.
"Mengapa kau berlama-lama di bawah Nara? Aku sudah bilang ketika aku ada di rumah kau harus selalu berada di dekatku, kau tahu jika aku sangat sibuk." Ucap Xaphier masih duduk santai, kini dia melipat kedua tangannya menatap Nara dihadapannya.
"Kemarilah." Perintahnya. Nara bergeming dan masih berdiri di hadapannya dia merasa jengkel mendengar perintah-perintah Xaphier, tetapi kakinya tetap melangkah pelan dan duduk di samping Xaphier.
Xaphier kemudian berdecak, dia menarik tangan Nara cukup keras hingga tubuhnya menimpa Xaphier hingga ia jatuh terduduk diatas pangkuan Xaphier.
Xaphier merengkuh tubuhnya, tiba-tiba saja menyerang bibir Nara dengan ciuman cukup kasar, dia membenamkan wajahnya hingga Nara tidak bisa bergerak sama sekali di bawah kuasa Xaphier. Mengetahui Nara butuh asupan oksigen, Xaphier mengangkat bibirnya sedikit membiarkan wanitanya bernapas sejenak, kemudian melanjutkan kembali ciumannya tanpa jeda sama sekali dan membawa tubuh Nara ke tempat yang lebih leluasa agar tubuh mereka mendapatkan tempat yang lebih luas. Xaphier mengikuti saran Daren, dia akan berusaha keras agar Nara hamil dan mengandung anaknya.
Nara membuka kedua matanya, merasakan hembusan nafas di belakang tubuhnya, jantung Nara kini berdetak lebih cepat setelah menyadari dirinya masih bersama dengan Xaphier. Dia mendorong perlahan tubuh yang merengkuhnya, dia bangun perlahan agar Xaphier tidak terbangun, dengan cepat Nara masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah nampak rapi sehabis mandi, Xaphier sudah terbangun dan menatap Nara di depan cermin riasnya sedang menyisir rambutnya.
__ADS_1
"Malam ini kita akan makan malam di luar, jadi bersiap-siaplah Sebentar lagi." Ucap Xaphier, dia segera bangkit dari tempat tidur lalu segera masuk ke kamar mandi. Nara mengerling Xaphier yang telah masuk ke kamar mandi, tiba-tiba hatinya terasa hampa, air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja di pipinya, entah mengapa hatinya terasa sakit, Apakah karena dia mulai menyukai Xaphier hingga hatinya sakit diperlakukan seperti itu? Dia hanya menginginkan tubuh Nara, meskipun Nara tidak yakin dengan perasaannya sendiri.
~
"kami akan keluar hari ini, dan akan makan malam diluar." ucap Xaphier kepada lexia dan Daren yang sedang berada di ruang tamu dan sedang bermain-main dengan putranya.
"Kau nampak cantik Nara." lexia memberikan jempol kepada Nara, hari itu Nara terlihat begitu cantik dengan dress cocktail berwarna biru malam dengan Rambut digelung cantik, dia terlihat anggun dan elegan. Xaphier memegang tangannya dan berjalan menuju mobil mereka. Seorang pengawal membukakan pintu mobil untuk mereka, tidak lama kemudian mobil mereka akhirnya melaju.
"Kau baik-baik saja Nara? ada apa?" tanyanya.
Tanpa menatapnya Nara menjawab pertanyaan Xaphier. "Aku baik-baik saja." ucapnya singkat. Dagunya tiba-tiba ditarik menghadap ke wajah Xaphier. Mata tajamnya menatap mata biru yang juga tajam memandangnya.
"Katakan ! apa yang membuat suasana hatimu begitu buruk?" tanyanya. Xaphier masih memegang dagu Nara dan mendekatkan wajahnya hingga Nara bisa merasakan hembusan napas Xaphier di wajah Nara.
Nara menepis tangan Xaphier dengan berani. "Aku baik-baik saja." jawaban Nara tidak berubah, dia terus mengatakan dirinya baik-baik saja.
"Berhenti !" perintahnya.
Mobilpun berhenti di sisi jalan. "Keluar." perinta Xaphier kepada pengawal yang mengemudikan mobilnya. Dengan cepat pengawal itu keluar dari mobil meninggalkan mereka berdua.
"Apa yang membuat suasana hatimu begitu buruk Nara, katakan kepadaku." Xaphier terlihat kesal melihat Nara yang masih memilih diam tanpa mau menjawab pertanyaannya. Nara ingin terlihat kuat ketika menghadapi pria arogan ini, tetapi tiba-tiba air matanya jatuh begitu saja di pipinya, dia tertunduk dan memegang erat kedua tangannya.
Xaphier menghembuskan Napasnya. "Jika kau menangis tanpa memberitahu alasannya, aku tidak akan tahu kesalahan apa yang aku lakukan Nara, aku bukan pria yang peka, jadi katakan padaku mengapa kau menangis." ucap Xaphier, kini suaranya menjadi lebih lembut kepada Nara, dia menarik dengan lembut tangan Nara dan mengangkat tubuhnya hingga posisi Nara berada di pangkuan Xaphier.
"Berhenti menangis, jika aku menyakitimu aku..aku minta maaf." bisik Xaphier. Dia mencoba menenangkan Nara dengan mendekapnya lembut. "Aku mungkin tidak bisa mengungkapkan perasaanku, tetapi aku ingin kau tahu bahwa di dalam kepalaku hanya ada dirimu dan sepanjang waktu aku hanya memikirkanmu." bisik Xaphier.
Ucapan Xaphier tiba-tiba membuat hati Nara menghangat, air matanya berhenti mengalir, tubuh hangat Xaphier membuat Nara merasa di tempat yang tepat. Nara ingin kembali ke tempat duduknya, tetapi Xaphier menahan tubuhnya agar posisi mereka tetap seperti itu.
"Jangan bergerak-gerak Nara, aku ingin kita seperti ini sampai kita tiba nanti." bisiknya, pipi Nara merona mendengarnya, jantungnya berdegup kencang. Mereka saling menatap, senyuman terukir dibibir Xaphier melihat Nara tidak berhenti memandangnya.
__ADS_1
"Apakah aku begitu tampan? sampai kau tidak bisa mengalihkan matamu sayang?" bisik Xaphier, memberikan kecupan singkat kepada Nara. Setelah menenangkan Nara, Xaphier mengambil ponselnya, tidak lama kemudian pengawal kembali masuk kedalam mobil dan kembali melajukan mobilnya menuju ke tempat tujuannya.