The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Pesta


__ADS_3

Pesta itu diadakan di gedung Hotel termewah yang ada di Oklahoma, para tamu undangan merupakan pengusaha-pengusaha terkenal di 4 borough di new York, dan tidak terkecuali perusahaan raksasa milik Caesar Corporation, Robert Grup serta Perusahaan Burchard yang ada di Oklahoma. Pesta besar itu dihadiri juga oleh petinggi-petinggi negara, RdF Corporation tidak bisa di pandang sebelah mata, Rdf Corporation adalah salah satu investor terbesar di beberapa perusahaan yang ada di New York. Penyumbang dana terbesar bagi negara-negara bagian yang masih berkembang dan masih banyak lagi sederet prestasi hebat yang pastinya tidak bisa di sebutkan satu persatu.


~


"Apakah aku juga harus pergi daren?" Ucap lexia kepada Daren yang masih mengenakan kemejanya berwarna putih. Sementara itu lexia masih duduk di depan cermin memberikan polesan makeup di wajahnya.


"Ya sayang, kita harus ke pesta itu, perusahaanku di undang dan kau sebagai Nyonya Burchard tentu saja harus hadir menemaniku." Ucap daren, kini dia mengenakan jasnya dan menghampiri lexia di depan meja riasnya kemudian memberikan kecupan singkat di keningnya. "Kau cantik sayang." Bisik daren.


Lexia telah siap dengan gaun cantiknya yang elegan, rambutnya di Gelung indah dengan menampilkan beberapa lekukan di tubuhnya tetapi tentu saja beberapa bagian tertutup dengan rapat karena Daren tidak akan membiarkan lexia mengenakan gaun yang terbuka yang mengundang pria-pria di pesta itu menatap istrinya dengan pandangan lapar.


"Jangan khawatir mereka semua akan hadir di pesta itu." Ucap Daren yang sedang menggandeng tangan lexia.


"Mereka siapa?" Tanyanya.


"Xaphier dan Nara serta Alvin dan lovelia, mereka semua hadir di pesta itu, perusahaan mereka juga perusahaan terbesar di Manhattan dan Oklahoma tentu saja mereka menjadi tamu kehormatan di sana.


"Oh ya? beruntung betul, kami bertiga akan berkumpul." Ucap lexia.


Setelah turun di beberapa anak tangga tampak Xaphier dan Nara yang juga baru saja keluar dari kamarnya, Nara tampak mempesona dengan gaun pink lembut yang melekat di tubuhnya, dia terlihat manis dan cantik.


"Kalian sudah siap? kau bisa tenang Nara, lexia juga ikut ke pesta itu" Ucap Xaphier yang menggandeng Nara di tangannya.


Senyum manis terlihat di wajahnya. "Tenanglah Nara, nanti kalau Xaphier dan Daren sibuk berbicara yang membosankan di sana kau bisa ikut denganku, kita akan berpesta sendiri." Ucap lexia mengangkat alisnya dan tangannya seperti memegang gelas.


"Nara tidak boleh minum lexia, dan kaupun juga begitu, apa kata Ax nanti kalau ibunya suka meminum...


"Ok, ok Xaphier aku hanya bercanda ini cuma ide konyol, lagi pula aku tidak akan minum minuman keras mengerikan itu, aku kan sedang masa menyusui Ax, bagaimana kalau nanti Axton mabuk ketika dia menyusu nanti?" Ucap lexia serius tetapi Nara yang tidak tahan langsung tertawa mendengar gurauan garing lexia.


"Sudahlah, sebaiknya kita berangkat sayang dan tentu saja aku tidak akan membiarkanmu menyentuh minuman itu." Ucap Daren sambil memberikan kecupan singkat di bibirnya.


Xaphier masih terpaku dengan Nara yang tertawa di sebelahnya, Xaphier memberikan kecupan singkat kepada Nara dan tidak mau kalah dengan pasangan yang berjalan di hadapannya.


Mereka telah menuju ke tempat pesta, tidak lama berselang mereka berempat sudah tiba dan segera memasuki ball room dengan segala kemewahan yang di tampilkan, para tamu undangan yang istimewa sudah banyak yang hadir, mereka berjabat tangan ketika bertemu dengan para rekan bisnis mereka, beberapa wartawan ikut hadir dengan mengambil beberapa gambar yang bagus ketika mereka memasuki ruangan.


"Ugh aku tidak suka pesta kaku begini, lihat mereka berbicara seperti saling pamer saja." Gumam lexia tatapannya jatuh kepada wanita-wanita yang saling bercerita dan berkumpul di sana, seketika mata mereka beralih ketika Daren dan lexia berjalan melewati mereka beserta Xaphier dan Nara. Mata-mata penuh pertanyaan menghadiahi Lexia dan Nara tetapi mereka tidak perduli dengan segala ocehan dan gosip dari wanita-wanita yang ada di sana.


Daren kadang berhenti untuk saling bertegur sapa dan berbicara kepada rekan bisnisnya dan memperkenalkan lexia sebagai istrinya. Lexia sungguh lelah dia melepaskan pegangannya pada Daren dan hendak mengambil minuman untuk mengisi tenggorokannya yang kering.

__ADS_1


Lexia segera beranjak dari sisi Daren dan menghampiri satu pelayan yang membawa segelas minuman. "Ini bukan minuman beralkohol bukan?" Tanyanya.


"Bukan Nona, ini hanya minuman bersoda." Ucapnya, segera lexia menyegarkan tenggorokannya, kemudian menyimpan gelas dan segera menuju ke tempat Daren, tetapi melihat Daren berkumpul dengan rekan-rekan bisnisnya dan mereka semua mengenakan jas, tiba-tiba lexia berubah haluan dan berjalan ke balkon, Lexia ingin menyegarkan tubuhnya agar terkena angin malam yang sejuk.


"Berikan nomor kamarmu, aku akan datang malam ini Adrick."


Suara wanita itu membuat lexia tersadar dia tidak hanya seorang diri di sana yang sedang mencari angin segar, tetapi dia mendengar suara seorang wanita, lexia tidak bisa beranjak, dia bersembunyi di balik pilar besar sesekali mengernyitkan alisnya mendengar godaan wanita itu dengan suara sensual. Lexia mendengus membuat dirinya lupa jika dia sedang bersembunyi.


"Kau gadis ketiga yang mendatangiku untuk memberikan dirimu padaku, jadi malam ini aku bisa bermain dengan tiga wanita sekaligus." Ucap pria itu, suaranya berat dan serak, mendengar ucapan pria itu lexia menggeleng dengan mulut komat Kamit. 'Pria sinting, dia pikir siapa dirinya, wanita itu adalah idiot seabad jika saja dia menerima ucapan dari pria itu.' gumam lexia kembali menajamkan telinganya.


"Aku..aku bersedia Adrick asalkan kau senang dan menjadikanku wanitamu, tentu aku akan berusaha menyenangkanmu." Ucap sang wanita.


Lexia mengeluarkan lidahnya. 'Yakh, dia benar-benar idiot, baru kali ini aku melihat idiot sesungguhnya.' gumam lexia sambil mengipas dirinya dengan tangannya.


"Kau bisa menanyakan kepada Alfon nomor kamarku." Ucapnya. Sang wanita tersenyum seakan dia telah mendapatkan Hadiahnya. Langkah kakinya membuat lexia lebih bersembunyi agar tidak ketahuan menguping.


Langkah kaki itu semakin mendekat dan berhenti tepat di belakang lexia.


"Rupanya di sini ada penguping." Ucap suara berat itu. Lexia mengerutkan hidungnya dan segera berdiri untuk menjelaskan bahwa dia cuma kebetulan mendengar semua itu.


”Apakah kau juga ingin bergabung dengan wanita tadi?" Ucap pria itu menatap lexia.


"Hell, aku bukanlah wanita idiot, aku cuma mencari angin segar di sini dan tidak sengaja mendengar percakapan kalian." Ucap lexia membela dirinya.


Tatapan pria itu menyala, kepalanya sedikit miring menatap langsung ke mata safir milik lexia.


"Dan kau siapa?" Tanyanya.


"Aku hanya seorang tamu di pesta ini." Jawab lexia singkat.


"Siapa namamu?"


"Untuk apa kau tahu namaku?" Ucap lexia kembali mendengus mendengar suara pria arogan dihadapannya sedikit tertarik, dia bersedekap menatap lexia.


"Nama !" Perintahnya.


"Apa kau tidak diajari sopan santun jika menanyakan nama seseorang? Kau idiot ya? Sebaiknya kau juga belajar dengan nona Lucie." Ucap lexia hendak pergi meninggalkan pria bermata biru itu.

__ADS_1


"Jika kau pergi begitu saja, berarti kau lebih tidak sopan dariku, karena mendengar percakapanku dan aku tidak menyukainya." Ucap pria itu angkuh, bibirnya sedikit melengkung melihat lexia berhenti dari langkahnya yang hendak pergi.


Lexia memberikan pandangan mencemooh kemudian memberikan satu jari tengah kepadanya dan segera pergi dari hadapannya.


'Dia pikir pria itu siapa berani memerintahku.' gumam lexia, tetapi Adrick masih mendengar ocehan lexia yang betul-betul pergi meninggalkannya dengan segudang keingintahuan di kepalanya, tatapan marah menyala dengan gigi menggertak seakan membuat Adrick ingin membubarkan pesta itu sekarang juga, baru kali ini seorang wanita menghinanya seperti itu mencemoohnya bahkan memberikan jari tengahnya. Adrick Rudolf adalah tipe pria dingin arogan yang benci akan kekalahan, dia tidak akan membiarkan siapapun menghinanya termasuk gadis bermata safir terang itu. Dia melangkah ringan segera memasuki ruang pesta, matanya yang biru dan dalam otomatis mencari-cari wanita yang telah menghinanya.


"Tuan Rudolf?" Suara itu mengganggu konsentrasi Adrick ketika mencari sosok wanita dengan memakai dress berwarna pastel itu. "Anda mencari seseorang?" Tanyanya sekali lagi. Adrick hanya menaikkan tangannya agar pria itu diam karena dia sedang berkonsentrasi mencari-cari wanita yang telah menghinanya.


~


"Kau dari mana saja lexia?" Tanya daren sambil menggandeng tangannya.


"Aku sedang di balkon mencari udara segar, pembicaraanmu bersama rekan bisnismu kan cukup membosankan bagiku, memangnya kenapa kau terlihat gelisah." Ucapnya menempelkan kepalanya di lengan Daren.


"Kau lihat wanita tua disana sejak tadi menatap kemari, lihat ! Dia si tua Melda."


Lexia mengarahkan pandangannya lalu tersenyum miring. "Melda Harper, wanita licik itu masih hidup juga." Ucap lexia, tanpa ragu lexia menarik kedua pipi Daren dan menciumnya dengan sengaja.


Sorot mata biru itu begitu tajam ketika menemukan wanita yang sejak tadi dicarinya, dan kebetulan yang menyenangkan dia melihatnya mencium seorang pria dengan antusias.


"Wanita itu mengataiku idiot dan mengabaikanku dan sekarang dia mencium seorang pria." Bisiknya. Tentu saja Adrick tidak bisa menerima penghinaan ini, dia adalah tuan rumah di pesta ini, sikap arogansi dan kekuasaan yang kental melekat di dirinya membuatnya menjadi marah dan geram. Dia melangkah perlahan ingin menghampiri lexia, tetapi dia terpaksa menekan emosinya karena banyaknya tamu undangan penting menyurutkan langkah Adrick saat itu juga, serta Ayahnya dan ibunya baru saja masuk ke ball room membuat perhatiannya teralihkan.


"Lihat saja, wanita itu akan menyesal telah bertemu denganku malam ini." gumamnya, dia segera beranjak dari tempatnya dan kemudian berjalan mendekati podium untuk berbicara dibatas sana.


~


"akhhh, lexia aku merindukanmu." ucap lovelia tiba-tiba memeluk lexia yang sedang duduk di meja bersama Daren, Xaphier dan Nara. Kehadiran mereka berdua melengkapi tempat duduk kosong di meja mereka.


"Lovelia bersikeras memilih duduk di sini dibandingkan berada dekat dengan Nyonya Lian yang merupakan istri sekretaris negara di depan sana." Ucap Alvin menarik kursi untuk lovelia dan dirinya agar mereka duduk.


"Senang berjumpa denganmu." ucap Xaphier memberikan anggukan kepada Alvin.


"Kapan kau datang Alvin?" tanya daren.


"Baru saja, oh ya aku tidak menyangka saingan besar keluarga Rudolf juga turut diundang?" ucapnya sambil memandang Xaphier.


Dia melengkungkan bibirnya. "Tentu saja aku akan datang jika diundang." ucap Xaphier, tangannya tidak pernah terlepas dari tangan Nara.

__ADS_1


Sementara itu lexia menatap podium dengan mengernyitkan alis memandang pria yang sedang berpidato di atas sana, dia adalah pria kasar yang tadi di temuinya. "Siapa dia?" tanyanya.


"Kau tidak tahu tuan rumah pesta ini? Dia adalah putra satu-satunya keluarga besar Rudolf yang terkenal, lexia." Ucap Alvin menjelaskan. lexia menatap jijik kepada pria di atas sana, dia tuan rumah pesta ini? Ugh, Apakah aku tidak membuat masalah kepada Daren? pikir lexia mengingat tangan tidak sopannya di tujukan kepada pria arogan itu.


__ADS_2