
☕ HAPPY READING TEMAN-TEMAN READERS, JANGAN LUPA LIKE VOTE AND COMENTNYA YAAAA ☕
🎬
Desa itu memiliki populasi penduduk kurang dari seribu orang, mereka hidup betul-betul jauh dari hiruk pikuk kehidupan perkotaan, mereka berdua berjalan sambil mencari toko untuk membeli segala perlengkapan mereka, tetapi tidak ada satupun layaknya mini market kecil seperti mini market yang umum di perkotaan.
Hanya satu toko kelontong kecil yang menyediakan berbagai keperluan rumah tangga.
"Ax, sepertinya hanya ini satu-satunya toko yang terlihat cukup lengkap." Ucap Fairley menatap pom bensin yang ada di depan toko kelontong itu.
Mereka berdua masuk dan melihat beberapa keperluan yang mereka butuhkan. Fairley segera mengambil keranjang belanjaan dan mengambil barang-barang kebutuhan mereka.
Seorang pemuda sedang berdiri di sana, dia menatap Ax dan Fairley yang baru saja masuk ke dalam tokonya, rambutnya pirang keriting dengan hidung bengkok, sambil mengetuk-ngetukkan jarinya menatap mereka berdua.
"Hei, kau baru di sini?" Tanyanya kepada Ax yang sedang melihat-lihat makanan kaleng yang ada di toko itu, dia sedang memegang beans, kacang polong kalengan lalu menatapnya dan memikirkan, apakah Fairley bisa memasak ini?
"Oh yeah, kami baru di sini." Ucap Ax, perhatiannya masih terpaku pada makanan kalengan itu.
"Kami? Kekasihmu?" Tanya pria itu.
"Dia istriku." Ucap Ax tetapi tidak suka dengan keingintahuan pria di depannya.
"Wow, kau telah menikah? Bagus bung, berarti kau cocok di desa ini, pria dan wanita di desa ini telah menikah, rata-rata di usia dini seperti dirimu." Ucapnya.
"Bagaimana denganmu? apa kau juga sudah menikah?" Tanya Ax.
"Yup, di usiaku yang ke 19 tahun." Jawabnya.
"Lalu, kenapa kau begitu terkejut?" Ucap Ax bingung.
"Hanya menyampaikan ekspresiku di pagi ini, aku sedikit bertengkar dengan istriku jadi aku sedikit ingin menghibur diriku." Ucapnya.
'Dia konyol, seperti dazon.' gumam Ax, lalu berbalik dan membelakanginya, setelah menunggu Fairley membeli segala kebutuhan yang di perlukan, mereka berdua akhirnya pergi, tetapi sebelum mereka pergi, pemuda itu berteriak jika pasar dadakan akan datang 3 kali seminggu di desa ini.
"Kau mendengarnya Ax, pasar dadakan akan ada di desa ini, jadi kita bisa membeli keperluan lain nanti saja." Ucapnya ceria. Mereka berjalan di sepanjang rumah-rumah yang tertutup, Ax memegang tangan Fairley dan satu tangannya memegang belanjaan mereka, dan matanya sibuk mengelilingi tempat sunyi itu.
Ax memperhatikan segala sesuatunya di desa itu, rata-rata pekerjaan yang dilakukan di desa ini hanya bertani dan beternak, apa dia juga harus seperti mereka membeli beberapa ekor ayam dan domba untuk bisa makan daging dan minum susu? Konyol. Pikir Ax, matanya kemudian menyisir salah satu kebun luas yang di tanami sayuran kubis dan wortel.
"Kita tidak punya kebun untuk menanam sayuran, kita hanya punya halaman kecil yang bisa ditanami bunga-bunga." Gumam Ax .
"Apa maksudmu tidak bisa Ax? Aku akan menanam sayuran-sayuran di halaman rumah, meskipun halaman kita kecil, kita bisa koq menanam sayuran." Ucap Fairley ceria. Keceriaan di wajah Fairley kini membangkitkan semangat Ax untuk mencari pekerjaan.
__ADS_1
Kembali matanya fokus pada setiap sudut desa, apa yang bisa dia kerjakan? Selama ini kehidupannya selalu terlayani, dia hanya menjentikkan jari dan pelayan berdatangan melayani kebutuhan Ax, tapi kini Ax harus berpikir keras memikirkan masalah perut serta kebutuhan mereka lainnya, uang yang dipegangnya hanya cukup untuk sebulan dan dia harus bergegas mendapatkan pekerjaan untuk bulan kedepannya.
~
Ketukan terdengar dari pintu besar dari sebuah ruangan mewah, nampak ketiganya sedang duduk santai sambil tertawa dan menghabiskan waktu mereka dengan bercengkrama bersama.
"Masuk." Ucap Dazon.
Thomas baru saja masuk dan ingin memberitahu sesuatu hal, tetapi sebelum Thomas berbicara, seorang wanita mendobrak keras pintu itu dengan kemarahan terpancar di wajahnya.
Napasnya naik turun, dia lalu menatap mereka bertiga yang sedang duduk bersantai, mereka memandang takjub tingkah rose yang tidak tahu malu itu.
"Benarkah? Axton telah menikah dan telah pergi dari sini bersama wanita itu, beritahu aku di mana tempatnya, dimana Ax di tempatkan, mengapa kalian membiarkan dia pergi ke tempat itu dan membiarkannya hidup susah hanya karena wanita sialan itu." Teriak Rose.
Dazon menatap malas kepadanya, Jennifer menggeleng tidak percaya dengan sikap rose yang tidak tahu malu ini.
Dazon Kemudian berdiri dari tempat duduknya, dia berjalan perlahan dimana rose berdiri menatapnya dengan pandangan menantang.
"Ck ck, kau sama sekali tidak mengindahkan peringatanku, apa kau sadar, siapa sebenarnya wanita pengganggu di sini? Kau wanita rendahan yang mengaku-ngaku dekat dengan Ax, kau tahu? Bahkan Ax tidak tahu bahwa perempuan sepertimu eksis, dia itu cepat melupakan seseorang apalagi wanita seperti dirimu, haaa aku bosan harus berulang-ulang mengatakan semua ini kepadamu."
"Tidak ada yang perlu di jelaskan kepadamu, dan beraninya kau menginjakkan kakimu di mansionku, seret dia Thomas, aku muak melihat wajahnya." Ucap Dazon mencoba menahan dirinya untuk tidak melakukan sesuatu kepada gadis itu.
Tiga orang pengawal mencoba membawa rose dari sana, dia kemudian teriak histeris agar mereka memberitahu keberadaan Ax, Rose kemudian menangis histeris.
"Apa pakaian yang kau kenakan adalah pakaian terbaikmu untuk datang menemui siapapun yang bisa membantumu?"
"Kau... bagaimana kau bisa tahu jika keluargaku kehilangan semuanya?" Ucapnya marah.
"Kau ingin tahu?" Dazon terkekeh geli. "Karena aku yang menghancurkannya, kau paham dengan yang kukatakan? Aku yang menghancurkan semua milik kalian, bukankah aku sudah memperingatimu? tetapi kau sepertinya menganggap Lelucon setiap ucapanku." Ucap Dazon.
"KEMBALIKAN...kembalikan semua milik ayahku, kau kejam...Dazon aku tidak akan memaafkanmu." Teriak Rose.
"Maka berhentilah menyebut-nyebut nama Axton, berhenti sok seperti gadis yang mengenalnya, seharusnya dari awal kau mendengarkanku. Bawa dia Thomas, jangan biarkan siapapun lagi masuk kemari, Sebelum kau melaporkan kepadaku." Perintah Dazon.
"Baik tuan."
Rose di seret keluar begitu saja, dia keluar dari mansion tanpa melakukan perlawanan.
~
Mereka berjalan sepanjang desa itu dan mereka sama sekali tidak menemukan apa-apa selain orang-orang di desa yang bertani dan menggembalakan ternak mereka.
__ADS_1
"Sebaiknya kita pulang dulu Ax, kita sarapan dulu, setelah itu nanti kita pikirkan bersama, bagaimana?" Tanya Fairley menarik tangan Ax agar berhenti berjalan, dia terlihat lelah dan keringatnya berjatuhan.
"Baiklah, kita akan memikirkannya bersama." Ucap Ax, mereka berdua kembali ke rumah mungil mereka, setelah berjalan cukup jauh.
Setelah tiba di rumah, Fairley cepat-cepat menyiapkan sarapan mereka berdua, dia berusaha membuat sandwich dan dua cangkir teh untuk mereka berdua, sementara itu Ax sedang melihat-lihat pekarangan mereka mencari suatu kesibukan agar dirinya tetap fokus dan tidak mudah menyerah, dia harus kuat dan tidak boleh memperlihatkan wajah panik di depan Fairley, pekerjaan apa yang akan di lakukannya? Sementara di desa itu tidak ada satupun pekerjaan yang mampu dia lakukan.
Ax mengambil kayu-kayu yang tertumpuk di halaman rumah dan membersihkannya, dia mengambil ranting-ranting pohon yang berjatuhan dan menyingkirkannya, tidak lama Fairley datang dengan sepiring sandwich dan dua cangkir teh untuk mereka berdua.
Mereka berdua makan bersama di meja ruang tamu, hanya sepiring sandwich dan dua gelas teh hangat yang menemani mereka agar perutnya tidak keroncongan.
"Lezat." ucap Ax sambil melahap makanannya. Fairley tersenyum mendengar pujian dari Ax.
"Tinggallah di rumah Fairley, aku akan mencari sesuatu di luar sana, kau bisa menyibukkan diri dengan membersihkan halaman, hari ini biar aku saja yang keluar mencari pekerjaan." ucap Ax sambil menggigit sandwichnya.
Wajah Fairley memperlihatkan ketidaksetujuannya, "Tapi Ax, apa sebaiknya kita tidak pergi bersama? siapa yang tahu di luar sana membutuhkan pekerja untuk seorang wanita?" ucapnya.
"Tidak, hari ini kau tinggal saja di rumah, biar aku yang keluar dulu melihat-lihat sekitar desa, kau mendengarkanku Fairley?" tanyanya.
Fairley menganggukkan kepalanya dengan sedikit kecewa, sebenarnya alasan dia ingin ikut Ax karena dia khawatir kepadanya, bagaimanapun dia adalah seorang tuan muda yang hari-harinya bergelimang harta dan pelayan-pelayan yang melayaninya, meskipun begitu, dia harus percaya kepada Ax, tetapi di sisi lain dia juga sangat khawatir.
"Baiklah Ax, tetapi kau harus berjanji satu hal padaku, jika kau belum menemukannya sebaiknya kau langsung pulang, aku tidak mau sendirian di rumah." Ucap Fairley khawatir.
Ax tersenyum, dia menarik Fairley dan memeluknya erat. "Aku akan segera pulang jadi kau jangan khawatir." bisik Ax.
~
Pria paruh baya itu sedang berada di kebunnya, usianya tidak muda lagi, tetapi hari ini dia mencangkul sekuat tenaga dan seorang diri, dia berniat menanam kubis dan sayuran lainnya, tetapi kebunnya itu cukup luas, jadi untuk menggemburkan tanahnya saja membutuhkan waktu yang cukup lama jika dikerjakan seorang diri.
"Roy, roy berhentilah mencangkul, makanan baru saja datang dari Nona Lisa," teriak pria kecil berumur 8 tahun yang berlari di sepanjang kebun sambil menenteng makanan.
"Ck, anak itu." Ucap Roy menghapus keringat dari wajahnya dan segera menghentikan pekerjaannya, dia kemudian menghampiri bocah kecil yang memanggil-manggil namanya.
"Apa begitu caramu memanggil ayahmu sendiri junior?" ucapnya sambil membuka makanan yang di bawa anak kecil itu. Pria kecil itu hanya mengangkat bahunya.
"Nona Lisa bilang kepadaku, daddy harus pulang sebelum jam 4 sore ini, dia ingin di antar ke rumah Kakek Hendrik, katanya dia mau membawakan makanan."
Pria itu kembali menatap bocah yang tidak lain putranya sendiri. "Dan berhenti teriak-teriak memanggil Nona Lisa, dia itu ibumu." Ucap sang ayah sambil menyuap makanannya. Kembali anak kecil yang di panggil junior itu mengangkat bahunya.
"Apa Dad butuh seorang pekerja?" tanya sang putra sambil berbicara layaknya orang dewasa.
"Ya, begitulah, kebun ini cukup luas untuk ayah kerjakan seorang diri, jadi sepertinya ayah memang membutuhkan pekerja tetapi bagaimana caranya agar ayah menemukannya? sedangkan di desa ini setiap rumah memiliki kebun masing-masing." ucapnya.
__ADS_1
"Serahkan padaku Daddy, kau tidak akan kecewa." Ucap putra Kecilnya sambil mengedipkan sebelah matanya kepada sang ayah.