
โJangan lupa vote like and comentnya yaaaa ๐๐ Happy reading โ
Perusahaan itu bernama Society Complex Caesaar city atau di singkat Triple Caesaar, merupakan perusahaan raksasa yang ada di Complex city di Georgia. Kali ini, Hanna sedang duduk di depan keempat orang yang membuat Hanna gugup, matanya menelisik pada keempat orang di hadapannya, senyum tipis terus dia perlihatkan, dia ingin menunjukkan bahwa kegugupannya dapat dia atasi.
Hanna menelan ludahnya kasar. "Selamat pagi Hanna Tan." Ucap seorang wanita cantik berambut pirang dengan rambut digelung indah, dengan senyum sempurna, dia memulai membuka pertanyaan.
"Kau bisa Hanna Tan, c'mon jangan jadi pengecut, segalanya akan oke, kau tidak akan mati hanya karena wawancara." pikir hanna, dia mengambil napas panjang, kemudian menjawabnya dengan dengan tenang.
"Selamat pagi." Ucap Hanna kelewat antusias.
Ruangan itu luas, dinding dengan nuansa pantai berwarna biru serta kaca membentang luas di belakang, pada dua orang pria dan dua orang wanita yang duduk saling berdampingan.
Ugh, double sialan, sepertinya aku mengenal pria yang duduk di sebelah kiri, wajahnya cukup familiar untukku. Pikir Hanna, tiba-tiba matanya membelalak, ketika dia tahu pria yang duduk di sana, dia memainkan pulpen di tangannya, mereka saling menatap, senyum mengejek terlihat di wajah Dazon, dia bersedekap, matanya tidak pernah berpindah dari menatap Hanna.
Hanna duduk dengan sopan dan menjawab pertanyaan mereka bertiga dengan profesional. Dia duduk di sana menatap ketiga judge yang akan memutuskan masa depannya di perusahaan ini, meskipun dia sama sekali tidak mau melirik pria sialan pencuri ciumannya itu.
"Apa Sebelumnya kau pernah bekerja pada sebuah perusahaan?" tanya seorang wanita paruh baya berkacamata tanduk yang terlihat seakan ingin menanduknya.
"Tidak, saya belum pernah bekerja di suatu perusahaan tertentu, tetapi saya memiliki beberapa pengalaman kerja langsung di lapangan."
"Oh ya, Ceritakan tentang dirimu serta tempat kerjamu yang dulu." Ucapnya singkat.
"Erm baik, saya lulusan salah satu perguruan tinggi di Universitas Mcity di kota Manhattan, saya pernah bekerja pada.......
Ketukan terdengar dari arah samping kiri, dia menginterupsi ucapan Hanna yang sedang menjelaskan tentang dirinya. Mereka semua melirik ke arah tempat duduk Dazon.
"Kalian keluar ! saya ingin berbicara dengannya secara pribadi." Titah Dazon. Mereka bertiga saling melirik dan bergegas berdiri dan berjalan keluar menuju pintu belakang tanpa protes.
Mata Hanna membelalak sempurna. Dia ingin berbicara kasar dan mengumpat di depan pria kurang ajar ini sekali saja, melihat bagaimana caranya dia memerintah mereka, Hanna yakin pria itu orang berpengaruh di perusahaan. Ketiganya keluar dari ruangan, tinggal Dazon dan Hanna saja di dalam ruangan itu.
"Nona Hanna Tan? nama yang lumayan." Ucapnya.
Hanna hanya terpaku di tempat duduknya, wajahnya merah padam, menahan dirinya dari mengutuk makhluk tampan ini di depannya.
Dia tiba-tiba berdiri, lalu berjalan santai mendekati tempat duduk Hanna yang berada di tengah-tengah ruangan. Pria dengan setelan serba hitam itu berjalan ringan, seakan mengincar dan mengendus mangsanya yang sedang duduk tidak berdaya di hadapannya.
Tiba-tiba saja dia sudah mengurung Hanna di kursi itu dengan kedua tangannya yang panjang.
"Apa...apa yang kau lakukan?" Ucap Hanna.
Senyum itu terlihat mengerikan di mata Hanna, pria itu menyeringai menatap kurang ajar pada tubuh Hanna, "Aku masih mengingat bibirmu di bibirku, ciumanmu tidak terlupakan nona Hanna." Bisiknya.
"lepaskan aku, jika kau melakukan ini, aku akan menganggap ini pelecehan, dan akan melaporkan perusahaanmu ke pihak...
Ucapannya terhenti, bibirnya telah ditutup rapat oleh Dazon, kursi itu terdorong karena kuatnya ciuman Dazon kepada Hanna, tangan Hanna memukul setiap bagian apa saja pada tubuh pria tinggi itu, tetapi pukulannya sama sekali tidak berpengaruh pada Dazon.
"Hanna, mulai sekarang, kau akan menjadi....
"Menyingkir." Bentak Hanna, seluruh tubuhnya melakukan reaksi penolakan, Hanna tidak perduli lagi, dia memukul-mukul dada bidang Dazon.
Dazon tersenyum senang, semakin kuat perlawanan wanita ini kepadanya, semakin dazon merasa tertantang dan tertarik untuk menjinakkannya.
"Tidak, kau ingin tahu peraturanku? Wanita yang telah aku sentuh bibirnya, harus ikut denganku selama yang aku inginkan, dia harus mengikutiku kemanapun aku pergi." Bisiknya.
"Jangan mengada-ada, cepat menyingkir atau kau akan menyesal." Ucap Hanna memandang pria yang masih tersenyum menatapnya.
Dia terkekeh, "Menyesal? Oke, lakukan sesuatu yang membuatku menyesal." Tantang Dazon.
Hanna menerjang kaki panjang dazon, tetapi sayang sekali, kakinya tidak sepadan dengan kaki panjang milik Dazon, dia tidak bisa menyentuh bagian privasi Dazon.
"Apa begitu caramu membuatku menyesal nona Hanna Tan?" Dazon melihat mata cantik itu melotot marah kepadanya, sebenarnya Dazon tidak ingin menghancurkan wawancara wanita ini, tetapi sejak insiden ciuman di trotoar itu, Dazon tidak bisa melupakannya, ingatannya selalu kepada bibir gadis itu, dan hal itu membuatnya jengkel, hanya sebuah ciuman dan dia tidak bisa tidur semalaman.
Pagi tadi, Dazon masuk ke gedung perusahaannya dengan malas, tetapi dia melihat gadis itu ada di sana, sedang menunggu lift yang datang, rencananya pun tersusun rapi, dia ingin merasakan sekali lagi bibir gadis itu.
__ADS_1
~
Hanna berpikir keras, bagaimana bisa meloloskan diri dari lelaki sialan yang sedang mengurungnya di kursinya. Kakinya tidak mencapai kaki pria ini, apalagi untuk menendangnya, dia hanya akan menertawakannya.
Hanya satu jalan saja, hanya itu yang bisa terpikirkan oleh Hanna, dan dia akan mencobanya. Pria itu masih memandangnya sambil tersenyum miring, napasnya yang kuat menyapu wajah Hanna, bau mint segar dan wangi dominan darinya begitu kental menusuk hidung hanna.
Hanna kini mengambil jurus mautnya, dia mengangkat kepalanya dan mengalungkan kedua tangannya di leher Dazon dan mencium pria itu dengan keras, ciuman tiba-tiba itu, membuat dazon terkejut dan membuatnya terdorong dan berjalan mundur, sehingga Hanna memiliki waktu beberapa detik untuk meloloskan diri darinya.
Ciuman itu terlepas begitu saja, Hanna mundur beberapa langkah dan segera berlari mencari jalan keluar dari perusahaan sialan itu.
Dengan tergesa-gesa dia keluar dari ruangan itu, dia berjalan sambil menghapus bibirnya yang kini terlihat bengkak.
"Pria kurang ajar itu menciumku untuk kedua kalinya, meskipun aku juga menciumnya, itu karena terpaksa, aku tidak akan pernah melakukannya jika bukan karena situasiku mendesak seperti tadi." gumam Hanna di depan pintu lift.
Hanna menekan lift untuk menuju ke lantai bawah, dia masuk ke dalam lift dan memperbaiki penampilannya, mengomel dan bergumam-gumam, tanpa menyadari bukan hanya dia saja yang berada di dalam lift ini.
Seorang pria berdiri di belakangnya, tanpa menyadari kehadirannya, Hanna mengomel dan membuat pria itu tersenyum tipis.
"Hari yang buruk?" Tanyanya.
Hanna berbalik, dia lalu menutup mulutnya rapat-rapat, "Oh, aku...ya, hari yang memuakkan." Ucapnya pelan.
Pria itu hanya tersenyum, kemudian matanya melirik kepada Hanna yang kini berhenti mengomel. Bunyi lift berdentang dan kini membuka, Hanna segera berjalan keluar dari lift dan segera keluar dari gedung itu. Napasnya tersengal-sengal, apalagi kakinya sekarang sakitnya minta ampun, karena berjalan begitu cepatnya dengan menggunakan high heels.
Dia berdiri di depan halte bus, menunggu bus yang akan membawanya kembali ke flatnya. Dari ujung jalan, terlihat bus yang membelok menuju ke halte, sebuah mobil Limousine berwarna hitam berhenti di depan hanna, Seseorang keluar dari mobil, seorang pria berambut cepak, bermata tajam, dan berwajah datar. Dia menatap Hanna tanpa berkedip.
"Nona, silahkan ikut saya." Ucapnya.
Hanna mundur beberapa langkah dan mengernyitkan keningnya, dia memandang pria itu dengan tatapan aneh penuh permusuhan.
"Kenapa? Kenapa aku harus ikut denganmu? Kau siapa?" Tanyanya.
"Lebih baik anda bekerja sama dengan kami nona, itu yang terbaik untuk anda saat ini." Ucapnya datar.
Pria itu tidak bergeming, dia tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari jasnya, sebuah senjata yang ditunjukkan kepada Hanna.
Hanna tertawa prihatin dengan senyum mengejek.
"Kau pikir aku takut dengan senjata sialanmu itu? Jika kau tidak pergi, aku akan teriak." Ancam Hanna, meskipun ketakutan, dia berusaha melawan pria itu, dia tidak ingin terintimidasi olehnya.
"Kami pergi nona, aku anggap ini jawaban anda kepada tuan kami." Ucapnya pelan.
Pria itu segera masuk kembali kedalam mobilnya, dan segera pergi dari sana, Hanna menghembuskan napasnya, tangannya bergetar, dia segera naik bus berikutnya yang datang dan segera duduk sambil menahan rasa gemetar di tubuhnya.
~
"Hanna Tan, cukup memiliki nyali menyerangku tadi." Ucapnya, dia menyandarkan kepalanya di kursi di ruangannya.
"Berani sekali dia menciumku, sampai aku terkejut." seringai Dazon.
Dazon mengambil ponselnya, lalu menghubungi salah satu Pengawalnya.
"Kembali ke kantor, biar aku sendiri yang akan menangani wanita berisik itu." Ucap Dazon di ponselnya. Senyum tipis melintas di wajahnya, dia mengetuk-ngetukkan jarinya sambil terkekeh senang.
Baru kali ini dia merasakan sesuatu yang membuatnya tertarik, apalagi berhubungan dengan seorang wanita.
~
Hanna, tidak langsung kembali ke apartemennya, dia mengingat-ingat, segala kebutuhannya telah habis, jadi percuma saja jika dia pulang, sore itu Hanna mampir ke supermarket Hall city, dia mengambil troli lalu mendorongnya, mengambil barang-barang yang dibutuhkannya, dia mengambil sayur-sayuran, buah serta daging dan telur, dia juga membeli segala perlengkapan penting untuk dirinya.
Hentakan sepatu itu terdengar nyaring, Hanna tidak menghiraukan suara ribut dari sepatu seseorang yang berjalan di belakangnya. Hanna terus berjalan dan mengambil barang yang dibutuhkannya, tiba-tiba kekehan mengerikan terdengar di belakangnya, membuat bulu kuduk Hanna berdiri, dia segera berbalik dan bernapas cepat. Tapi anehnya tidak ada seorangpun lelaki di belakangnya.
"Suara apa itu?" Gumam Hanna. Dia segera mendorong trolinya dengan cepat dan segera meninggalkan supermarket itu.
__ADS_1
~
~
Hanna kembali berjalan di jalanan yang sepi sambil memeluk belanjaannya, dia cukup berani berjalan malam-malam seperti ini, padahal sudah terjadi beberapa kasus pembunuhan di dekat daerah flatnya. Hanna berjalan lalu sedikit berlari, tidak adanya lalu lalang orang-orang di dekat flatnya, hening dan kosong. Tiba-tiba langkah Hanna terhenti, seorang pria berdiri di bawah lampu jalan, dia berdiri di sana tanpa bergerak sedikitpun, hanya memandang ke arah Hanna.
Hanna memandangnya, dia kemudian berlari dan masuk ke dalam flat, Hanna menutup keras pintu gedung kusam itu dan berbalik lalu menatap pria yang masih berdiri di sana di bawah lampu jalan. Hanna bergidik, dengan cepat dia segera menuju ke kamarnya.
~
Pria bermantel hitam, menatap seorang gadis yang sedang menenteng belanjaannya, matanya tajam menatap sosoknya, entah mengapa dia tidak memiliki keinginan untuk menjadikan wanita itu sasaran berikutnya. Dia kemudian kembali berjalan dengan langkah kaki terseok-seok. Dia berhenti berjalan ketika mendengar suara-suara dari gang sempit bangunan, dia berbalik dan berdiri di sana.
"Sir? pria aneh itu lagi, sepertinya dia menatap ke tempat kita." ucapnya.
Thomas berjalan lalu menatap dari lorong gang sempit, pria itu masih berdiri di sana di balik gelapnya malam, dia tampak mengerikan berdiri di sana di bawah lampu jalan temaram.
"Jika pria itu mencoba datang kemari, singkirkan dia, aku tidak mau ada masalah malam ini." Ucap Thomas, dia masih menatap pria aneh itu.
Kemudian pemandangan yang mengerikan terjadi di depan mata mereka semua. Seorang wanita mabuk yang berada di sisi jalan, yang bersebelahan dengan pria itu membuat pria aneh itu berbalik, tanpa ragu dia menyerangnya, Thomas segera keluar dari gang sempit itu bersama Pengawal-pengawalnya yang lain, langkah sepatu yang berdatangan, membuat pria itu berbalik. Dia berdesis marah, dia melepaskan wanita yang sudah terbaring di jalanan, dia kemudian berlari menjauh.
"Apa yang dilakukan pria aneh itu, apa dia adalah pembunuh wanita yang selalu terjadi akhir-akhir ini?" ucap salah seorang pengawal.
"Kita tidak ikut campur dengan masalah itu, aku tidak ingin karena kejadian itu bisa melibatkan nama tuan Caesaar, segera bawa wanita itu dan segera pergi dari sini sebelum polisi datang."
"Baik sir."
Thomas menatap wanita berambut pirang panjang itu, kali ini wanita itu beruntung, jika sedikit saja mereka tidak datang, wanita itu akan kehilangan nyawanya.
~
Hanna mengernyitkan alisnya, sekarang pukul 2 malam, tetapi dia terbangun karena dia kembali mendengar garukan aneh di sebelah kamarnya. Hanna turun dari tempat tidur kecilnya, mencoba mencari sumber suara. Suara itu terdengar dari belakang lemarinya. Dia perlahan menempelkan daun telinganya ke dinding itu.
Tiba-tiba suara garukan itu berhenti, Hanna menempelkan tangannya di dindingnya, suara pukulan dari dinding kamarnya membuat Hanna jatuh terduduk, seakan dia tahu seseorang berada di balik dinding itu.
Hanna mundur sambil menyeret tubuhnya ke belakang, lalu menuju ke tempat tidurnya dan menutup dirinya dengan selimut, dia sangat berharap bahwa Yessy segera pulang dan dia tidak akan sendiri di flat kusam mengerikan ini.
~
Malam itu Thomas memberikan laporannya kepada Dazon, untuk persenjataan yang akan mereka kirim ke Milan sudah beres, dan Sebentar lagi akan berangkat.
"Bagus Thomas, apakah ada masalah lainnnya? kenapa kau terlihat gelisah." ucap Dazon.
"Tuan, apa sebaiknya kita tidak memindahkan tempat transaksi kita di lokasi lainnya?" tanyanya.
"Kenapa? apa sesuatu terjadi?"
"Beberapa kasus pembunuhan, terjadi di lokasi di tempat kita selalu bertransaksi tuan, apalagi polisi dan detektif selalu berdatangan di tempat itu, mereka mungkin saja dapat mengetahui keberadaan kita." ucapnya.
"Ck, kau benar, kalau begitu kau cari lokasi aman lainnya, saat kita bertransaksi berikutnya, aku tidak ingin terlibat dengan polisi ataupun detektif di kota ini." ucap Dazon.
"Baik tuan."
"Oh ya, mengapa aku tidak pernah bertemu dengan Paulo dan Riel? Dimana dia?" tanya Dazon.
"Sudah dua hari mereka berada di Manhattan tuan, Sebentar lagi mereka berdua akan datang kembali."
"Begitu mereka kembali, katakan kepada mereka agar menemuiku."
"Baik tuan."
Thomas undur diri, dia kemudian keluar dari ruangan tuannya. Dia seperti mendapatkan pencerahan, di masih berdiri di depan pintu ruangan tuannya.
Sesuatu membuatnya curiga, dia sangat yakin mengenai apa yang baru di temukannya, sosok pria itu, dia mengenal posturnya, hanya perlu bukti sedikit saja dan dia akan tahu, siapa pria aneh yang selalu berkeliaran di jalan membunuh wanita-wanita itu.
__ADS_1