
~Pukul 15.12
Langkah kaki dari pria berjas hitam segera menghampiri pintu Alvin setelah mengetuk-ngetuk, dia mengerling dari seberang dan tahu bahwa dia sedang di mata-matai sehingga dia tidak terlalu terburu-buru untuk memberikan informasi.
"Masuk."
Dia membuka pintu itu kemudian menutupnya lalu berjalan perlahan ke tempat Alvin duduk.
"Sir berita yang saya terima kalau orang-orang Luther di tarik kembali, mereka kembali ke Manhattan." Ucapnya.
"Ck, dia memang pengecut, kupikir dia akan menolong lexia, sekutu seperti itu harus di beri pelajaran, jadi bagaimana dengan lexia dan Daren?" Tanyanya.
Dia menunduk sebentar lalu menatap Alvin. "Kabar terakhir yang saya dengar ada yang menembakkan senjata ke tempat tuan Daren dan lexia berdiri." Ucapnya.
"Benarkah? Hubungi ricky yang berlokasi di Quinn pastikan kondisi mereka."
"Baik sir."
~
Tembakan itu mengarah kepada lexia tetapi hanya suara tembakan saja yang terdengar sementara lexia baik-baik saja masih berdiri di samping daren.
"Kau baik-baik saja?" Ucap daren berbalik dan memeriksa tubuh lexia, "Kau tidak terluka, lexia bagaimana tubuhmu?" Ucap Daren khawatir.
"Aku baik-baik saja." Ucapnya sambil menatap sendiri tubuhnya.
Daren mengambil napas lega, Matanya kembali mengarah kepada orang-orang tuan Robert memandang marah kepada mereka.
"Kalian berani menembakkan senjata kepada lexia?!" Teriak Daren begitu marah menatap Sebastian yang juga kebingungan. Dia maju selangkah sambil mengangkat tangannya kepada orang-orangnya.
"Jangan ada yang menembak, jangan menembak." Teriak Sebastian mengangkat tangannya memberikan isyarat kepada pengawalnya agar tidak menembak .
"Serahkan lexia kepada kami tuan Daren jadi tidak akan ada yang terluka, ini perintah langsung dari tuan Robert." Ucapnya.
"Jangan bermimpi, jika kalian menyentuh sedikit saja lexia, aku akan menembak kepala kalian." Ancamnya. Lexia merasa tidak ada jalan keluar lagi baginya kali ini, mereka betul-betul tersudut upaya Daren melindunginya akan sia-sia jika dia terluka. Lexia memegang erat lengan Daren.
"Aku akan menemuinya Daren, aku akan bicara kepada tuan Robert dan meminta maaf kepadanya." Ucapnya memohon.
"Tidak, dengarkan kata-kataku tetap sembunyi di belakangku, aku tidak mengizinkanmu bertemu pria tua itu, kau pikir dia akan memaafkanmu?" Teriaknya.
Dari arah selatan tepatnya di samping pesawat milik Burchard lima mobil berderet baru saja tiba dengan orang-orang yang berpakaian hitam juga membawa senjata api, Daren mundur beberapa langkah ketika melihat mereka bergerak saling mengarahkan senjatanya kepada orang-orang Sebastian.
"Sepertinya mereka berasal dari tuan Alvin sir." Bisik Evan di sampingnya yang juga berdiri di samping daren menamengi lexia.
Salah satu pria yang botak dengan wajah lonjong memberikan isyarat kepada Evan agar segera meninggalkan lokasi sementara mereka menahan puluhan orang-orang tuan Robert.
Tanpa menunggu lagi Daren menarik tangan lexia menuju ke salah satu mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat itu, Evan dengan cepat mengambil alih kemudi beserta penjaga-penjaga lainnya.
Tentu saja sebastian tidak membiarkan kepergian mereka begitu saja, dengan aba-aba darinya separuh dari mereka mengejar Daren dan yang lainnya menghadapi segerombolan orang asing yang turut membantu Daren.
Tetapi mereka terlambat mobil yang dikendarai Evan sudah melaju kencang meninggalkan lokasi dan pergi.
Evan menancapkan gas pada mobil agar mereka tidak dapat mengejar. "Sir sebaiknya kita berangkat ke villa anda di Oklahoma Tulsa, saya pikir tempat itu paling aman untuk menyembunyikan nona maksud saya nyonya lexia." Ucap Evan.
"Panggil lexia saja, aku terdengar lebih tua jika kau memanggilku nyonya, Evan." Ucap lexia menyilangkan kedua tangannya. Tetapi daren dengan sedikit melotot memperingati Evan.
"Ide yang bagus Evan, apalagi villa di tulsa cukup tersembunyi, tidak ada yang tahu mengenai villaku di sana." Ucap Daren.
"Kenapa tidak ada yang tahu Daren? Kau menyembunyikannya?" Ucap lexia heran.
"Aku tidak menyembunyikannya, hanya saja aku pernah membelinya tapi jarang menggunakan villa itu karena letaknya cukup tersembunyi, maksudku sangat tersembunyi." Bisik daren lalu menaikkan satu alisnya kepada lexia.
Daren lalu menekan tombol merah yang ada di hadapannya sehingga muncul begitu saja pembatas yang menghalangi di antara pengemudi dan penumpang.
__ADS_1
Lexia menatap daren. "Mengapa setiap mobilmu ada tombol seperti ini daren?" Lexia memicingkan matanya. Daren lalu tersenyum miring lalu mengangkat tubuh lexia ke atas pangkuannya.
"Kau mau tahu?" Ucap Daren sambil mengecup bibir lexia.
"Agar kita dapat berdua seperti ini tanpa ada gangguan-gangguan." Ucapnya, dia mulai menjalankan tangannya lalu menyelipkannya ke dalam baju lexia.
"Daren, aku belum mandi seharian." Ucap lexia melingkarkan kedua tangannya di leher Daren.
"Bukan masalah sayang, aku juga belum mandi seharian." Bisik daren yang mulai menenggelamkan wajahnya di gundukan bulat favoritnya. Lexia mendorong daren karena dia mulai membuka pakaian lexia satu persatu.
"Kita kan sedang di kejar-kejar, aku tidak mau melakukannya, bagaimana kalau mereka mengejar kita dan aku dalam keadaan telanjang." Ucap lexia kembali memukul tangan Daren yang menyusup ke dalam baju lexia dan bermain-main disana.
"Hem, oke aku tidak akan melepaskan semuanya sayang, hanya bagian favoritku saja." Ucap Daren lalu merubah posisi lexia hingga mereka duduk saling berhadapan.
Lexia membelalakkan matanya lalu mengintip dari pembatas di belakangnya. "Daren, mereka akan mendengarkan kita." Bisik lexia.
"Jangan khawatir, jika aku menekan tombol merah itu berarti mereka harus mengenakan headphone agar tidak mendengarkan desahanmu." Lexia menghentikan tangan Daren yang mulai membuka pakaian lexia.
"Kau bahkan mempersiapkan hal seperti ini di mobil? Kau betul-betul mesum Daren." Ucap lexia.
"Sst, jangan banyak bergerak lexia atau aku akan bergerak dengan kasar." Bisik daren. Hari itu langit yang cerah mulai mendung dan akhirnya hujan pun turun, suara desahan lexia yang cukup keras dapat tertutupi dengan derasnya hujan menuju villa Daren yang berada di Tulsa Oklahoma.
~
Tamparan keras itu mendarat di salah satu wajah seorang pelayan yang datang memberikan kabar tentang tuan Robert yang mengepung Daren dan lexia. Barbara begitu geram dan sangat marah dengan kabar yang di dengarnya.
"Daren betul-betul bodoh, mengapa dia berubah seperti itu? Hanya karena gadis pemulung itu, kita harus berhadapan dengan tuan Robert." Barbara mengambil ponselnya lalu menekan tombol untuk menghubungi Daren.
"Jadi, apakah Daren baik-baik saja, bagaimana keadaan di sana." Tanyanya sambil berkacak pinggang. "Sial ! Mengapa dia rela mengorbankan keluarga kita hanya karena gadis kecil itu, Daren betul-betul gila." Bentaknya.
"Baik, jika tuan Robert tidak berhasil membawa gadis itu kepadanya, aku yang akan membawa lexia ke hadapan tuan Robert." Ucapnya geram.
~
Lovelia memeluk bonekanya dan mengingat kejadian tadi siang, bunga yang disiapkan pamannya hanya untuknya meskipun tidak di taruh di ruangannya tetapi lovelia cukup senang dan memandang bunga itu dari balkon jendelanya.
"Kau tersenyum lovelia, aku anggap kau senang makan bersamaku." Ucap Alvin.
Lovelia menganggukkan kepalanya, wajahnya terlihat manis dengan senyum di wajahnya.
"Aku senang karena di saat seperti ini aku selalu makan seorang diri paman, jadi makan siang dengan paman Alvin sangat aku tunggu-tunggu." Ucap lovelia dengan ceria, mata hijaunya seakan menari-nari senang dengan perbincangan mereka berdua.
Alvin mengangkat tangannya lalu mengelus rambut lovelia. "Kau harus cepat sembuh dan paman akan mengajakmu kemanapun tempat yang kau inginkan."
Wajah sumringahnya terus melekat di wajah lovelia siang itu. Dia memeluk bonekanya erat. "Aku tidak sabar dengan pertemuan selanjutnya dengan paman Alvin." Ucap lovelia.
~
Ketukan pada mobil sport berwarna hitam itu terdengar beberapa kali, tetapi tidak ada respon dari dalam mobil. Evan dan para bodyguard sudah menunggu mereka di depan villa, tetapi mereka berdua sepertinya terlalu sibuk untuk membuka mobil saat ini.
Mereka akhirnya pergi agar memberikan privasi kepada tuannya dan istrinya.
"Daren, berhenti kita sudah sampai, mereka akan mendengar kita, jadi berhentilah, aku lelah." Ucap lexia mencoba beranjak dari posisinya, tubuhnya masih di pegang erat oleh Daren sehingga dia tidak bisa bergerak dari tubuh Daren.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka berdua keluar dari mobil, wajah lexia memerah dan sembunyi di belakang tubuh daren karena tentu saja Evan dan para pengawalnya tahu mengenai aktivitas panas mereka di dalam mobil.
Daren berjalan santai seperti biasanya tidak ada ragu atau malu yang terlihat di wajahnya, mereka sedikit membungkuk ketika Daren melewati mereka semua.
"Evan perketat penjagaan, dan segera laporkan kepadaku jika ada sesuatu yang mencurigakan, oh ya tambah penjagaan, aku tidak ingin kejadian tempo lalu terulang kembali di villa ini." Ucap Daren masih memegang tangan lexia yang sembunyi di belakang daren.
"Baik sir." Ucap Evan segera bergegas mengumpulkan para pengawal dan menempatkan mereka di posisi masing-masing.
Villa itu betul-betul tersembunyi karena berada di dalam hutan dan di dekat pantai jika berjalan sebentar, maka pemandangan dari dalam villa dapat terlihat spektakuler dengan panoramanya yang indah.
__ADS_1
Villa itu juga sangat besar dan luas didominasi dengan warna coklat karamel serta kayu yang menghiasi setiap bentuk bangunan itu, dilengkapi dengan kolam renang dan langsung terhubung dengan pemandangan pantai dari atas.
"Ini kamar kita sayang." Ucap Daren, dia membaringkan tubuhnya begitu saja karena terlalu lelah. Lexia mengamati kamar luas dengan jendela kaca besar sehingga pemandangan pantai yang indah bisa langsung terlihat.
"Indah sekali di tempat ini Daren, sangat cantik." Ucap lexia lalu membuka jendela itu yang terhubung dengan kolam renang pribadi yang luas serta dua kursi santai berada di tepi kolam. Lexia berdiri mengamati pemandangan indah itu.
Pelukan mesra dari belakang punggungnya membuat lexia berbalik. "Kau tidak lelah sayang? Sebaiknya kita mandi." Bisik daren.
Lexia menggelengkan kepalanya. "Aku masih ingin berdiri di sini tuan mesum, karena jika aku mandi bersamamu akhirnya aku akan berakhir di ranjang." Bisik lexia, Daren tertawa.
"Kau bisa membaca pikiranku?" Ucapnya sambil menarik tubuh lexia lebih erat.
"Sangat mudah, karena hal itu selalu berputar di kepalamu bukan? Bahkan semenjak aku masih menyamar menjadi lovelia."
"Kau tidak tahu bagaimana rasanya tersiksa waktu itu, hanya melihatmu saja, apalagi jika kau berpakaian minim dan....
Ketukan Tiba-tiba terdengar dari luar pintu kamarnya. Daren berdecak dan segera membuka pintu kamarnya. Dia melihat Evan membawa ponselnya.
"Nyonya Barbara meneleponku sir." Ucap Evan.
"Abaikan saja, jangan pernah mengangkatnya atau dia akan tahu dimana aku dan lexia berada."
"Baik sir." Evan lalu bergegas pergi meninggalkan kamar Daren dan mengabaikan ponselnya yang dari tadi berdering.
~
Senyuman menghiasi wajah Alvin, dia tahu jika Daren dan lexia berhasil lolos, kali ini ayahnya pasti begitu geram, dan itu begitu menarik bagi Alvin, dia mengangkat kakinya ke atas meja sambil mengamati satu foto yang di pegangnya.
"Aku akan selalu membuatnya sesibuk mungkin, aku tidak akan membiarkan kesuksesan terus membayangi ayah, dia juga harus merasakan bagaimana rasanya kekalahan berada di pihaknya." ucap Alvin lalu kembali menyimpan foto berharga yang selalu di simpan di dalam dompetnya.
Alvin tertawa terbahak-bahak kemudian dia mengambil gelas yang berisi wine hitam dan meneguknya perlahan. "Untuk tuan Juan Robert, selamat atas kekalahanmu ayah, aku berjanji akan selalu menikmati setiap detik kekalahanmu di masa mendatang." kekehnya.
~
Malam itu lexia yang akan memasak makanan untuk daren, karena pelayan yang akan menyediakan makanan untuk mereka akan datang besok pagi, jadi kali ini lexia lah yang menyiapkan semua makanan malam ini.
Lexia membuka kulkas dan memperhatikan semua makanan yang harus diolahnya. "Ck daren sama sekali tidak mempercayaiku, aku bisa masak tentu saja, meskipun masakanku sederhana tetapi nenek Kenzo pernah mengajariku sekali meskipun sebentar." lexia mengeluarkan semua bahan-bahan yang akan di masaknya.
Kali ini dia akan membuat makan malam sederhana ala lexia yaitu sphagetti dengan saus tomat dengan irisan daging ayam, lexia mengenakan celemek bunga-bunga berwarna pink dan mulai memotong-motong daging ayamnya dan merebus sphagettinya, kemudian dia kembali membuka ponselnya lalu membaca langkah selanjutnya.
"Sepertinya aku harus menuang ini ke dalam wajan dan...mata lexia melirik manakala Daren sudah ada di sana sambil menopang dagu memperhatikan lexia yang sedang memasak. Dia tersenyum miring lalu mendekat ke lexia dan memeluknya.
"Menu apa yang akan kau hidangkan Mrs.Daren?" tanyanya. Dia menyembunyikan wajahnya di leher lexia dan merekatkan pelukannya.
"Aku mencoba membuat sphagetti dengan saus tomat, sepertinya menu itu yang paling gampang yang bisa kuhidangkan." ucap lexia sambil mengkerucutkan mulutnya dan bersandar di tubuh Daren.
"Butuh bantuan?" tanya daren.
"Kau bisa masak?"
"Kau meragukanku Mrs Daren? aku bisa segalanya sayang."
"Kalau begitu tunjukkan padaku, karena aku tidak yakin masakanku akan bisa di makan, aku takut kita nantinya akan sakit perut." ucap lexia menaikkan bahunya.
"Apa yang akan kau hadiahkan jika kali ini aku yang memasak? aku tidak mau membuatnya gratis begitu saja, harus ada bayarannya, jerih payahku tidak gratis lexia?" bisiknya menggoda lexia.
"Hem, tidak ada yang gratis di dunia ini sayang." bisik daren kemudian dia melepaskan pelukannya dan mulai memasak masakan yang sudah separuh di kerjakan oleh lexia. Hidangan yang di buat oleh Daren akhirnya selesai dan mereka berdua menikmati masakan Daren yang lezat.
"Bagaimana masakanku lexia? lezat bukan?"
Lexia lalu mengangguk dan menyantap makanannya, karena sejak tadi siang dia memang keroncongan dan tidak sempat makan karena kejar-kejaran sejak tadi pagi hingga siang hari.
Setelah selesai makan mereka berdua bersama-sama membersihkan semua peralatan masak, Daren membersihkan meja dan lexia yang mencuci piring, baru pertama kali Daren melakukan semua kegiatan bersih-bersih seperti ini karena dia terbiasa di layani, tetapi bersama dengan lexia semua terasa sangat menyenangkan baginya.
__ADS_1