
Keputusan tepat yang dilakukan Fairley dengan menarik tangan Axton dan segera berlari menjauhi cowok-cowok yang lagi nongkrong di sudut jalan itu, mereka tidak menyukai orang baru apalagi model Ax yang memperlihatkan kemewahan yang di kenakannya.
Mereka berdua berlari cukup jauh menjauhi kerumunan, Fairley membawanya ke sudut gank di sana ada cafe kecil unik berbentuk rumah Hobbit dengan hijau mendominasi tempat itu, meskipun kecil banyak orang yang mampir untuk membeli kopi dan teh di sana atau ice kopi.
Fairley mengambil napas, dia merasakan paru-parunya terasa sakit karena habis berlari kencang. Dia tidak menyadari ketika tangannya masih menggenggam erat tangan Axton.
"Mereka tidak mengejar kita, untung saja, aku tidak mau menambah daftar musuh di memoriku gara-gara kau." Ucapnya sambil kembali mengintip jika saja mereka membuntutinya.
"Jadi, sampai kapan kau akan memegang tanganku?" Ucap Ax di sampingnya yang menatap tangan Fairley, dia menggenggam erat tangan Axton.
"Ouch sorry." Ucapnya terkejut sambil melepaskan tangan Ax dan uniknya dia menatap Ax seakan dia sengaja berlama-lama memegang tangannya.
Fairley mengusap tangannya yang berkeringat di hoodie yang dikenakannya. tatapannya kini beralih kepada Ax yang juga menatapnya.
"Untuk apa kau mencariku?" Tanya Fairley sambil bersedekap, dia menatap Ax tajam dengan ekspresi menuduh sambil mengetuk-ngetuk kakinya.
"Aku ingin berbicara beberapa hal padamu, oh ya kemarin." Ucap Ax menjentikkan jarinya mengingat peristiwa kemarin, sakit di kakinya masih terasa dan berdenyut.
"Kakiku masih sakit karena tendangan dari kaki kecilmu itu, meskipun kakimu kecil tetapi aku seakan-akan di tendang oleh bison raksasa, kau tahu bagaimana perihnya tulang kakiku." Ucap Ax sambil memegang tungkai kakinya.
"Bagus untukmu." Ucap Fairley tidak perduli. Dia mendengus dan segera meninggalkan Ax, tetapi Ax mengikutinya dan berjalan di sampingnya.
"Bagus untukku? Ucapan yang manis sekali nona kasar?" Ucap Ax sengaja membuat Fairley marah, tiba-tiba Fairley berhenti berjalan, dia kemudian menghadap kearah Ax dan menengadah menatap wajahnya yang dibingkai dengan ketampanannya.
"Mengapa kau masih mengikutiku? Jika kau memang ingin membalas dendam kepadaku karena tendanganku kemarin, oke, sekarang kau bisa membalasnya dan segera pergi dari hadapanku, aku sungguh tidak mau berurusan dengan pria manja sepertimu." Ucap Fairley tajam, wajahnya merengut menatap dengan mata coklatnya.
Ax mengerjap, dia berkedip beberapa kali dan tidak menyangka jika gadis kecil ini akan menerima pembalasannya. "Ka...kau bersedia? Itu bagus, ganteng, maksudku kau gentle, tapi ibu mengajariku untuk tidak akan pernah memukul seorang wanita, apalagi gadis kecil sepertimu, jadi aku hanya....
"Hanya apa? Jika memang kau tidak ingin membalasku, segera pergi dari sini atau kau akan mendapatkan masalah, tempat ini tidak cocok untukmu, jika mereka melihatmu kau tidak akan selamat.
"Baik, baik aku akan segera pergi tapi....kau harus memberitahukan kepadaku siapa namamu?" Tanya Axton bersungguh-sungguh.
Fairley mengerutkan keningnya menatap Ax dengan pandangan aneh. "Untuk apa kau ingin tahu namaku?" Tanyanya.
"Erm, aku hanya ingin tahu saja, siapa tahu aku akan berubah pikiran untuk membalas dendam kepadamu, jika nanti aku tahu namamu kau tidak akan bisa menghindariku karena....."
Fairley benci dengan omong kosong yang diucapkannya, dengan satu kakinya dia kembali menendang kaki Ax setelah itu Fairley berlari kencang meninggalkan Ax yang mengaduh kesakitan dan memegang tulang keringnya yang di tendang.
"Rasakan itu, dia cerewet sekali, kenapa dia selalu menggangguku?" Ucap Fairley berjalan cepat tetapi sesekali berbalik menatap tempat Ax berdiri. Fairley tiba-tiba berhenti, semua yang dikatakannya akhirnya menjadi kenyataan, pria bodoh itu sedang di hadang oleh empat pemuda yang terlihat mengerikan, botol kosong berada di tangan salah satu mereka, dan salah satu mereka memamerkan keahliannya dalam meninju.
"Sial ! Pria itu benar-benar pembuat masalah." Ucap Fairley. Dia kemudian meniup peluit keras dan berpura-pufa berlari menuju ke arah mereka.
"ADA POLISI, POLISI LARI.....CEPAT LARI." Keempat pemuda itu berlarian hingga mereka sembunyi di gank-gank sempit. Fairley lalu menarik kembali Axton dan berlari sekencang-kencangnya meninggalkan daerah berbahaya itu, tangannya menggenggam erat tangan Ax.
Tubuhnya mengikuti kemana gadis ini membawanya, matanya bersinar terang manakala tangannya terasa hangat ketika di genggaman gadis kecil ini, rambutnya yang beterbangan seakan Ax melihatnya dengan slow motion, tatapannya tidak lepas dari gadis menyebalkan yang kini membuat jantungnya mulai berdetak aneh, perasaan aneh yang dirasakan Ax baru kali ini dia rasakan seumur hidupnya.
Fairley berhenti berlari ketika tempat mereka cukup ramai, apalagi di ujung jalan terdapat dua orang Officer yang sedang berjaga. Fairley melepaskan tangan Ax dan menunduk sambil memegang lututnya.
"Ugh baru kali ini aku berlari begitu kencang dan sangat jauh, ini semua salahmu, kau harusnya lari ketika melihat mereka mendatangimu." Ucap Fairley sambil ngos-ngosan menahan sesak di napasnya.
"Kenapa aku harus lari? Aku bisa menghadapi mereka dengan tangan kosong, kau tidak tahu ya, aku ini juara dalam....
Fairley tidak mau mendengarkan omong kosongnya dan segera pergi dan berbalik menjauh dari Ax yang lagi-lagi mengikuti kemana dia pergi.
~
__ADS_1
Lexia terlihat khawatir, dia melepaskan tubuhnya dari pelukan Daren dan segera mencari bathrobe yang teronggok di atas lantai ketika Daren tidak berhenti menyerangnya hingga dia melewatkan makan malam, lexia dan Daren sekarang berada di mansion tuan Caesar yang ada di Manchester united, tubuhnya sangat letih, dia menutup tubuhnya erat dan duduk di depan jendela sambil menekan nomor ponsel Ax dan segera meneleponnya.
Beberapa kali deringan tidak diangkat oleh Ax, nanti pada deringan kelima Ax baru mengangkat teleponnya. "Axton, kau kemana saja, mengapa lama sekali kau mengangkat telepon dari ibu?" Ucap lexia jengkel.
"Sorry mommy aku berada di kamar mandi." Ucap Ax yang memang baru selesai mandi ketika baru kembali dari sekolah dan menemui gadis bertubuh mungil itu.
"Kau sudah makan?" Tanyanya.
"Yup mom, jangan khawatir, aku tidak akan menahan diriku jika aku lapar, mom cukup bermesraan bersama Daddy saja dan membawakan aku adik kecil." Ucapnya.
"Dari mana kata-kata itu berasal axton sayang?" Tanya lexia menipiskan bibirnya setipis pisau di dapur.
"Ok, ok aku cuma bercanda tetapi jika mom membawa kabar baik itu, aku akan sangat senang mendengarnya setidaknya ibu memiliki satu lagi anak yang harus di awasi." Senyum Ax jahil.
"AXTON !" Teriak lexia.
"Aku sayang mom dan dad, selamat malam." Ucap Ax lalu tersenyum jahil dan cepat-cepat menutup teleponnya, dia bisa membayangkan wajah ibunya yang merengut dan mengacak rambutnya ketika dia marah.
Ax menyandarkan tubuhnya di sofa empuk di depan jendela besar yang langsung menghadap ke taman, dia tersenyum miring mengingat petualangan kecil mereka tadi siang, masih melekat di ingatan Ax wajah cantik dengan tatapan tajam berwarna coklat, hidung kecil yang mancung dengan garis rahang yang tajam serta bibir merah merona. Tiba-tiba Ax tertegun sendiri, dia lalu menghalau ingatan itu dengan tangannya seakan mengusir lalat dari hadapannya.
Seseorang sedang terkikik dari balik pintu, tanpa mengetuk mereka berdua mengintip Ax yang sedang melamun, kadang menggeleng dan menghalau sesuatu dengan tangannya.
"Apa kita rekam saja dan kita kirim kepada bibi lexia?" bisik Dazon kepada Neil. Ax berbalik mendengar bisik-bisik dari pintunya, dia segera berjalan dan membuka lebar pintu kamarnya.
"Apa yang kalian lakukan bocah-bocah ingusan?" ucapnya sambil bersedekap menatap jengkel kepada mereka berdua.
"Boleh kami masuk, mungkin kedatangan kami akan membawa angin baru yang segar di ingatanmu sepupu, maksudku aku memiliki beberapa petuah untuk menarik gadis yang kau sukai." ucap Daneil dengan sok bijaksana.
"Kalian masih terlalu kecil, memangnya kalian tahu apa soal gadis? 24 jam kalian di awasi oleh pengawal-pengawal kalian, sinting eh." ucap Axton menggelengkan kepalanya.
Ax mendengus, dia kemudian menggeleng tidak percaya.
"kau pikir di usia kami yang belia ini tidak bisa menggaet seorang gadis? kau tunggu saja bagaimana Dazon akan mengajarimu memikat gadis yang kau sukai Ax." Ucapnya lagi.
"Ngomong-ngomong siapa nama gadis itu?" tanya Neil.
Ax mengangkat satu alisnya, lalu tersenyum miring. "Untuk apa kalian tahu." Ucapnya. Dazon kemudian tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di sofa.
"Axton tidak mengetahui namanya, tentu saja dia tidak memberitahu kepada kita siapa nama gadis yang menarik perhatiannya itu." ucapnya. Jawaban Dazon seakan menohok Ax, dia kemudian berbalik dan memainkan ponselnya tidak memperdulikan mereka berdua.
"Lihat sikapnya itu, yang kukatakan pasti benar, dia tidak tahu nama gadis itu." bisik Dazon kepada Neil.
~
Matahari bersinar dengan cerah, tetapi kecerahan itu tidak membuat suasana hati gadis yang duduk di halaman rumahnya juga cerah, dia memiliki banyak hal yang harus dia pikirkan. Tiga hari lagi pembayaran rumah mereka akan jatuh tempo, sedangkan uang yang mereka kumpulkan belum cukup untuk menutupi kekurangannya. Fairley berpikir keras, dia bingung mencari pekerjaan apalagi yang bisa di lakukannya.
"Fairley?" panggil sang ibu kepadanya.
"Sarapan sudah siap." Ucap ibunya. Fairley segera bangkit dari duduknya kemudian melangkah dan masuk ke dalam rumahnya. Mereka sarapan bersama.
"Jangan lupa, Setelah pulang sekolah kau harus pulang dulu ke rumah, ibu akan menyiapkan makan siangmu, kau bisa memanaskannya ketika pulang nanti." Ucap sang ibu.
Fairley mengangguk lalu dengan cepat dia menghabiskan sarapannya, setelah itu dia mengambil tasnya yang dia taruh di atas lantai kemudian mengecup pipi ibunya dan segera berangkat ke sekolah.
"Aku berangkat Mom." Ucapnya.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan." Fairley berbalik dan melambai kepada ibunya.
Seperti hari-hari biasanya Fairley berangkat ke sekolah, kali ini dia berjalan kaki tanpa menggunakan sepeda merah tuanya karena kemarin bannya kempes jadi dia tidak sempat memperbaiki sepedanya. Tiba-tiba bunyi klakson mobil mengagetkan Fairley, dia berbalik dan mendapati Ax memarkirkan mobilnya di sisi jalan.
"Kenapa kau tidak naik dan aku akan mengantarmu ke sekolah?" tanyanya.
Fairley menatap heran kepada Ax, dia kemudian pergi tidak memperdulikan tawaran Ax. "Kenapa sih dia selalu muncul, apa dia tidak tahu tempat ini berbahaya untuknya?" ucapnya.
"Hei, kau mendengarku??" ucap Ax.
"Jangan pernah ke tempat ini cepat pergi." Ucap Fairley matanya menatap jalanan yang cukup ramai dia harus berjalan sekitar 15 menit lagi untuk sampai ke sekolahnya.
Axton keluar dari mobilnya dan kemudian berjalan di sebelahnya.
"Kalau kau tidak mau memberitahu namamu, aku tidak akan pergi, beritahukan namamu dulu." Ucapnya. Fairley memutar tubuhnya menghadap kepada Ax.
"Fairley, puas." Ucapnya, dia kemudian berjalan kembali tanpa memperdulikan Ax yang tersenyum ketika dia menggumamkan nama Fairley.
"Ok, hari ini sampai di sini dulu, Fairley." Ucap Ax tersenyum kemudian dia kembali ke dalam mobilnya dan pergi dari sana. Fairley berbalik Sebentar dan menatap mobilnya menjauh.
"Kenapa sih, dia terus datang." Gumam Fairley lalu menggelengkan kepalanya kemudian melanjutkan perjalanannya.
~
Esok harinya lagi Ax sudah berada di sana menunggu Fairley sambil bersandar di mobilnya, dia baru saja keluar dari Restaurant paman Jhon dan menatap Ax yang sedang menunggunya di ujung jalan. Fairley melangkah dengan tergesa-gesa, sambil sembunyi-sembunyi tetapi Ax tentu saja dapat melihatnya.
"Kau mau lari ya?" tanyanya.
"Kau pasti mau tahu namaku bukan?" ucapnya.
"Tidak, aku sama sekali tidak mau tahu namamu." Ucap Fairley mengacuhkannya.
"Namaku Axton Burchard, kau bisa memanggilku Axton." ucapnya. 'Axton.' gumam Fairley, tiba-tiba saja kakinya berhenti berjalan karena menatap seseorang yang berdiri di sana. Mereka sekelompok gadis yang berkelahi dengan Fairley beberapa hari yang lalu. Mereka menatap Ax lalu menatap Fairley dengan tatapan menghina.
Mereka berempat mendatangi Fairley dan Axton yang sedang berjalan bersama. Senyum mengejek terpampang dari wajah mereka.
"Owh, gadis Padang rumput kita sudah memiliki kekasih rupanya? dimana kau mendapatkannya, apa kau menjual dirimu sampai-sampai kau bisa mendapatkan cowok sepertinya?" Ucapnya. Dia memasang wajah semanis mungkin kepada Ax dan berdiri dihadapannya.
"Jangan percaya kepada gadis busuk ini, dia itu gadis bodoh yang selalu menggoda pria-pria, kau pasti di bohongi juga olehnya, tinggalkan saja dia, kau bisa bergabung dengan kami." Ucapnya sambil menatap Ax dengan pandangan sensual.
Axton mengambil ponselnya tanpa berbicara kepada keempat wanita di depannya. "Andrei ada seorang gadis jelek mengganggu temanku, dia juga mencoba menggangguku jadi singkirkan dia Sebelum aku muntah dengan bau busuk dari mereka." Ucap Axton tidak lama kemudian dua mobil hitam berhenti di depan mereka semua dan 6 orang pengawal segera turun dan mengusir keempat gadis yang ternganga mendengar kata-kata Ax.
"Lepaskan aku bodoh !" Ucap salah satu gadis pirang itu menatap marah kepada Fairley, dia sangat iri kepadanya. Salah satu pengawal tiba-tiba menamparnya.
"Jika kau tidak ingin terluka, tutup mulut dan pergi dari sini." Ucap salah satu pengawal Ax kepada keempat gadis itu.
Fairley ikut ternganga mendengar dan melihat pria-pria berpakaian hitam lengkap dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, layaknya di film-film, mereka segera mengusir keempat gadis itu dan kembali kepada Ax dan sedikit menunduk setelah itu mereka kembali ke dalam mobilnya dan menyingkir dari sana.
"Siapa sebenarnya kau ini?" Ucap Fairley. "Kau tahu?? dengan tingkahmu tadi, mereka pasti akan membalasku, terima kasih untukmu, setiap bertemu denganmu hariku menjadi sulit, aku tidak punya waktu untuk meladenimu, aku harus pergi." Ucap Fairley jengkel.
"Kau mau kemana?" tanya Axton.
"Kerja, aku harus mencari pekerjaan." ucapnya.
Axton berpikir sebentar, kemudian dia menarik tangan Fairley, "Ikut denganku, kau mencari pekerjaan bukan? aku memiliki pekerjaan untukmu."
__ADS_1