
Siang itu, ketiga pengawal penting dari tuan Caesaar sedang menyelidiki sesuatu, mereka menyelidiki mengenai Riel, serta tujuan yang dilakukan olehnya untuk menyembuhkan dirinya. Sekalipun bisa di katakan kalau riel memiliki keinginan sembuh, tetapi dia tiba-tiba menghilang begitu saja, hal ini membuat thomas khawatir dan ingin menyelidikinya.
"Sir, saya dapat perintah dari Nyonya lexia untuk memata-matai wanita bernama Audy Ricardo." Ucap paulo.
"Tuan Dazon juga memerintahkan kepadaku untuk memeriksa latar belakang wanita itu." Ucap thomas.
"Wanita itu sepertinya memiliki orang penting di belakangnya, sehingga dia berani bertindak jauh."
"Mungkin, kita belum tahu sebelum menyidikinya." Ucap thomas.
Thomas berhenti di pelataran parkiran yang lokasinya agak jauh dari lab di universitas itu, sedangkan paulo meneruskan untuk membuntuti wanita bernama Audy Ricardo.
Sementara Loue tugasnya tetap memperhatikan pergerakan orang-orang Crounus didalam mobil. "Belum ada pergerakan sama sekali dari lab itu, mungkin kita harus menyusup ke dalam, lalu menempatkan kamera di sana, agar kita dapat mengetahui apa yang sedang mereka kerjakan." gumam thomas.
~
~
Dazon mengenakan kemejanya sambil memperhatikan istrinya yang sedang memilih-milihkan dasinya yang cocok.
"Hm, mana yang cocok ya?" Ucap hanna bingung, sambil memperhatikan dasi berwarna silver di tangan kanannya dan dasi berwarna hitam motif garis di tangan kirinya.
Hanna kemudian berbalik lalu menatap jas yang akan di kenakan dazon berwarna biru malam. "Hm, sepertinya ini yang cocok." Dia memilih dasi berwarna hitam motif garis, dia lalu menaruhnya di dekat jas yang akan di kenakan oleh dazon.
"Pasangkan sayang !" Perintah dazon, kancing kemejanya masih belum terpasang, hingga tubuhnya terlihat dengan jelas. Hanna mendekati dazon lalu memasang kancing kemejanya dengan wajah serius, dazon memperhatikan mata berwarna coklat yang masih fokus menatap kancing-kancing kemejanya sambil mengerutkan keningnya hingga membentuk huruf V.
"Serius sekali?" Ucap dazon sambil mengangkat dagu hanna agar dia menatapnya.
"Mmm, jangan ganggu, aku sedang konsentrasi." Ucap hanna menepis tangan dazon.
"Ck, kalau begitu aku akan mengacaukan konsentrasimu." Seru dazon, dia meraih wajah hanna dan menciumnya, membuat hanna terkejut karena serangan kuat dari dazon yang tiba-tiba. Ciumannya kini berubah melembut, setelah beberapa menit yang mendebarkan, dazon melepaskan bibir hanna, lalu tersenyum kepadanya.
"Sekarang kancingkan sayang, jika tidak, aku aku akan terlambat berangkat ke kantor dan aku ada meeting sebentar lagi, salahkan dirimu yang selalu terlihat menggodaku." Ucap dazon masih mencuri-curi ciuman hanna secepat kilat sehingga hanna menutup bibirnya dengan tangannya.
"Aku tidak akan selesai daz, berhenti ! Atau aku akan mengenakan masker." Ancam hanna. Dazon terkekeh senang, kali ini dia sungguh tergoda, dia lalu mengangkat tubuh hanna hingga hanna menjerit.
"Akkhh ! Dazon apa yang kau lakukan, turunkan aku!"
kedua kaki hanna melingkar sempurna di pinggangnya. Dia kembali menyerang bibirnya hingga kepala hanna terlihat terdorong ke belakang.
"Persetan dengan terlambat dan meeting, kau terlalu menggoda untuk di tinggalkan begitu saja sayang." Ucap dazon menghempaskan hanna di atas tempat tidur dan segera saja dazon melakukan kegiatan favoritnya yang akhir-akhir ini sangat menguras energi hanna.
~
~
__ADS_1
"Hari ini cukup sampai di sini, kau bisa istirahat Riel," ucap prof Vandash. Riel hanya mengangguk, dia masih bersandar pada dinding dan menatap dari kaca dan melihat pria tua itu telah meninggalkan labnya.
"Aku butuh udara segar." Bisik riel, "Aku harus pergi, aku harus menghirup udara segar." Matanya memerah, dia segera membuka pintu lab yang tidak terkunci dan segera keluar dari tempat itu.
~
~
"Harusnya kau tutup mulut ! Kau harusnya sadar diri dengan posisi kalian bertiga, kalian sangat angkuh, pelayan yang tidak menghormati majikannya tidak layak bekerja di tempat ini, aku heran mengapa kalian bisa dipekerjakan di mansion tuan Caeaaar dengan tingkah sembrono, dan tidak tahu malu seperti kalian, aku betul-betul malu, segera kemasi barang-barang kalian semua, akan ada inspeksi dari pengawal luar mansion, dia akan memeriksa barang-barang kalian." Ucap wanita tua yang menatap tajam mereka.
"Membuatku malu saja." Ucapnya sambil memperbaiki kacamatanya dan segera keluar dari kamar mereka semua.
"Sial ! Kenapa menjadi seperti ini, semua gara-gara wanita itu, aku tidak akan pergi tanpa melakukan sesuatu kepadanya, gara-gara hanna Tan kita semua di pecat." Ucapnya geram.
"Berpikirlah sebelum bertindak megan, nanti kau akan menyesali perbuatanmu, aku tidak mau lagi ikut campur dan membantu dirimu yang iri kepada Nyonya Hanna." Ucap salah seorang dari mereka, dia segera menyeret tasnya dan keluar dari kamar itu, begitupun temannya yang satu, dia tidak mau lagi ikut campur, semua karena kebodohannya mengikuti megan yang selalu iri kepada penghuni di rumah ini, awalnya dia sangat iri kepada Fairley, setelah kedatangan Hanna kebenciannya semakin besar, dia tidak bisa menerima dirinya apa adanya.
"Apa mereka bilang?? Nyonya Hanna? Jangan panggil namaku megan, jika aku keluar dari tempat ini tanpa melakukan sesuatu kepada wanita itu." Ucapnya sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Wanita itu keluar dari kamar, dia berjalan dan menyeret kopernya sepanjang koridor. Matanya tiba-tiba beralih dan menatap dari kejauhan tuan dazon dan istrinya sedang bercumbu di depan kamar mereka.
"Apa yang wanita itu lakukan sampai tuan muda dazon kepincut kepadanya, apakah tubuhnya? Atau dia memberikan sesuatu yang special, sampai-sampai tuan dazon tidak melepaskannya dan menikahinya?"
Dia kembali menyeret kopernya dan turun ke lantai satu di tempat para pelayan berkumpul.
Semua pelayan menatap megan dan dua pelayan lainnya, megan sama sekali tidak menyesali perbuatannya, dia malah mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dan tidak menunjukkan penyesalannya.
Ketiganya segera pergi, megan nampak angkuh menyeret kopernya, ketika dia membuka pintu belakang, dia kembali menatap kemesraan Hanna dan tuan muda dazon, matanya tajam menatap mereka berdua. Seperti kehilangan pengendalian dirinya, wanita itu berjalan menghampiri Hanna, dia meninggalkan kopernya begitu saja, dia ingin melakukan sesuatu padanya, ingin mencakar atau setidaknya menarik rambutnya agar dia merasakan rasa sakit, seperti rasa sakit di hatinya.
Belum juga dia sampai ke tempat Hanna, lexia sudah berdiri di antaranya, dia mendorong keras pelayan bernama megan, dan menarik dan menjambak rambutnya, dia berusaha menarik rambut lexia, tetapi sayang sekali lexia lebih kuat dan lebih tinggi darinya. Kekuatan lexia dua kali lebih besar darinya, sehingga wanita itu terseret ke tempat para pelayan berkumpul.
"Kau ! pelayan kurang ajar, pelayan tidak tahu malu, aku heran kenapa kau bisa bekerja di keluarga kami, mengapa jenet bisa menerima wanita j4lang sepertimu, kau tidak akan keluar tanpa mendapatkan pembalasan setimpal dariku." Teriak lexia.
Tubuh megan tertunduk, dia mencoba melepaskan tarikan rambutnya. Semua orang memperhatikannya. Hanna menutup mulutnya menatap pemandangan itu, mereka semua mendekat ke tempat lexia. Para pengawal sejak tadi ingin meringkus wanita itu tetapi di halau eh lexia, Tidak ada yang bisa menghentikan lexia, thomaspun sulit untuk menghentikannya jika dia sudah terlanjur ikut campur.
Lexia melepaskan tarikan rambutnya, hingga rambut megan terhentak ke belakang. Wajah wanita itu memerah apalagi sekarang rambutnya yang ikal terlihat acak-acakan, karena tarikan keras lexia.
Semua pelayan melongo melihat megan, dia tidak menyangka kenekatan megan sudah sangat di luar batas, apalagi dia hanyalah seorang pelayan dan ingin melawan majikannya, tindakan dia betul-betul sangat bodoh.
Thomas dan loue baru saja memasuki pelataran parkiran mansion, dia menyaksikan ribut-tibut di taman, matanya memperhatikan sosok pelayan yang berdiri dengan rambut dan pakaian acak-acakan, dia terlihat masih berdiri menantang di hadapan nyonya lexia.
Segera saja dia keluar dari mobil dan segera berjalan cepat menuju ke tempat kejadian.
~
"Dazon dan Hanna memperhatikan semua kejadian itu. "Apa yang terjadi hanna, kenapa bibi lexia melakukan hal seperti itu kepada seorang pelayan?" Tanyanya.
__ADS_1
Hanna ragu-ragu menceritakannya, tetapi dia harus memberitahu dazon apa yang terjadi.
"Erm, pelayan itu mengenalku, sewaktu aku masih bekerja di mansion di Oklahoma saat usiaku 16 tahun, sepertinya dia tidak bisa menerima aku menikah denganmu dan juga dia bersikap kurang ajar kepada fairley dan padaku, jadi bibi lexia sangat geram, dia memecat mereka bertiga, dan sepertinya kedengkiannya yang di luar batas itu telah menguasainya, dia tadi hendak melakukan sesuatu kepadaku, apa tadi kau tidak melihatnya? tetapi bibi lexia menghalanginya dan menarik rambutnya." Ucap Hanna.
Dazon dan hanna melangkah mendekati tempat lexia yang sedang mengomel di sana sambil menunjuk-nunjuk wanita berambut merah itu.
"Bibi lexia tidak apa-apa?" Tanya dazon.
Lexia menoleh dan melihat Hanna dan dazon berdiri di dekatnya.
"Tentu saja aku baik-baik saja Daz, kau lihat? pelayan sialan itu hendak melukai hanna, dia ingin melakukan sesuatu kepadanya sebelum dia meninggalkan mansion ini, untung saja aku sedang duduk di taman dengan ibumu, jika tidak ! Dia sudah melukai Hanna." Ucap lexia sambil berkacak pinggang. Nara turut berdiri di samping lexia, menatap jijik kepada wanita bernama megan itu
"Benarkah !" Matanya tajam dan berkilat menatap wanita itu, hal yang masih belum di percayai lagi, bahwa tidak ada rasa penyesalan di wajah wanita itu, seakan penentangannya kepada mereka bukanlah apa-apa baginya.
"Tu..tuan Dazon, aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Hanna, dia dulunya adalah teman baikku sewaktu di Oklahoma." Ucapnya.
Lexia menampar kepala wanita itu dengan telapak tangannya.
"Berani sekali ular betina ini masih bisa berbicara, sepertinya perhitunganku tidak mempan untukmu ya !" Geram lexia.
"Ouch, Nyonya sakit ! Tuan dazon tolong aku." Ucapnya sambil mengusap kepalanya.
Thomas segera mendekat dan menghampiri Tuan Dazon.
Dazon berbalik dan menatap kedatangan thomas. "Sekarang kau di sini, aku ingin kau melakukan sesuatu thomas, bawa wanita ini keluar dari mansionku, kalau perlu jangan biarkan dia berada di Atlanta, bawa dia pergi menjauh dari kota ini, aku tidak ingin istriku dalam bahaya hanya karena pelayan rendahan seperti dirinya." Ucap dazon dengan ekspresi datar.
Bibir wanita itu bergetar, mendengar perintah dari Dazon. " Tuan, anda tidak berhak mengusirku, anda....
Thomas segera memberikan perintah kepada pengawal-pengawalnya untuk menyeret megan keluar dari mansion, dan dia akan di bawa ke kota tertentu yang berada jauh dari kota Atlanta.
"Sepertinya wanita itu gila, mengapa wanita seperti itu bisa lolos bekerja di mansion ini?" Tanya jennifer yang berada di samping fairley.
"Entah setan apa yang merasukinya, dia terang-terangan melawan bibi lexia, apa dia belum tahu jika bibi lexia betul-betul marah, dia mungkin akan menggunting habis rambut wanita itu atau menggunting bulu matanya, bisa saja dia memaksanya menjahit bibirnya agar tidak membuka lagi."
"Jennifer? Kebohongan dari mana kau dengar itu sayang?" Ucap lexia tersenyum tertahan.
Jennifer menutup mulutnya, "haha bibi, cerita ini berasal dari dazon dan daneil juga kak Ax, sewaktu kecil, mereka biasa menceritakan kisah bibi kepadaku." Ucap jennifer tanpa merasa bersalah sambil mengacu kepada dazon yang berdiri di sana.
Dazon menatap bibinya dengan terkejut ketika lexia berbalik menatapnya.
"Bukan aku bibi, cerita itu semua aku dengar dari Axton, sepertinya aku betul-betul sudah terlambat, sayang aku berangkat kerja dulu." Ucap dazon tanpa mengalihkan matanya dari hanna, karena sejak tadi lexia memicingkan matanya kepadanya. Dazon memberikan kecupan kilat kepada istrinya dan segera berjalan secepat mungkin meninggalkan mereka semua.
~
"Sialan, aku tidak akan memaafkan kalian semua terutama Hanna Tan, keluarganya saja tidak jelas, awas saja dia." Ucap Megan sambil menendang batu di pinggir jalan, sosok yang berjalan berlawanan arah dengannya tiba-tiba berhenti, manakala mendengar segala caci maki yang ditujukan kepada nama Hanna Tan.
__ADS_1
Dia berhenti berjalan, dan menoleh kepada wanita berambut merah yang terus-terusan mengoceh.
Dia kemudian berbalik arah, mengikuti wanita itu, dengan segala ocehannya, kedua tangannya di saku, berjalan pelan di belakangnya dan menunggu kesempatan, apa yang telah wanita itu lakukan kepada adiknya? Riel masih mengikutinya, giginya beradu ketika mendengar segala cacian kotor yang terus keluar dari bibir megan.