
Dazon mulai menata kembali keluarganya, berusaha keras untuk selalu ada untuk istri dan anaknya, tempat kembalinya dari rasa lelah dan penat, keluarga kecilnya menjadi tempat penghiburan baginya dari segala macam pekerjaan yang membebaninya.
Mereka akhirnya makan siang bersama, setelah satu wortel dan dua kentang jadi korban dazon, tidak ada yang bisa di gunakan lagi dari hasil kerja dazon ketika mengupas wortel dan kentang itu. Akhirnya semua pekerjaan Hanna yang mengerjakannya.
"Aku sangat merindukan masakanmu sayang." Ucap dazon sambil melahap habis makanan buatan hanna.
"Aku senang kau menyukainya." Ucap hanna sambil memperhatikan dazon makan. Darko sudah ada di pangkuan hanna, dia sedang minum susu sambil menatap ayahnya yang sedang makan. Gumaman lucu dari darko membuat hanna dan dazon teralihkan sambil mengajak putranya berbicara dan di balas oleh darko dengan gumaman lucunya.
Suara bel lagi-lagi berbunyi pagi itu, pengasuh darko membuka pintu dan berbicara dengan seseorang di teras depan, tidak lama kemudian pelayan itu masuk dan memberitahukan tamu yang datang.
"Tuan, ada tamu untuk anda, dia menunggu anda di teras depan rumah."
"Kenapa kau tidak menyuruhnya masuk?" Tanya hanna.
"Dia bilang akan menunggu saja di depan rumah, tuan." Ucapnya. Dazon segera keluar dari rumah dan melihat siapa tamu yang datang ke rumah pagi-pagi sekali.
Wajah dazon keheranan, sudut matanya berkerut ketika melihat seorang pria paruh baya sedang berdiri di teras rumahnya dengan canggung.
"Anda, professor Vandash." Ucap dazon. Pria itu berbalik dan memberikan senyuman sepintas.
"Selamat pagi tuan, maaf saya datang sepagi ini mengganggu aktivitas anda, tetapi saya ingin bertemu dengan nona Hanna." Ucapnya lagi.
Dazon berpikir bahwa kedatangan prof ini pasti ada hubungannya dengan riel, dia menatap ke sekeliling rumah dan lagi-lagi terheran ketika dua orang detektif yang di kenalnya telah datang dan menghampiri mereka berdua.
"Ada apa ini?" Tanya dazon, menatap kedua detektif, sepertinya ada informasi yang belum dia ketahui.
"Silahkan masuk."
Mereka bertiga masuk dan duduk di sofa ruang tamu, dazon ingin masuk ke dalam rumah dan memanggil hanna agar dia menemui mereka. Hanna yang sudah mengintip sejak tadi, begitu terkejut, jika mereka semua berkumpul pasti ada sesuatu yang terjadi kepada kakaknya.
Tanpa menunggu dazon memanggilnya, hanna segera keluar ke ruang tamu, sebelum itu, dia memberikan darko kepada pengasuhnya.
Mereka berdua duduk di antara prof Vandash dan dua detektif yang terlihat gelisah itu.
"Apa yang terjadi?" Ucap hanna melihat ke arah mereka.
Sebelum prof vandash bicara, dia akhirnya memutuskan untuk jujur kepada mereka semua.
"Nona hanna, Riel menghilang, dia tidak pernah lagi datang ke labku untuk berobat dan keadaan itu akan semakin berbahaya untuknya."
"Apa, apa maksud anda berbahaya prof." Ucap hanna dengan jantung berdebar.
"Ketika riel tidak melakukan lagi pengobatan rutin seperti biasanya, maka dia bisa saja kehilangan kesadaran dirinya."
"Kehilangan kesadaran dirinya?" Tanya hanna tidak mengerti.
"Kesadarannya sebagai manusia normal akan hilang sepenuhnya, dan di gantikan dengan riel sebagai pembunuh berantai yang mengerikan, bahkan, mungkin saja dia tidak lagi mengenali anda Nyonya hanna, jadi saya datang kemari untuk memperingati anda betapa bahayanya riel sekarang."
Hanna terguncang, tapi...tapi dia bertemu kakaknya tidak begitu lama, ketika mereka berpisah, dan dia kelihatannya baik-baik saja. Ucapan itu hanya berada di dalam kepala hanna tentu saja, karena kedua detektif menatap hanna dengan pandangan menuduh.
"Ketika kesadaran riel sudah tidak ada, maka dia hanyalah seorang predator yang mesti di lenyapkan Nyonya." Ucap prof itu dengan nada getir, selama ini dia sudah cukup akrab dengan riel, kebaikannya sebagai seorang manusia sudah dilihatnya sendiri selama mereka bekerja sama di lab itu.
"Apa yang menyebabkan riel tidak kembali ke lab anda prof?" Tanya dazon.
"Sepertinya ada sesuatu yang memicunya tuan, keinginannya untuk berhenti membunuh seketika padam."
"Pemicu?" Bisik hanna.
"Maafkan, jika aku menyela perkataan kalian semua tetapi baru-baru ini kami menemukan 2 mayat wanita dalam semalam, meskipun meninggalnya tidak sama dengan ciri-ciri yang ditinggalkan oleh riel, tetapi kami curigai pembunuhan ini di lakukan oleh Riel."
Hanna tidak bisa menampiknya, tidak ada bukti yang menguatkan riel bahwa bukan dia yang melakukannya, meskipun pembelaannya sia-sia karena sebelumnya sudah banyak wanita jadi korban riel.
Dia adalah kakakku, aku tidak akan membencinya seburuk apapun dia.
~
Siang hari setelah kepergian dua detektif dan prof Vandash, dazon menerima pesan dari ibunya untuk berangkat ke mansion dan membawa Hanna ke mansion.
"Jangan bersedih sayang, aku yakin riel sekarang sedang bersembunyi di suatu tempat, dia pasti tahu apa yang terbaik untuk dirimu dan juga untuk darko, dia tidak akan menyakitimu." Ujar dazon.
Hanna memegang tangan dazon, "benarkan? Dia pasti baik-baik saja, meskipun tadi aku sama sekali tidak mengatakan apapun untuk membelanya, riel melarangku melakukannya." Ucap hanna.
Dazon mengerutkan dahinya, dia menatap hanna dengan mata berkilat.
"Hanna, kapan dia mengatakan itu padamu?" dia menyipitkan matanya dengan tatapan menuduh.
"Sebelum kau datang malam itu, dia sempat datang, karena mengkhawatirkanku, dia bilang si mey tahu di mana aku tinggal, jadi sebelum kau datang, dia berjaga-jaga di sekitar rumah, dia tidak tampak sakit, dia bahkan dengan penuh kesadaran mengatakan kepadaku untuk melarang menolongnya dan membelanya, dia hanya menyuruhku menjaga darko baik-baik, itu kata riel yang sempat aku dengar."
Dazon mengernyitkan alisnya, "sepertinya ada yang sengaja untuk melakukan semua ini," bisik dazon.
Telepon dazon berbunyi dan itu dari ibunya.
"Kami sebentar lagi berangkat mam." Ucap dazon. Segera saja dia menggendong darko dan memegang tangan hanna, lalu membawa mereka ke mobil.
Mobil sport dazon melaju dengan kecepatan sedang, di jalanan kota Atlanta, meskipun siang hari jalanan masih padat dengan kendaraan, sekarang waktunya makan siang, jadi jalanan cukup lengang, tanpa dia sangka sebuah mobil sedan berwarna putih tetapi sudah sangat kusam dan terlihat bobrok, sedang mengikuti mereka di belakang, dazon menyadari mobil yang mengikutinya sejak tadi, bukan itu saja di samping kiri dan kanannya satu mobil jeep dengan 3 orang pengendara pria mengikuti mobil mereka. dazon mengenakan earphonenya dan menelepon pengawalnya.
__ADS_1
"Thomas kirim segera beberapa mobil ke titik lokasiku, dua mobil sedang mengikutiku." Dazon menutup teleponnya dan segera berbalik kepada hanna.
"Hanna, pegang erat darko." Ucap dazon. Hanna tidak bertanya, dia lalu mencengkram seatbeltnya dan memegang erat putranya.
"Ada apa dazon?" Ucap hanna tampak khawatir.
"Sepertinya kita diikuti," dazon menatap dari kaca spion, satu mobil sedan berwarna putih dan satu mobil jeep berwarna hitam mengikuti kemana mereka pergi.
"Mey, dia meyna Howard." Ucap hanna ketika memperhatikan dengan jelas pengemudi mobil sedan yang terlihat gila dan mengikuti mobil dazon.
"Kenapa kita tidak turun saja, aku ingin sekali menghadapi wanita tua itu, dari awal dia sudah merusak segalanya." Geram hanna.
"Tidak, terlalu berbahaya, apalagi wanita itu membawa orang." Ucap dazon dengan geram.
Mobil hanna sama sekali tidak bermaksud untuk berhenti, dia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tetapi mobil sedan itu mensejajarkan dengan mobil yang di kendarai dazon dan hanna, dia membentuk seringai menyebalkan di wajahnya, tatapannya jatuh kepada hanna dan darko.
Dia terkekeh senang, melihat wajah panik hanna. "Apa yang diinginkan wanita sinting itu." Gumam hanna. Mereka saling menatap benci, tiba-tiba saja dia memblokir mobil dazon hingga tubuh hanna tersentak ke depan, untung saja tangan darko membentangnke samping sehingga tubuh hanna tidak terhentak keras.
Setelah memblokir mobil itu, wanita itu keluar dari mobilnya lalu mengenakan kaca mata hitamnya.
Mobil jeep itu pun berhenti, tiga orang pria keluar dari mobil dengan wajah sangar dan tubuh besar, mereka pria-pria yang di sewa oleh mey untuk beraksi hari ini.
Dia mengetuk-ngetukkan sepatunya di jalan, sambil menatap dan tersenyum puas melihat kegusaran di wajah hanna. Dazon segera keluar dari mobilnya sambil menahan amarahnya, dia membuka laci dasbor dan mengambil satu pistol dan menaruhnya di belakang punggungnya.
"Berani sekali mereka menghalangiku, aku akan membunuh mereka semua." Gumam dazon, dia lalu berbalik menatap hanna.
"Jangan keluar dari mobil, selangkahpun hanna." Ucap dazon, hanna segera menganggukkan kepalanya, dazon keluar dari mobil dan berdiri persis di hadapan mobilnya.
"Apa yang kau lakukan, pergi dari sini." Suara dazon masih terdengar tenang.
"Maafkan aku tuan, aku sengaja menghalangi mobil anda karena aku perlu bicara dengan Istri anda."
"Pergi ! Tidak ada yang harus istriku katakan kepadamu." Ucap Dazon sambil menggertakkan giginya, jika pria-pria itu maju selangkah saja, dazon akan langsung menembak kepala mereka.
Dengan berani mey mendekat ke mobil hanna dan memandangnya tajam, sementara itu tiga pria sudah beranjak dan mengepung dazon, saat dazon mengeluarkan senjata api dari balik punggungnya, ketiga pria itupun mengeluarkan senjata rakitan dari balik punggung mereka dan tertawa melihat dazon.
Seandainya saja hanna tidak menggendong darko, dia sudah keluar dari mobil dan menjambak wanita tidak tahu diri itu. Tetapi, darko ada di pelukannya, dan dia takut terjadi sesuatu dengan putranya.
Dazon masih konsentrasi dengan ketiga pria yang mulai mengepungnya, hingga dia tidak melihat mey telah berada di jendela mobil hanna, dia memasukkan kedua tangannya, dia hendak mengambil darko dari pelukan hanna, dengan wajah menyeramkan dan dia terlihat tidak waras.
"Berikan anak itu padaku, kau sama sekali tidak tahu bagaimana menjaga putra tuan dazon." Ucapnya dengan menggertak giginya.
"Berikan ! atau aku akan menyakitimu." Ucap mey dengan wajah mengerikan. Hanna menaruh putranya di atas kursi kemudi yang tertutup, dia tidak perduli rambutnya telah di tarik oleh mey, setelah dia menaruh putranya, dia menonjok hidung wanita itu dengan keras hingga kepalanya terlihat terdorong ke belakang.
Dazon masih mengarahkan senjatanya kepada ketiga pria di depannya, matanya teralihkan ketika mendengar pekikan dan geraman dari arah mobilnya, dan terdengar suara darko yang menangis di dalam mobil.
hanna dan wanita itu masih saling mencengkram, dia seperti orang gila yang berteriak-teriak histeris, hanna menghalau kedua tangan mey, dan memutar tangannya, dia lalu berteriak keras.
Dia memaksa masuk ke dalam mobil dan ingin mengambil darko dari hanna, tetapi tanpa dia sadari, seseorang sudah ada di sana, begitupun tiga mobil yang berhenti, dan segera mengeluarkan senjata dan mengarahkannya kepada ketiga pria itu, kini mereka kalah jumlah, pistol yang ada di tangannya berjatuhan di jalan, tetapi salah satu dari mereka tidak menyerah, dia berusaha menembak dazon dan untungnya meleset, dengan cepat dazon balas menembak pria itu tepat di lengan atasnya hingga dia berteriak kesakitan.
Seseorang berlari secepat mungkin dan menarik rambut wanita itu dengan keras hingga kepala mey tertarik ke belakang dan jatuh ke aspal yang keras. Dia berteriak kesakitan ketika dia terjatuh dan tubuhnya membentur aspal jalanan.
"Rasakan ini, kau betul-betul sama gilanya seperti kakakmu, aku pastikan hari ini riwayatmu akan tamat." Geram lexia, dengan suara menggelegar dan berteriak keras, dia menyeret tubuh mey, hingga tubuhnya terseret seperti barang rongsokan yang di seret paksa di aspal, dia meronta-ronta kesakitan.
"Kau harus rasakan akibatnya jika berani melawanku."
Wanita itu menggeram kesakitan, tetapi tidak menyerah begitu saja, dia berusaha memegang tangan lexia dan menariknya, kekuatannya masih cukup kuat, dia menarik tangan lexia dan menghentaknya, tetapi lexia menerjangnya dan menindih tubuh mey, tangannya terus menjambak rambut mey sampai dia berteriak kesakitan, lexia tidak berhenti begitu saja, dia menyerangnya, dia menampar wajah mey berulang kali dan mencakarnya di tempat yang bisa di jangkaunya.
"Seharusnya dari dulu kau kujebloskan ke penjara, wanita sepertimu harusnya mati saja, kau harusnya menyusul kakakmu yang menyedihkan itu." Ucap lexia sambil terus menjangkau wajah mey dan memukulnya.
Thomas dan paulo kemudian memegang lexia dan mengangkat tubuhnya agar dia berdiri.
"Lepaskan dia nyonya, dia akan mati jika kau terus memukulinya." Ucap thomas.
Lexia masih di pegang erat oleh thomas, karena lexia masih belum puas untuk menyerangnya, wanita itu kini terlihat tidak berdaya karena serangan lexia.
Wanita itu mengerang kesakitan, tubuhnya sakit dan luka-luka karena pukulan dan cakaran lexia, begitupun wajahnya memerah karena tamparan keras dari lexia.
"Segera bawa wanita gila ini ke kantor polisi, sudah lama aku ingin menjebloskannya ke penjara, dia tidak ada bedanya dengan kakaknya yang j4lang." Napas lexia naik turun karena menahan amarahnya, rambutnya sudah berantakan, serta terdapat luka di pipinya.
"Jika saja kalian masih melunak kepada wanita ini, aku sendiri yang akan menyeretnya ke penjara."
"Thomas, bawa wanita ini ke kepolisian Atlanta sekarang, jangan meninggalkan kantor polisi itu sebelum kau lihat dengan mata kepalamu sendiri, dia di masukkan ke penjara."
"Baik Nyonya." Ucap thomas.
Empat pengawal membawa mey yang terlihat lunglai dan tidak berdaya, dia tidak bisa lagi melawan, tubuhnya lemah karena serangan lexia.
Mey telah masuk ke dalam mobil, mereka membawanya langsung ke kantor polisi.
Lexia sudah sedikit tenang, dia ingin segera melenyapkan wanita itu dan siapa saja yang berani dan mengusik ketenangan keluarganya.
Dazon menggendong putranya. Terdapat cakaran dan luka di tangan dan di wajahnya, dazon segera memeluk hanna, lalu memegang wajah istrinya.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya, sambil memeriksa keseluruhan diri hanna.
__ADS_1
Hanna mengangguk, berusaha tenang meskipun tubuhnya masih gemetar karena serangan wanita itu. "Aku baik-baik saja."
Lexia menghampiri mereka berdua.
"Kau tidak apa-apa hanna sayang?" Tanya lexia.
"Aku tidak apa-apa bibi, aku hanya takut jika wanita itu mengambil anakku."
"Haah syukurlah, sejak kedatangan wanita itu ke mansion aku sudah mencurigainya, aku menyuruh pengawal membuntuti wanita itu, benar yang aku pikirkan, wanita itu gila, dia segila kakaknya, meskipun kakaknya akan lebih mengerikan jika melihat pria tampan." Ucap lexia.
"Sebaiknya kalian ke mansion sekarang, ibumu sudah menunggu kalian dari tadi."
"Bibi lexia mau kemana?" Tanya dazon ketika lexia hendak pergi, tetapi berlawanan arah dengan mereka.
"Aku harus ke kantor polisi, aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, wanita itu harus di jebloskan ke penjara, jika tidak, aku tidak akan tenang, kalian pergilah dulu, nanti bibi menyusul. Dazon mengangguk dan segera mengendarai mobilnya ke mansion, para pengawal mengikuti mobil dazon, dan mengawal mereka.
Lexia membawa mobilnya sendiri menuju ke kantor polisi, dia harus memastikan wanita itu masuk ke penjara, jika dia masih bisa keluar, maka lexia berjanji akan bertindak dan menghabisinya.
~
Astaga, ada apa dengan wajahmu hanna, apa yang terjadi?" Ucap Nara, ketika mereka sampai di ruang santai, wajah nara seketika menatap dazon dan memikirkan segala hal terburuk yang bisa di lakukan oleh anaknya.
"Tenang mom, jangan melihatku seperti itu, aku akan menceritakan semuanya, tapi mommy jangan melihatku dengan tatapan seakan aku yang melakukannya, aku tidak akan mungkin menyakiti istriku sendiri." Ucap dazon dengan suara yang terdengar terluka.
Nara lalu menguasai dirinya, "Oh tentu sayang, maafkan mommy, tentu aku tidak akan mempercayai kau melakukan tindakan kekerasan kepada istrimu, tapi sebenarnya apa yang terjadi?"
Sebelum dazon menjelaskan, nara menyuruh pelayan memanggil dokter harbert untuk mengobati hanna. Nara kemudian menggendong darko, dan menyuruh pelayan membawa hanna untuk beristirahat.
"Apa yang terjadi dazon, kenapa wajah hanna seperti itu?" Nara menatap dazon dengan khawatir.
"Ini semua ulah mey, kepala pelayan itu, dia menghadang kami dan membawa sejumlah orang untuk menyakiti aku dan hanna, apalagi si wanita itu hampir saja membawa darko."
Nara terkejut, dia lalu mengangkat tubuh cucunya dan melihat keseluruhan di tubuh darko.
"Darko tidak apa-apa dia hanya menangis tadi, untung saja bibi lexia datang dan membawa para pengawal bersamanya."
"Lexia? Dia datang, oh syukurlah, bibimu sejak awal menyuruh pengawal mengikuti wanita mengerikan itu, dia tidak bisa tenang di rumah, katanya kepalanya akan sakit jika dia membiarkan wanita itu berkeliaran di sekitar kalian, tapi di mana bibimu sekarang?"
Dazon memijat-mijat keningnya, "dia sekarang bersama thomas dan paulo mengurus wanita itu di kantor polisi."
~
Lexia berada di atas mobil menunggu kabar dari paulo dan thomas, dia sudah merapikan rambutnya yang tadinya awut-awutan dan berantakan, dia juga ingin masuk ke dalam sana tetapi thomas melarangnya, dia membujuk lexia agar tetap menunggu di mobil, untuk mendengar kabar selanjutnya.
"Ck, mereka lama sekali, apa yang mereka lakukan sampai begitu lama?" gumam lexia, dia memperhatikan keadaan sekelilingnya, matanya berhenti di pojok di bawah pohon yang rindang, seorang pria bermantel hitam berdiri di sana, dia tidak bergerak hanya memandang kantor kepolisian dari jarak jauh.
"Siapa dia?" Ucap lexia.
Pria itu tiba-tiba menoleh, lalu memandang lexia, dia kemudian berbalik dan akhirnya pergi.
Dari kejauhan terlihat thomas mendatangi lexia, dia sedikit berlari menghampiri mobilnya.
"Bagaimana, apa wanita itu sudah masuk ke penjara?" tanya lexia menatap kepada thomas.
"Dia memang masuk ke penjara Nyonya, tetapi mereka mengatakan kepada kami bahwa tidak cukup bukti untuk menjebloskan dan membawa wanita langsung kepenjara pusat, mungkin sekitar seminggu, wanita itu akan keluar lagi."
"Bagaimana mungkin, jelas-jelas dia membawa orang-orang yang bersenjata dan menyerang dazon dan hanna, apa tidak ada cctv di tempat itu?" tanyanya.
Thomas harus bersabar jika harus berurusan dengan lexia, jadi dia menjelaskan satu persatu. "Kita tidak bisa terlalu mengekspos diri kita Nyonya, mereka memang membawa senjata api, tetapi kenyataannya kita pun juga membawa senjata, meskipun kita melaporkan tindakan kekerasan yang di lakukan wanita itu, tetapi belum ada bukti kuat untuk menjebloskannya dengan berat apalagi sampai bertahun-tahun, malah wanita itu menuntut balik karena luka-luka yang memenuhi sekujur tubuhnya, jadi kita harus berhati-hati."
"Jadi maksudmu, kita akan membiarkan wanita lolos begitu saja dan dia akan terus berkeliaran semaunya?" Ucap lexia tidak percaya.
"Kita harus menunggu laporan selanjutnya nyonya." Ucap thomas.
Lexia sangat marah, dia menatap ke depan dengan pandangan tajam, "Perintahkan anak buahmu mengikuti wanita itu, jika dia keluar dari penjara, jika wanita itu betul-betul telah bebas berarti dia tidak beruntung, karena aku tidak akan membiarkannya begitu saja, aku akan menghabisinya." gumam lexia tanpa menatap thomas.
"Baik Nyonya."
Thomas menatap lexia, baru kali ini wajah nyonyanya yang biasanya ceria dan periang, terlihat menyeramkan, wajahnya sama persis ketika tuan Caesaar masih muda dulu, dia menyeringai kejam, tatapannya lurus kedepan, tidak berekspresi ketika dia ingin menghabisi musuhnya.
Riel berada di sana, mendengarkan dengam cermat setiap perkataan mereka berdua, informasi ini baru di dapatkannya, karena riel terlalu lama bersembunyi di suatu tempat, hingga dia tidak mengetahui dengan cepat kabar bahwa adik dan keponakannya di serang oleh wanita itu.
Dia menyeringai, dan sama seperti lexia, dia menunggu wanita itu untuk keluar dari sarangnya, dan akan menyenangkan bertemu dengannya kembali dan melihat wajah ketakutannya.
~
Mansion Caesaar
Sama halnya dengan Nara, ketika Xaphier dan daren kembali ke mansion, mereka berdua begitu terkejut melihat luka-luka di wajah hanna, dan lagi-lagi tatapan menuduh terpancar dari wajah Xaphier dan sekali lagi dazon harus menjelaskan dari awal kejadian.
"Jadi di mana Lexia?" tanya daren.
"Sebentar lagi bibi akan pulang, dia ingin memastikan wanita itu betul-betul terjebloskan ke penjara." Jawab dazon.
Daren terlihat khawatir, sikap lexia yang impulsif dan keras kepala membuat dirinya bisa-bisa dalam bahaya, daren berdiri di depan pintu teras dan berjalan mondar mandir menunggu kedatangan lexia, dia sudah meneleponnya dan dia akan pulang sebentar lagi tapi sampai sekarang lexia belum kembali juga.
__ADS_1
"Apa yang kau rencanakan Lexia?" Ucap daren khawatir.