
Pagi itu seperti hari-hari sebelumnya lexia belajar di ruangan yang khusus di sediakan untuknya di perpustakaan Keluarga Burchard, pikirannya tidak bisa fokus dengan pelajaran yang di berikan oleh sir ryan, kepala lexia dipenuhi dengan rencana untuk melarikan diri dari tempat ini.
Hal yang tidak begitu mudah bagi lexia, tetapi dia tetap harus melaksanakan rencananya atau dia akan di serahkan kepada tuan Robert dan terseret bersama kebohongan daren, meskipun lexia tahu bahwa yang dilakukannya Sangat beresiko tetapi dia tidak memiliki pilihan lain.
"Lexia kau mendengarku?" Ucap sir Ryan, sejak tadi dia menjelaskan materi pelajaran untuk lexia untuk hari ini, tetapi tidak satupun yang dapat lexia mengerti dari pelajaran yang diberikan sir Ryan.
"Helo? Lexia kau mendengarkan?" Ucapnya.
Lexia kemudian memegang kepalanya lalu melirik kepada pria di hadapannya ini. "Kepalaku sakit sir, aku perlu istirahat."
"Benarkah? Baiklah lexia, saya pikir hari ini cukup sampai di sini dulu, sebaiknya kau kembali ke kamarmu dan beristirahat." Lexia seketika mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu.
'Waktuku tidak banyak, sesegera mungkin aku harus keluar dari tempat ini.' lexia lalu masuk kedalam kamarnya, duduk di kursi depan mejanya dan mengumpulkan semua hasil tabungannya selama bekerja kepada Daren.
Angka yang berderet yang diberikan daren kepadanya tidak sedikit, sejak awal dia menandatangani kontrak itu uang itu begitu saja masuk ke rekeningnya, dengan uang ini dia bisa memulai hidupnya, meskipun seorang diri tanpa kakek dan nenek Kenzo maupun Edo, kini lexia harus hidup seorang diri, dia harus kuat menghadapi tantangan yang akan dihadapinya kelak.
Suara ketukan dari pintu kamarnya membuat lexia berbalik dan segera membuka pintunya. Nampak wajah Daren berdiri di sana dengan kemeja putih yang melekat di tubuhnya.
"Ada apa?" Ucap lexia datar.
"Aku ingin bicara denganmu lexia." Ucapnya.
Daren masuk ke ruangan lexia dan duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya lalu menatap lexia yang sudah duduk di hadapannya. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk lengan sofa kemudian dia mulai berbicara.
"Kita menikah." Ucapnya.
__ADS_1
Lexia begitu terkejut mendengarnya, lalu mengernyitkan dahinya.
"Apa? Hal konyol apa yang kau katakan Daren? Jangan bercanda, aku benci lelucon." Ucap lexia.
"Aku tidak bercanda lexia, aku ingin menikah denganmu, kita menikah saja." Ucap Daren.
Lexia tertawa tetapi pandangan matanya sinis menatap Daren. "Apa lagi yang kau rencanakan untuk menyelamatkan Keluargamu, aku sudah cukup lelah hanya untuk berperan menjadi lovelia." Geram lexia.
"Jangan mengeluh, bukankah kau yang menyetujui perjanjian itu untuk menyamar sebagai lovelia? Dan tentu kau tahu bahwa apa yang kau lakukan tidak gratis, karena aku membayarmu."
Memang benar semua yang dikatakan Daren, tetapi lexia membenci ucapan yang keluar dari mulut daren yang angkuh, Lexia mengalihkan pandangannya, dia tidak mau melihat wajah Daren.
"Tatap aku lexia!" Bentaknya.
Lexia dengan keras kepala tidak mau menatapnya, daren mencoba menahan kesabarannya menghadapi sikap keras kepala lexia.
"Kita menikah." Ucapnya.
"Tidak mau."
"Kita akan menikah." Ucap Daren tajam.
"Hanya itu cara untuk menyelamatkanmu dari tuan Robert, jika lovelia sudah sembuh, aku akan menjelaskan segalanya kepadanya bahwa kau hanya berperan menggantikannya karena lovelia sakit dan....
"Cukup ! Aku. Tidak. Mau ! Kalau lovelia sudah sehat, aku hanya harus pergi dari tempat ini, kebohongan tentang penyamaran ini bukan urusanku, itu tugasmu menjelaskan kepada tuan itu, karena aku hanya bekerja kepadamu bukan?" Ucap lexia.
__ADS_1
Lexia mengangkat dagunya tinggi sambil menatap Daren, "Aku tidak mau menghabiskan hidupku dalam kepura-puraaan, setelah aku berpura-pura menjadi lovelia kini aku harus berpura-pura menjadi istrimu?" aku tidak mau hidupku seperti itu." Ucap lexia.
"Siapa yang bilang kita berpura-pura? Aku akan menikah denganmu, dan kau akan menjadi istriku, dan hanya itu satu-satunya pilihanmu lexia jika kau ingin selamat dari tuan Robert, kau tentu tahu bahwa tuan Robert tidak akan membiarkan orang yang mengkhianatinya pergi begitu saja, dia pria kejam lexia, dimanapun kau sembunyi dia pasti akan menemukanmu.
"Hanya aku, hanya dengan menikah denganku kau bisa ku selamatkan darinya. Pikirkan kata-kataku, dan satu lagi, jangan pernah berpikir untuk mencoba melarikan diri lagi, atau kesempatan satu-satunya yang aku tawarkan batal dan kau akan tahu akibat jika kau mencoba lari dariku." Ucap Daren, dia kemudian melangkahkan kakinya dan keluar dari ruangan lexia.
"Dasar pria brengsek, dia pikir kesempatanku hanya satu? Dengan menikah denganmu?? Jangan bercanda aku memiliki ribuan kesempatan untuk meloloskan diri dari tuan Robert, dan jika aku tertangkap olehnya aku hanya tinggal bilang kau membayarku untuk berpura-pura menjadi lovelia, aku tidak bisa di bohongi daren, bukankah kau ingin menyerahkanku kepada tuan Robert? aku tidak melupakan semua ucapanmu semalam."
Lexia menghembuskan napasnya, gampang saja dia bicara seperti itu, tetapi kenyataannya dia juga takut, kali ini dia seorang diri, tidak ada lagi orang yang dapat membantunya, tidak ada seorangpun di sisinya yang secara tulus untuk menolongnya. Mata lexia terasa panas karena menahan air matanya, lexia gadis yang kuat dan dia paling jarang mengeluarkan air matanya, tetapi kini air matanya dengan mudahnya mengalir, mengapa dia begitu merasa kesepian? dan itu begitu membuatnya sedih, Edo sudah pergi, hanya dia satu-satunya yang dapat membantunya......
Tunggu dulu ! Ada satu orang yang dapat menolongnya. Lexia lalu berdiri dari tempat duduknya yang lesu, "Alvin, ya...pria itu, pria itu bisa membantunya melarikan diri dari daren, penjagaan dari Daren ditingkatkan beberapa kali lipat, kemungkinan lexia untuk melarikan dari rumah ini sangat kecil, dimana-mana daren menempatkan penjaga melebihi dari biasanya.
"Jika aku bisa menemui Alvin aku akan bicara kepadanya, agar dia dapat menolongku meloloskan diri dari daren maupun tuan Robert." Bisik lexia kembali bersemangat.
~
Siang itu lexia sudah berada di meja makan, mereka berdua akan makan siang bersama. beberapa pelayan sudah menyiapkan semua makanan di atas meja, lexia menatap tempat duduk yang masih kosong yang biasa di tempati oleh daren.
Tidak lama kemudian daren masuk ke ruangan dan duduk di meja makan bersama lexia, mereka akhirnya makan siang bersama tanpa percakapan apapun, daren menatap lexia yang sedang makan, dia tidak memperdulikan kehadiran daren.
Daren memicingkan matanya menatap lexia.
'Apakah dia sedang mengacuhkanku?' gumam daren menatap lexia yang masih sibuk dengan makanannya.
"Kau sudah memikirkan apa yang kukatakan kepadamu?" tanyanya.
__ADS_1
Lexia menatapnya, "Sudah, dan jawabannya tidak !" Ucap lexia angkuh.
Daren terdiam, matanya tidak beralih dari lexia. Egonya tersentil manakala mendengarkan penolakan lexia untuk menikah dengannya, rencana ini tiba-tiba saja muncul, ketika kakaknya mengabarkan kesembuhan lovelia, dia tidak ingin lexia pergi darinya setelah kesembuhan lovelia, entah mengapa lexia sudah memenuhi kepala daren dan dia tidak ingin gadis pembangkang itu menghilang dari pandangannya.