
Serangan dari Xaphier tentu membuat Nara terkejut, tubuhnya begitu saja jatuh di sofa berwarna coklat, sedangkan Xaphier memerangkap dirinya dengan tenggelam dalam-dalam dibibir Nara.
Nara mencoba mendorong Xaphier, dia tidak mau jadi bahan tontonan oleh pelayan-pelayan yang berlalu lalang di tempat itu.
Seluruh kekuatan Nara dikerahkan untuk mendorong tubuh Xaphier, usahanya tentu saja sia-sia, bibirnya masih melekat dan bermain di kedalaman diri Nara. "Xaphier?? Tidak di sini, aku tidak mau !" Ucapnya ketika ada sedikit celah Sebelum bibir Xaphier menginvasi bibir Nara kembali. Suara langkah kaki menyadarkan Xaphier dari posisinya yang menjulang di atas Nara. Dia berbalik dan melihat dari jarak cukup jauh Thomas dan Paulo sedang berada di sana sedikit tertunduk dengan mengeluarkan deheman cukup keras.
"Kubunuh mereka semua jika informasi yang mereka sampaikan tidak penting !" Ucapnya, dia menarik tangan Nara agar kembali ke posisi duduknya. Nara dengan cepat memperbaiki dirinya yang berantakan karena serangan Xaphier.
"Kembalilah ke kamar Nara, tunggu aku di sana." Bisiknya sambil memberikan kecupan singkat. Xaphier segera menghampiri Thomas dan Paulo dan segera menuju keruangannya. Sementara itu Nara segera beranjak dari tempat duduknya dan segera ke kamarnya, jantungnya berdetak kencang dan dia sungguh malu karena pengawal-pengawal itu melihat mereka berdua di sofa tadi seakan Xaphier sedang memakan wajahnya.
~
Xaphier sudah berada di ruangannya, sedangkan Thomas dan Paulo berdiri di hadapan Xaphier, mereka sepertinya mendapatkan informasi penting sehingga dengan berani mengganggu tuannya yang sedang bermesraan dengan istrinya.
"Sir kami mendapatkan informasi penting mengenai keluarga Rudolf dan perusahaannya.
"Informasi penting apa?" Tanyanya.
"Salah satu perusahaan besar di Manhattan yang pernah bekerja di bawah perusahaan kita telah menjadi milik RdF Corporation, dan sepertinya salah satu pemiliknya yang sekarang menjabat adalah putra pertama mereka bernama Adrick Rudolf."
"Hem, meskipun perusahaan itu pernah bekerja untuk kita tetapi jika dia sudah menjadi salah satu milik RdF Corporation maka kita tidak bisa ikut campur lagi, sudah sejak dulu keluarga mereka merupakan saingan terbesar keluarga Caesaar dan itu tidak berubah sampai sekarang, jika satu saja alasan mereka ingin membuat masalah dengan keluarga Caesaar maka mereka akan mendapatkan kehormatan untuk menghadapiku." Ucap Xaphier dengan senyum mengembang mengerikan di wajahnya.
"Kalian sebaiknya jangan lengah, tetap pantau setiap pergerakan mereka."
"Baik tuan Xaphier." Ucap mereka berdua.
Xaphier segera keluar dari ruangan dan tidak sabar untuk menemui Nara, meskipun baru saja mereka bercumbu tetapi hasrat Xaphier kepada Nara begitu besar sehingga dia tidak pernah puas untuk selalu menyerang tubuh Nara meskipun Nara siap atau tidak siap untuk menghadapi Xaphier.
~
City of Manhattan.
Kota besar dengan gedung menjulang menjadikan Manhattan sebagai pusat pengembangan perusahaan terbesar 4 borough di New York.
Pria itu memiliki kharisma yang kuat, tampan dan arogan serta kemegahan dan kemewahan selalu mengitarinya merupakan kombinasi yang membuat semua wanita akan melemparkan diri mereka kepada pria taipan nan tampan itu, dia berjalan dengan beberapa pengawalan ketat setelah tiba dikantornya.
Rambut hitam dengan mata biru gelap yang tajam sedang memandang pemandangan suasana kantor ketika pertama kali dia menginjakkan kakinya di sana.
Semua nampak membungkuk hormat ketika dia berjalan hingga tiba di ruangannya.
__ADS_1
"Buatlah pesta besar untuk menyambut kedatanganku dan jangan lupa berikan undangan kepada seluruh perusahaan besar yang ada di New York." Ucapnya dengan bibir melengkung sempurna.
~
"Ayolah Ax sayang jangan menangis, kenapa kau rewel sekali sayang." Ucap lexia sambil menggoyang tubuh Ax agar dia tenang. Lexia memegang keningnya untuk memastikan Ax tidak demam.
"Tidak demam." Ucapnya, Lexia terus menggendong Axton sampai ke halaman villa untuk menenangkannya, dia mengecup pipinya mencoba menenangkan putranya yang sejak tadi rewel.
"Kenapa putramu lexia?"
Suara itu membuat lexia berbalik dan menatap tuan Robert keluar dari ruang utama karena melihat lexia dan putranya, sejak tadi dia memperhatikannya, karena suara Ax yang menggema di seluruh ruangan.
"Berikan padaku biar kakek yang menggendongnya." Ucap tuan Robert tersenyum. Lexia memberikan Ax kepada tuan Robert, dia menggendongnya sambil bersenandung kecil agar Ax tenang dan membawanya berjalan-jalan. Ax perlahan menjadi tenang dan bersuara hanya karena melihat ibunya berjalan di belakangnya.
"Dari dulu aku sangat menginginkan cucu laki-laki." Dia berkata kepada lexia sambil tersenyum. "Aku ingin kau tahu lexia bahwa meskipun dalam waktu singkat kau pernah berpura-pura menjadi Lovelia tetapi aku masih tetap menganggapmu sebagai cucuku, jadi kau harus ingat jika kau membutuhkan sesuatu, katakan saja kepada kakek, kau tidak perlu sungkan dan ragu, lagi pula aku berteman baik dengan ayahmu." Ucapnya.
Lexia mengangguk lalu tersenyum senang mendengar ucapan tuan Robert kepadanya.
~
"Aku melihatmu berjalan-jalan dengan tuan Robert, apa dia mengatakan sesuatu?" Tanya daren sedang mengemasi pakaiannya dan pakaian lexia dan putranya ke dalam travel bag sementara lexia sedang berada di atas tempat tidur sedang menyusui Ax putranya.
"Benarkah? Haha putraku tahu Bagaimana harus bersikap jika dia di gendong di tangan orang penting seperti tuan Robert, dia bisa membaca situasi." Ucapnya. Lexia hanya mencibirkan mulutnya membuat Daren menghentikan kegiatannya lalu menghampiri lexia dan memerangkap di kedua tangannya.
"Berhenti membuat wajah seperti itu lexia, atau kau akan kubawa ke kamar mandi dan kita bercinta di sana sampai kau memohon kepadaku untuk berhenti." Ancam daren sambil memberikan lexia kecupan ringan dibibirnya.
"Sampai aku minta ampun? Ck, bisakah kau melakukannya sayang? Tetapi kau harus melewati putraku jika ingin mengambil ibunya darinya." Ucap lexia sambil menaikkan satu alisnya menantang Daren.
Daren memberikan kecupan ringan sambil melengkungkan Senyumnya. "Meskipun bukan sekarang tetapi ini janjiku untukmu karena bibir cantikmu itu selalu mengejek dan mencibir kepadaku." Bisiknya. Sambil tersenyum miring.
"Aku menunggu janjimu." Bisik lexia di telinga Daren dengan sensual.
~
Suasana bahagia meliputi keluarga Robert, hari ini mereka akan segera kembali ke Oklahoma bersama-sama begitupun dengan Daren dan lexia. Sebelum mereka berdua berangkat untuk bulan madu, tuan Robert ingin agar pengantin baru itu kembali dulu ke Oklahoma, karena mereka akan menyambut kehadiran lovelia sebagai anggota baru yang menyandang nama besar Robert sebagai menantu kesayangan tuan Robert.
"Kalian harus datang keperjamuan makan malam nanti Daren." Ucap Alvin mengundang mereka berdua.
"Kami pasti akan datang." Ucap Daren sambil melambai kepada Alvin dan lovelia. Sementara lexia memeluk Lovelia dan segera masuk ke dalam mobil untuk kembali ke Oklahoma di kediaman Tuan Caesar.
__ADS_1
~
Wanita itu mengenakan dressnya yang terbaik sehingga terlihat profesional meskipun terlihat sensual dan sedikit terbuka, dia berjalan di temani dengan dua pengawal pribadi bayarannya. Dia duduk di salah satu restaurant di hotel ternama di Oklahoma. Pengawal bayarannya membisikkan sesuatu, tidak lama seorang pria dengan usia tidak jauh dari Melda sedang menuju ke tempatnya duduk, dia menarik satu kursi dan langsung duduk dihadapan Melda.
"Lama tidak berjumpa Melda Caesar, ah aku lupa kau tidak lagi menyandang nama itu Melda Harper." ucapnya sambil tersenyum licik.
Melda tetap menjaga ekspresi wajahnya agar kilatan marah dari Wajahnya tidak terlihat apalagi sekarang ini dia membutuhkan pria tua itu.
"ya, tuan Alfon Namaku Melda Harper dan kau harus ingat itu, sehingga jika kau ingin menghabisi Keluarga Caesaar kau tidak perlu ragu lagi.
"Apa yang kau inginkan Melda?" tanyanya.
"Kau tentu tahu apa yang kuinginkan tuan Alfon, aku ingin kehancuran Keluarga Caesaar Sampai ke akar-akarnya, aku ingin mereka menyesali telah membuang orang penting sepertiku." ucap melda tenang tetapi matanya berkilat dengan penuh kebencian.
"Kehancuran keluarga Caesaar merupakan kegembiraan bagi keluarga Rudolf tetapi tidak mudah untuk menjalin hubungan kerja sama dengan Tuan Adrick dengan jalan seperti itu Melda, dia ingin menyaingi Keluarga itu dengan caranya sendiri tanpa perlu bantuan darimu, jika dia tidak suka dengan ide itu kau bisa saja di anggap mengintervensi cara kerja keluarga Rudolf untuk menghadapi Keluarga Caesaar dan kau bisa saja menghilang dari bumi ini dengan cara mengerikan." ucap Alfon sambil memperbaiki gagang kacamatanya sambil melirik ke kiri dan ke kanan.
Senyuman manis terbentuk di wajah Melda. "Kau tidak perlu takut Alfon, aku memilih caraku sendiri untuk menjalin kerja sama dengan tuan Adrick, kau tenang saja " ucap Melda dengan yakin.
~
Pagi itu Xaphier sudah bersiap-siap untuk berangkat bekerja, sedangkan Nara baru saja bangun sambil mengerjapkan matanya melihat pemandangan di hadapannya. wajah tampan Xaphier membingkai dengan senyuman di wajahnya. Dia menghampiri Nara dan memberikan ciuman selamat pagi kepadanya.
"Aku akan berangkat ke Manhattan pagi ini Nara, mungkin besok aku akan kembali ke Oklahoma." Ucapnya mengancingkan kemejanya berwarna biru di tubuhnya. Dia mengambil dasi berwarna biru laut dan segera menghampiri kembali Nara yang masih duduk sambil melilitkan selimut di tubuhnya.
"Pasangkan." Perintahnya.
Nara berkedip beberapa kali dan melihat keadaannya yang tidak bisa bergerak sama sekali karena selimut besar membatasi pergerakannya.
"Xaphier aku tidak bisa..bagaimana aku bisa memasangkan dasimu?" Ucap Nara dengan pipi kembali merona melihat ketelanjangannya.
Xaphier mengangkat Nara begitu saja dengan kedua kaki Nara melingkar di sekitar perut Xaphier.
"Apa yang kau lakukan Xaphier, selimut ini sebentar lagi akan jatuh." ucap Nara sambil memegang erat selimutnya dan satu tangannya memegang leher Xaphier agar tubuhnya dapat seimbang.
"Lepaskan selimutmu, bagaimana kau akan memasang dasiku jika kau memegang erat selimut itu Nara?" ucap Xaphier.
Xaphier menahan senyumnya dengan melihat dilema di wajah Nara, dia ingin memasang dasi Xaphier dengan cepat tetapi di satu sisi dia tidak ingin selimut itu melorot apalagi sampai jatuh hingga tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun dapat terlihat oleh Xaphier.
"Kenapa kau berlama-lama Nara? kau ingin menahanku berangkat kerja? aku sudah terlambat." ucap Xaphier dengan nada suara yang dibuat-buat. Nara akhirnya memutuskan melepaskan genggamannya di selimut itu dan memasang dasi Xaphier dengan sempurna, tetapi sayangnya Selimut itu jatuh dan teronggok di lantai, membuat Nara terkejut setengah mati dengan wajah semerah tomat. "erm, aku masih punya waktu sejam untuk penerbanganku pagi ini." Ucap Xaphier membuat Nara membelalakkan matanya hingga mereka kembali menghabiskan kegiatan panas mereka di pagi itu.
__ADS_1