The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Keinginan Daren


__ADS_3

William Luther baru saja sampai di depan kamar lexia ketika daren baru saja menutup pintunya dan terlihat marah, sejenak dia kembali menatap ruangan lexia tetapi segera pergi dari sana dan menatap william.


"Jangan biarkan lexia keluar dari kamarnya ! Kau harus menjaganya." Perintah Daren.


"Ya sir."


Daren masuk ke dalam ruangannya, dan William mengerlingnya dan segera menuju ke kamar lexia. Dia masuk begitu saja dan melihat ruangannya kosong, matanya mencari-cari keberadaan lexia. Suara ketukan terdengar beberapa kali di kamar lexia.


Karena lexia tidak membukanya maka William membuka kamar lexia dengan kunci cadangan yang di pegangnya.


Dia melangkah masuk ke kamarnya dan melihat lexia berbaring dan membelakanginya.


"Aku sudah tahu ! Aku tidak akan pergi ke sana lagi, dan kau..." Mata lexia membelalak Karena wajah William Luther ada di hadapannya sambil menyilangkan tangannya.


"Kau ! Kenapa kau bisa masuk ke kamarku jelas-jelas aku telah menguncinya." Teriak lexia.


"Mungkin karena aku memiliki kunci lainnya." Senyum William.


"Mengapa kau begitu marah lexia? Apakah karena daren?" Tebaknya.


"Bukan urusanmu, sebaiknya kau keluar dari kamarku sebelum aku menelepon seseorang, siapapun itu aku tidak perduli." Ancamnya.


William tertawa, "kau pikir ancaman kecilmu itu berguna? Kau sangat manis lexia, aku menyukainya."


"Apa kau gila?" Lexia mengambil jarak yang cukup jauh dari pria ini.


"Kau mau tahu sebuah rahasia? Ini menyangkut dirimu dan keluargamu." William menunggu reaksi lexia ketika mendengarnya.


"Rahasia? Apa itu?" Tanyanya.


"Di dunia ini tidak ada yang gratis lexia, kau mau tahu?"


"Apa maksudmu?" Bentak lexia.


"Kemarilah, aku akan mengatakannya kepadamu." Dia membuka lebar tangannya seakan-akan meminta pelukan dari lexia.


"Jangan membuatku tertawa, ini hanya akal-akalanmu saja, aku tidak Sudi di sentuh olehmu!"


"Terserah lexia, tapi aku yakin kau akan menyesal." William berbalik dan mengerling lexia yang kelihatan ragu.


"Tunggu ! Apa yang kau inginkan !" Ucapnya.


William tersenyum puas, dia kemudian berbalik dan melangkah perlahan di depan lexia. "Mudah saja, aku ingin kita makan malam berdua, tapi tidak boleh ada seorangpun yang mengetahuinya."


"Makan malam?" Itu mudah, pikir lexia.

__ADS_1


"Kapan?" Tanya lexia.


"Malam ini, aku menunggumu tepat jam 11 malam, ketika semua orang sudah tertidur, aku menunggumu di lantai 1 di dekat taman." Ucap William.


"Tapi bagaimana caranya aku keluar dari sini, daren pasti mengetahui jika aku tidak ada di tempat tidurku!"


"Kau harus memikirkannya sendiri lexia, jika kau ingin mengetahuinya, aku berada di tempat yang di janjikan."


William tersenyum puas dengan rencananya, selain mendapatkan lexia, dia juga melancarkan aksi balas dendamnya kepada Daren dan keluarga Burchard.


~


Kediaman Burchard, 21.45


Lexia sudah bersiap-siap, dia berada di dekat pintu dan berjalan mondar-mandir, kekhawatiran merayapinya kalau dia ketahuan daren dia pasti akan mendapatkan Omelan pedas, bukan hanya itu bagaimana jika dia mengancam akan menghentikan pengobatan nenek Rossie? Tapi sesuatu yang dikatakan William membuat lexia layak mengambil resiko ini.


Keadaan di ruangan lexia sudah gelap gulita, tetapi lexia masih berdiri di sana menunggu waktu yang tepat.


Dia memegang gagang pintu dan hendak membukanya tiba-tiba seseorang dari arah luar sudah memutar gagang pintu itu seketika lexia lari terbirit-birit dan masuk ke dalam kamarnya dengan berjinjit agar tidak menimbulkan kegaduhan.


Daren melangkah di dalam kegelapan, dia membuka pintu kamar lexia yang penerangannya hanya dari luar jendela hingga Daren hanya menatap lexia dalam kegelapan.


Dia melangkah perlahan dan berhenti di sisi tempat tidur lexia. Tangannya mendarat di keningnya dan mengusapnya hingga mencapai pipinya. Lexia memejamkan matanya menahan dirinya agar tidak terbangun.


Jantung lexia seperti ingin melompat, debarannya begitu kuat, lexia tidak yakin jika daren mengetahui kebohongannya dengan berpura-pura tidur.


"Aku tahu kau tidak tidur lexia, buka matamu." Ucapnya.


Mata lexia membuka dan menatap daren yang beberapa senti saja dari wajahnya, dia tersenyum dan memberikan kecupan kecil di sudut bibir lexia.


"Kau sangat manis lexia." Ujarnya.


"Dan kau mabuk." Ucap lexia mencoba mendorongnya tetapi daren tersenyum.


"Aku tidak mabuk." Bisiknya.


"Begitulah orang mabuk, dia menyangkal dirinya tidak mabuk, dan dan kau berbau minuman daren, menyingkirlah ! ".


Lexia kini telah duduk, dia sangat jengkel kepada Daren, sejak kata-katanya tentang 'anggap saja tidak terjadi apapun' masih membuat lexia marah.


Daren terkekeh, dia lalu menyerang bibir lexia hingga dia kembali terbaring dengan Daren yang menjulang di atasnya, ciuman panjang membuat lexia mendorong tubuh daren yang berat, kedua tangannya di pegang oleh daren, dia mulai menguasai tubuh lexia dan mengurungnya di pelukannya.


"Sial !" Umpat daren yang memperdalam ciumannya. Wangi lexia begitu memabukkannya, lexia menjerit ketika bibirnya berpindah ke dada lexia, seketika lexia melepaskan tangannya dari daren dan mengambil bantal dan memukul keras daren dengan bertubi-tubi.


"Dasar pria mesum ! Menjauh dariku !" Teriak lexia, dia sama sekali tidak menginginkan ini, dia begitu terburu-buru ingin segera pergi dan mengetahui apa yang di rahasiakan William kepadanya.

__ADS_1


Pukulan masih melayang di tubuh daren sehingga dia menahannya dengan tangannya.


"Stop, stop lexia." Ucap daren dengan sedikit teriak.


Napas lexia memburu, dirinya sudah terlihat berantakan dengan bajunya yang sudah menghilang dari tubuhnya, dia hanya mengenakan bra berwarna putih yang begitu menggoda daren.


Daren memijat kepalanya, dia baru tersadar dengan apa yang di lakukannya, matanya menjelajahi tubuh lexia yang sudah di tutupinya dengan selimut.


"Aku... tidak akan mengatakan lagi malam ini tidak terjadi apapun lexia, ini salahku."


"Tentu saja ini salahmu pemabuk." Ucap lexia dengan marah.


"Baik, aku akan jujur padamu." Ucap daren, dia duduk dihadapan lexia di atas tempat tidur.


"Aku menginginkanmu." Bisiknya.


Matanya menatap tajam wajah lexia yang terkejut mendengarnya.


"Berapa banyak yang kau minum, kau mabuk daren."


Daren berdecak, "Tidak, aku sadar sepenuhnya dan aku tidak akan membohongi diriku lagi, aku menginginkan tubuhmu." Ucap Daren.


"Tubuhku? Hanya tubuhku?! Jadi...kau tidak menyukaiku tapi hanya menginginkan tubuhku!" Ucap lexia dengan marah.


"Kau brengsek, pecundang, pria mesum, otak udang." Ujar lexia dengan bertubi-tubi.


"Ok, kau bisa mengatakan itu padaku, Karena aku masih belum yakin aku menyukaimu atau tidak, tapi satu hal yang aku begitu yakin, entah sejak kapan tubuhmu selalu berputar di kepalaku."


Lexia mengambil bantal lalu melemparkannya di wajah Daren.


"Kau brengsek daren, sebaiknya kau keluar sebelum aku teriak, aku tidak mau mendengar ocehan gilamu."


Daren kemudian berdiri dan menatap wajah lexia. Dia melengkungkan bibirnya, Jangan kau pikir aku tidak tahu rencana yang ingin kau lakukan lexia, aku tahu kau ingin keluar, orangku ada di mana-mana, kau tidak bisa pergi seenaknya."


Lexia terkejut, sial ! Jadi dia tahu?! Apakah pria ini tahu tujuannya ingin keluar?


Lexia hanya diam dia tidak mau menjawab tuduhan daren. "Mengapa kau ingin keluar lexia?" Tanyanya.


"Aku..aku bosan, jadi aku ingin setidaknya bertemu dengan teman temanku, aku tahu dimana mereka biasanya berkumpul." Ucap lexia berbohong.


"Kau ingin aku mempercayai kata-katamu itu?" Daren menatap intens lexia.


"Terserah kau mau percaya ataupun tidak."


Matanya menyipit, senyuman masih bermain di bibirnya. "Ok, aku akan menghilangkan kebosananmu, segeralah berpakaian, aku menunggumu di luar."

__ADS_1


__ADS_2