The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Lovelia


__ADS_3

Manhattan, Mansion Burchard 19.30


Lovelia sedang sibuk membuat sesuatu di dapur untuk makan malamnya bersama ibunya, malam ini lovelia sengaja membuat makan malam hasil masakannya sendiri dan untuk membuat kejutan kepada ibunya.


Dua porsi sphagetti keju telah tersaji diatas meja meskipun sederhana buat lovelia, tetapi dia sudah berusaha keras membuatnya dan makanan itu special buatannya sendiri.


Lovelia beranjak dari dapur lalu menuju ke kamar ibunya, dia mengetuk beberapa kali pintu kamar ibunya tetapi tidak ada jawaban, sekali lagi dia ketuk tetapi ibunya masih belum membukanya. Lovelia akhirnya membuka kamar ibunya dan melihat ke dalam kamarnya. Suasana kamar yang gelap tidak ada sama sekali penerangan di kamar Barbara.


"Mommy?" Ucapnya.


"Mom kau masih tidur?" Tanyanya. Lovelia melangkah masuk ke dalam kamar ibunya, bau tengik minuman keras dan apek karena selama ini Barbara tidak pernah membuka jendela kamarnya dan melarang pelayan untuk membuka gorden yang menutupi jendelanya hingga sinar matahari tidak kunjung menyinari kamar itu.


Lovely menyalakan lampu kamar ibunya lalu mengedarkan pandangannya, lovelia tiba-tiba teriak ketika menyaksikan ibunya tergeletak di lantai dengan cairan minuman mengalir dari mulut ibunya dan minuman itu masih di pegangnya, wajahnya kian pucat, Lovelia berteriak minta tolong sehingga beberapa pelayan datang dan segera membawa Barbara ke rumah sakit.


Lovelia begitu gelisah, dia seorang diri berada di rumah sakit dan duduk di depan ruang ICU dimana ibunya di tempatkan di sana, kata dokter yang memeriksanya penyakit lamanya kambuh lagi karena kadar alkohol yang diminumnya sudah mencapai ambang batas tubuhnya akhirnya barbara tidak sadarkan diri cukup lama.


Suara langkah kaki membuat lovelia mendongakkan kepalanya menatap seorang pria yang berlari ke arahnya dengan wajah tampak khawatir.


"Kak Alvin?" Ucap lovelia heran.


"Bagaimana dengan ibumu?" Tanyanya.


"Sudah beberapa kali ini ibu masuk rumah sakit tapi kali ini yang paling parah sampai-sampai ibu tidak sadarkan diri." Ucap lovelia, wajahnya terlihat cemas dan pucat, dia terlihat begitu rapuh. Alvin lalu memeluk lovelia dan menepuk-nepuk punggungnya.


"Jangan cemas ibumu akan baik-baik saja lovely, kau harus kuat." Bisik Alvin kembali menepuk punggungnya agar lovelia dapat tenang.


Tubuh Alvin memberikan kehangatan kepada lovelia, perasaan yang di simpannya jauh-jauh kini kembali muncul ke permukaan, hatinya terasa hangat dan wangi dari tubuh Alvin sangat disukai oleh lovelia.


"Kenapa paman bisa tahu aku ada di sini?" Tanya lovelia melepaskan pelukan Alvin dan menatap tubuh tingginya.


"Erm.. kau tahu, aku cukup khawatir meninggalkanmu dengan wanita itu, maksudku ibumu, dia mungkin melakukan hal yang sama kepadamu menjodohkanmu ke sembarang pria, jadi aku menempatkan beberapa orang-orangku untuk mengawasi kau dan ibumu." Ucap Alvin sambil menggaruk kepalanya.


Lovelia tersenyum senang, meskipun perasaan hatinya terlarang tetapi hanya untuk hari ini saja dia ingin bersama dengan orang yang dicintainya.

__ADS_1


Dokter keluar dari ruang ICU dimana ibunya di tempatkan, mereka bertemu dengan Alvin dan lovelia.


Lovelia tersenyum kepada dokter Chris yang cukup dikenalnya, ia berdiri di hadapan mereka berdua, dia adalah dokter pribadi keluarga Burchard jadi lovelia cukup kenal baik dengan dokter Chris. "Bagaimana kabarmu lovelia?" Tanyanya.


"Aku sehat, terima kasih dokter Chris karena sekarang saya sudah semakin sehat." Ucap lovelia.


Wajah dokter Chris terlihat gundah, dia kemudian menatap Alvin. "Saya ingin berbicara kepada wali lovelia tetapi karena kondisi Nyonya Barbara tidak memungkinkan saya ingin berbicara kepada paman atau bibinya." Ucap dokter Chris.


"Anda bisa bicara dengan saya dokter Chris, saya paman Lovelia."


"Emm baik, silahkan ikut saya, dan lovelia sebaiknya kau tetap di sini."


Alvin segera mengikuti dokter Chris ke ruangannya. Mereka duduk saling berhadapan di ruangan dokter Chris.


"Sudah lama saya ingin membicarakan masalah ini tetapi ada kata-kata dari Nyonya Barbara yang membuat saya heran dengan ucapannya, untuk itu saya ingin menanyakan langsung kepada anda. Erm..saya ingin mengetahui, apakah lovelia anak kandung dari Nyonya Barbara dan Tuan Jack Robert?" Tanyanya. Wajah Alvin tiba-tiba terkejut.


"Apa maksud anda dokter, lovelia putri dari Barbara dan kakakku Jack." Ucap Alvin dengan yakin. Dokter itu menggeleng. Saya sudah mengecek riwayat kesehatan dari tuan Jack Robert meskipun sudah begitu lama saya menyimpan data-data kesehatannya." Dokter Chris mengeluarkan satu dokumen berwarna coklat dan segera membukanya.


"Golongan darah Tuan Jack adalah O, sedangkan golongan darah Nyonya Barbara adalah A." Ucap dokter Chris memberikan riwayat kesehatan mereka berdua kepada Alvin.


"Saya selama ini diam, karena Nyonya Barbara melarangku memberitahu golongan darah dirinya serta suaminya kepada lovelia. Tetapi, saya tidak bisa berdiam diri lagi cepat atau lambat lovelia akan tahu dengan sendirinya.


"Lovelia bukan anak kandung dari tuan Jack dan Nyonya Barbara." Kembali dokter Chris memperbaiki gagang kacamatanya. "Ini riwayat kesehatan Lovelia, golongan darah Nona lovelia adalah B, dan itu tidak mungkin jika lovelia anak dari Tuan Jack dan Nyonya Barbara." Seketika Alvin tertegun, dia menatap kertas yang ada di tangannya.


Di sana tertera dengan jelas riwayat kesehatan Lovelia dan penyakit yang pernah di deritanya. "Jadi...jadi lovelia bukan anak kandung kak Jack dan Barbara?" Gumam Alvin. Di satu sisi dia sangat terkejut dan takut karena jika ketahuan oleh tuan Robert entah apa yang akan di lakukannya kepada Barbara yang selama ini membohonginya, tetapi di satu sisi dia sangat senang karena perasaan yang selama ini di pendamnya dapat tersampaikan kepada lovelia yang di cintainya.


~


Nara berada di salah satu kamar yang sangat luas di salah satu hotel terkenal di Manhattan, dia masih mengenakan gaun pengantinnya dan berdiri dengan kikuk di tengah-tengah ruangan. Kakinya melangkah sedikit dan menatap kaca besar yang terpampang di hadapannya, pemandangan indah dapat di lihatnya dari tempatnya berdiri. Gedung-gedung besar menjulang tinggi membuat Nara terkagum-kagum melihatnya.


Hari itu Nara sudah menjadi istri Xaphier, hidupnya telah berubah dengan drastis, dia menempelkan wajahnya di kaca jendela itu, masih memikirkan apa yang akan menunggunya kelak ketika dia telah menjadi istri mafia itu, tiba-tiba saja tangan besar merengkuhnya menempelkan tubuhnya dan menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Nara. Nara terkejut, dia berbalik dan melihat Xaphier sedang memeluknya erat.


Kecupan ringan sehalus bulu yang menempel lembut di lehernya membuat Nara berjengit. "Malam ini kau akan menjadi milikku Nara." Janji Xaphier membuatnya merinding.

__ADS_1


Gendongan kuat dari kedua tangan Xaphier mengejutkan Nara, tubuhnya melayang di udara, Nara tidak bisa menghindari Xaphier malam itu. Tubuhnya di letakkan di atas tempat tidur berukuran king size dengan lembut, mereka saling menatap, senyuman lembut dari Xaphier membuat hati Nara terasa hangat.


Kecupan manis mendarat di bibir Nara, ciuman lembut dari Xaphier membuat Nara terlena dan terhipnotis, dia mencoba membuka bibirnya dan merasakan Xaphier di dalam mulutnya. Tanpa di sadarinya kini tubuhnya tidak mengenakan gaun pengantinnya lagi, polos tanpa sehelai benangpun menempel di tubuh Nara, Xaphier menelusuri setiap lekuk tubuh Nara hingga desahan kuat terdengar dari bibir Nara.


Dia mencoba menutup kedua kakinya yang dibuka lebar oleh Xaphier, dengan cepat Nara kembali menutupnya, gelenyar aneh perlahan merayap di setiap sudut tubuhnya.


Bisikan hangat Xaphier yang mendarat di telinganya membuat Nara menggigit bibirnya. Mereka saling menatap dan satu hentakan kuat Xaphier membuatnya memiliki Nara malam itu, kedua tangan Nara menggenggam seprai erat-erat merasakan sakit yang sangat di area sensitifnya, suara jeritan Nara di bungkam dengan ciuman Xaphier yang lembut, malam itu keduanya larut dalam percintaan yang panas, suara jeritan Nara dan dan desahan keduanya menggema di ruangan itu mengisi malam pertama mereka berdua.


~


Lexia, Daren dan putranya sedang berjalan-jalan di sekitar taman di mansion tuan Caesaar, mereka menikmati udara pagi bersama. Daren menggenggam jemari lexia sambil mendorong kereta bayi Axton putranya.


"Lexia kau sudah dengar kabar mengenai perjodohan Xaphier dan Monica Collins?" Tanyanya.


Lexia mengangkat bahunya. "Yang aku dengar baru-baru ini dari Xaphier kalau dia sudah menikah di Manhattan bersama wanita pilihannya sendiri." Ucap lexia.


"Benarkah, kapan dia mengabarimu?" Ucap Daren terkejut mendengarnya.


"Pagi ini, dia terdengar sangat senang, tanpa malu-malu Xaphier mengatakan kepadaku bahwa semalam dia melakukan malam pertamanya dengan istrinya, aku bertanya kepadanya siapa wanita beruntung itu? Tetapi dia cuma terkekeh dan memberitahukan kepadaku jika wanita itu kenalanku, bahwa karena akulah, Xaphier bisa mengenal wanita itu, ck siapa wanita itu, aku juga penasaran." Ucap lexia berhenti di bangku taman dan menggendong Ax dan memangkunya di bangku taman.


"Jadi, bagaimana dengan perjodohan yang di atur oleh ayahmu lexia, dia pasti akan marah besar."


"Entahlah, Xaphier tipe pria yang tidak suka diatur apalagi masalah wanita, dan meskipun begitu ayah masih terus menjodohkan Xaphier dengan wanita pilihannya."


Lexia tiba-tiba tertawa sambil bertepuk tangan, dia terkekeh hingga tubuh Ax turut berguncang karena ibunya. Daren menatapnya dengan heran.


"Ada yang lucu sayang?" tanyanya.


Lexia berhenti terkekeh. "Wanita itu, Monica Collins aku tidak sabar melihat wajahnya ketika mengetahui Xaphier sudah menikah dia pasti sangat malu." Lexia menatap Daren dan menaikkan alisnya.


kenapa Daren sayang? apa kau mengkhawatirkannya karena sebentar lagi dia akan malu dan sakit hati?" ucap lexia menyindirnya. Daren menarik wajah lexia ke arahnya dan menciumnya keras.


Lexia membelalakkan matanya menatap sekitarnya. "Apa yang kau lakukan Daren? Ax berada di pangkuanku." lexia lalu memberikan Ax kepada Daren.

__ADS_1


"Itu hukuman untukmu sayang, aku sudah pernah katakan kepadamu, hubunganku dengannya sewaktu dulu bukan apa-apa, bahkan tidak bisa di sebut sepasang kekasih, dia hanya seorang adik dari temanku yang selalu menempel kemanapun kami pergi, dan dia wanita menyebalkan." Ucap Daren terlihat marah.


__ADS_2