The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Hidup bagaikan Mati


__ADS_3

Oklahoma merupakan sebuah negara bagian, Negara bagian ini terletak di bagian selatan Amerika serikat. Salah satu kota yang terkenal di negara itu adalah Oklahoma city yang juga merupakan ibukotanya. Sedangkan Tulsa adalah kota kedua terbesar sesudah Oklahoma city dan di kota itulah Daren dan lexia sekarang bersembunyi tetapi mereka tidak bersembunyi di kota Tulsa tetapi lebih ke pinggiran kota Tulsa yang betul-betul tersembunyi.


Pukul 07.30 Tulsa.


Keduanya masih tertidur lelap, mereka belum bangun padahal matahari sudah menyinari kedua tubuh yang saling berpelukan di balik selimut itu. Napas daren yang teratur membuat lexia merasakan hembusan panas yang keluar dari hidungnya, dia membuka kedua matanya dan mendapati wajah Daren tepat di hadapannya.


Lexia mengamati wajah Daren dan memencet hidungnya yang mancung.


'Aku tidak menyangka pria ini yang menjadi suamiku, aku sama sekali tidak pernah membayangkannya.' gumam lexia. Ia mengangkat satu tangannya lalu mengusap pipi daren lalu turun ke dagunya yang sedikit kasar karena habis bercukur, tangannya mulai menyusuri bibir daren yang sedikit terbuka, lalu ke hidung mancungnya.


Lexia berkedip manakala dia memberikan kecupan selamat pagi ke bibir Daren dengan lembut lalu kembali menatap wajah tampan suaminya yang sedang tertidur lelap.


Rambutnya yang hitam kecoklatan terlihat acak-acakan, matanya yang selalu tajam dengan sorot lembut hanya ketika dia memandang lexia, bibir penuhnya selalu menyerang lexia kapanpun dimanapun yang dia inginkan.


Tangan lexia mulai menjelajahi leher Daren perlahan menuju jakunnya lalu mengusapnya perlahan hingga turun ke dada Daren. 'Kenapa perutnya begitu berbentuk? Keras dan padat, lexia menyusuri perut daren tetapi matanya masih menatap wajah Daren yang tertidur.


Tiba-tiba saja tangan lexia dipegang oleh Daren yang sudah bangun dari tidurnya karena merasakan denyutan di antara kakinya akibat sentuhan lexia. Dia tersenyum dan mendekatkan wajahnya kepada lexia.


"Kau menggodaku Mrs Daren? Dimana kau menyentuhku hem? Kau telah membangunkan daren kecil sepagi ini sayang." Bisik daren mulai menjelajahi wajah lexia dengan ciuman-ciuman kecilnya.


Lexia tersenyum dan tertawa karena Daren mulai menggelitik lexia hingga tubuhnya menggeliat dan menjauh darinya. "Kau harus menerima hukumanmu karena mengganggu tidurku sayang." Ucapnya.


"Ba..baiklah aku yang salah, jadi berhentilah menggelitikku Daren." Ucap lexia tertawa lalu mengambil napas, tetapi Daren sudah menggempur lexia dengan serangan di tubuhnya hingga lexia tidak berdaya untuk bergerak di bawah kuasa Daren yang liar dan panas.


~


Suara langkah kaki itu terdengar di koridor menuju ruangan tuan Robert. Terdengar ketukan beberapa kali.


"Masuk."


Sebastian masuk dan sedikit membungkukkan tubuhnya kepada tuan Robert.


"Bagaimana? Kalian sudah menemukan keberadaan mereka berdua?" Tanyanya. Dia mengenakan mantelnya karena akan menghadiri rapat di salah satu perusahaannya di pusat kota Manhattan.


"Kami masih terus berupaya mencari mereka sir." Ucapnya. "Em, serangan yang datang waktu itu sudah kami selidiki sir, mereka pengawal yang di sewa dari kota Quinn salah satu pemimpinnya bernama ricky, dan dia..."


Sebastian berhenti berbicara seakan ragu mengutarakan maksudnya.


"Katakan!" Perintah tuan Robert.


"Dan Pria bernama ricky itu teman baik dari tuan Alvin sir." Ucapnya.


Tuan Robert berhenti dari kegiatannya, dia memandang Sebastian yang masih menunggu responnya.


"Apa kau yakin dia teman Alvin?"


"Ya sir."


"Jadi, kau ingin katakan penyerangan tiba-tiba itu karena bantuan dari Alvin untuk Daren dan gadis itu? Jadi kini dia terang-terangan menentangku?" Ucap tuan Robert marah.


"Hubungi Alvin katakan aku ingin berbicara dengannya." Titahnya.


"Baik sir." Ucap Sebastian, dia mundur lalu berbalik dan meninggalkan ruangan tuan Robert yang napasnya kini memburu karena amarah yang di tahannya. Dia yakin Alvin pasti terlibat ketika serangan waktu itu, apakah ini bentuk pembalasanmu karena penentanganku dulu kepadamu bersama wanita itu?


"Alvin, kau masih belum berubah, kau masih tidak bisa melupakan wanita itu, walaupun sifatnya seperti ini, selalu menentangku, sampai kapanpun aku tidak akan membiarkanmu bersama wanita itu, lebih baik kau membenci ayahmu sendiri dari pada wanita itu kubiarkan hidup bersamamu." Ucap tuan Robert sambil memukul meja dengan tongkatnya.


Alvin tahu sebentar lagi dia akan di panggil oleh ayahnya, dia berada di ruangannya memeriksa berkas-berkas dan kembali mengambil foto seorang wanita lalu menempelkan di dekat fotonya sehingga dia bisa memandangnya kapanpun dia inginkan.


Alvin masih tidak bisa menghilangkan bagaimana pandangan wajah wanita yang dicintainya melihat kepadanya dengan sorot mata yang sudah tidak bergerak lagi, matanya terbuka serta darah mengalir dari mulutnya, wajah yang selalu menjadi Mimpi buruknya juga wajah yang selalu dirindukannya, meskipun usianya cukup muda waktu itu tetapi kematangan hubungan keduanya sudah terjalin begitu lama sampai tuan Robert mengetahuinya dan tidak merestui hubungan diantara mereka berdua.


Suara ketukan pintu terdengar pelan. "Masuk." Ucap Alvin tanpa menatap kedatangan Sebastian.


"Tuan Robert ingin berbicara dengan anda, dia akan segera menghadiri rapat jadi anda harus segera menemui Beliau." Ucap Sebastian sedikit membungkuk kepada Alvin.


"Sebentar lagi aku akan ke sana." Ucapnya. Sebastian mundur dan keluar dari ruangan Alvin. Dia berjalan di sepanjang koridor yang menuju ruangan tuannya tetapi Sebastian berdiri tepat di depan pintu tuan robert. Pria tua itu adalah orang kepercayaan tuan Robert dan dia salah satu ajudan yang sangat di percayai untuk mengatur semua yang berkaitan dengan tuan Juan Robert.


~


Tengah hari keduanya baru mengehentikan kegiatan panas mereka setelah membersihkan diri, mereka berdua duduk di luar dan menikmati suasana pantai dari luar jendela.


Sarapan sudah tersaji di meja di hadapan mereka, lexia begitu lapar dia sama sekali tidak memiliki tenaga setelah bercinta dengan Daren, seakan-akan tenaganya terkuras dan tubuhnya ngilu dan letih.


"Kita akan berjalan-jalan bersama di sekitar pantai menjelang sore." Ucap Daren sambil merentangkan kedua tangannya lalu bermain-main dengan tangan lexia di sampingnya.


"Hanya berjalan saja? Kita tidak akan berenang?" Tanyanya. Daren tersenyum dia menekan kelingking lexia hingga lexia berjengit dan merasakan sensasi aneh di bawah perutnya.

__ADS_1


"Kita tidak akan berenang sayang, udaranya cukup dingin dan air lautnya akan pasang, kita hanya berjalan-jalan sebentar, tetapi jika kau mau kita bisa melakukan aktivitas fisik lainnya. Daren berkedip kepada lexia.


"Aktifitas fisik, maksudmu olahraga di sore hari?" Ucap lexia tidak mengerti, dia menatap Daren sambil menyuap makanan ke mulutnya. Daren tertawa lalu menarik tangan lexia agar dia duduk di atas pangkuannya.


"Kau mau tahu aktifitas fisik yang aku maksud sayang?" Bisik daren, tangannya mulai menjelajah dan bermain-main di tempat favoritnya, lexia yang masih sensitif dengan tubuhnya mengerang nikmat membuat Daren terpicu dengan suara lexia. Napasnya mulai memburu karena lexia bergerak-gerak liar di tubuh Daren.


"Sial, lexia jangan bergerak dulu sayang." dia memposisikan dirinya dan begitu saja mereka mulai bercucuran keringat di pagi itu dengan aktifitas panas yang membuat mereka berdua menyalurkan hasrat mereka masing-masing.


~


Mereka berjalan-jalan di sekitar pantai sore itu, lexia begitu senang karena akhirnya bisa menghirup udara dengan bebas di luar dari villa milik daren, dia begitu cantik hari ini dengan balutan dress berwarna putih sampai ke lutut , rambutnya di gerai indah mempesona, dia terlihat lebih dewasa dari umurnya, mereka berpegangan tangan sambil berlari-lari menghindari air laut yang berombak.


Kali ini lexia hanya ingin berdua saja dengan Daren tanpa adanya pengawal yang mengawasi mereka berdua, suasana sore itu begitu indah dengan langitnya yang menampakkan warna jingga paling disukai lexia.


Tanpa mereka ketahui dua orang yang berada di dalam mobil sedang mengawasi mereka berdua, tetapi tentu saja mereka sangat hati-hati menjaga jarak agar tidak ketahuan, mereka layaknya dua orang penduduk desa yang mengenakan baju biasa tanpa terlihat mencurigakan, pergerakan mereka begitu cepat hingga mereka sudah ada di belakang daren dan lexia.


Satu pukulan keras mengenai tengkuk Daren, lexia berbalik karena sangat terkejut oleh serangan tiba-tiba itu, satu pria lainnya menarik tangan lexia menjauhkannya dari Daren. Pukulan berikutnya begitu cepat menghantam wajah Daren hingga dia jatuh di pasir pantai dengan darah merembes keluar dari hidungnya.


"DAREN, DAREN." Teriakan lexia begitu keras membuat salah satu dari mereka membungkam mulut lexia dan segera membawanya pergi sebelum pengawal-pengawal mereka berdatangan.


Daren tidak sadarkan diri karena serangan tiba-tiba itu, hanya lexia yang menatap dari kejauhan tubuh Daren yang terbaring di pantai sedangkan dirinya sudah berada di dalam mobil dan telah diikat kaki dan tangannya serta mulutnya di sumpal agar tidak berteriak memanggil nama Daren.


Dua pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, lexia masih memberontak di tempat duduk penumpang, mengeluarkan suara-suara tetapi kedua orang yang menculiknya tentu tidak mempedulikannya, mereka segera membawa lexia ke tempat yang di tuju.


Keringat lexia bercucuran, dia panik takut serta cemas, apalagi melihat Daren yang di serang oleh mereka. Lexia menendang-nendang keras kursi mereka, tetapi salah satu pria mengeluarkan senjatanya dan mengarahkan langsung kepada lexia.


"Jangan banyak bergerak, kami di perintahkan untuk membawamu hidup-hidup tetapi kalau kau tidak mau bekerja sama, kami bisa membawa tubuhmu saja di hadapannya dan dia tidak akan perduli." Ucapnya sambil tersenyum miring.


Kali ini lexia duduk dengan tenang dan memikirkan cara melarikan diri dari mereka. Kedua pria ini sepertinya bukan suruhan tuan Robert wajahnya nampak familiar, sepertinya lexia pernah melihat wajah kedua pengawal di depannya.


~


Daren di baringkan di atas kursi di villanya, mereka Akhirnya mendapati Daren pingsan di sekitar pantai. Tubuh Daren di penuhi pasir dan hidungnya mengeluarkan darah. Dia akhirnya tersadar setelah Evan membersihkan darah yang keluar dari hidungnya. Daren mengerang merasakan sakit di tengkuk dan di hidungnya.


Dia mengerjap dan sadarkan diri. "Lexia, di mana lexia." Ucapnya.


"Nyonya di bawa oleh mereka tuan." Ucap Evan tetap tenang. Daren memucat dia segera berdiri tetapi pusing di kepalanya membuatnya duduk kembali.


"Siapkan semuanya kita kembali ke Manhattan, aku akan menemui tuan Robert sekarang, jika sesuatu terjadi kepada lexia, aku bersumpah akan membunuh mereka semua." Ucap Daren begitu geram.


~


"Hei bodoh, jelek ! Siapa yang menyuruhmu untuk menculikku sepertinya aku pernah melihat wajah kalian. Hem wajah jelek kalian selalu kuingat di mansion Daren, kalian suruhan nenek cerewet itu ya." Ucap lexia mengamati wajah mereka satu persatu.


Mereka terlihat geram, salah satu dari mereka keluar dari mobil dan kembali menyumpal mulut lexia agar tidak bicara lagi. Lexia dengan lihainya membuang kain yang menyumpal dari mulutnya.


"Pecundang, jelek, gendut kalian akan kulaporkan kepada Daren kalau aku bebas nanti, wajah kalian akan kuingat terus, jika sesuatu terjadi padaku orang yang pertama yang akan ku hantui adalah kalian berdua wajah jelek kalian akan selalu kuingat sampai akhir hayatku!"


Mereka berdua sangat geram dan sekali lagi salah satu dari mereka keluar dari mobil dan merekatkan lakban dimulutya agar dia tidak bisa berbicara.


~


Daren mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tiba di tempat helikopter yang telah menunggunya.


Perjalanan itu cukup jauh, dia begitu cemas dengan keadaan lexia, dia tidak boleh gegabah dalam bertindak karena villa yang di tempatinya sangat terpencil, tidak ada yang tahu lokasi villa itu. Siapa yang bisa melacak keberadaan mereka berdua.


~


Setelah perjalanan panjang akhirnya orang-orang yang membawa lexia telah tiba di tempat yang dituju, lexia di bawa ke mansion Burchard dan Barbara sudah berdiri di sana menunggu kedatangan mereka. Dia tertawa puas, tanpa bersusah payah dia bisa mengetahui keberadaan lexia dan Daren berkat orang kepercayaan Barbara yang selalu setia memberikan informasi kepadanya.


"tutup matanya, jangan sampai dia mengetahui di mana dia berada, sebentar lagi daren akan pulang, bawa dia ke lantai 7 di kamar ujung di sebelah kamar lovelia." ucapnya.


Barbara bermaksud menyerahkan lexia ke tuan Robert sehingga keluarganya tidak akan di salahkan atas kejadian itu, apalagi lovelia sebentar lagi akan sembuh, dia ingin mendapatkan kepercayaan tuan Robert kepada keluarga Burchard dan menjalin hubungan yang erat dengannya.


Lexia di bawa ke lantai 7 di mansion Burchard, setelah itu dia di tempatkan di sebelah kamar lovelia yang merupakan gudang penyimpanan barang-barang di mansion itu. lexia memberontak tatkala dia di dorong masuk ke dalam gudang. Tempat itu cukup bersih dan ada satu tempat tidur di sana sehingga lexia bisa duduk cukup nyaman. kedua matanya yang tertutup kini dibuka.


tetapi tangan dan kakinya masih diikat sempurna dan sama sekali tidak bisa lexia lepas ikatan itu. lexia mengamati tempat itu, penuh dengan barang-barang medis yang tidak terpakai lagi.


'Aku tahu suara tawa wanita itu, tempat ini penuh dengan barang-barang medis yang tidak terpakai, jika tebakanku benar aku pasti berada di mansion Burchard, dan berada di lantai 7 ketika lift itu bergerak dan cukup lama berhenti, berarti aku berada di lantai yang sama dengan lovelia.' batin lexia yang telah memikirkan semuanya.


Dia berdiri dalam keadaan terikat baik tangan dan kakinya, dia bergerak dengan susah payah ingin memberitahu keberadaannya kepada lovelia. Dia berjalan ke pintu dan mengintip dari lubang pintu, tidak ada seorangpun yang ada di sana, lexia menghempaskan tubuhnya ke pintu agar lovelia bisa mendengarkan suara ribut dari sebelah kamarnya.


~


Bunyi lift yang berdentang membuat lovelia membalikkan badannya, tidak biasanya jam seperti ini seseorang naik ke lantai 7, lovelia hapal betul jam-jam para pelayan maupun ibunya ketika dia datang dan ingin masuk ke kamar lovelia.

__ADS_1


Pukul 01.17 lovely masih terjaga, dia melangkahkan kakinya mendekati pintunya dan menempelkan telinganya di sana.


'Buugh' Suara itu terdengar lagi, seperti barang yang berjatuhan, lovelia ingin membuka pintu kamarnya tetapi suara lift yang berhenti membuatnya kembali menutup pintu kamarnya.


'Gadis itu akan merasakan bagaimana menghadapi tuan Robert nanti, dia akan tahu bagaimana rasanya berurusan dengan mereka, padahal sudah banyak kesempatan yang telah aku berikan kepadanya tetapi dia lebih memilih kematiannya sendiri." ucap Barbara sambil bersedekap menatap kamar yang di tempati lexia.


"Besok, dia akan kubawa menemui tuan Robert, sekali dia bertemu dengannya dia tidak akan bisa meloloskan diri darinya, aku jamin itu." ucap barbara, lalu berbalik dan kembali masuk ke dalam lift bersama orang-orangnya.


Lovelia terlonjak, bagaimana bisa ibunya memperlakukan orang seperti itu? mengapa ibunya memperlakukan lexia seperti itu padahal menurut cerita ibunya, lexia membantunya menjadi dirinya agar keluarganya dapat di selamatkan, tetapi mengapa dia ingin menyerahkan lexia kepada tuan Robert padahal kesalahan ada di keluarganya? pikir lovelia.


Setelah ibunya betul-betul pergi, lovelia keluar dari kamarnya dia berjalan mengendap-endap dan menghampiri kamar yang ada di seberang pintunya, dia memutar engsel pintu itu tetapi terkunci.


Lovelia mengedarkan pandangannya, mencari-cari sesuatu dan ternyata kunci itu di gantungkan di dekat lukisan yang terpajang di dinding. Dia mengambilnya dan memasukkan kunci dan memutarnya, bunyi klik pada engsel pintu membuat lexia berbalik, dia membelalakkan matanya melihat orang yang masuk adalah lovelia.


"Hmph, hmmph."


Perlahan lovelia membuka lakban yang ada di mulut lexia dan membiarkan dia mengambil napas. "Kau baik-baik saja lexia?" tanyanya.


Lexia menganggukkan kepalanya. "Lovelia maukah kau membantuku melarikan diri dari sini? aku harus pergi dari sini sebelum ibumu membawaku kepada tuan Robert, dia akan membunuhku jika aku bertemu dengannya, jangan melihatku seperti itu, aku tahu kau pasti berpikir dia tidak mungkin melakukannya, tetapi aku sudah berbohong padanya dan berpura-pura menjadi dirimu, dia pasti akan melakukan sesuatu padaku."


Lovelia menatap wajah lexia lalu mengucapkan sesuatu yang aneh kepadanya.


"Kau percaya padaku bukan?" ucapnya sungguh-sungguh. Lexia menganggukkan kepalanya.


"Kau tahu kisah Romeo and Juliet?" ucapnya.


Lexia menganggukkan kepalanya tetapi tidak mengerti arah dari pembicaraan lovelia.


"kisah mereka tragis bukan, kau tahu obat yang diminum oleh Juliet? dia terlihat seperti mati tetapi tidak lama kemudian dia hidup kembali."


"iya, aku tahu cerita itu lovely, tapi apa hubungannya denganku?" tanyanya.


"Aku memiliki obat yang mirip seperti itu, jika aku tidak bisa menahan perih di tubuhku, terkadang aku meminumnya untuk melewati rasa sakit yang tidak tertahankan itu dan terbangun kembali saat tubuhku sudah di perban kembali."


"Jadi maksudmu, aku harus meminumnya?" ucap lexia tidak percaya.


"Hanya itu satu-satunya cara agar kau bisa lolos dari kakekku, ketika dia berpikir kau telah tiada, dia tidak akan mencarimu lagi lexia" ucap lovelia.


"I...itu ide yang cukup beresiko tinggi lovelia, tidak bisakah kau melepaskan ikatanku saja dan aku bisa melarikan diri dari tempat ini." ucap lexia terlihat kurang setuju dengan ide berbahaya lovelia itu.


"Pengamanan di tingkatkan beberapa kali lipat lexia, kau akan tertangkap jika melarikan diri lagi, hanya itu satu-satunya cara agar kau tidak akan dikejar lagi oleh kakekku." bisik lovelia. Dia keluar dari ruangan itu dan kembali dengan botol kecil di tangannya.


"Ketika kau terdesak, dan tidak ada jalan keluar lagi, minum obat ini, obat ini bekerja sangat cepat, kau akan terlihat seperti mati dan tubuhmu akan terbujur kaku tetapi satu jam kemudian kau akan kembali bernapas, aku tidak akan memberitahukan hal ini kepada siapapun." ucap lovelia menyakinkan lexia.


Botol kecil itu kini berada di genggaman lexia, dia menganggukkan kepalanya kepada lovelia.


"Terima kasih lovelia, oh ya jika kau bertemu dengan daren sampaikan kepadanya, bahwa aku masih hidup dan akan menunggunya di jembatan Brooklyn." bisik lexia, dia tersenyum kepada lovelia yang kini telah berdiri dan akan keluar dari ruangan lexia.


"Lovely, trims." ucap lexia


Lovelia berbalik dan tersenyum kepada lexia. "Ngomong-ngomong selamat atas pernikahanmu dengan pamanku." ucapnya, lexia tersenyum dan mengangguk kepada lovelia.


~


03.15 Waktu Manhattan.


Dua orang pengawal membawa lexia keluar dari ruangan dan mereka heran karena mulut lexia yang di tutup oleh lakban kini telah terbuka, sehingga lexia kembali berbicara dengan semaunya kepada mereka.


"Owh, nyonya Barbara yang menyuruh kalian ya, awas saja aku akan melaporkan ini semua kepada Daren dan kalian semua akan dipecat dan kehilangan pekerjaan." ucap lexia.


"Tutup mulutnya, cepat!" ucap salah satu pria menggeram, pria berjas hitam itu mengambil dari kantongnya lakban hitam lalu kembali merekatkan di mulut lexia.


"Bawa dia." ucapnya.


Dengan mata tertutup lexia di bawa oleh kedua pria suruhan Barbara, ketika lexia dibawa oleh dua pria itu, lovelia yang tidak bisa tidur mengintip dari pintu yang dibukanya, dia sangat kecewa dengan ibunya, mengapa dia memperlakukan lexia yang seumuran dengannya seperti itu? dia sangat khawatir dengan keselamatan lexia.


Barbara sudah menunggu di pintu belakang membawa lexia naik ke dalam mobil bersamanya. Lexia mengingat-ingat pembicaraan dirinya dengan lovelia, apakah dia harus meminum obat ini jika dia tidak memiliki pilihan lain?


"kisah mereka tragis bukan, kau tahu obat yang diminum oleh Juliet? dia terlihat seperti mati tetapi tidak lama kemudian dia hidup kembali."


Sepanjang perjalanan di dalam mobil, lexia terus memikirkan kata-kata lovelia, 'Jika tidak ada pilihan lagi minumlah obat ini.' batin lexia.


"Salahkan dirimu tidak mendengarkan aku sejak awal, seharusnya kau pergi selagi aku memberimu kesempatan, tetapi kau malah mengambil kesempatan menikah dengan Daren, kau betul-betul ular kecil, menyusup di tempat-tempat yang sempit, mengambil kesempatan dengan menjual tubuh kotormu kepada Daren." ucap Barbara menatap lexia dengan pandangan jijik.


'Awas saja nenek ini, jika aku bebas nanti kau akan kusingkirkan kelak, aku tidak perduli kau ibu lovelia, putrimu begitu baik sedangkan kau tidak mirip sama sekali dengannya.' batin lexia.

__ADS_1


__ADS_2