
Wajah Daren begitu pucat. "apa..apa maksudmu Xaphier? Apa yang kau katakan?" Ucap Daren, seakan dia tidak bisa menahan berat di tubuhnya, dia terduduk begitu saja di aspal mendengar keterangan orang-orang Daren yang baru saja memberitahu mengenai mayat wanita yang di temukan di dalam mobil yang hangus dan tidak bisa di kenali lagi.
Daren terhenyak, dia duduk terpaku dan tidak ingin mendengarkan ucapan mereka.
"Itu tidak mungkin, periksa kembali, orang-orangmu mungkin melakukan kesalahan, tidak mungkin lexia yang jatuh di bawah sana." Daren berdiri, dia berlari dan menatap mayat yang di bawa dengan tandu dan sudah terbungkus dengan kantong mayat sehingga dia tidak bisa di kenali lagi.
"Berhenti ! Berhenti....!" Teriaknya, Daren menahan orang-orang yang akan membawa mayat yang tidak bisa dikenali lagi, Daren perlahan membuka kantong mayat yang ada di depannya. Wajah wanita itu tidak bisa lagi di kenali, tanpa memalingkan wajahnya dia mencari tanda bahwa wanita yang terbakar itu bukan lexia. Tetapi dia sama sekali tidak bisa mengenali lagi sosok itu.
Mereka akhirnya membawanya meninggalkan Daren yang terduduk di sisi jalan raya. Hujan turun seakan turut berduka karena kehilangan lexia. Tubuh Daren terguncang dia menangis sambil menundukkan kepalanya. Xaphier berdiri di sana menatap jauh ke tempat lexia jatuh, tubuh mereka basah karena derasnya air hujan membasahi lokasi itu.
Xaphier tertunduk, baru saja dia menemukan Celia, wajah yang begitu di rindukannya seperti wajah ibunya yang selama ini mengasuhnya, tetapi dia pergi lagi begitu cepat. Dia menatap Daren yang duduk di aspal sambil menundukkan kepalanya. Tangisnya tidak dapat di dengar karena derasnya air hujan yang membasahi bumi.
"Daren, kita harus ke rumah sakit dan mengobati lukamu." Ucap Xaphier menatap Daren yang tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya duduk, hanya tubuhnya yang terguncang, tidak bisa mempercayai dengan yang terjadi dengan lexia istrinya, apalagi Sebentar lagi mereka akan memiliki bayi. Xaphier menarik kerah Daren dengan kasar.
"Jangan putus asa Daren, belum tentu wanita yang terbakar itu lexia, kita harus ke rumah sakit dan memastikannya." Ucap Xaphier. Wajah Daren yang terguncang lalu mulai bergerak, dia berdiri dan berjalan mengikuti Xaphier menuju ke mobilnya.
~
Kabar itu disampaikan oleh salah satu pengawal milik tuan caesaar, dia melaporkan kejadian yang menimpa Daren dan lexia. Tuan caesaar terduduk, dia terduduk dan terdiam. "Bagaimana... bagaimana bisa hidup putriku berakhir seperti itu, dia sudah lama menderita kenapa dia harus menerima nasib mengerikan seperti itu." Ucapnya.
Thomas menepuk-nepuk punggung tuan caesaar, sebersit senyum terlihat jelas di sudut bibirnya. "Pastikan wanita yang wafat itu, mungkin saja mereka melakukan kesalahan!" Teriak tuan caesaar.
Salah satu ajudan terpercayanya menatap sebentar wajah Thomas yang memiringkan bibirnya ke samping, setelah itu dia menunduk dan memikirkan perintah tuan caesaar untuk menyelidiki orang dalam dan orang luar di mansionnya dan mengenai kejadian penculikan waktu itu, dia melewatkan satu orang yaitu Thomas, dia adalah paman Xaphier dari saudara kandung ibunya, dia sama sekali belum di periksa, hanya segelintir orang saja yang di curigai mengenai kejadian itu.
~
Pintu kamar itu membuka, malam begitu larut dan seorang wanita masuk dengan membawakan nampan makanan berisi roti dan segelas air putih. Dia melihat lexia yang terbaring begitu tersiksa dengan luka di keningnya yang mengering tidak diobati. Wanita itu salah satu istri si penculik, dia membuka ikatan tangan lexia dan membersihkan lukanya, lalu memberikan roti dan air kepada lexia.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya. "Aku ada di mana?" Tanya lexia memperhatikan sekelilingnya ketika penerangan itu masuk ke dalam ruangan.
"Tenanglah jangan berisik, mereka semua sedang pergi dan aku melihat mereka membawamu kemari, pria-pria jahat itu baru saja pergi, oh ya salah satu pria yang membawamu kemari adalah suamiku, dia memberikan ini kepadamu." Sebuah surat di tuliskan di secarik kertas dengan terburu-buru.
"Segeralah pergi sebelum mereka semua kembali, aku memang berniat menculikmu tetapi tidak untuk membunuhmu apalagi kau sedang hamil sama seperti istriku, jadi sebaiknya pergi jauh-jauh, dan jangan dulu menemui keluargamu karena jika kau kembali dia akan mengulangi kembali perbuatannya untuk membunuhmu dan bayimu, sebaiknya pergi dan sembunyilah di tempat yang jauh."
Lexia ternganga melihat tulisan ini. "Suamiku bilang aku harus membiarkanmu pergi, pergilah sejauh mungkin." Ucap wanita itu segera melepaskan ikatan pada tangan lexia, dia memberikan mantel panjang agar lexia tidak kedinginan ketika berada di luar di malam dingin begini. Tanpa menunggu lama lexia memakai mantel kebesaran itu dan segera pergi dari sana sebelum orang-orang itu kembali.
~
__ADS_1
Kabar mengenai penyerangan itu telah sampai ke telinga tuan Robert dan Alvin, mereka semua begitu terkejut. Tuan Robert memukul lengan di kursinya dan menatap dengan tajam Sebastian. "Selidiki siapa dalang di belakang penyerangan lexia, mengapa kejadian itu terulang kembali? Aku yakin semua kejadian ini berhubungan dengan 16 tahun yang lalu. Dulu, mereka menjadikan aku sebagai kambing hitam dengan menuduhku sebagai pelaku penculikan, aku yakin pelaku kejadian ini adalah orang yang sama, orang yang menginginkan kematian lexia."
~
Daren dan xaphier sudah berada di rumah sakit khusus milik Xaphier, jadi pemeriksaan dilakukan secara rahasia, Daren merasa tidak aman jika semua orang tahu kondisi wanita yang terbakar itu.
Daren duduk di salah satu kursi dengan kemeja yang masih dipenuhi bercak darahnya. Beberapa jam kemudian setelah menunggu begitu lama hasil pemeriksaan akhirnya keluar, dokter itu menemukan identitas wanita yang meninggal itu.
"Sir, kami telah mengidentifikasi mayat korban, dia adalah seorang wanita dengan usia 25 tahun, golongan darah A dan saya pikir identitas ini sangat cocok dengan wanita yang menghilang tiga hari yang lalu, wanita itu menghilang di sekitar kota Tulas menuju Oklahoma city."
Mendengar penjelasan dokter itu Daren bangkit dari duduknya, tubuhnya gemetar mendengarkan penjelasan dokter forensik itu.
"Wa..wanita itu berusia 25 tahun?" Ucap Daren.
"Apa maksudnya dengan wanita yang menghilang tiga hari yang lalu?" Ucap Xaphier. Dokter itu menjelaskan mengenai mobil yang ditemukan tanpa pemiliknya di sekitar kota Tulas dan identitas yang di temukan saat itu semua berada di kepolisian di Tulas.
"Salah satu temanku dari kepolisian
Mengatakan, pemilik mobil itu menghilang, hanya kendaraannya saja yang ada di lokasi, aku akan segera meminta identitas wanita itu, dan mencocokkan dengan sidik jari wanita yang terbakar ini." Ucapnya.
"Aku masih menyelidiki kasus ini, dan aku akan menemukan dalangnya, aku tidak akan memaafkannya dan akan membuat mereka merasakan segala perbuatannya kepada keluargaku, gara-gara orang itu hidup ibuku begitu singkat karena memikirkan putrinya yang menghilang dan tidak pernah kembali sampai kematian menjemputnya, dan kini penyerangan itu kembali lagi, dan aku sangat yakin target mereka adalah Celia." Ucap Xaphier.
"Apa maksudmu Xaphier?" Tanya daren, ia menatap Xaphier yang duduk di sampingnya. Dia menghembuskan nafasnya lalu mulai menceritakan semuanya. "Aku bukanlah anak kandung dari Caesaar Rodrigo, aku hanya keponakan yang di asuhnya sejak kecil karena ayah dan ibuku telah wafat, Tidak lama kemudian Celia lahir, mereka tetap menyayangiku dan tidak membedakan kami meskipun aku bukan anak kandungnya, aku sangat menyayangi ibuku, waktu itu dia begitu lembut dan sangat sayang kepadaku, tetapi kami kehilangan celia saat itu, akhirnya ibuku sakit-sakitan dan meninggal dunia." Ucap Xaphier.
"Jadi maksudmu penyerangan ini adalah orang yang sama dengan yang menculik lexia sewaktu masih kecil?" Tanya daren, menggeleng tidak percaya.
"Ya, seseorang ketakutan ketika dia kembali di keluarga kami dan...." Xaphier terdiam seperti pemahaman muncul begitu saja, dia tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya. "Daren, aku harus pergi dan memastikan sesuatu." Ucap Xaphier mengenakan jasnya.
"Kabari aku jika identitasnya sudah di ketahui." Ucap Xaphier kemudian pergi dengan terburu-buru dan meninggalkan Daren seorang diri di tempat itu.
~
Lexia bergerak cepat dia memegang perutnya, dan ketakutan jika saja terjadi sesuatu dengan janin yang dikandungnya, dia terus berjalan cepat menyusuri jalanan yang sepi yang jarang di lewati oleh orang-orang. Dia memeluk tubuhnya karena udara yang begitu dingin.
Ketika perjalanannya cukup jauh, dia melihat pemberhentian bis dan menunggu bis di sana, dengan berhati-hati jika ada mobil Jeep yang lewat, lexia tentu saja harus sembunyi. Akhirnya bis yang di tunggu lexia tiba, untung saja hari ini dia mengantongi sejumlah uang yang bisa di gunakannya selama di perjalanannya, bukan itu saja, diam-diam lexia mengenakan kalung pemberian Xaphier padanya tanpa Daren ketahui.
Dia duduk di salah satu kursi yang kosong di dalam bus dan menatap tujuan bus ini, mereka masuk ke pinggiran kota di Tulas lebih jauh lagi menuju desa terpencil yang ada di kota itu. Lexia hanya mengikuti kemana bis itu akan membawanya, dia akan mencari penginapan setibanya di tempat itu.
__ADS_1
Lexia membaca lagi surat yang di tulis dengan terburu-buru itu. Lalu kembali melipatnya.
"Segeralah pergi sebelum mereka semua kembali, aku memang berniat menculikmu tetapi tidak untuk membunuhmu apalagi kau sedang hamil sama seperti istriku, jadi sebaiknya pergi jauh-jauh, dan jangan dulu menemui keluargamu karena jika kau kembali dia akan mengulangi kembali perbuatannya untuk membunuhmu dan bayimu, sebaiknya pergi dan sembunyilah di tempat yang jauh."
"Bayiku? Tapi mengapa mereka ingin membunuhku?" Bisik lexia. Dia terus memegang perutnya, dia sangat takut jika hal buruk terjadi dengan bayi kecilnya. Lexia sangat merindukan Daren, dia ingin memeluknya di saat seperti ini, tetapi lexia takut, jika dia kembali dan dirinya dalam bahaya begitupun bayi yang dikandungnya.
~
Matahari kini memancarkan sinarnya, Daren yang masih menunggu di tempat itu kini telah berdiri karena hasil penyelidikan telah keluar, identitas wanita yang terbakar telah diketahui.
"Sir, kami telah mengetahui identitas korban." Dia memberikan Hasilnya kepada Daren, dia begitu terkejut karena nama yang tertera di sana adalah Nency Robert. "Nency? Kenapa dia bisa...." Daren lalu mengingat hari ketika dia datang ke villanya siang itu dan setelah kepergiannya dari villa kabarnya tidak pernah terdengar lagi.
"Lexia ! Dimana lexia?!" Ucap Daren, setelah memastikan mayat wanita itu bukanlah lexia, daren segera pergi meninggalkan tempat itu dan mencari lexia yang entah di mana keberadaannya. Daren menelepon Xaphier dan memberitahu hasilnya.
"Lexia mungkin masih di sekap di suatu tempat oleh penculik itu." Ucap Xaphier melalui telepon. Rahang Daren mengencang, dia terus melajukan mobilnya menuju ke lokasi kejadian tempat terbakarnya mobilnya. Entah kemana dia akan mencari lexia.
~
Lexia tiba di tempat tujuan sekitar pukul 05.00 pagi, dia melihat kota kecil itu dengan pohon Pinus di setiap pinggiran jalan, rumah-rumah dengan desain yang cukup menarik karena antara satu rumah dengan yang lainnya begitu mirip, rumah kayu dengan bentuk yang sama, hanya pekarangan dan nama pemilik dari rumah-rumah itu yang membedakannya.
Lexia menyusuri kota kecil yang tenang itu, lalu matanya menatap seorang wanita paruh baya yang terlihat kesulitan membawa barang belanjaannya, dia menghampirinya lalu berusaha membantunya. wanita itu berbalik melihat lexia membantunya membawa satu kantongan berat di tangan lexia. Dia kemudian tersenyum.
"Terima kasih, belanjaannya cukup berat, hari ini anak-anak pergi sekolah jadi hanya aku saja yang harus ke pasar dan membawa semua ini." keluh wanita itu. Dia menatap lexia dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Kau sedang mencari sesuatu nak?" tanyanya. Lexia tersenyum, dia berjalan mengiringi wanita itu. "Aku mencari rumah kecil yang bisa kusewa untuk beberapa waktu." ucap lexia.
"Kau terlihat begitu muda young girl? untuk apa kau ingin menyewa rumah di tempat sepi dan terperincil seperti ini?" tanyanya. lexia menaikkan bahunya. "Erm..aku bertengkar dengan suamiku, dan lari darinya aku hanya ingin bersembunyi darinya untuk sementara waktu saja." ucap lexia berbohong.
Wajah prihatin nampak terlihat di wajah keriput wanita paruh baya yang mengatakan namanya adalah Elma. "Astaga, kau sudah menikah?" ucapnya terkejut sambil menutup mulutnya, dia melihat lexia begitu muda dan cantik, sepagi ini dia seharusnya seperti gadis seusianya berkumpul dan berangkat kuliah.
"Dan aku sedang hamil, aku ingin beristirahat di tempat yang tenang." ucap lexia sambil memegang perutnya. "Kau sedang hamil?? oh tidak, berikan kantung plastik itu kau tidak boleh mengangkat barang-barang berat." ucapnya, tetapi lexia masih kukuh membantunya membawa barang-barangnya.
Dia mengerling wanita itu yang nampak berpikir ketika mereka berjalan. "Kau bisa tinggal di samping tempat kami sampai kau Berbaikan dengan suamimu, kau harus menjaga kandunganmu, seharusnya kau tidak mengangkat barang berat seperti ini." dia menunjuk barang yang di pegang lexia dan segera mengambilnya.
"Ikut aku sayang, rumahku cukup luas, Oh ya, aku menampung anak-anak yang tidak memiliki orang tua lagi, kami menampung mereka dan menjadikan tempat kami seperti sebuah panti, dan disebelah rumahku ada rumah kosong yang cukup luas, kau bisa tinggal di sana." ucap wanita itu sambil tersenyum hangat.
Lexia bersyukur bisa menemukan tempat untuk menginap malam ini, dia akan tinggal di desa terpencil ini, sampai kondisinya cukup aman dan akan segera kembali menemui daren yang dicintainya.
__ADS_1