
Mobil mereka melaju dengan kencang, lexia mengerling Daren yang sedang mengemudi.
"Berhenti di depan supermarket itu, aku ingin ke toilet." Ucap lexia.
Daren memarkirkan mobilnya dan membiarkan lexia keluar dari mobil sementara dia menunggunya sambil menelepon seseorang.
Lexia masuk ke dalam toilet dan seseorang menarik lengannya begitu keras.
"Kau rupanya sedang bersenang-senang lexia sayang!" Ucap William yang mendorong lexia masuk ke dalam kamar mandi.
"Lepaskan tanganmu." Bisik lexia keras.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" Tanya lexia.
Wajah William begitu dekat dengannya, membuat lexia harus mendorong tubuh kerasnya sekuat tenaga.
"Kau masih ingin mengetahui kebohongan daren tentangmu atau tidak?" Ucap William berdesis.
"Apa maksudmu, katakan kepadaku."
William menjelajahi wajah lexia yang memalingkan wajahnya, dia tidak mau di sentuh oleh pria ini. William tersenyum kecil.
"Kau mau di sentuh olehnya sementara aku tidak, kau jalang kecil." Umpat William.
Sebuah ketukan terdengar dari pintu kamar mandi.
"Jika kau ingin mengetahuinya, datang kepadaku, kali ini aku tidak akan membuatnya mudah lexia."
Lexia mendorongnya keras dan segera keluar dari pintu dan berjalan cepat. Daren masih menunggu di dalam mobil.
"Kenapa kau lama sekali." Tanyanya.
"Kau ingin tahu apa yang kulakukan di kamar mandi?"
Daren tersenyum, "Tentu saja tidak, aku cukup sopan untuk tidak menanyakan privasimu tentu saja."
Lexia memutar matanya tetapi pikirannya masih seputar William yang mengatakan tentang kebohongan daren padanya. Apa yang di sembunyikan Daren dariku?
~
Setelah mereka sampai di mansion, lexia bergegas keluar dari lift tetapi tangannya di tarik oleh daren.
"Kau tidak ingin mengucapkan sesuatu padaku? Seperti ciuman selamat tidur?" Gumam daren di depan bibir lexia.
Dengan keras lexia menginjak kaki daren dan berlari menuju pintu kamarnya dan segera menguncinya, dia mendengar tawa daren dari pintu luar.
"Dia betul-betul berubah ! Sifat aslinya baru saja aku sadari, dia pria mesum." Ucap lexia segera masuk ke dalam kamarnya dan naik ke atas tempat tidurnya lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, bayangan Daren yang menciumnya di dalam mobil membuat lexia menutup rapat matanya.
"Aku tidak boleh memikirkan pria itu, dia hanya menginginkan tubuhku, tidurlah lexia, tidur ! Jangan memikirkan pria itu." Gumam lexia pada dirinya sendiri.
~
Daren masuk ke dalam kamarnya, dia nampak lebih baik setelah berterus terang mengenai keinginannya terhadap lexia, setidaknya gadis itu tahu apa yang kuinginkan, aku bosan menciumnya dengan sembunyi-sembunyi.
__ADS_1
Daren berbaring di tempat tidurnya, dia lalu mengingat kejadian tadi bersama lexia di dalam mobil membuatnya berpikir liar.
"Ugh sial tidurlah ! Sebelum Daren kecil terbangun." Gumam daren lalu menutup matanya.
~
"Pagi Dad." Seru Alvin kepada ayahnya saat sarapan di meja makan.
Tuaa Juan baru saja kembali dari Texas semalam karena pertemuan penting.
"Hubungi kembali keluarga Burchard, aku ingin bertemu dengan lovely, pertemuanku yang lalu sungguh sangat singkat, aku sampai tidak mengingat percakapanku bersama lovely."
Alvin tersenyum senang. "Ya dad, aku juga ingin bertemu ponakanku itu." Tuan Juan menaikkan alisnya.
Alvin tertawa renyah, "Dia lucu dad, kau pasti tidak tahu bukan?"
"Lucu? Apa maksudmu, Robert mengatakan padaku dia sering sakit-sakitan jadi lovely menjadi anak yang pendiam, walaupun aku bisa mengatakan waktu bisa merubah semuanya."
"Telepon mereka siang ini, aku ingin makan siang dengannya kau atur saja tempat yang sesuai untuk lovely."
"Baik dad." Ucap Alvin.
~
Lexia masih berbaring di atas tempat tidurnya, semalam dia pulang begitu larut hingga dia merasa lelah. Bunyi alarmnya membuatnya mencari-carinya dan melemparkannya begitu saja agar alarm itu dapat berhenti.
"Berisik! Aku masih mengantuk."
Telepon lexia berdering keras, beberapa kali deringan membuat lexia bangun dari tidurnya masih menutup matanya.
"Buka pintu sialanmu lexia, ada kabar tentang tuan Robert." Ucap suara daren yang terdengar kencang.
"Key."
Lexia bangun dari tidurnya dan segera keluar dari kamarnya, kemudian membuka pintu kamarnya dengan rambut berantakan awut-awutan, dia menatap daren dengan gayanya yang khas begitu fresh sehabis mandi dengan kemeja biru polo serta lengan bajunya yang digulung mencapai siku.
Daren masuk lalu melihat penampilan lexia. Dia segera menutup pintunya.
"Aku ngantuk sekali, itu semuanya gara-gara kau daren, aku perlu tidur lebih lama." Ucap lexia membanting tubuhnya di atas sofa tanpa memperdulikan penampilannya.
"Segeralah mandi lexia, siang ini kau akan bertemu tuan robert, baru saja Alvin menghubungiku."
"Benarkah?" Kata lexia cuek.
"Kau harus betul-betul di sadarkan lexia." Bisik daren, dia menarik lexia hingga dia jatuh di pangkuan daren kemudian daren menciumnya keras lexia yang tadinya ngantuk kini menatapnya dengan mata membulat.
Pukulan dari lexia tidak membuat daren melepaskan ciumannya, napas lexia menjadi tipis dia berusaha mencari udara karena ciuman daren yang intens.
Akhirnya daren melepaskan ciumannya, lexia masih duduk di atas pangkuannya mencari keseimbangannya.
"Sekarang kau masih ngantuk? Apakah aku perlu melakukan langkah selanjutnya agar menyadarkannya lexia, Goda daren masih memegang rahang lexia mendekat ke bibir Daren.
"Ti...tidak, aku sudah sadar." Cicit lexia.
__ADS_1
"Bagus ! Segeralah mandi, aku menunggumu untuk sarapan, dia mengecup cepat bibir lexia dan melepaskannya.
Lexia lari terbirit lalu menutup pintu kamarnya.
"Ugh ! Pria itu mengambil kesempatan dariku begitu saja, awas saja kau daren." Bisik lexia. Dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Ponsel daren berdering, dia masih tersenyum senang dengan kelakuannya tadi.
"Ada apa Evan?"
"Sir, pria bernama Edo sedang mencari keberadaan lexia, dia menyelidikinya sir, rupanya dia memiliki koneksi dengan Alther."
"Benarkah? Alther...mengapa nama itu selalu menjadi pengganggu di setiap rencanaku? Rupanya Keluarga Alther belum puas dengan kehancuran perusahaannya rupanya, selidiki terus pria bernama Edo itu, dan jangan lengah, meskipun perusahaan alther telah hancur, mereka sekarang berbahaya."
"Baik sir."
"Edo, apa hubungan lexia dengan pria bernama Edoardo itu." Daren bersandar di sofa milik lexia sambil menatap pintu kamarnya.
~
Siang itu mobil kusam berwarna merah berhenti di depan rumah mewah Alther, Edo turun dari mobilnya dan menuju pintu gerbang rumah itu.
"Aku ingin bertemu tuan Alther." Ucap Edo.
"Ada keperluan apa kau ingin menemuinya? hari ini tuan Alther tidak ada di rumah dia sedang keluar." ucap salah satu penjaga.
"sial !"umpat Edo membelakangi dua penjaga itu.
"Kau Edoardo bukan? tentu kau sudah kenal tuan Alther dan satu lagi yang kau harus ingat jangan menyebutnya tuan Alther panggil dia tuan Luther, dia tidak menggunakan nama ayahnya lagi." ucap penjaga itu.
"Hei apakah tidak apa-apa memberitahu tentang nama tuan Luther kepada anak itu?" tanyanya.
"kalau dia tidak apa-apa, aku sudah pernah melihat anak itu bekerja kepada tuan Luther."
"Oh ya, ada urusan apa dia mencari tuan Luther."
"Hei kau !" Seorang penjaga meneriaki Edo yang masih bersandar pada mobil kusamnya sambil bersedekap.
"Kau bisa datang di tempat biasa malam ini, mungkin saja tuan Luther akan ke sana."
Edo memandang mereka berdua dengan curiga. "Ck, okey aku akan datang lagi." ucap Edo dia bergegas masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
~
Hari ini lexia sudah bersiap, dia keluar dari kamarnya dan menatap seorang pelayan yang berdiri di sana menunggunya.
"Nona, tuan daren menunggu anda sarapan di bawah." ucap pelayan muda itu dia sepertinya memiliki usia yang sama dengan lexia.
"Aku baru kali ini melihatmu." ucap lexia menatapnya.
"Saya biasanya berada di dapur nona, baru kali ini saya di tugaskan melayani anda."
"Oh ya." Lexia menatapnya, dia tersenyum pada lexia, ada beberapa bintik-bintik kecil di wajahnya.
__ADS_1
'Mungkin saja anak ini cocok denganku, dia bisa membantuku jika aku memerlukan sesuatu apalagi Sepertinya usia kami sama', gumam lexia sambil meliriknya.