
~Pukul 01.15 Waktu Manhattan
Villa itu terletak di sebelah selatan Manhattan, dikelilingi sebuah pantai yang bersebelahan langsung dengan sungai hodson yang membentang luas. Villa dengan pengawasan 24 jam itu masih di jaga ketat para pengawal-pengawal Daren, mereka sudah bersiaga di posisi mereka masing-masing.
"Lexia sayang kau sudah siap?" Ucap Daren setelah mengenakan mantelnya dan beberapa tas yang sudah di angkut oleh beberapa penjaganya.
Lexia keluar dari kamarnya dengan mengenakan mantel hitam panjang dan baju kasual agar lebih nyaman karena perjalanan kali ini cukup lama jadi setidaknya lexia mengenakan pakaian yang membuatnya nyaman untuk bergerak.
Mereka sudah siap untuk berangkat, Daren memegang tangannya lalu segera turun ke lantai satu, Evan dan pengawal-pengawal lainnya sedang berdiri berbaris dan sedikit menunduk ketika mereka melewatinya dan segera membukakan pintu mobil untuknya.
"Sir saya sudah mengupayakan agar anda tidak melewati jalur umum, kita akan melewati beberapa kota sebelum masuk ke bandara karena menurut informasi yang saya dengar, orang-orang tuan Robert sudah tersebar di semua bandara di Borough, baik Manhattan, broklyn, Bronx, Queen jadi sebaiknya kita melewati tempat yang penjagaannya sedikit sir."
Daren mengepalkan tangannya, sementara lexia merasa ketakutan, bisa di bilang upaya tuan Robert yang ingin menangkapnya bukan main-main, pasti dia begitu marah Karena lexia membohonginya, lexia menelan ludahnya, tubuhnya menjadi tegang dan hal itu dapat di rasakan oleh Daren.
"Cari jalan yang aman, sebaiknya hindari resiko bertemu dengan mereka, kita akan melewati jalur khusus meskipun perjalanannya jauh, saya rasa kita lebih aman melewati tempat itu."
"Baik tuan."
Mereka masuk ke dalam mobil dan beberapa pengawal mengikuti mobil yang di kendarai oleh Daren dan lexia bersama dengan Evan. Selebihnya masih berada di villa dan mengawasi keadaan di sekitarnya.
Lexia menggenggam erat tangan Daren. Ketakutan terpancar di wajah lexia, dia mendongakkan kepalanya menatap Daren.
"Semuanya akan baik-baik saja, mereka tidak akan menemukan kita." Bisik daren agar lexia dapat tenang, dia memberikan kecupan singkat dan menyandarkan kepala lexia di bahunya.
"Semuanya akan baik-baik saja lexia, aku berjanji." Bisiknya.
Mobil mereka melalui perjalanan cukup panjang dan melewati beberapa kota, ketegangan lexia menghilang karena letih yang di rasakan pada tubuhnya apalagi dia sudah pusing karena sudah lama di dalam mobil.
"Daren, aku mual, bisakah kita berhenti sebentar kepalaku pusing." Bisik lexia.
"Kau pusing?" Tanyanya. Lexia menganggukkan kepalanya.
"Hentikan mobilnya, kita akan beristirahat sebentar." Ucap Daren. Akhirnya tiga mobil itu berhenti di sisi jalan tidak begitu jauh dengan pom bensin dan mini market, Daren membiarkan lexia menghirup udara dari luar mobil dan memijat-mijat Tengkuknya agar mualnya bisa hilang.
"Bagaimana sekarang, kau masih mual?"
Lexia menggelengkan kepalanya, "Sekarang aku baik-baik saja, pusingku sudah berhenti." Ucap lexia.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanannya sampai malam hari tiba.
"Evan, sebaiknya cari penginapan, kita bisa melanjutkan perjalanan besok pagi." Ucapnya.
"Baik tuan."
Mereka berada di jalan Quinn 73street selatan. Mereka akhirnya berhenti di salah satu rumah yang di sewakan. Rumah-rumah itu bergaya klasik dengan kayu yang mendominasi seluruh bangunan rumah yang berderet dan letaknya cukup jauh satu sama lain.
"Sir silahkan lewat sini." Ucap Evan.
Daren mengangkat lexia yang sudah tertidur karena kelelahan berada di dalam mobil. Dia membawanya pada satu rumah cukup besar.
"Evan, kau sudah periksa di sekitar tempat ini, apa di sini aman?" Tanyanya.
"Kami sudah memeriksa seluruh tempat sir, tidak ada yang mencurigakan sir." Ucap Evan menyakinkan.
"Bagus, perintahkan yang lain untuk berjaga dan segera laporkan kepadaku jika kau melihat sesuatu yang mencurigakan."
"Baik sir."
Setelah yakin bahwa keamanan di sekitar rumah itu aman, Daren kemudian membawa lexia masuk ke dalam kamar yang cukup luas dengan dekorasi rumah yang klasik, hiasan di dindingnya hanya satu lukisan dan perapian yang menyala-nyala membuat penerangan di kamar itu begitu samar karena cahaya yang ada hanya dari api dari perapian yang berkobar.
Daren menekan tombol agar ruangan mereka lebih bercahaya tetapi percuma saja, karena peraturan di daerah itu cukup sulit karena mereka tidak akan menyalakan lampu di atas jam 9 malam, jadi penerangan berasal dari perapian saja.
"Ck, sungguh aneh, memang kita ada di mana, di hutan? Mengapa ada peraturan konyol seperti ini." Gumam daren setelah membaca beberapa petunjuk di salah satu buku yang sengaja di pajang pemilik rumah itu.
Daren mengambil selimut dan menyelimuti lexia yang sudah tertidur pulas. Daren meregangkan otot-otot tubuhnya kemudian dia menyegarkan tubuhnya dengan mandi setelah itu barulah dia berbaring di samping lexia dan memeluknya erat.
~Pukul 02.23
Ponsel Daren berdering begitu nyaring, Daren terkejut dan segera mengangkatnya.
"Halo, Alvin ada apa?"
"Pergi dari tempat itu beberapa jam lagi orang-orang ayahku akan ada di sana larilah sejauh-jauhnya kalau perlu hindari jalan raya, cepat pergi sebelum mereka tiba." Peringat Alvin.
__ADS_1
Mata Daren kini terbuka lebar, rasa ngantuknya tiba-tiba menghilang, daren lalu mengguncang tubuh lexia agar dia terbangun. Saat itu ketukan keras terdengar dari pintu kamar Daren.
Daren lalu membukanya. "Sebaiknya anda pergi sekarang tuan, kami akan menghadang mereka." Ucap Evan dengan cepat.
Tanpa menunggu lama Daren mengenakan pakaiannya dengan terburu-buru dan memakaikan lexia mantel bepergiannya karena lexia masih tertidur.
"Lexia bangun, lexia." Ia terbangun dan terkejut menatap Daren yang memakaikan mantel lexia dengan paksa.
"Kita harus pergi dari sini, mereka telah tiba lexia." Suara-suara ribut sudah di dengar dari luar pintu rumah, beberapa letusan senjata mengagetkan mereka berdua. Daren menarik tangan lexia melewati pintu belakang. Mereka berdua mengendap-endap di kegelapan malam lalu menyusuri pohon-pohon yang ada di belakang rumah itu.
Kegelapan malam yang pekat, tidak ada cahaya yang menyinari langkah mereka berdua, Daren hanya menarik tangan lexia berlari dengan kencang menjauhi suara-suara ribut antara masing-masing penjaga.
Lexia berlari sekuat tenaga, mereka berdua berhenti di satu pohon besar, dan beristirahat di sana. Napas mereka berdua memburu.
"Daren, apa yang harus kita lakukan? Mereka mengejar kita sampai ke tempat ini." Ucap lexia bersandar di pohon besar, sementara itu Daren masih mengawasi dari kejauhan.
"Kita akan terus menghindar dan berlari karena kita kalah jumlah lexia, sebaiknya kita terus pergi sayang, di sini masih sangat berbahaya." Ucap daren.
"Aku lelah dan ngantuk Daren." Ucap lexia masih mencoba menormalkan napasnya karena letih setelah berlari.
"Tidak ada waktu untuk beristirahat lexia, kita harus segera pergi, sebentar lagi mereka akan sampai kemari." Ucap Daren menarik tangan lexia kembali dan menyusuri pepohonan.
Bunyi ranting yang patah terinjak oleh mereka berdua, serta serpihan Kayu-kayu yang berduri mengenai pakaian bahkan kulit mereka sehingga nampak luka gores di beberapa tempat di tubuh Daren dan lexia.
Mereka terus menyusuri pepohonan yang lebat hingga pada akhirnya mencapai di sebuah rumah tua yang tidak berpenghuni, sepertinya rumah itu dijadikan tempat penyimpanan pohon-pohon yang sudah di tebang dan menjadi kayu yang di tumpuk dan di tinggalkan begitu saja.
"Kita beristirahat di sini saja." Ucap Daren mengamati rumah gelap tidak berpenghuni itu, lexia menatap rumah itu lalu melangkahkan kakinya bersama Daren.
Lexia membuka pintu rumah itu perlahan, bunyi kayu yang terdengar lapuk pada engselnya dan decitan terdengar ketika menginjakkan kaki di lantai rumah itu.
Daren mengamati, lalu memeriksa dengan teliti, lexia memperhatikan Daren yang sedang berjalan di depannya, baju Daren sudah kotor terkena tanah dan sedikit sobekan di bajunya. Lexia lalu menghampiri Daren dan memeluknya dari belakang.
"Lexia?" Ucapnya.
"Aku capek dan ngantuk Daren." Bisiknya.
Daren tersenyum. "Setelah kita memeriksa tempat ini kita akan beristirahat sayang." Ucap Daren. Lexia menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.
Di ruangan itu ada satu kamar yang cukup bersih dan satu tempat tidur kecil dan lemari tepat di sampingnya. "Kemarilah lexia tempat tidur ini cukup bersih, berbaringlah di sini." Ucap Daren.
Lexia membersihkan tempat tidur itu lalu menyandarkan kepalanya di bahu Daren. "Kau tidak apa-apa?" Tanyanya pada Daren.
Daren menggenggam tangan lexia lalu mengecup keningnya.
"Tentu, aku tidak apa-apa, sebentar lagi Evan akan datang menjemput kita, jadi jangan khawatir sayang." Bisiknya.
Lelah dan letih karena habis berlarian membuat keduanya tertidur pulas dengan posisinya yang duduk di atas tempat tidur. Bunyi kicauan burung dari balik jendela membuat Daren terkejut dia memicingkan matanya yang ngantuk lalu menatap lexia yang masih pulas tertidur.
"Sudah pagi." Ucapnya.
"Lexia? Bangun sayang kita harus bergerak dan keluar dari sini, Evan sudah menunggu kita di depan jalan." Ucap Daren menggoyangkan tubuh lexia.
Lexia mengucek-ucek matanya dan menatap daren yang sudah berdiri dan mengintip dari balik jendela.
"Kita harus pergi sekarang lexia." Ucap Daren menarik tangan lexia dan segera keluar dari kamar itu.
Mereka terus menyusuri pepohonan sampai pada ujung jalan dan akhirnya menemukan jalan raya. Lexia duduk didekat satu pohon dan menunggu Daren yang sedang menelepon evan.
"Rupanya tuan Robert betul-betul bekerja keras, ukh aku masih ngantuk." Ucap lexia menunggu Daren yang berjalan di depan jalan untuk melihat mobil yang akan menjemput mereka.
~
"Oh ya? Mereka melarikan diri? Hehe, mereka tidak akan pergi begitu jauh, teruskan pencarian aku ingin kalian menemukan gadis itu." Ucap tuan Robert sambil menyiram tanaman hiasnya.
"Baik tuan."
Langkah kaki itu berdiri tepat di belakangnya mengamati ayahnya yang sedang melakukan rutinitasnya di pagi hari.
"Ada apa evan? Jika kau ingin membahas gadis pembohong itu sebaiknya kau pergi, aku tidak akan memaafkannya." Ucap tuan Robert.
"Tidak ayah, aku kemari ingin mengatakan kalau siang ini aku akan berkunjung ke mansion Burchard untuk makan siang bersama lovelia.
Dia menghentikan kegiatannya lalu menatap putranya. "Terserah kau saja, dan jangan mencoba mengelabui ayah Alvin, aku akan tahu itu."
__ADS_1
Alvin tersenyum Santai seperti biasanya. "Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya tidak ingin ayah terlalu bekerja keras, itu saja." Alvin kemudian pergi meninggalkan ayahnya yang menatapnya.
"Aku tahu kau merencanakan sesuatu Alvin."
"Sebastian !" Teriaknya. Pria tua itu berjalan dengan cepat lalu berdiri dihadapan tuannya.
"Ya tuan."
"Ikuti Alvin kemanapun dia pergi."
"Baik tuan." Dia segera pergi dan menyuruh Beberapa pengawal untuk mengikuti kemanapun Alvin pergi.
~
Mobil berwarna hitam sudah terparkir di sisi jalan dan menunggu Daren dan lexia untuk naik ke dalam mobil, Evan sudah mengatasi beberapa orang-orang yang mengikuti mereka, berkat orang-orang Alvin dan William mereka dapat di atasi.
"Sir kita akan langsung menuju ke bandara, mereka sudah pergi dari tempat itu." Ucap Evan.
"Benarkah?" Raut kegelisahan terpeta di wajah Daren, tidak mungkin secepat itu mereka meninggalkan bandara dan melonggarkan pengawasan mereka.
"Daren ada apa?" Tanya lexia mengamati wajah suaminya yang dari tadi diam saja. Dia kemudian berbalik dan mengelus wajah lexia.
"Aku sedikit curiga dengan pergerakan tuan Robert, tidak semudah itu dia menyerah." Ucapnya.
"Seharusnya dia sudah harus istirahat, apakah dia tidak lelah mengejarku? Kupikir dia pria tua yang baik ketika pertama kali bertemu dengannya." Ucap lexia.
Melipat kedua tangannya sambil mengomel di dalam mobil. Daren tersenyum mendengar Omelan lexia yang tidak berhenti hingga perjalanannya sudah cukup jauh.
Mereka akhirnya tiba di pesawat pribadi Burchard, mereka keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju pesawat itu. Serbuan dari puluhan orang-orang berpakaian hitam telah menghalangi jalan mereka. Dan berdiri bagaikan benteng kokoh yang menghalangi langkah Daren dan lexia.
Daren menggeram, dia begitu marah, tetapi sayangnya untuk mengalahkan mereka semua hal yang mustahil, mereka begitu banyak sedangkan orang-orang Daren sangat sedikit.
"Sial ! mereka terlalu banyak." Daren berdiri di hadapan lexia melindunginya.
Salah satu pria yang berpakaian hitam maju ke depan dia berjalan tidak begitu jauh dari tempat berdirinya Daren.
"Tuan Daren, izinkan saya membawa nona lexia, karena tuan Robert ingin berbicara dengannya." Ucap Sebastian yang berbicara dengan sopan kepada Daren.
"Untuk apa dia ingin berbicara dengan istriku? Jika dia ingin membawanya maka dia harus membawaku juga." Ucap Daren begitu marah.
"Maafkan saya tuan, tapi urusan tuan Robert hanya kepada nona lexia, jadi saya minta maaf, saya harus membawanya." Dia memberikan isyarat kepada orang-orangnya sehingga mereka maju beberapa langkah ingin membawa lexia.
Tentu saja Daren tidak membiarkannya, tetapi pengawal yang melindungi mereka tidak akan cukup menghalangi seluruh pasukan tuan Robert.
Mereka mengeluarkan senjata api dan menodongkan kepada pengawal Daren begitupun kepada Daren dan lexia.
"Sial." Ucap Daren.
Lexia menggenggam erat tangan Daren tetapi melihat senjata yang diarahkan kepada Daren membuat lexia melemahkan pegangannya kepada Daren.
Daren berbalik menatap lexia dengan marah. "Pegang tanganku erat-erat lexia jangan pernah lepaskan, kau mengerti !" Lexia menatap wajah Daren dan tersenyum kepadanya.
"Kau masih bisa tersenyum di situasi seperti ini?" Bisiknya.
"Daren, biarkan aku pergi, aku akan bicara dengan tuan robert, mungkin saja dia akan memaafkanku jika aku meminta maaf kepadanya." Ucap lexia, dia sadar mereka kalah jumlah dan jika Daren masih tetap mempertahankannya bisa-bisa dia akan terluka begitupun dengan yang lainnya.
"Tidak, kau tidak tau watak tuan Robert dia tidak akan memaafkanmu semudah itu lexia, aku akan tetap melindungimu kau hanya perlu berdiri di belakangku kau mengerti." Ucapnya.
~
"Sir, mereka telah mengepung mereka." Ucap salah satu penjaga di salah satu club.
"Bagaimana pergerakan orang-orang Alvin." Tanyanya.
"Mereka masih belum bergerak sir."
"Kita tidak bisa mengambil resiko untuk menentang tuan Robert, katakan kepada mereka semua untuk kembali dan tinggalkan posisi mereka, kita tidak memiliki urusan dengan tuan Robert dan daren, biarkan nasib lexia berada di tangan tuan Robert." Ucapnya.
~
Hari sudah menjelang siang hari dan mereka masih saling berhadap-hadapan di di tempat yang letaknya tidak jauh dari kota Quin.
"Menyerahlah tuan Daren, kami tidak akan sungkan-sungkan untuk melukai anda, jika anda masih bersikeras melindunginya, ini perintah langsung dari tuan Robert."
__ADS_1
Ucapnya.
Satu tembakan tiba-tiba terdengar, senjata itu diarahkan langsung tepat ke tempat Daren dan lexia. Wajah kebingungan terlihat di wajah Sebastian, karena orang-orangnya tidak akan bergerak dan menembak tanpa isyaratnya. Satu tembakan lagi terdengar, entah dari mana asal tembakan itu tetapi tembakan itu langsung mengenai lexia.