The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Lexia dan Lovelia


__ADS_3

Pagi itu lexia bangun pagi-pagi sekali, dia berjalan bolak-balik di kamarnya memikirkan alasan apa yang akan dikatakannya kepada daren atas tingkahnya semalam.


"Dia pasti memikirkan kalau aku sudah gila."


Suara langkah kaki di depan pintu ruangannya membuat lexia berhenti berjalan dia duduk di sofa dengan tenang sambil memperhatikan bayangan seseorang berhenti di depan kamarnya.


Pintu itu terbuka, ternyata seorang pelayan yang masuk ke dalam mengantarkan sarapan lexia seperti biasanya, dia meletakkan semua makanan itu di atas meja.


"Apakah daren maksudku tuan daren sudah bangun?" Tanya lexia kepada pelayan itu.


"Setiap pagi tuan daren joging di sekitar mansion nona, setelah itu beliau berangkat bekerja." Ucapnya.


"Benarkah? Ok terima kasih." Ucap lexia ketika pelayan itu telah pergi.


"Baguslah kalau dia pergi, setidaknya aku tidak bertemu dengannya dan bersikap konyol dan canggung di depannya." Lexia baru saja menuangkan teh di cangkirnya seketika pintu kamarnya di buka dan daren yang sudah kelihatan fresh sehabis mandi langsung masuk ke ruangannya dan duduk di hadapan lexia.


Lexia yang menuangkan teh di cangkirnya begitu terkejut, tangannya hampir saja tersiram teh panas itu.


"Perhatikan tanganmu lexia." Daren lalu menatapnya.


"Ku.. kupikir kau sudah pergi kerja." Ucap lexia tanpa mau memandang wajah daren. Meskipun begitu wajahnya yang tampan dan fresh sehabis mandi dan mengenakan baju santai dan jeans membuat lexia mengerlingnya, dia terlihat begitu muda dan tampak tam..., lexia menggertakkan giginya apa yang kepalaku ini pikirkan?


"Kenapa? Kau ingin aku pergi bekerja?" Ucapnya, daren mengambil cangkir lexia dan meminumnya.


"Tidak, bukan begitu. Aku cuma....


"Tentang semalam, kau tidak usah risau memikirkannya Karena aku juga tidak akan memikirkannya, aku anggap hal itu tidak pernah terjadi." Ucap daren, hal itu membuat lexia memandangnya.


Meskipun lexia ingin memungkiri tentang kejadian semalam tapi mengapa hatinya terasa nyeri?


"Apa? Oh tentu, aku juga ingin mengatakan itu padamu." Lexia masih tidak mau memandang wajah daren, tidak pernah terjadi apa-apa? Jadi bagaimana dengan ciuman semalam? Bukan hanya sebuah ciuman di bibir saja yang dilakukannya, dasar pria brengsek, pikiran lexia berkecamuk di kepalanya.


"Em..aku berangkat kerja." Ucap daren yang telah berdiri, matanya tidak terlepas dari wajah lexia.


"Kau mendengarku lexia?" Tanyanya.


"Apa? Ok." Jawabnya.


Dengan canggung daren keluar dari kamar lexia, dan entah mengapa mata lexia terasa panas dan hatinya terasa sakit? Mengapa perasaan seperti ini dapat di rasakannya.


'Kau menyukainya bodoh !'


Suara konyol itu berbisik di kepala lexia, "Apa? Apa aku begitu gila menyukai pria tua, arogan tukang perintah Sepertinya?" Ucap lexia keras.


"Itu tidak mungkin!" Lexia berdiri di depan balkonnya dan menghirup udara dalam-dalam.

__ADS_1


"Apa dia bilang? Menganggap tidak terjadi apapun semalam?" Napas lexia naik turun, "Sial! Dasar pria arogan." Ucapnya.


~


Daren keluar dari mansion pikirannya tidak pernah berhenti memikirkan lexia, "apakah kata-kataku menyakiti hatinya?" Ucapnya.


Hari itu daren sama sekali tidak fokus pada Pekerjaannya, di kepalanya selalu berputar tentang kejadian semalam bersama lexia. "Kenapa aku bodoh sekali mengatakan kalimat itu?" Daren memandang berkas di atas mejanya tetapi kata-katanya hanya seputar tentang lexia hingga dia tidak menyadari wajah melongo sekertarisnya yang menatapnya heran.


"Anda baik-baik saja sir?" Tanyanya.


Daren berbalik dan menatapnya, "Tentu, aku baik-baik saja, ada jadwal lainnya?"


"Tidak ada sir, hanya penanda tanganan kontrak yang baru saja anda jadwalkan besok siang, dan nona Carol sedang berada di ruang tunggu sir."


Daren memijit keningnya, apalagi yang diinginkannya? "Biarkan dia masuk." Ucap daren.


"Baik sir."


~


Lexia keluar dari kamarnya kali ini dia betul-betul di Landa kebosanan hingga membuatnya jenuh berada di kamarnya, dia menutup pintu kamarnya perlahan dan berjalan menikmati setiap tempat yang dia kunjungi.


Lexia berdiri di depan lift dan menatap tombol yang menunjukkan angka 7.


"Siapa yang berada di lantai 7, mansion ini begitu luas, entah berapa orang yang mendiami tempat ini." Dengan nekat lexia masuk ke dalam lift setelah menengok kiri dan kanan, tidak ada seorangpun di sana termasuk si Luther sialan itu.


Lexia berjalan perlahan, tidak ada seorangpun di sana, mata lexia teralihkan dengan satu pintu besar berwarna coklat.


"Tempat apa ini?" Ucap lexia penasaran.


Dia memegang gagang pintu dan Seketika membukanya perlahan.


Seseorang yang berada di dalam seketika menatap pintu yang membuka, dia sedang membaca buku di depan jendelanya.


Lexia masuk dan mengedarkan pandangannya, menatap perabotan seperti halnya di rumah sakit, sebuah tempat tidur besar ada di sana, sebuah lemari meja yang dipenuhi dengan buku-buku serta alat gambar.


Diatas meja kecil ada setumpuk obat dan air mineral serta selang infus yang ada di dekat tempat tidur.


"Siapa kau?" Ucap lovelia.


Lovely yang sudah memutar kursi rodanya dan menghampiri lexia yang berdiri di sana dengan pandangan begitu terkejut.


Matanya membelalak menatap seorang gadis yang duduk di atas kursi roda dengan balutan perban yang menutupi seluruh tubuhnya termasuk wajahnya.


"Ak..aku lexia, itu.... maksudku aku salah masuk kamar, permisi." Lexia melangkah buru-buru ingin keluar dari tempat itu.

__ADS_1


"Tunggu."


Sebelum lexia membuka pintu dia berbalik dan menatap gadis itu lebih mendekat kepadanya.


"Kau punya waktu? Bagaimana jika kau mengobrol denganku?" Tanyanya.


Lexia menatapnya, kemudian dia mengangguk sekali dan kembali masuk ke ruangan lovelia.


Dengan perlahan lexia mendekati lovelia.


"Kau bilang namamu lexia?" Tanyanya.


"Ya, namaku lexia Kenzo."


"Apa yang kau lakukan di rumahku, kau terlihat asing bagiku." Dengan tergagap lexia menatapnya.


"Apakah kau lovelia?" Tanyanya.


"Ya, namaku lovelia."


"Itu...em aku keluar dulu nanti jika kita bertemu lagi aku akan menceritakan kepadamu." Ucap lexia yang segera berjalan menuju pintu di ruangan itu.


"Berjanjilah ! Kau harus datang, aku bosan sekali di sini aku tidak memiliki teman bicara, maukah kau datang kagi?"


Lexia tersenyum dan segera mengangguk, dengan cepat lexia menutup pintu kamarnya dan segera masuk kedalam lift.


Jadi itu sebabnya mengapa aku harus menyamar menjadi lovelia, harusnya mereka menerima kondisi putrinya, mengapa mereka seperti itu? Apakah karena kakeknya yang bernama Juan?


Lift berdentang, dia keluar dari lift sambil memikirkan kejadian tadi, dia berjalan begitu saja tanpa menghiraukan seseorang berdiri di hadapannya.


"Kau dari mana lexia?" Mata tajamnya menatap angka dari tempat perginya lexia.


"Apa yang kau lakukan di lantai 7?" Bentak daren.


Lexia tergagap merasa bersalah karena telah berkeliling ke tempat yang tidak seharusnya.


"Aku..aku bosan jadi aku mencoba berjalan-jalan." Ucapnya perlahan, daren memijit keningnya, lalu menarik lexia menuju ke ruangannya.


"Kenapa kau menarikku, lepaskan aku!" Ucap lexia tangannya terlepas ketika sudah sampai di ruangannya.


Daren menatapnya lekat-lekat menghapus jarak di antara mereka, dia berbicara seperti berbisik tapi ada nada ancaman di sana.


"Jangan pernah pergi ke tempat itu lagi Kau mengerti !!"


Lexia menahan napasnya karena wajah Daren tepat di hadapannya, "Apa kau tuli! Kau mengerti apa yang aku katakan lexia?" Bentak daren.

__ADS_1


"Baik ! Aku tidak akan ke sana lagi !"Suaranya tidak kalah keras dari Daren, lexia menatapnya marah dan segera masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya.


__ADS_2