The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Perseteruan 2


__ADS_3

Malam itu Nara telah bersiap-siap, dia sudah berdiri di ruang tengah sambil menatap dirinya, baru kali ini Nara mengenakan dress mewah dan cantik seperti ini. Nara menatap dirinya dari pantulan kaca, malam itu Nara mengenakan gaun Empire dress yang memiliki potongan pinggang tinggi layaknya seperti seorang princess, dengan warna merah marun dan panjang dress sampai mata kakinya dilengkapi dengan steeletto berwarna senada, tatanan rambut yamg simpel dengan mengepang ke samping dan di samping kiri dibiarkan bebas beberapa helai. Nampak cantik dan mempesona, sederhana tetapi elegan.


Xaphier keluar dari kamarnya lengkap dengan setelan lengkapnya dia tampak tampan seperti biasanya, matanya menatap Nara yang berdiri di sana, tatapannya seakan memuja wanita yang dipandangnya terus menerus seakan dia terhipnotis akan kecantikan dan keanggunan Nara, tetapi tidak ada pujian yang keluar dari bibirnya hanya menaikkan satu alisnya, lalu menarik pinggangnya mendekati tubuhnya membuat Nara sontak terlonjak.


Dia mengendus, mewangian yang menguar dari tubuh Nara membuat Xaphier menikmatinya.


"Ok, kita jalan." Ucapnya. Tanpa menunggu Nara dia berjalan begitu saja tanpa menggandeng atau menunggunya, sementara Nara kesusahan ketika berjalan.


"Ck, kau lambat sekali." Dia melipat kedua tangannya di dadanya menatap Nara yang mengangkat sedikit gaunnya, karena tidak sabar menunggu Nara yang berjalan begitu lambat. Nara tidak terbiasa mengenakan sepatu yang cukup tinggi itu. Xaphier tiba-tiba menggendongnya ala bridal style, Nara terkejut dia menggoyangkan tubuhnya agar Xaphier menurunkannya.


"Apa yang kau lakukan ! Turunkan aku !" Teriak Nara. Xaphier tidak memperdulikan kata-kata Nara dengan terampil dia membawa Nara masuk ke dalam Elevator. Nara sangat malu, dia menutup wajahnya dengan tas kecil yang dipegangnya, malu dengan Orang-orang yang memandanginya, tetapi Xaphier tidak tergganggu sama sekali dengan tatapan orang-orang yang melihat mereka, dia terlalu sibuk untuk merengkuh tubuh Nara di tangannya.


Xaphier terkekeh kecil menikmati pemandangan Nara yang bersemu merah hanya untuknya. Kulit pucat itu seakan menggodanya agar terlihat memerah, rona di wajahnya sangat alami hingga Xaphier seakan ingin membuatnya lebih merona hanya untuknya.


Setelah sampai di parkiran, Xaphier menurunkan Nara yang terlihat belum seimbang karena gendongannya. Xaphier berjalan dan membuka pintu mobilnya.


"Masuk !" Perintahnya.


Nara masuk ke dalam mobil. Mobil mewah dengan fasilitas lengkap membawa Nara pergi entah kemana, kata Xaphier mereka akan makan malam tetapi dengan mengenakan gaun cantik seperti ini, sepertinya bukan hanya makan malam biasa. Nara mengerlingnya, menatap wajah Xaphier yang terus menghadap ke depan. Keheningan diantara mereka membuat Xaphier membuka percakapan.


"Ada apa? Kenapa kau melihatku?" Tanyanya.


"Aku tidak melihatmu." Sangkal Nara membuang mukanya ke samping jendela kaca mobil agar matanya dapat berhenti mengerling Xaphier. Dia terkekeh, dia sangat senang menggoda gadis yang gampang bersemu ini, wajah cantiknya nampak malu-malu ketika Xaphier menggodanya. Padahal pertama kali Xaphier bertemu gadis ini, dia nampak menantang, dan menganggap Xaphier bukan apa-apa. 'Ah, semuanya karena uang, dan kontrak sialan itu, uang bisa merubah segalanya bahkan perangai Seseorang.' gumam Xaphier.


Nara kembali mengerlingnya, entah apa yang diucapkan pria di sampingnya ini, dia seakan berbicara kepada dirinya sendiri.


~


Pertunjukan antara Lexia dan Melda membuat tuan Caesaar keluar dari ruangannya, begitupun Daren yang melihat lexia dengan berani menunjuk-nunjuk wanita paruh baya yang berdiri dengan pose menantang sama sekali tidak terintimidasi dengan kemarahan lexia.


Daren merengkuh tubuh lexia yang sedang menggendong Ax dan membawanya mundur beberapa langkah, mata itu mengerling kedatangan Daren, dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya ketika Daren baru saja keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Apa kabar daren? Sudah lama kita tidak berjumpa." Ucap Melda menyunggingkan senyuman mautnya. lexia menatapnya dengan pandangan jijik. Daren tidak memandangnya dia memeluk tubuh lexia agar menjauh dari wanita ini karena sepertinya lexia akan menerjang Melda jika saja dia tidak menggendong Ax di kedua tangannya.


"Kenapa kau kembali Melda, bukankah kau kusuruh pergi untuk sementara waktu?" Ucapnya.


"Aku kesini karena ingin mendiskusikan sesuatu kepada tuan Burchard, ini mengenai perusahaan paman, jadi aku bisa datang kapan saja kan." Melda merasa menang dia menaikkan satu alisnya menatap lexia.


Lexia tersenyum miring, dia lalu memberikan Ax kepada Daren dan berjalan tenang menuju Melda cukup dekat sehingga tamparan cukup keras kembali melayang di wajah Melda, bukan hanya sekali tetapi lexia menamparnya dua kali, dia sangat geram kepada wanita tua ini.


"Tamparanku ini belum apa-apa dibandingkan dengan siasat licikmu kepada suamiku." Ucap lexia sambil terus menunjuknya. Daren menarik pinggang lexia mundur beberapa langkah, sedangkan tuan caesaar menganga melihat tamparan lexia kepada Melda.


Melda memegang pipinya yang sudah merah, bahkan sudut bibirnya berdarah karena tamparan lexia yang liar. "Ayah harusnya usir wanita ini dari mansion ayah, dia nenek tua yang licik, sekali lagi kau mengganggu keluargaku, kau akan merasakan kemarahanku yang sebenarnya." Teriak lexia, dadanya naik turun karena amarah yang sudah ditahannya.


"Semakin kau menentangku lexia, semakin gencar aku ingin mendapatkan Daren dari dirimu, kau yang kasar dan liar tidak pantas bersanding dengan Daren, lihat dirimu yang kasar itu, apakah kau hanya mengandalkan tubuhmu itu?" Ucap melda yang mulai terpancing, apalagi melihat Daren memeluk tubuh lexia dan merengkuhnya erat, seakan memancing kemarahan Melda.


"Apa kau buta ?! Atau kau sengaja membutakan matamu, lihat wajah keriputmu itu, jadi kau pikir kau pantas? bahkan jika kau bersanding dengan pengawal rendahan sekalipun kau sama sekali tidak pantas, lihat dirimu yang sudah menua itu, wajah keriputmu itu tidak akan bertahan lama dengan hanya polesan luar, bodoh !" Ucap lexia menatap tajam kearahnya lalu memandangnya dengan tatapan merendah.


Melda sungguh geram, dia tiba-tiba memegang wajahnya.


Kali ini satu tamparan kembali di layangkan oleh tuan Caessar kepada Melda.


"Beraninya kau menyebut putriku sampah, Pergi ! Pergi sekarang dari kehidupan kami ! Kau sudah membuat malu keluarga caesaar dengan menggoda pengawal-pengawal di mansion ini, pergi ! Aku tidak mau melihatmu berada di mansionku Melda."


Wajah Melda seketika seperti di sambar petir, dia seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan pamannya.


"Hari dimana Adikku mengangkatmu sebagai putrinya adalah hari kesialan bagi nama baik caesaar." Melda tidak sanggup berdiri, kakinya gemetar, baru kali ini dia melihat wajah marah pamannya yang selalu baik kepadanya. "Pa..paman jangan seperti ini paman, aku tidak salah..aku melakukannya karena gadis ini selalu memprovokasiku hingga aku..."


"DIAM ! Kau sungguh tidak menyadari kesalahanmu Melda, sebaiknya kau pergi dari mansionku sebelum aku memanggil pengawal dan mengusirmu dari sini." Ucap tuan Caesaar tegas tanpa memandang wajah melda yang sudah bercucuran air mata.


Tatapan matanya jatuh kepada lexia, dia begitu membencinya. 'Aku akan mengingat penghinaan ini, aku akan mengingatnya dan kau akan mendapatkan balasan dariku lexia, lihat saja nanti !' gumam Melda. Dia segera berbalik dan melangkahkan kakinya dengan gontai bahunya bergoyang karena menahan tangisnya. Dia yang terbiasa di puja dan di puji sejak kecil karena kecantikannya membuat Melda lupa diri bahwa usia akan menangkapnya suatu saat nanti.


~

__ADS_1


Malam itu Xaphier membawa Nara ke sebuah pesta, makan malam bersama dengan rekan bisnisnya, Xaphier menyelipkan tangan Nara ke lengannya, mereka berdua berjalan ke hotel mewah, Xaphier dan Nara telah tiba di Ballroom, nampak orang-orang sudah ada di sana sambil menatap kedatangan mereka. Sapaan yang ringan dan senyum merekah di wajah orang-orang yang menyambutnya.


Mereka berjalan beriringan dan berhenti di beberapa tempat sekedar berbincang, Nara merasa tidak nyaman dengan pelukan di pinggangnya, tangan besar Xaphier seakan membelai pinggang Nara naik dan turun lalu meremasnya sehingga Nara berjengit dan menatap Xaphier dan kekehannya.


'Apa dia sengaja melakukannya? dia mempermainkan tubuhku.' Nara merasakan tangan Xaphier sudah berada di pinggang bagian atas dan menariknya begitu dekat dengan tubuhnya. Nara mencoba mendorongnya tetapi tiba-tiba Xaphier membisikkan sesuatu di telinga Nara.


"Nikmati saja sentuhanku Nara kalau kau menolakku aku akan semakin bermain-main denganmu." ucapnya. Tubuh Nara tiba-tiba merinding mendengarnya. 'Kau pria hidung belang.'. gumam Nara tanpa sadar, kalimat itu tentu saja dapat di dengar jelas oleh Xaphier dan hal itu menghiburnya.


Xaphier membawa Nara ke meja di sudut ke tempat privasi yang merupakan meja VIP yang di sediakan untuknya. Nara duduk di sana dengan Xaphier yang duduk dihadapannya. "Bagaimana? kau menyukai pesta seperti ini?" tanyanya.


Nara memperhatikan sekelilingnya dan menatap tempat mewah dan mahal yang sama sekali tidak cocok untuknya. "Aku baru pertama kali pergi ke pesta seperti ini." jawab Nara.


"Lalu? kau menyukainya bukan?" ucap Xaphier dengan senyum mengejek, dia tahu semua wanita sama saja, akan tergoda dengan segala kemewahan yang ada di depan matanya apalagi diperlakukan seperti pasangannya, semua wanita ingin itu.


"Erm tidak juga, hidungku sakit karena bau parfum yang menyengat, dan sepatu tinggi ini membuat kakiku sakit." Nara memegang kakinya yang sudah terasa memar dan nyeri.


"Jadi apa yang kau suka Nara?" tanyanya.


"Aku? aku menyukai tempat tinggalku, penuh dengan pepohonan dan sungai bahkan rerumputan yang mulai memanjang, serta bunga-bunga yang berguguran, aku suka semua itu." ucap Nara dengan menggebu, tetapi dia tiba-tiba sadar dari ucapannya di hadapan Xaphier, mengapa dia begitu jujur mengutarakan isi hatinya? dan mengatakan semua itu pada pria ini.


"Kalau kau menyukai Semua itu, mengapa kau mendaftarkan diri menjadi sekretarisku ke Oklahoma city? bukankah kau bisa tinggal selamanya di tempat favoritmu itu?"


Nara menatap Xaphier yang sedang mengaitkan kedua tangannya, tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Nara.


"Meskipun aku menyukai dan merindukan Semua itu, pekerjaan adalah prioritasku, aku harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluargaku." ucap Nara, dia tidak menyukai nada mengejek dari kalimat Xaphier kepadanya.


"Jadi, pada intinya kau membutuhkan uang?" kekehnya. Nara menelan ludahnya dan menjawabnya lugas.


"ya, aku membutuhkannya." Xaphier tersenyum miring, gerakannya membuat Nara terperanjat.


"Jadilah wanitaku dan aku akan mengabulkan semua keinginanmu." ucap Xaphier menarik tangan Nara dan memberikan kecupan singkat di jemarinya.

__ADS_1


__ADS_2