The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 3


__ADS_3

"Ibu dan ayah akan ke Eropa Ax, jadi kau akan tinggal dengan paman Xaphier."


Itu adalah kejutan yang mengerikan yang di dengar Ax ketika makan malam bersama orang tuanya, sendoknya tiba-tiba jatuh dari genggamannya.


Lexia menatap putranya heran. "Kenapa kau begitu takut dengan paman Xaphier? Kalau kau tidak bandel dia tidak akan memarahimu Axton, tenanglah ini hanya beberapa hari saja." Ucap lexia kembali memperhatikan putranya.


"M..mom tidak bisakah aku di sini saja? Lagi pula di sini ada Thomas dan pengawal serta pelayan lain?" Ucapnya penuh permohonan.


"Tidak, dengarkan ibu Axton, kau akan ke rumah paman Xaphier, ibu tidak ingin khawatir ketika sampai di sana."


"Dengarkan ibumu Ax, kami pergi hanya sebentar saja." Ucap daren.


"Haaa, beberapa hari ini hidupku akan mengerikan." Gumamnya.


~


Nara sedang memasangkan dasi suaminya, sekali lagi dengan posisi yang diinginkan oleh Xaphier. "Kau tidak lelah setiap hari mengangkatku seperti ini? Tubuhku lebih berat di bandingkan yang dulu lho." Ucap Nara sambil memasangkan dasi Xaphier.


"Menurutku sama saja, aku suka mengangkatmu seperti ini sayang, tetapi bisakah kau memberikan aku waktu beberapa menit untukku sayang?" Tanyanya.


"Beberapa menit, kenapa?"


"Karena aku memiliki kebutuhan yang mendesak." Bisik Xaphier dengan suara yang sensual. Nara membelalakkan matanya ketika Xaphier mengangkatnya hingga mencapai tempat tidur.


~


Dazon baru saja keluar dari kamarnya untuk pergi sarapan pagi. Dazon tipikal pria perfeksionis, dia tidak suka jika semua yang direncanakannya sedikit saja meleset dari perencanaannya dan tidak teratur sesuai dengan kemauannya. jadi hari ini dia berencana mengerjai Axton sampai tuntas, dan itu keharusan yang membuat Dazon menyeringai senang, karena sebentar lagi pria pemalas itu akan datang ke rumahnya.


"Mom, dad? Sarapan." Ucap Dazon setiap pagi mengetuk pintu kamar orang tuanya.


"Mom, Dad?" Kenapa mereka selalu sarapannya terlambat. Sekali lagi Dazon mengetuk pintunya. Terdengar suara ayahnya yang terdengar tidak sabar.


Dazon mengangkat bahunya dan segera turun ke meja makan untuk sarapan, 15 menit kemudian ibu dan ayahnya menyusul, dan duduk di hadapan putranya. Tatapan Xaphier kepada Dazon terlihat menyeramkan.


"Dazon, lain kali kau tidak perlu mengetuk untuk membangunkan kami sarapan pagi." Ucap Xaphier menatap putranya sungguh-sungguh.


"Kenapa?" Tanyanya dengan ekspresi tidak mengerti sama sekali.


"Erm.. pokonya lain kali tidak usah kau ketuk, nanti ayah dan ibu akan keluar sendiri untuk sarapan.


"Oke." Jawab Dazon mengangkat bahunya.


Mereka sarapan bersama, Xaphier menatap jam di pergelangan tangannya. "Oh ya, sebentar lagi Ax datang kemari, jangan merencanakan sesuatu yang tidak-tidak Dazon, kau tahu jika Axton mudah untuk terbujuk.


"Bagaimana jika Niel di undang juga?" Ucap dazon.


"Ide yang bagus, kalian bisa belajar bersama di sini." Ucap Nara sambil menuangkan secangkir kopi untuk Xaphier.


"Ayah tidak mau mendengar rencana-rencana tidak masuk akal kalian, sekali ayah mengetahuinya, kalian bertiga akan langsung di ajar olehku dan kau tahu kan Mr. Weiss, kalian pasti menyukai jika dia yang mengajar kalian bertiga." Ucapnya.


"Tidak akan dad, aku akan terus memantau Ax agar dia tidak memiliki ide gila jika berkumpul bersama kami." Ucap Dazon sungguh-sungguh.


"Dan aku akan memantaumu juga Dazon." Ucap Xaphier, membuat Dazon menutup mulutnya rapat-rapat.


"Kapan Ax datang?" Tanyanya kepada ibunya.


"Mungkin malam ini dia datang. Cepatlah sarapan dan berangkat ke sekolah.


~


Mobil itu membawanya ke jalan Santiago 87 Street Arah selatan tempat kemarin dia membeli bunga, matanya menerawang mencari-cari gadis kasar kemarin, dia memperhatikan laju kendaraan dan orang-orang yang berjalan kaki di sepanjang jalan.


"Dia tidak ada, hanya seorang bibi saja yang ada di sana." Ucap Ax. Hari ini dia mengendarai mobilnya sendiri setelah pulang sekolah, setelah memastikan gadis itu tidak ada di sana, dia memutar mobilnya dan pergi ke Asia Town tempat dirinya dan ibunya makan di sana. Matanya kembali menerawangi tempat itu, mencari-carinya.


"Ah itu dia." Dia hendak turun tetapi ada sesuatu yang dilihatnya membuatnya mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobilnya jadi dia memperhatikan dari kejauhan.


~

__ADS_1


Seperti hari-hari biasanya, Fairley berangkat kerja setelah pulang dari sekolah, dia mengayuh sepedanya langsung ke restaurant paman jhon.


Setelah menyandarkan sepedanya dekat dengan pintu belakang restaurant di sudut gank, dia menatap sekelompok remaja perempuan yang sedang ngobrol di sana, Fairley menatap mereka yang duduk di dalam gank itu sambil merokok dan tertawa terbahak-bahak.


Fairley tahu lokasi di daerah ini memang dihuni remaja-remaja yang suka nongkrong dan berkumpul seperti mereka.


Mereka saling menyenggol setelah melihat Fairley berjalan memasuki gank itu untuk sampai ke pintu belakang restaurant.


"Aha, bukankah gadis Padang rumput kita baru saja datang? Apakah sir George mencari kami? Kau tidak mengadukan kami Fairley sayang?" Ucap gadis pirang dengan rambut panjang, make up tebal menghiasi wajahnya dia berdiri di sana sambil memegang pinggangnya menghalangi jalan Fairley.


"Minggirlah aku harus kerja." Ucap Fairley berusaha menghindari gadis-gadis perundung ini.


Mereka semua tertawa terbahak-bahak. "Minggir? Kau pikir bisa memerintahku dengan semaumu? Dasar gadis licik." Ucapnya, dia mendorong Fairley ke belakang sehingga tubuh kecilnya melangkah ke belakang beberapa langkah.


"Kenapa? Kau mau protes? Lapor sana kepada ibumu, bukankah ibumu yang jualan di sudut sana menjual bunga kotor dan bau itu." Ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak.


Fairley sekali lagi menghindarinya, tiba-tiba saja dia menarik rambut Fairley hingga dia teriak kesakitan. Fairley tidak tinggal diam, dia juga turut menarik apa saja pada bagian tubuh gadis pirang itu. Mereka saling tarik menarik, sedangkan kedua temannya hanya menyaksikan perkelahian itu sambil tertawa.


Fairley menonjok hidung gadis pirang itu hingga hidungnya mengeluarkan darah. Dia menatap darah di tangannya, kemudian membalas Fairley dengan serangan yang sama, 10 menit kemudian pemilik restaurant baru datang dan memisahkan mereka berdua.


Wajah Fairley sudah memerah dan sudut bibirnya berdarah. Begitupun gadis berambut pirang, wajahnya dipenuhi luka-luka. Dia berucap dengan segala sumpah serapah kepada Fairley.


"Kalian semua pergi ! Jangan datang di belakang dapurku atau aku akan menghubungi polisi jika kau tidak mendengarkan aku.


"Diam saja kau pak tua !" Ucap salah satu dari mereka.


"Tutup mulut dan pergi dari sini gadis-gadis jahat, pergi !" Teriak paman Jhon kepada mereka.


"Fairley kau baik-baik saja? Sebaiknya wajahmu di obati dulu, hari ini kau tidak usah masuk kerja, cepatlah pulang dan obati luka-lukamu." Ucapnya.


Wajah Fairley mengungkapkan ketidaksetujuannya untuk pulang.


"Tenanglah kau pulang saja, aku tidak akan memotong gajimu, kau sangat rajin di bandingkan pekerja yang lainnya." Ucapnya, dia menepuk pundak Fairley kemudian kembali masuk ke dalam dapurnya.


Fairley mengambil barang-barangnya yang berjatuhan dan berserakan di mana-mana, dia menaruhnya kembali di dalam tasnya. Dia kemudian berjalan dan ingin mengambil sepedanya, tetapi dia begitu terkejut karena seseorang sudah berdiri di sana.


Fairley tidak memperdulikannya, dia tetap berjalan tanpa mau memandang Ax yang berjalan di sampingnya.


"Aku melihatmu dari dalam mobil sewaktu kau dikepung oleh mereka. Apa ini hobimu? Suka dengan kekerasan?" Ucap Ax seakan sengaja ingin membuat jengkel Fairley.


"Itu tidak mengherankan sih, orang-oranng seperti kalian menyukai hal-hal yang kasar dan kotor seperti tadi." Ucap Ax tidak berhenti mengikuti Fairley.


Tiba-tiba Fairley berhenti berjalan, dia menghembuskan nafasnya keras kemudian menatap marah kepada Axton.


"Orang-orang sepertiku? memangnya kau orang seperti apa? Kau juga tidak ada bedanya dengan mereka yang jahat, pergi dari hadapanku bodoh !" Ucap Fairley sambil menahan rasa nyeri di sudut bibirnya.


Axton menahan langkahnya sehingga dia berdiri di hadapannya.


"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu mengenai kemarin? Minta maaf misalnya." Ucapnya.


"Untuk apa aku minta maaf, aku tidak memiliki kesalahan sama sekali kepadamu." Ucap Fairley jengkel.


"Kau memang gadis keras kepala dan kasar aku tidak heran mereka jengkel kepadamu, kau pasti tidak punya temen bukan?" Ucapnya.


Fairley dengan marah berhenti berjalan kemudian dia menendang satu kakinya dengan keras. Ax mengaduh, sambil memegang kakinya yang sakit.


Fairley segera mengayuh sepedanya meninggalkan Axton yang berteriak-teriak di belakangnya.


"Dasar cowok bodoh!" Ucapnya.


~


"Axton sudah tiba di mansionmu Xaphier?" Tanya daren ketika dia menelepon dari bandara bersama lexia.


"Tenanglah, sebentar lagi dia juga akan datang, dia mengemudikan mobilnya sendiri?" tanyanya.


"Lexia sempat protes, dia takut Ax kenapa-kenapa ketika dia yang membawa mobilnya sendiri tetapi protes Ax lebih besar, dia bilang usianya sudah sangat cukup untuk membawa mobil sendiri, dan dia mengajukan diri untuk tinggal berpisah dengan kami, tetapi lexia berjanji akan mengikatnya di kamarnya jika dia bicara tentang hidup sendiri lagi." ucap Daren menggeleng.

__ADS_1


"Yah, usia Ax memang sudah cukup untuk hidup mandiri tetapi meskipun begitu dia belum cukup dewasa untuk hidup mandiri dan berpikir dengan matang, dia harus banyak belajar." ucap Xaphier.


"Ya, kau benar, jadi Xaphier aku menitipkan putraku kepadamu." ucap Daren mengakhiri pembicaraan.


~


Dazon dan Daneil sudah berada di ruang bersantai, mereka sedang menunggu Axton yang belum tiba juga.


"Apa yang dilakukan Ax, kenapa dia lama sekali? Apa dia tidak dalam Masalah?" ujar Daneil yang juga ikut bergabung ketika mendengar Ax akan menginap di mansion Dazon.


"Bukan dia dalam masalah tetapi dia yang membuat masalah, haaa kapan dia berpikir dewasa, padahal usianya lebih tua dua tahun dari kita berdua." Dazon menggeleng sambil melempar-lempar bola bisbol di tangannya.


"Siapa yang membuat masalah bocah?" Suara itu terdengar dari pintu masuk, Ax baru saja tiba dengan beberapa kopernya yang langsung di bawa oleh pelayan ke lantai atas di kamar yang di siapkan untuknya.


"Kami sudah dari tadi menunggumu, kenapa kau baru tiba?" ucap Dazon memperhatikan Ax yang sedikit kesal.


"Ha, sudahlah anak kecil dilarang mencari tahu urusan orang dewasa." Ucap Ax sambil menyandarkan tubuhnya.


"Masalah wanita?" tebak Daneil yang selalu menebak sesuatu dengan tepat.


Axton tiba-tiba duduk tegap dan memandang curiga kepadanya. "Kau, apa kau mengikutiku?" tuduhnya. Daneil tersenyum miring.


"Kau tidak tahu?? aku ini penembak jitu, prediksiku selalu benar, jadi...wanita mana yang sedang menarik perhatian tuan muda Axton kita ini?" tanyanya.


"Diam, kalian berdua terlalu kecil untuk mengerti hal seperti itu." ucap Axton.


"Benarkah? bagaimana jika info penting ini sampai ke telinga bibi lexia kita tercinta? dia pasti akan menghilangkan satu kupingmu kakak Axton??" Ucap Dazon mengejek.


Ax menatap jengkel kepada mereka berdua. "Bukan seperti yang kalian pikirkan, gadis itu ingin kubalas karena melakukan kesalahan kepadaku, tetapi dia....Agh sudahlah aku malas menjelaskan kepada kalian yang masih berotak anak SD." ucap Ax memalingkan wajahnya.


"Baiklah jika kau tidak mau menceritakan kepada kami tetapi kau bisa bercerita inti masalahnya saja, misalnya kapan kalian bertemu, apa yang dilakukan gadis itu kepadamu hingga kau begitu kesal, terus mengapa kau ingin membalas dendam kepadanya." Ucap Daneil.


"Itu sama saja aku menceritakan semuanya kepadamu, sudahlah tidak usah di bahas lagi tentang gadis kasar itu, haaa..bosan !" ucap Ax kembali menyandarkan kepalanya di sofa.


"Dimana Ayahmu Dazon?" tanyanya.


"Aku disini Axton, kau mencariku?" ucap Xaphier yang langsung menuju keruang santai ketika mendengar dari seorang pelayan jika Ax baru saja tiba.


"Ha?? tidak paman Xaphier, aku hanya menanyakan kabar paman kepada Dazon." ucap Ax mengintip kepada Dazon dan Daneil.


"Ax sedang jatuh cinta Dad." ucap Dazon sambil terkekeh di belakang punggung ayahnya. Ax menatap Dazon Dengan pandangan membunuh, hidungnya mengerut menatap mereka berdua yang tertawa-tawa tanpa suara.


"Benarkah? itu berita bagus Ax." ucap Xaphier, tetapi sikapnya penuh selidik gara-gara laporan Dazon, Xaphier mencoba bertahan di sana berbincang dengan mereka bertiga hingga sampai dua jam lebih membuat ketiganya Teler mendengar segala macam nasehat dari Xaphier.


~


Fairley pulang setelah mengobati luka-lukanya, dia mencoba menutupnya tetapi tentu saja sang ibu tahu jika putrinya terluka.


"Mengapa anak-anak nakal itu mengganggumu, harusnya kau lari saja jangan sampai kau terluka seperti ini, kenapa tidak ada seorangpun yang membantumu?" ucapnya sambil mengolesi obat di sudut bibir putrinya.


"Ini bukan apa-apa Mom, lebih parah lagi jika aku lari, mereka akan terus menghadangku jika aku tidak menghadapi mereka semua dan aku benci lari." Ucap Fairley dengan marah, dia segera masuk ke kamarnya dan menyandarkan tubuhnya di pintu. ingatannya tiba-tiba tertuju kepada pria menyebalkan itu, Fairley mengerutkan hidungnya ketika dia mengingatnya. "Jika dia muncul sekali lagi, aku akan menonjok hidungnya, lihat saja." Ucapnya berapi-api.


~


Fairley baru saja keluar dari gerbang sekolahnya, dia ternganga ketika melihat cowok itu lagi berdiri di sana sambil bersandar di mobil mewahnya. "Apa yang dilakukan si idiot itu di sana? dia mencari seseorang?" ucap Fairley, dia berjalan memegang sepedanya.


"Hei, hei kenapa kau pergi begitu saja, dari tadi aku menunggumu di sini." ucap Ax jengkel.


"Pergi dari sini, Sebelum anak-anak nakal di sana melihatmu, kau tahu lingkungan ini tidak aman bukan? di sini bukan tempatnya tuan muda sepertimu, cepat pergi sebelum mereka melihatmu." Ucap Fairley mencoba mengusir Ax, dia tidak mau terlibat dengan anak-anak yang bertampang preman yang selalu merudung anak-anak yang lemah.


"Kau menganggap enteng kepadaku? aku tidak selemah itu." Ucapnya sambil menggeleng.


"Untuk apa kau ke sini dan dimana kau tahu sekolahku?" ucap Fairley jengkel. Ax tersenyum wajah tampannya menjadi pusat sorotan gadis-gadis yang ada di jalan.


"Hanya kebetulan saja koq." Ucap Ax.


"Kalau begitu pergilah, sebelum mereka semua melihatmu." Ucap Fairley mencoba mengulur waktu agar Ax Segera pergi dari sana. Pemuda yang berkumpul di sana tentu saja dapat melihat Axton Secara langsung karena dirinya yang begitu menonjol, sosoknya yang tinggi dengan kulit putih serta segala sesuatu yang dikenakannya bermerk, memudahkan Orang-orang yang ada di sana menatap Axton.

__ADS_1


__ADS_2