The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 18


__ADS_3

Bocah kecil itu berjalan sambil bernyanyi, ditangannya ada sebuah bungkusan yang tertutup dengan plastik, usianya sekitar 8 atau 9 tahun, dia masih bernyanyi-nyanyi dan menirukan ucapan seseorang, mungkin ucapan itu yang sering di dengarnya sehingga berulang kata-kata itu keluar dari mulutnya.


"Kenapa kau memanggilku, Roy? aku ini ayahmu dan jangan berteriak memanggil nama Lisa karena dia itu ibumu." Ucapnya sambil memegang kayu di tangannya, tiba-tiba dia berhenti berjalan, tatapannya jatuh kepada seorang pemuda yang sedang berjalan tanpa tujuan, tangannya berada dalam saku celananya sambil menengok kiri dan kanan, entah apa yang sedang di carinya.


Tiba-tiba saja pandangan mereka berdua bertemu, mereka berhenti dan menatap serta saling menilai.


"Roy akan mencurigaimu jika kau berjalan sambil menengok ke kebun orang lain, kau tahu? Itu sebuah kejahatan," ucap bocah kecil itu.


Ax mengangkat bahunya dia sebenarnya tidak akan mau memperdulikan bocah ini, lagi pula Ax tidak pernah meladeni seorang bocah, sekarang ini di kepalanya hanya mencari kerja dan kerja, tetapi sejak tadi dia tidak berbicara dengan siapapun di desa itu, maka dia meladeni bocah kecil sok, dengan gaya angkuh di hadapan Ax ini.


"Roy? Siapa Roy?" Tanya Ax.


"Dia ayahku, dan dia sedang di kebun, meskipun wajahmu tampan dan gayamu mirip sepertiku kau wajib di curigai, apa kau baru di desa ini?" Tanyanya dengan berlagak mengikuti gaya berdiri Ax.


"Ya, aku dan istriku baru tinggal di sini, apa yang dikerjakan oleh ayahmu?" Tanyanya.


"Yah, kau tahulah, pria sibuk, berotot, tangannya kasar dan kulitnya kecoklatan, juga memiliki otot di kedua lengannya, dia seorang petani, kau mau kukenalkan dengannya?" Ucap bocah itu sok dengan suara mungil yang serak.


Ax menaikkan bahunya. "Boleh juga, jika kau ingin mencariku, rumahku di ujung sana dekat dengan padang rumput dan sungai." Ucapnya.


Bocah itu mengernyitkan dahinya. "Maksudmu bekas rumah berhantu itu?" Ucapnya heran.


"Berhantu? Kenapa kau menyebut rumahku berhantu." Tanya Ax.


"Kau tidak tahu?" Bocah itu menghela napas dan memutar kedua bola matanya. "Rumah itu dulunya adalah rumahku, setiap malam aku selalu mendengar bunyi aneh di atap rumahku, untung saja kami pindah jadi aku tidak perlu mendengar suara aneh itu."


Ax menatapnya dengan pandangan beku. "Sebaiknya aku pulang, istriku sendirian di rumah." Ucap Ax begitu saja berbalik tanpa menghiraukan anak kecil itu. Bocah itu lalu tertawa tidak bersuara. "Kena kau." Ucapnya, tanpa merasa bersalah dia kembali melanjutkan nyanyiannya dan menuju ke tempat ayahnya.


~


Dazon mengenakan jaket hitam panjang di tengah malam itu, dengan sembunyi-sembunyi dia ingin menuju suatu tempat, lampu di mansion di padamkan agar jejak kepergiannya tidak di ketahui oleh orang-orang di sekitarnya.


Sesampainya di lantai satu, Thomas sudah menunggunya beserta dua bodyguard lainnya, mereka sedikit menunduk ketika melihat kedatangan Dazon.


Suara tawa seseorang membuat Dazon sedikit berbalik mencari sumber suara, dia mengernyitkan dahinya, "siapa yang berbincang-bincang pada jam seperti ini?" Gumamnya.


Dia kemudian melangkah mendekati sumber suara, lalu berjalan perlahan mendekati ruangan pantry dan menatap mereka, nampak seorang pelayan wanita paruh baya sedang membersihkan meja dan kursi bersama seorang gadis usianya sekitar 15 atau 16 tahun, mereka saling bercakap-cakap dan tertawa sembunyi-sembunyi.


"Hanna, berhenti tertawa, suaramu itu besar sekali nanti kau membangunkan orang-orang." Tegur wanita itu.


"Oky, ok bibi jangan khawatir, tapi bagaimanapun cerita bibi lucu sekali," ucap gadis itu sambil menutup mulutnya agar suaranya tidak terdengar.


Dazon memalingkan wajahnya, dia kemudian berjalan kembali menuju tempat Thomas dan pengawal lainnya berdiri. "Aku baru tahu ada pelayan semuda itu bekerja di mansion ini." Gumam Dazon.


"Dimana ayah dan kakekku thom?" Tanyanya.

__ADS_1


"Mereka ada di Manhattan tuan, pengawal yang ditugaskan untuk memantau di sekitar tuan Ax sudah saya alihkan perhatiannya, jadi anda tidak perlu khawatir." Ucap Thomas.


"Bagus, kita berangkat."


Rasa penasaran dazon menggerogotinya, malam itu dia bergerak menuju ke tempat Ax bersama Thomas dan beberapa pengawal lainnya.


~


"Hantu?" Ucap Fairley tertawa sambil mengaduk-aduk makan malam yang dibuatnya.


"Anak kecil itu mengatakan kepadaku kalau rumah ini bekas rumah berhantu, kenapa Thomas menyiapkan rumah bekas untuk kita? Seharusnya dia memeriksa dulu siapa yang tinggal di sini sebelumnya, dan mereka harusnya melengkapi dapur kita Sebelum mereka pergi."


Fairley menatap Ax penuh arti. "Ini kan tantangan, kita tidak bisa mengeluh." Ucap Fairley masih mengaduk sup yang dibuatnya. Ax tiba-tiba memeluk tubuh mungil istrinya dari belakang.


"Kapan masaknya?" Tanyanya dengan suara parau penuh arti.


"Kau sudah lapar?"


"Mm ya, tapi aku lebih memilih menghabiskan waktu bersamamu malam ini dulu sebelum kita makan malam." Ucap Ax sambil memberikan kecupan lembut di antara leher jenjang Fairley.


"Benarkah? Sejak tadi pagi kau hanya makan sandwich, apa perutmu tidak lapar? Kau tidak akan mempunyai tenaga malam ini sebaiknya kita makan dulu." Ucap Fairley menaikkan satu alisnya penuh arti.


"Apa kau meragukan staminaku? Aku bisa melakukannya sekarang kalau kau menginginkannya sayang." Ucap Ax dengan kecupan di setiap sudut bibir Fairley.


"Mm, tidak sekarang Ax, kita berdua makan dulu untuk memulihkan tenagamu." Bisik Fairley menggoda.


Fairley mengerang lalu dengan cepat menangkap tangan Ax yang sudah turun di antara kakinya.


"Tidak sekarang Ax, kita harus makan malam dulu." Ucap Fairley tegas, dia kemudian mematikan gas dan membawa sup itu ke atas meja bersama roti dan salad.


Suara pagar kayu mereka terdengar membuka, Ax kemudian melepaskan pelukannya dari Fairley dan segera pergi ke pintu rumahnya dan mengintip dari balik jendela.


Anak kecil itu berdiri di sana, di halaman rumahnya sambil mengambil kayu panjang dan mengetuk-ngetukkan ke pintu sampai terdengar suara goresan kayu di pintu mereka.


Ax berjalan dan segera membuka pintunya.


"Hei, bukankah kau anak kecil yang di jalan tadi?" Tanya Ax menatap bocah kecil itu.


"Dan bukankah kau yang mengintip kebun-kebun penduduk desa tadi siang?" Ucapnya dengan suara keras.


"Sshh, jangan berisik, bagaimana kalau istriku dengar?" Ucap Ax menaikkan telunjuknya di bibirnya.


"Siapa Ax?" Fairley keluar dan berdiri di samping Axton dan menatap bocah kecil berambut coklat dan bermata biru di hadapannya.


"Apakah dia istrimu?" Tanyanya dengan suara serak.

__ADS_1


"Ya, dia istriku, ada apa kau datang malam-malam begini di rumahku, bukankah kau takut datang seorang diri ke tempat ini?" Tanya Ax.


"Ck, got you, tadi siang aku hanya bercanda, kau seharusnya tidak menganggap serius perkataan anak kecil." Ucapnya.


Fairley tertawa-tawa di belakang Ax. Sedangkan Ax melirik kepada Fairley dan anak kecil bernama junior itu. "Erm terus, ada apa kau datang ke rumahku." Tanyanya.


"Besok ikutlah denganku ke kebun ayahku, Roy sepertinya butuh pekerja, dia kesusahan mengolah ladangnya, aku ingin membantunya tetapi aku tidak berdaya karena memiliki tangan sekecil ini." Ucapnya sambil menaikkan bahunya dan tersenyum lemah.


Fairley ingin sekali mencubit pipinya, dia berbicara layaknya orang dewasa.


"Kau selalu menyebutnya Roy, tapi dia kan ayahmu." ucap Ax mengingatkannya, "lagi pula, apa perkataan anak kecil sepertimu dapat di percaya, bukankah kau tadi bilang jangan menganggap serius perkataan anak kecil, Hem?" Tanya Ax.


"Kali ini aku bicara dengan sungguh-sungguh, aku akan menjemputmu besok, jangan sampai bangun kesiangan." Ucap bocah kecil itu, dia kemudian berlari dan keluar dari pagar.


"Dia lucu sekali Ax, dimana kau menemuinya?"


Ax menggaruk kepalanya, "Apa anak kecil itu tidak mengerjaiku?" Ucapnya.


"Ikutlah dengannya besok, mungkin saja ayahnya memang butuh seorang pekerja." Bisik Fairley menyandarkan kepalanya di punggung Ax.


"Ayo masuk, kita makan malam dulu." Fairley menarik tangan Ax dan segera menutup pintu rumahnya.


~


Pesawat sudah lepas landas dan segera tiba di Kota yang di tuju, mereka naik ke atas gedung tertinggi di sana, dimana Helikopter berwarna hitam dengan tulisan besar Caesaar767 sudah menunggu kedatangan mereka. Dazon dan orang-orangnya segera naik ke Helikopter yang akan membawanya langsung ke desa bernama Turtle The Reaves.


"Tuan yakin ingin berangkat ke tempat itu? tuan Caesaar tidak pernah berhenti memantau Tuan Ax selama tinggal di sana, dia akan betul-betul mengirim anda ke Inggris jika ketahuan." Ucap Thomas sekali lagi memberikan informasi bahwa Kakeknya tidak main-main dengan kata-katanya.


"Kau cerewet sekali thom, aku yakin dengan yang kulakukan, aku ke sana hanya melihat mereka saja, setelah itu kita langsung pulang." ucapnya.


Thomas melirik kotak besar di sana, dia mengambil napas dan menyerah, mereka semua sudah naik ke Helikopter yang akan membawa mereka ke desa tersebut.


~


Fairley mendongakkan kepalanya, merasa kali ini Ax terlalu intens kepadanya, tubuhnya beberapa kali bergerak dan bergetar hebat nyaris membuatnya pingsan. Dia mengeluh kepada Ax agar berhenti, karena dia tidak kuat lagi untuk mengikuti staminanya.


Ax melepaskan tubuhnya dan berguling di sebelahnya, lalu menarik Fairley kepelukannya, jantung Fairley masih berdegup dan napasnya masih belum teratur, Ax mengecup puncak kepalanya, tidak lama kemudian, dia akhirnya mendengar napas teratur mengalun lembut. Fairley telah tertidur karena lelah, sedangkan Ax masih belum terlelap, matanya masih terbuka lebar dan menatap langit-langit kamar, dia melepaskan tubuh Fairley dan berbaring terlentang di sampingnya.


Sesuatu terdengar dari pekarangan rumahnya, bunyi barang berjatuhan dan terdengar kayu yang berjatuhan, Ax tiba-tiba duduk dari tempat tidurnya, tetapi dia tidak berani untuk keluar pada jam seperti ini. Dari sela-sela jendela Ax mencoba mengintip, tidak ada apapun di luar sana, tetapi tubuhnya tiba-tiba bergerak mundur ketika melihat bayangan hitam melintas, Ax mundur beberapa langkah, keingintahuannya lebih kuat dari ketakutannya, bayangan yang melintas itu sudah tidak ada lagi, tetapi anehnya ada sesuatu di atas kayu-kayu seperti sebuah kotak dus raksasa. Ax kembali mengintipnya, "Apa itu? siapa yang menyimpan barang itu di halaman rumahku?" gumam Ax.


Seseorang berlari-lari kecil dan segera melapor kepada Dazon yang sedang menunggu di atas helikopter. "Tuan, aku sudah meletakkan barang itu di sana."


Dia tersenyum dan merasa puas, "Bagus." ucapnya.


"Anggap itu hadiah pernikahanku untuk kalian berdua Ax dan Fairley, yaah meskipun resikonya aku akan dikirim oleh kakek ke Inggris tetapi aku tidak tega melihat menu makanan kalian hari ini." gumamnya.

__ADS_1


"Kita pergi." perintahnya.


__ADS_2