
Mata safir itu layaknya sedang menscanning segala sesuatu yang ada di kamar wanita tua itu, dia menerawang segala pernak pernik yang ada di kamar itu, Satu tempat tidur dengan ukuran king size dengan tirai menjuntai berwarna merah menantang, satu lemari besar terlihat mewah berwarna gold ada di sana, semua pernak pernik di kamar itu terlihat menantang. Sebuah lemari hias dengan cermin besar mendominasi ruangan itu, karena begitu besarnya.
"Wanita tua itu suka bercermin rupanya." Gerakan lexia tiba-tiba berubah manakala sesuatu terlihat janggal di bawah lemari, dia mendekatinya.
Sebuah kotak berwarna coklat tertutup rapat sengaja di sembunyikan di bawah lemari, lexia mengambilnya dan duduk di salah satu kursi kemudian membukanya.
Lexia melihat banyak foto-foto tua ada di sana, salah satunya foto seorang wanita yang begitu mirip dengannya.
"I..ini foto ibu." Ucap lexia, di bawahnya terselip Beberapa foto, dan salah satunya foto paman Xaphier bernama tomas yang terlihat masih muda. Lexia membolak-balik foto itu dan di sana terdapat satu surat yang terlihat sudah sangat usang, lexia mengambilnya dan membukanya. Matanya tiba-tiba membelalak membaca tulisan tangan itu.
"Bagaimana dengan bayi itu kau sudah membereskannya? Buang jauh-jauh bayi itu tomas, keluarga kita tidak butuh seorang bayi lagi cukup Xaphier yang akan melanjutkan milik paman Caesaar."
"Tomas? Bukankah pria itu di tangkap karena berusaha membunuhku dan dialah yang membuangku sewaktu kecil, jadi...wanita itu ada kaitannya dengan semua ini." Geram lexia. Dia menyuruh tomas untuk membuangku?" Lexia kembali membongkar kotak itu dan melihat wanita yang sangat mirip lexia juga ada di sana.
"Ini ibu?" Ucap lexia.
Lexia mengambil satu kertas kecil, seperti sebuah memo yang ditujukan kepada ayah lexia. Disitu bertuliskan...
'Melda..Melda yang menyiksaku dan bahkan ingin memisahkan kita dia memperlakukan aku bukan seperti bibinya, karena seringnya kau bepergian, wanita itu melakukan hal yang keji kepadaku caesaar, aku tidak pernah mengkhianatimu, wanita itu menjebakku dan mengganti obat dokter dengan obat-obatan terlarang sampai aku tidak berdaya lagi, percayalah kepadaku. Istrimu Veronica.'
Tangan lexia bergetar, Seakan-akan kepalanya tertusuk-tusuk duri, wanita itu penyebab semua ini dari awal dia menghancurkan keluargaku, dia membuangku, dan membunuh ibuku." Lexia berdiri dari tempat duduknya, tangannya terkepal kuat dia menyimpan kembali kotak itu tetapi surat dan foto ibunya diambilnya.
"Aku tidak akan tenang jika wanita itu masih bernapas di muka bumi ini." Ucap lexia, dia berjalan sambil kembali menutup kamar melda dan berjalan sepanjang koridor.
~
Dia sudah masuk ke dalam kamarnya, melepas segala yang menempel di tubuhnya, gaun mewah dan perhiasan mahal yang dikenakannya, setelah itu Nara mengambil bathrobe berwarna putih lalu masuk ke kamar mandi, tidak terlalu lama di kamar mandi Nara segera keluar dan mengeringkan rambut hitamnya yang basah, suara ketukan terdengar dari pintu kamarnya.
Tanpa Nara membukanya pintu itu terbuka dan Xaphier sudah bersandar di pintu menatap Nara yang berdiri di sana mematung. Dia tersenyum miring melihat Nara mematung kerena kehadirannya.
__ADS_1
"Buatkan makan malam, aku tak sempat makan malam kali ini berkat seseorang." Ucapnya.
"A..aku akan keluar sebentar lagi setelah aku selesai berpakaian."
Xaphier menatap Nara seakan menelanjangi tubuh Nara yang seperti jam pasir itu, dia betul-betul menyembunyikan bentuk tubuh indahnya yang proporsional di balik pakaian tebalnya selama ini. Refleks Nara membentengi daerah sensitifnya ke depan.
"Apa..apa yang kau lihat, aku akan segera memasak, ja..jadi segeralah keluar." Ucap Nara masih melangkah mundur sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya.
"Okey, masaklah makanan yang simpel, aku tidak suka menunggu lama." Ucap Xaphier menutup pintu.
Setelah Nara berpakaian dia langsung keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur, Nara membuka kulkas dan mencari-cari bahan makanan yang bisa di buatnya dengan mudah.
"Mm, aku akan membuat sphagetti saus tomat saja, ini mudah dan penyajiannya tidak butuh waktu lama. Nara mulai membuat masakannya, tidak begitu lama menunggu masakannya pun selesai, dua piring sphagetti saus tomat yang lezat. Nara menghidangkannya di atas meja makan dan setelah itu dia menuju ke depan pintu kamar Xaphier.
'Tok tok tok'
"Kenapa dia tidak membukanya?" Sekali lagi Nara mengetuk pintunya, tetapi tidak ada tanda-tanda Xaphier akan membuka pintu kamarnya. Dengan sedikit keberaniannya, Nara membuka pintu kamarnya dengan perlahan, dia mengintip dari pintu yang dibukanya sedikit. "Makanannya sudah siap." Ucapnya.
Dengan tekad yang setengah takut, Nara memutuskan untuk membangunkan Xaphier, makanan itu tidak boleh tersia-siakan begitu saja, dia harus memakannya, apalagi makanan itu sangat lezat, Dengan melangkah perlahan-lahan Nara melihat Xaphier sudah tertidur dengan lelap di tempat tidur dengan ukuran king size nya. Ruangan itu tidak berubah, tetap sama seperti terakhir Nara masuk, hitam dan putih mendominasi kamar pria itu. Nara mengerling jendela kaca yang sengaja di biarkan terbuka sehingga menampakkan keindahan kota dari atas, Nara terpesona melihat kelap kelip lampu dari kejauhan. Cahaya dari luar yang masuk ke dalam kamar itu membuat Nara terpesona dengan Kilauan lampu-lampu kota.
"Indah, sangat indah." Ucap Nara melangkah ke kaca besar yang memperlihatkan pemandangan malam kota Oklahoma yang spektakuler.
"Kau menyukainya?" Ucap suara berat itu.
Nara terperanjat, suara itu sudah ada di belakangnya, Nara Berbalik menatapnya, dia tersenyum miring melihat Nara terkejut. "Aku membangunkanmu, erm makanan sudah siap di atas meja." Ucap Nara cepat, dia lalu bergegas pergi tetapi tangannya di cekal oleh Xaphier, dia menarik Nara agar berdiri di hadapannya.
"Mengendap-endap masuk ke kamarku bukan pilihan bijaksana Nara, kau masuk sendiri ke sini seakan dirimu yang rentan itu ingin di serang olehku, kau tidak bisa pergi seenakmu."
"Apa..apa maksudmu? Aku harus keluar makanannya akan dingin." Ucap Nara mencoba melepaskan lengannya dari tangan Xaphier yang kuat.
__ADS_1
Mata safir itu layaknya singa yang ingin menerkam mangsanya saat itu juga, Nara yang mencoba melepaskan diri dari Xaphier masih berusaha melepaskan tangannya. "Lepas ! Apa yang kau lakukan, lepaskan Aku." Teriak Nara. Pegangannya semakin erat, saat itu juga Xaphier menarik keras tubuh Nara dan menggendongnya ala bridal.
Nara sangat terkejut, dia memberontak sekuat tenaga untuk membebaskan diri dari pria ini, kilauan mata tajamnya seakan tidak sadar, dia begitu saja melempar tubuh Nara ke atas tempat tidurnya, Nara yang jatuh di atas kasur empuk segera memundurkan tubuhnya, dia melempar apa saja di samping kiri kanannya ke arah pria yang juga sudah ada di tempat tidur, kedua lututnya bertumpu seakan dia memerangkap tubuh Nara di sana.
"Apa yang ingin kau lakukan !!" Teriak Nara.
"Aku ingin memilikimu malam ini." Ucap Xaphier dengan suara serak bergejolak. Napasnya terdengar memburu, Nara ketakutan melihatnya. "Jika..kau berani menyentuhku ! Aku..aku akan menggigit lidahku dan mati, aku tidak Sudi di sentuh olehmu !" Teriak Nara, air matanya sudah meleleh di pipinya, dia tidak melihat jalan keluar lain selain mengatakan hal mengerikan itu, dia tidak mau kesuciannya di renggut oleh Xaphier dengan seenaknya.
"Ck, baiklah kau bisa mati dihadapanku kalau begitu, aku ingin melihatmu meloloskan diri dariku, aku tidak akan termakan ancamanmu Nara." Ucap Xaphier dengan pandangan mata berbahaya.
"Kau pikir aku ragu untuk melakukannya?! Jika kau berani melangkah sedikit saja aku akan menggigit lidahku dengan keras dan.....
Tiba-tiba kaki Nara ditarik oleh Xaphier dalam hitungan detik saja Xaphier sudah menjulang di atas Nara memerangkap tubuhnya hingga tidak bisa bergerak, bibirnya sudah tertutup oleh bibir Xaphier yang dengan buas menyerang bibir Nara. Ciuman itu kasar dan intens, memagut dan mencecapnya membuat tubuh Nara dengan cepat terasa panas, jantungnya seakan ingin melompat karena pria di atasnya tengah bermain-main dengan bibirnya.
Beberapa menit yang cukup lama Xaphier mengangkat wajahnya dari Wajah Nara yang sudah tidak bisa bergerak dan melawan. "Jangan pernah mengatakan ingin menghabisi nyawamu semudah itu Nara, karena aku tidak akan membiarkannya." Bentak Xaphier, dia beranjak dari posisinya yang menindih tubuh Nara dan mengangkat tubuh Nara agar berdiri.
"Kita makan malam sekarang." Ucap Xaphier menggenggam tangan Nara lalu keluar dari kamar.
~
Oklahoma city, 08.15
Hari ini lexia tidak terlalu banyak berbicara, dia makan di meja makan bersama ayah dan juga Daren, matanya mengerling ayahnya, dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sewaktu ibunya masih hidup? Mengapa ayahnya tidak menjelaskan mengenai ibunya yang katanya sakit-sakitan karena waktu itu kehilangan dirinya sehingga sakitnya yang makin parah hingga nyawanya tidak tertolong lagi.
"Lexia sayang? Ada apa kenapa kau tidak makan?" Tanya daren.
Lexia mengangkat kepalanya menatap Daren yang sejak tadi memperhatikannya. "Aku makan koq." Ucap lexia mulai memakan sandwichnya. Setelah sarapan, lexia menggendong Ax dan menyusuinya di kamar sementara itu Daren sedang bersiap-siap akan berangkat ke kantor karena Evan sudah menunggunya di tempat parkiran bersama pengawal lainnya.
"Aku pikir Evan yang akan membawa pekerjaanmu di kantor?" Ucap lexia sambil berbaring miring dengn Ax masih menyusu pada dirinya.
__ADS_1
"Aku harus pergi sayang, dengan Evan saja tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaanku hari ini, kemungkinan aku akan pulang malam lexia, kami akan mengadakan kerja sama proyek besar, perusahaan mereka berada di Kanada tetapi kami akan mengadakan meeting di perusahaanku, jadi kau bisa makan malam bersama ayah tidak usah menungguku malam ini." Ucap Daren sambil memasang dasinya, lexia tidak terlalu memperhatikan ucapan Daren, karena di kepalanya hanya berputar mengenai kotak yang di temukannya.