
Villa di Desa East Rosewell
Sudah berapa lama mereka mencari-cari Darko, tetapi Darko belum di temukan juga, sekarang sudah pukul 9 malam, mereka telah mengelilingi tempat itu, tetapi Darko entah sembunyi di mana.
"Sebaiknya bagaimana tuan, kami sudah mengelilingi dan mencarinya di berbagai tempat, tetapi tuan Darko tidak bisa kami temukan." Ucap Thomas. Mereka semua berkumpul di ruang tamu yang hanya di terangi lilin sebagai penerangannya.
Dazon dan Hanna masih belum kembali dari mencari Darko, mereka masuk lebih jauh ke dalam desa, karena tanda-tanda keberadaan Darko belum mereka temukan juga, jadi mereka berkesimpulan bahwa Darko pasti bermain-main di desa, apalagi di desa banyak anak kecil seperti dirinya, mungkin dia kesepian atau bosan, jadi dia pergi ke desa itu untuk mencari teman, begitu pendapat Dazon, tetapi Hanna tentu saja meragukannya.
"Hubungi Dazon dan Hanna untuk segera kembali ke Villa, jangan biarkan mereka terlalu lama di desa itu, apalagi sekarang sangat gelap, berbahaya jika mereka berlama-lama di sana." Ucap Lexia kepada Axton.
"Oke Mom." Baru saja Ax menekan ponselnya, tiba-tiba di ruangan itu terdengar suara tawa anak kecil, mereka semua terkejut, mereka lalu berdiri dan mencari asal suara.
"Suara itu milik Darko." Bisik Lexia.
"Kenapa Darko bersembunyi dari kita?" Tanya Axton menatap Lexia dan Riel.
Lexia mengangkat jari telunjuknya ke bibirnya, menyuruh agar Axton diam. Mereka semua tidak berbicara, agar mendengarkan sekali lagi suara Darko.
Riel memberikan isyarat kepada Ax supaya dia mengecilkan suaranya.
"Ada apa, kenapa kalian berbisik?" Tanyanya.
"Kalian semua dengarkan? Suara itu milik Darko, dia sembunyi di dalam villa ini." Ucap Riel.
Suara itu terdengar lagi, suara anak kecil yang menggema di ruangan luas itu, suara Darko yang sedang tertawa senang.
"Darko sayang, Kaukah itu? Turunlah kemari, grandma datang menjemputmu, ayo kita kembali ke mansion." Bujuk lexia.
Tawa itu kini semakin mengecil, "Darko? Ayolah Darko, keluarlah sayang, ada yang ingin grandma bicarakan." Ucap Lexia. Mereka berjalan ke tempat dimana suara Darko terdengar jelas, Thomas dan paulo berjalan dengan pelan tanpa ragu sedikitpun, dia berjalan perlahan.
"Halo paman Thomas, paman Paulo apa kabar? Kenapa kalian semua ada di Villa mommy?" Suara itu muncul dari dalam dapur yang gelap, dia keluar sambil memegang sesuatu di belakangnya.
"Darko, lepaskan apa yang kau pegang di belakang punggungmu, itu berbahaya, berikan kepada paman, biar paman yang menyimpannya." Ucap Riel.
Darko tertawa kecil, seakan apa yang dikatakan Riel, lucu baginya. "Bagaimana paman bisa tahu? Paman hebat, aku hanya ingin bermain dengan paman Thom dan paman Paulo." Ucapnya.
"Tuan Darko, apa kabar, kami dari tadi mencari-cari anda tuan Darko." Ucap Thom.
"Kenapa kalian tidak bisa menemukanku? Aku sejak tadi bersembunyi di semak-semak yang lebat, kalian tidak melihatku ya?" Ucap Darko sambil tertawa, dia tertawa sambil menutup mulutnya.
Lexia berjalan ke arahnya dan menunduk agar sejajar dengan Darko, dia sama sekali tidak takut atau khawatir sedikitpun berada di dekat Darko, "Kami sangat khawatir sayang, ayah dan ibumu masih mencarimu di dalam desa, mereka sangat mengkhawatirkanmu." Ucap Lexia.
"Aku melihat Dad dan Mommy, tetapi mereka tidak melihatku, aku ingin bermain petak umpet bersama kalian semua." Ucap Darko.
"Darko dengarkan paman !" Suara Riel terdengar cukup tegas di ruangan itu, membuat Lexia menatap Riel dengan pandangan tidak percaya dan menyuruhnya untuk melembutkan suaranya kepada Darko.
"Tidak ada petak umpet lagi, apalagi malam-malam begini, berikan pisau itu yang ada di belakangmu." Ucapnya. Mereka semua terkejut, semua mata memandang tangan Darko yang keduanya masih betah di belakang punggungnya.
"Kenapa paman? Semalam seru sekali, paman tidak bisa menghindariku." Kekehnya, sebelum tawa Darko berhenti, tangannya tiba-tiba bergerak ke arah Lexia, tetapi tangan kecilnya tentu saja terlihat oleh Lexia, dengan cekatan lexia memegang pergelangan tangannya hingga pisau itu jatuh di lantai.
"Kau ingin menyerang Grandma, sayang?" Kalau begitu kau harus belajar lebih keras untuk melakukannya." Tantang Lexia.
"Ck, Grandma tidak menarik." Ucapnya dengan suara bosan, dia menyilangkan kedua tangannya.
Thomas dengan cepat mengambil pisau itu dan menyimpannya, matanya berkilat menatap tajam kepada Darko. Lexia tanpa ragu menggendong Darko, dia memeluk dan menciumnya.
"Pasti cucu Grandma lapar kan? Seharian bermain-main dan berlari-lari seorang diri di dalam hutan, kau ingin makan apa sayang?"
__ADS_1
"Apa saja Grandma." Bisik Darko, dia membalas tatapan Thomas kepadanya dengan sama tajamnya, Lexia menggendong Darko menuju ke dapur, Darko sekali lagi bertatapan dengan Thomas dan Paulo, dia lalu memberikan ejekan kepada mereka berdua sambil mengeluarkan lidahnya.
Riel menghembuskan napasnya, dia akhirnya lega, Darko akhirnya dapat ditemukan meskipun bisa dikatakan, dia tidak ditemukan, tetapi dia sendiri yang memunculkan dirinya, sementara itu Ax segera menelepon Dazon, dan menyuruhnya agar segera kembali ke Villa.
~
"Grandma tidak takut padaku?" Ucap Darko ketika dia sedang duduk di meja makan dekat dapur bersama Lexia yang menemaninya.
Lexia tersenyum sambil mengernyitkan alisnya. "Takut? Kenapa Grandma harus takut sayang? Apa Darko semengerikan itu sampai nenek harus takut?" Ucap Lexia.
"Grandma harus takut dan menjauhiku, aku bisa saja melupakan siapa Grandma dan menyerang Grandma." Ucap Darko dengan jujur, dia mengatakan itu semua, seakan memperingati lexia bahwa dia berbahaya.
"Kau bisa melupakan Grandma?" Tanyanya.
"Mhm, terkadang Darko lupa semua orang, hanya wajah mommy saja yang tertinggal di kepala Darko, jadi Darko sampai saat ini belum menyerang Mommy."
Lexia sedih mendengar penuturan Darko, dia menatapnya dengan mata berkaca-kaca, dia menjawab pertanyaan lexia sambil memakan sandwichnya dengan lahap, tanpa sadar Lexia menghapus air matanya. "Apa kau ingin sembuh Darko?"
Darko mengernyit tidak mengerti. "Memangnya aku sakit ya, Grandma?" Ucap Darko dengan suara kecilnya.
"Darko sakit, dan Darko akan ikut Grandma ke suatu tempat, agar Darko sembuh dan melindungi ibumu jika sudah besar nanti." Ucap lexia sambil mengusap kepala Darko.
"Okey, aku akan ikut Grandma dan tidak main petak umpet lagi, meskipun itu kegemaran Darko." Ucapnya.
Suara langkah kaki terdengar dari luar dan masuk ke dapur dengan tergesa-gesa, Hanna berlari dan langsung masuk ke dapur. Matanya tertuju kepada Darko yang sedang makan dengan tenang.
"DARKO." Teriak Hanna, dia lalu menuju ke putranya dan memeluknya dengan erat, sekali lagi Hanna menangis. "Kau dari mana saja Darko, kau tidak tahu mommy sangat khawatir?" Ucap Hanna mengguncang bahu Darko.
"Sorry mommy." Ucap Darko sambil tertunduk, kini matanya tertuju kepada ayahnya yang berdiri di sampingnya. Dazon menunduk dan menatap langsung kepada Darko. "Maafkan Daddy, Darko." Ucap Dazon. Dia memeluk putranya dengan kerinduan yang tidak bisa dia ungkapkan. "Maafkan Ayah Darko, ayah bersalah kepadamu."
"Its Okay Dad." Bisik Darko.
Ax mendekati Riel, baru kali ini dia melihat pembunuh berantai yang paling di takuti berada dalam ruangan yang sama dengan mereka semua. "Memangnya kenapa dengan Darko, Riel?" Tanya Thomas, mereka bertiga menatap Riel.
"Kemarin malam Darko menyerangku dengan pisau, kalian pasti sudah mengetahui dengan jelas latar belakang mengenai keluarga Ben Reaver. Darah kami berbahaya, saya cuma mengkhawatirkan Darko jika dia mengikuti darah Reaver, dan sepertinya tanda-tanda itu sudah terlihat jelas pada tingkah laku anak itu." Ucap Riel.
"Apa solusi yang bisa kau berikan Riel," tanya Axton sambil menatapnya.
"Darko harus segera di bawa ke professor Vandash, dia akan mengetahui gejala yang terjadi dengan Darko dan mencari cara menyembuhkannya."
"Apakah prof itu yang menyembuhkanmu?" Tanya Ax.
"Bukan menyembuhkan, tetapi setidaknya dia mengetahui gejala yang terjadi pada diriku dan mencari cara agar aku terhindar dari monster pembunuh di dalam diriku."
~
Malam itu tidak ada insiden seperti yang di takutkan Riel, sepanjang malam dia tidak tidur, dia terus duduk di depan jendela tepat di depan kamar Hanna, dia ingin mengawasi segala pergerakan Darko. Dia masih belum mempercayai Darko sepenuhnya, anak itu cerdik dan mudah memanipulasi orang-orang di sekitarnya dengan senyum menggemaskannya.
"Kau tidak tidur, Riel?" Tanya Thomas ketika melihat Riel sedang berjaga dan duduk seorang diri di kegelapan malam.
"Tidak, aku harus mengawasi anak itu." Jawabnya.
"Kenapa? Dia sekarang bersama orang tuanya, dia tidak akan kemana-mana lagi."
"Bukan itu yang aku khawatirkan." Jawabnya.
Thomas menunggu penjelasan Riel, tiba-tiba pintu terbuka, Darko keluar dari kamar dan melihat mereka berdua tidak jauh dari kamarnya.
__ADS_1
"Ups, paman Riel, paman Thomas, maukah paman menemani Darko ke kamar mandi? Darko ingin ke toilet." Ucapnya sambil mengucek kedua matanya. Riel berdiri begitupun Thomas.
"Kami akan mengantar Darko, ikut dengan paman." Ucap Riel, dia memegang tangan Darko dan membawanya ke lantai bawah. Thomas mengawasi mereka dari belakang, dan mengikuti kemana Riel pergi.
~
Dazon memperhatikan Hanna yang berada di depan cermin rias, dia baru saja selesai mandi dan sedang menyisir rambutnya. Dazon lalu melangkah mendekati Hanna yang sejak tadi menyisir rambutnya dan melirik sembunyi-sembunyi ke arah Dazon.
"Kau ingin mengatakan sesuatu kepadaku sayang?" Tanyanya.
Dia memegang kedua bahu Hanna dan menundukkan kepalanya, lalu menyandarkannya di bahu Hanna. "Aku sangat merindukanmu Hanna." Bisik Dazon, dia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Hanna dan memeluknya dari belakang.
Dia memegang dagu Hanna dan membawanya ke dekat wajahnya. "Apa kau masih marah?" tanya Dazon.
Hanna memberikan kecupan kilat di bibir Dazon, "Jangan pernah membuatku merasakan perasaan seperti itu lagi, Dazon." bisik Hanna. "Perasaan ditinggalkan dan tidak di butuhkan."
"Aku mencintaimu, tetapi jika kau mencoba memisahkanku dari putraku, aku akan membencimu dan akan lari lagi darimu." Dazon tersenyum mendengarkan ancaman Hanna.
"Tidak akan, aku juga tidak ingin mengalami perasaan seperti itu, Hanna. Seakan kau telah pergi selamanya dan meninggalkanku seorang diri." Ucap Dazon. Dazon menarik tubuh Hanna agar dia memandangnya. "Sepertinya malam ini bukan waktu yang tepat sayang, kapan saja Darko bisa masuk ke dalam kamar." Bisik Dazon, ketika melihat kilatan mata Hanna yang menginginkan Dazon.
~
Mereka berdua berdiri di depan pintu kamar mandi menjaga agar Darko tidak kemana-mana atau melakukan sesuatu yang di rencanakan di kepala kecilnya.
"Cepatlah Darko, paman menunggu di sini." Ucap Riel.
"Ok, paman." gumam Darko.
Thomas duduk di dekat dapur dan memperhatikan dengan tajam pintu kamar mandi. Pintu itu kini terbuka, Darko tiba-tiba tersenyum.
"Aku tidak akan kemana-mana paman-paman, Oh ya bagaimana kalau kita bermain petak umpet saja?" tanya Darko dengan wajah polos yang gembira.
"Tidak, tidak ada petak umpet malam ini." Tegas Thomas dan Riel. mereka menatap setiap pergerakan Darko.
"Ck ck paman-paman ini sama sekali tidak menarik, lebih baik aku tidur saja." Gumam Darko, dia melirik kepada mereka semua yang ada di ruangan luas di dekat perapian, senyumnya tiba-tiba kembali terbit di wajahnya, dan hal itu tidak luput dari perhatian Lexia.
"Darko, kemarilah." Ucap Lexia. Darko lalu berjalan menuju lexia.
"Ada apa Grandma?" tanyanya, dia terlihat bosan ketika berhadapan dengan grandmanya yang satu ini, seakan-akan dia bisa membaca apa yang di pikirkannya.
"Tidurlah di sini, Grandma akan menceritakan kisah menarik untukmu, kau mau mendengarkan? bahkan Michaela dan Junior belum pernah mendengar kisah yang akan grandma ceritakan, kau mau mendengarnya?"
Dengan langkah ogah-ogahan Darko berjalan mendekati Lexia. "Apa yang akan grandma ceritakan?" Ucap Darko seakan terjebak di pelukan Lexia.
"Baringlah di samping Grandma, setelah itu aku akan menceritakannya." Darko menuruti semua ucapan Lexia. Dia berbaring di pangkuan Lexia. "Oke Grandma ceritakanlah, Darko akan mendengarkannya." Ucapnya. Lexia mulai bercerita, dan cerita itu membuat Darko bosan setengah mati.
Ck, Grandma terlalu kuat untuk dihadapi, dia seperti bisa mengetahui apa yang kupikirkan, sebaiknya aku pura-pura tidur.
Lexia betul-betul tidak melepaskan perhatiannya kepada Darko sampai dia melupakan rencananya dan betul-betul terlelap tidur.
"Apa Darko sudah tidur?" Tanya Ax sambil menunduk dan memperhatikannya, napasnya mengalun normal dan teratur.
"Apa sebaiknya kita membawanya ke kamar ayah dan ibunya?" Tanya Ax. Lexia kemudian menggelengkan kepalanya.
"Biarkan Darko tidur bersamaku di sini, kalian juga bisa mengawasinya, lagi pula Hanna dan Dazon sedang sibuk di atas sana, kita tidak bisa mengganggunya." Ucap Lexia.
Malam itu terasa cukup hangat, meskipun lampu di desa itu masih bermasalah, tetapi penerangan di ruangan cukup terang apalagi Thomas telah meyiapkan lampu cadangan dari mobilnya jika suatu waktu di butuhkan. Udara sejuk terasa dan akhirnya semua tertidur lelap, bunyi jam berdentang lembut di dinding menunjukkan pukul 3 malam hari, mata itu perlahan membuka, senyuman tipis terbit di wajahnya, "Apakah saatnya beraksi?" bisiknya.
__ADS_1
"Tidak, saatnya kau tidur sayang, atau Grandma akan bercerita sekali lagi." Darko yang mendengar ancaman itu segera menutup matanya dengan cepat. Sementara Riel tersenyum mendengarnya.