
RdF Corporation,
"Mengapa kau melirik Holdings Burchard Group Adrick? Meskipun perusahaan itu tidak sebesar perusahaan Caesaar tetapi dengan melihat performa perusahaan itu, sepertinya salah besar jika kau menyerangnya, apalagi pemiliknya merupakan menantu dari tuan Caesaar, kau pikir keluarga Caesaar akan diam saja?"
Adrick mengambil cangkir berisi kopi di atas mejanya, dia lalu tersenyum tenang. "Bukankah ini mengasyikkan? Aku hanya ingin mengetahui bagaimana perlindungan keluarga Caesaar untuk melindungi menantunya itu." Ucapnya.
Pria di hadapannya mengernyitkan alisnya. "Kau tidak bercanda kan, kau tidak seperti biasanya, sebenarnya apa yang kau incar Adrick?" Dia tertawa lepas mendengar kecurigaan temannya ini.
"Incar? Haha, kau jeli sekali, entahlah apa yang sebenarnya kuincar tetapi ini menyenangkan, membuatku penasaran dengan diriku sendiri, aku melakukannya begitu saja." Ucapnya, tetapi kenyataannya tidak seperti itu, pikirannya jelas tertuju kepada mata safir terang yang cantik yang selalu membayangi hari-harinya, makin hari makin membuatnya gelisah, akhirnya dia tahu apa yang diinginkannya, dia menginginkan wanita itu, dia ingin mengenalnya lebih jauh, untuk itu dia harus memiliki alasan untuk selalu bertemu dengannya, yaitu menyerang perusahaan suaminya.
~
Pagi itu lexia bangun pagi-pagi sekali, setelah menikmati udara segar, dia segera menyiapkan pakaian suaminya untuk di kenakannya pagi ini ke kantornya, matanya tertuju kepada Daren yang masih terlelap dalam.
Lexia segera keluar dari kamar dan menyiapkan sarapan pagi untuknya dan untuk putranya, meskipun pelayan bisa menyiapkan semua itu tetapi lexia menyukai mengerjakan segalanya sendiri, dia tidak begitu suka di layani terus menerus apalagi dia sama sekali tidak memiliki kegiatan.
Lexia berada di dapur menyiapkan sarapan. Setelah itu dia berjalan-jalan di halaman, cahaya itu dengan cepat membuat lexia terkejut.
"Cahaya apa itu?" Ucapnya.
Langkah kaki itu tiba-tiba menjauh kemudian menghilang. "Apa kilat? Tidak mendung koq." Ucap lexia, setelah selesai berjalan-jalan, lexia kembali ke kamarnya dan mendapati Daren berada di kamar mandi, lexia menatap putranya yang masih tertidur lelap. Daren baru saja keluar dari kamar mandi, handuk masih menggantung di pinggulnya, dia kemudian menatap lexia yang membelakanginya Karena menatap putra kecilnya yang masih tertidur.
"Lexia kemarilah." Ucap Daren. Lexia berbalik dan menatap Daren berdiri di sana masih memandangnya.
"Ada apa?" Ucapnya.
"Kemarilah!" Perintahnya.
Lexia mendekati daren, mereka saling menatap, lexia berusaha menghindari pandangan mata Daren tetapi tangannya menangkap dagu lexia agar dia menatapnya.
"Kau marah?" Tanyanya. lexia menggeleng cepat.
"Kenapa aku marah? Aku tidak memiliki alasan untuk marah." Elak lexia.
"Bohong, jangan membohongiku lexia, apa kau marah dengan kejadian kemarin?" Ucapnya. Lexia menaikkan bahunya.
"Entah, aku juga bingung, aku sama sekali tidak marah jadi lepaskan tanganmu Daren." Ucap lexia jengkel.
Daren menghembuskan nafasnya dan melepaskan tangannya dari dagu lexia. "Sudahlah, kita jangan bertengkar." Ucap Daren menarik pinggang lexia dan memberikan kecupan mesra selamat pagi kepadanya.
~
Xaphier menggerakkan lagi tubuhnya dengan irama yang cepat, hal itu sudah kesekian kalinya dia lakukan pagi ini membuat Nara kesulitan menghadapi serangan Xaphier pagi itu. Setelah mereka sama-sama lelah, dan napas mereka sudah mulai normal kembali, Xaphier menarik tubuh Nara dan menyapu helaian rambut Nara yang berada di wajahnya.
__ADS_1
Xaphier tersenyum puas, Nara balas menatapnya lalu tersenyum.
"Kau baik-baik saja? Bagaimana dengan tubuhmu." Tanyanya.
Dengan wajah merona, Nara menganggukkan kepalanya. "Aku baik-baik saja Xaphier, hanya saja kau melakukannya tidak seperti biasanya, ada apa?"
"Hem, tidak seperti biasanya?" Xaphier tersenyum miring. "Apa aku terlalu over hari ini?" Nara mengangguk sambil menatap wajah Xaphier yang merubah posisi tidurnya menjadi terlentang.
"Tidak apa-apa sayang, jangan kau pikirkan." Bisiknya. Nara mendekati tubuh Xaphier dan berbaring di atas dadanya.
"Apa tidak ada yang bisa kulakukan? Untuk membantumu, erm mungkin jika masalah perusahaan aku tidak tahu menahu tentang itu tetapi aku...aku ingin menjadi bagian dari dirimu di rumah dan juga di pekerjaanmu, adakah yang bisa Kuberikan bantuanku Xaphier?" Ucap Nara mengangkat tubuhnya dan melihat Xaphier dengan wajah serius.
Xaphier terkekeh sambil mengelus rambut indah Nara. "Jika kau berada di sampingku dan kau baik-baik saja itu sudah cukup membantuku, asalkan kau selalu dalam pandangan dan pengawasanku." Ucapnya. Nara merona, dia suka jika Xaphier over protective dan posesif padanya, hal itu membuat kegembiraan tersendiri di hatinya, berbeda dengan lexia, ketika dia tahu Xaphier meneleponnya beberapa jam sekali dan menanyakan tentang Nara dimana dan apa yang sedang dikerjakannya. Lexia memegang lehernya sambil berpura-pura tercekik.
"Jika itu aku? Aku akan merasa tercekik, Xaphier begitu konyol kenapa tidak sekalian dia membawamu ke kantornya saja Nara, supaya dia berhenti mengkhawatirkan dirimu." Ucap lexia di tanggapi dengan tawa Nara melihat ekspresi lexia yang masih bermain-main dengan ekspresi wajah seperti tercekik.
"Bagaimana jika kau ikut saja ke kantorku? Kau akan memiliki ruangan pribadi denganku, tetapi orang-orang tidak akan dapat menatapmu hanya aku saja yang dapat melihatmu dan memilikimu." Nara tertawa dan tawannya menular kepada Xaphier.
"Kenapa kau tertawa sayang? Aku tidak main-main, aku ingin kau terus berada di sampingku." Ucapnya.
"Aku tertawa karena perkataanmu sama seperti yang dikatakan lexia, dia bilang kenapa kau tidak sekalian saja membawaku ke kantormu jika kau sering menelepon keadaanku." Ucap Nara bermain-main dengan jari-jarinya di dada Xaphier.
Xaphier berdecak. "Lexia yang keras kepala tidak akan seperti dirimu, dia pasti benci Mendengarnya, dia terlalu keras, aku ingin tahu bagaimana Daren menundukkan lexia hingga dia dapat menikahinya." Ucap Xaphier.
"Emm, apa kau akan bisa fokus dengan pekerjaanmu? Sementara aku ada di sana."
"Hem, mungkin aku akan mencuri banyak waktu untuk bersama denganmu." Bisik Xaphier.
Nara menaikkan bahunya." Jika seperti itu sama saja aku tidak membantumu, aku hanya mengganggu pekerjaanmu, lebih baik aku di rumah saja." Ucapnya.
"Kau yakin?"
Nara mengangguk. "Aku di mansion saja bersama lexia mengurus Axton bersama-sama." Tiba-tiba Xaphier mengernyitkan alisnya.
"Ada apa?" Tanya Nara.
"Ikut denganku pagi ini, kita akan ke dokter memeriksamu, aku ingin segera memiliki bayi denganmu", bisik Xaphier. Nara mengangguk sambil memeluk erat Xaphier.
~
"Hari ini aku akan bertemu langsung dengan beberapa rekan bisnisku di Manhattan lexia, jadi sepertinya aku akan kembali dua hari lagi." Ucap Daren di meja makan ketika sarapan. Sementara itu lexia sedang menyuap putranya yang duduk di hadapannya.
"Baiklah, tapi kau Ingatkan ulang tahun Ax sebentar lagi, jangan sampai lupa." Ucap lexia kembali menyuap putranya yang sedang menatap ibunya sambil mengerucutkan bibirnya mencoba menahan sendok kecil itu dimulutya.
__ADS_1
"Tentu aku ingat sayang." Ucap daren, dia kemudian berdiri dan mengambil tas kerjanya. Dia menatap lexia yang tidak beranjak dari tempat duduknya, biasanya dia mengantar Daren hingga sampai ke pintu depan, tetapi lexia sibuk menyuapi Ax yang bermain-main dengan makanannya.
Daren menghampiri lexia dan putranya dan memberikan kecupan singkat di bibirnya kemudian mengecup kening putranya. "Aku berangkat." ucap Daren kemudian pergi, lexia memandangnya dari kejauhan dan merasakan sesuatu yang aneh dihatinya. Hubungannya dengan Daren yang biasanya begitu mesra kini sedikit berubah. "Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja." ucap lexia kepada dirinya sendiri. Tetapi lexia baru mengingatnya, sudah 3 hari ini Daren belum pernah menyentuhnya. Perasaan lexia sedikit goyah dan resah, apakah Daren mulai bosan kepadanya? memikirkan itu semua membuat hati lexia terasa tercubit. Lexia kemudian menggeleng keras. "Ugh, kenapa aku seperti ini? Aku juga tidak sedang datang bulan." Kemudian kenyataan menghantamnya. "A..apakah aku sedang hamil?" ucap lexia.
~
"Ini semua foto yang aku dapatkan sir." ucap pria berwajah lonjong itu, dia menaruh beberapa foto di atas meja Adrick Rudolf. Dia memutar kursinya yang tadinya menghadap ke belakang, pandangannya jatuh kepada foto-foto yang tersusun rapi di atas mejanya.
Dia kemudian mengambilnya lalu menyunggingkan senyumnya. "Kau boleh pergi." Pria itu sedikit membungkuk dan segera meninggalkan ruangannya.
"Cantik." bisiknya.
Beberapa foto lexia ketika sedang berada di taman seorang diri, dia sedang berjalan, sedang duduk di taman, menatap langit dan ketika dia sedang tersenyum. Adrick menatapnya begitu lama, keinginannya semakin besar untuk bertemu dengannya, tetapi wanita itu tidak pernah keluar dari Mansionnya, dia sepertinya senang hanya berada di mansion tanpa keluar berjalan-jalan atau berbelanja. Adrick sekarang tidak mau menolak keinginan hatinya, dia akan berusaha dulu kan, sampai apa yang diinginkannya dapat dia miliki. Senyum mengembang di wajahnya.
~
Hari itu Nara dan lexia sedang berada di taman belakang sedang berjalan-jalan bersama Axton, lexia mengambil beberapa moment ketika Ax berjalan dengan kedua kakinya di bantu oleh Nara yang memegang kedua tangannya, dia tertawa-tawa dan mengerutkan hidungnya.
Lexia sibuk mengambil foto-foto putranya, dia sangat aktif dan senang berjalan kesana kemari, dia tertawa-tawa sambil menunjuk-nunjuk tempat yang ingin didatanginya.
"Hari apa akan di rayakan ulang tahun Ax?" tanyanya menatap lexia yang masih sibuk mengambil foto-foto putranya.
"Erm, tiga hari lagi ulang tahun Ax, kenapa?" tanyanya.
"Xaphier juga akan ke Manhattan siang ini." ucap Nara sambil menggendong Ax yang mulai lelah dan ingin di gendong. Dia mulai mengenal wajah Nara yang di lihat setiap harinya jadi Ax mulai menyukainya.
"Oh ya, begitupun Daren, mungkin dua hari lagi dia akan pulang, aku harap dia pulang tepat waktu." ucapnya.
Setelah berlama-lama di taman, Ax mulai lelah dan mengantuk, Lexia dan Nara masuk ke dalam mansion, Nara mengangkat ponselnya karena Xaphier meneleponnya lagi sementara Lexia kembali ke kamar untuk menyusui Axton, ponselnya tiba-tiba berdering. Lexia mengangkatnya tetapi tidak mengenal nomor yang menghubunginya.
"Halo?"
Hening sejenak, lexia mengerutkan alisnya dan kembali menatap ponselnya.
"Halo siapa ini?" ucapnya.
"Halo, selamat siang Nyonya lexia." Suaranya berat dan sepertinya dia mengulur-ulur suaranya menunggu lexia berbicara.
"Siapa?"
"Aku adalah Adrick Rudolf, senang mengobrol denganmu."
"Adrick Rudolf? Sepertinya anda salah sambung, aku tidak mengenal Adrick Rudolf, selamat siang." ucap lexia menatap layar ponselnya. Dia sama sekali tidak mengenal pria itu.
__ADS_1
"Di tutup? jadi dia tidak mengenal namaku? hehe Menarik, Nyonya lexia." Pria itu menatap ponselnya dan menatap nomor yang tertera di sana, dia menertawai dirinya karena bertindak seperti penguntit, baru kali ini dia bersikap seperti orang idiot.