
~Villa di Tulas 02.15
Lexia membuka kedua matanya, nampak Daren duduk di sampingnya sambil terkantuk-kantuk, dia memegang tangannya sampai terasa keringat menempel di tangan lexia karena genggaman kuat daren. Lexia menatap makanan yang tersaji di sana tetapi sepertinya sudah dingin, dia ingin bergerak tetapi dia kesulitan untuk bangun begitu saja karena perutnya yang sudah membesar menahannya.
Daren menyadari pergerakan di tempat tidur dan bangun dari rasa kantuknya, dia mengerling lexia yang mencoba bangun dari pembaringannya.
"Aku mau makan." Ucap lexia kepada daren. Tanpa mengucapkan apa-apa, Daren mengambil makanan di atas nampan dan memegangnya kemudian dia perlahan menyuap lexia yang makan dengan lahap meskipun makanannya sudah dingin. Lexia menatap wajah Daren, 'rahangnya terlihat mengeras, dia sedang marah? harusnya aku yang marah karena dia bersama wanita itu.
Setelah selesai makan, lexia masih duduk sambil bersandar di ujung tempat tidur, matanya mengerling Daren yang menyingkirkan piring-piring makanan Lexia dan menaruhnya di atas meja.
Daren kemudian duduk di kursi, matanya tajam menatap lexia yang tidak mau memandangnya.
"Kau masih marah?" Tanyanya.
"Ya, aku marah padamu." Ucap lexia sambil menatap jendela kaca alih-alih Daren yang mengajaknya bicara.
"Kau marah dan membahayakan bayi kita dengan tidak makan?" Tanyanya lagi suaranya sama datar dan dingin kepada lexia.
"Aku..aku bukannya tidak mau makan, tadi siang perutku sakit dan aku tidak bisa bergerak, aku memanggilmu tapi kau tidak datang, ponselku tidak kubawa, dan kau baru mencariku tengah malam." Ucap lexia.
Tiba-tiba tubuhnya ditarik keras oleh Daren, dia memeluknya erat dan tubuhnya terasa bergetar ketika dia berbicara.
"Jangan membuatku khawatir lexia, ketika kau tidak sadarkan diri, aku begitu takut kehilanganmu, kau tahu? Aku marah padamu karena bersikap seperti itu padaku, jangan berbuat seperti ini lagi lexia kau mengerti." Ucapnya.
Lexia mengernyit, "Harusnya aku yang marah kepadamu Daren, mengapa Carol memelukmu dan mengecup pipimu?" Ucap lexia berusaha melepaskan pelukan Daren. Tetapi pelukannya begitu kuat hingga lexia tidak bisa melepaskan pelukannya.
"Dia datang karena ingin mendengarkan tentang nency, dia baru saja mengetahui tentang kematian nency." Ucap Daren.
"Jadi kau menghiburnya dan menepuk punggungnya dan dia mengecup pipimu." Suara lexia meninggi karena marah. Meskipun lexia marah, Daren tidak melepaskan pelukannya di tubuh lexia.
"Dia yang memelukku lexia dan pelukan maupun ciumannya di pipiku tidak ada artinya sayang, jangan marah lagi, emosimu mempengaruhi bayi kita lexia." Ucap Daren.
Lexia mendorongnya sekuat tenaga. "Jadi yang kau pedulikan cuma bayi kita saja, jadi aku tidak berarti apa-apa." Ucap lexia mulai menangis, dia menjauh dari Daren dan membelakanginya sambil menangis dan memeluk bantal.
Daren menghembuskan napasnya, dia tidak tahu bagaimana mengembalikan mood lexia agar bisa membaik seperti dulu, setiap yang dikatakannya selalu salah di telinga lexia.
Daren mencoba bersabar dengan sikap lexia yang seperti ini, dia kemudian berbaring di sebelah lexia dan memeluknya dari belakang lalu mengecup pipinya, kemudian tidak lama kemudian lexiapun tertidur, dia berbalik dan menghadap ke wajah Daren. Napas hangat menerpa wajah Daren. Dia melihat wajah cantik lexia yang masih menyisakan air mata di sudut-sudut matanya, daren kemudian menghapusnya, lalu menarik hidungnya lalu menatapnya kemudian diapun tertidur pulas sambil memeluk lexia.
~
Mansion Robert 07.12
Pagi itu lovelia bangun di tempat yang tidak cukup biasa baginya, suasananya serta perabotannya yang berbeda dengan kamarnya di lantai 7 yang di tempatinya selama 18 tahun. Lovelia bangun dari tidurnya, dia berdiri dan menatap ruangan besar dengan kaca jendela yang juga begitu besar, dia membuka tirai panjang berwarna cream, cahaya matahari masuk ke kamar lovelia dengan sinarnya yang terang. Lovelia menikmati sinar itu dan menghargai segala yang diterimanya dari sang Surya.
Setelah berlama-lama di bawah sinar matahari, lovelia segera membersihkan dirinya dan masuk ke kamar mandi, semua baju-bajunya sudah di siapkan sesuai selera lovelia, dress panjang bermerk dan mewah semua ada di sana, lovelia memilih dress berwarna hijau selutut, warna yang sangat cocok dengan matanya yang berwarna hijau.
Dia merapikan rambutnya yang panjang berwarna coklat tua, lalu mengikatnya tinggi-tinggi, dia terlihat sangat manis dan cantik di pagi itu. Lovelia keluar dari kamarnya dan segera turun ke bawah, dia melihat meja makan masih kosong tidak ada seorangpun yang duduk di sana, lexia menatap mansion yang beberapa kali lipat lebih besar dan luas dari mansion di rumahnya. Dia berjalan-jalan dan menatap lukisan besar yang di pajang di ruang tamu.
Di lukisan itu tertulis, Robertoz. "Siapa dia?" Tanyanya.
"Dia itu Robertoz, pemilik nama dari Robert yang sekarang keluarga kita gunakan, dia itu seorang pelaut yang cukup terkenal dan suka menjelajahi dunia." Ucap Alvin menjelaskan. "Dia itu kakek buyutnya ayah."
"Wah, benarkah? Hebat, mengelilingi dunia?" Ucap lovelia sambil menautkan jari-jarinya, memandang kagum pada foto besar yang menempel di dinding itu sejak lama.
Alvin terkikik, lovelia lalu berbalik. "Kenapa paman tertawa?" Ucapnya heran melihat Alvin memegang perutnya karena tidak tahan ingin tertawa.
"Kau percaya dengan yang aku katakan?" Tanyanya. Lovelia menggeleng dengan lugu. Alvin semakin tertawa melihat wajah polos dan lugu lovelia.
"Foto itu adalah foto ayah sewaktu masih muda, kau betul-betul mempercayai kata-kataku lovelia." Ucap Alvin sambil menghapus air mata di sudut-sudut matanya karena tertawaannya.
Lovelia yang polos ikut tertawa jika Alvin tertawa, dia sangat suka jika Alvin tertawa di hadapannya dia terlihat sangat tampan, dan itu membuat jantung lovelia berdetak lebih dari biasanya.
"Apa yang lucu Alvin?" Tanya tuan Robert yang baru saja keluar dari kamarnya. Dia berjalan sambil memegang tongkat di tangannya.
"Ayah mau keluar?" Tanya Alvin melihat pakaian lengkap yang di kenakan tuan robert. "Ayah ingin ke perusahaan sebentar, kau temanilah lovelia dia pasti kesepian jika seorang diri di sini." Ucapnya.
"Dan ini foto kakek sewaktu masih muda lovelia, jangan percaya ucapan Alvin dia pintar membodoh-bodohi orang." Senyumnya sambil menepuk kepala cucunya dan segera keluar dari mansion, Sebastian sudah menunggu di sana di depan mobil Limousine berwarna hitam.
"Ayo kita sarapan lovelia, kau harus memintanya, katakan kepada pelayan jika kau menginginkan sesuatu, jangan menunggu kami, biasanya semuanya sedang sibuk, jadi kami makan malam di luar." Ucap Alvin, lovelia menganggukkan kepalanya menurut segala kata-kata Alvin.
~
Hari itu cuaca panas membuat gadis pucat nan cantik tengah menghapus keringat di dahinya, dia baru saja turun dari bus yang mengantarnya kerja, dia terpaksa berjalan kaki karena bus itu mogok lagi, dan untuk menunggu bus agar bergerak butuh waktu cukup lama untuk Nara menunggunya. Dia berjalan di antara pohon Pinus yang berjejer rapi dengan rindangnya.
Sementara itu mobil mewah yang kebetulan lewat ke pinggiran kota Tulas melewati jalan yang di lewati oleh Nara. Xaphier tersenyum miring melihat gadis pucat itu menghapus peluh di wajahnya, dia menghentikan mobilnya tepat di samping Nara yang berjalan.
Nara berbalik, semprotan merica sudah siap di tangannya, dia selalu menyiapkan semprotan itu jika dia akan pulang malam ketika pulang dari kerja. Dia menatap wajah angkuh tengah memandangnya.
__ADS_1
"Bukankah kau teman lexia? Yang tinggal di desa terpencil itu?" Ucapannya membuat Nara tidak suka dengan nada angkuh dan arogan pria di depannya.
"Paman salah orang, aku bukan gadis yang paman maksud." Ucap Nara dengan suara datar dan kembali melangkahkan kakinya menuju ke rumahnya yang masih sangat jauh.
"Butuh tumpangan? Aku bisa mengantarkanmu sampai di depan rumahmu yang terpencil itu." Ucapnya lagi. Xaphier memandang wajah cantik dan imut dengan mata berwarna biru laut yang indah.
"Tidak perlu paman, Sebentar lagi bus akan lewat sini." Ucap Nara memutar kedua bola matanya, Xaphier melepaskan sunglassesnya melihat penolakan dari gadis yang sebenarnya sangat membutuhkan tumpangan itu.
"Naik." titahnya.
"Naiklah, sebelum aku berubah pikiran." Ucap Xaphier, baru kali ini dia memaksa seorang gadis naik ke atas mobilnya, biasanya para wanita rebutan untuk naik ke mobilnya.
Nara mengerutkan hidungnya, pertanda tidak mau, dia masih berjalan sambil memicingkan matanya menatap pria yang menjalankan mobilnya perlahan-lahan. "Kau cukup keras kepala juga, apakah begini taktikmu menggoda para pria." Wajah Nora merah padam karena marah, dia menendang mobil Xaphier kemudian berjalan cepat menghindari pria pengganggu ini. Xaphier terkejut tetapi terkekeh dengan keberanian gadis ini.
"Kau sudah menendang mobil mahalku, jika lecet sedikit saja aku akan datang meminta ganti ruginya Nara." Xaphier tersenyum kemudian melajukan mobilnya dan pergi meninggalkan Nara yang mendelik dari kejauhan kepadanya.
~
Villa di Tulas 09.15
Hari itu Daren selalu menempel kemanapun lexia pergi, kemana dia pergi akan ada daren di sana menemaninya dan mengikuti segala keinginannya. Lexia hari itu ingin berenang agar tubuhnya dapat rileks dengan sentuhan air sambil menikmati pemandangan alam, Daren dengan cepat melepaskan pakaiannya dan mengenakan celana renang, kemudian membantu lexia mengenakan pakaian renangnya.
"Apa aku terlihat jelek mengenakan ini Daren? Perutku terlihat membuncit." Ucapnya.
"Kau cantik sayang apapun yang kau kenakan." Ucap Daren dengan perlahan membawa lexia masuk ke dalam kolam renang dan memegang kedua tangannya. "Bagaimana? Perutmu baik-baik saja?" Ucapnya.
Lexia mengangguk, hari ini lexia ingin menenangkan dirinya dari emosinya yang berlarut-larut, dia sadar jika emosinya tidak terkendali akhir-akhir ini, terkadang dia marah tanpa alasan dan mengunci pintu kamar membiarkan Daren tidur di ruang kerjanya.
"Kenapa Carol menghubungimu Daren?" Tanyanya dengan berdesis. Daren menghembuskan napasnya. "Lexia aku sudah mengatakan kepadamu dia meneleponku karena dia ingin menikah dan mengundang kita berdua ke pestanya." Ucap Daren mencoba kembali bersabar.
"Oh ya, aku lupa." Lexia membelakangi Daren, sengaja membuatnya marah, dia masih jengkel dengan pelukan dan kecupan carol di pipinya waktu itu.
Lexia berenang dengan rileks, beberapa lama kemudian dia sudah ingin beranjak dari kolam renang, Daren yang melihatnya mengikutinya dari belakang memegangnya agar tidak jatuh karena lantainya yang licin.
Pakaian yang dikenakan lexia membuat tubuhnya begitu terekspos, apalagi dengan entengnya lexia melepaskan pakaian renangnya di depan Daren dan berjalan dengan santai masuk ke kamar mandi. Daren berdesis, saat itu juga Daren masuk ke kamar mandi dan membantu lexia mandi, tetapi tubuhnya tidak bisa di bohongi begitupun gairah yang lexia rasakan secara perlahan mereka melepaskan tubuh mereka dari gairah yang di rasakan oleh Daren dan lexia.
Mereka sudah mengenakan bathrobe sehabis mandi dan duduk di tepi kolam renang sambil memakan makanan yang di siapkan oleh pelayan.
"Bagaimana tubuhmu lexia?" Tanyanya.
"Aku tidak bisa hadir di pernikahan Carol, kau saja yang pergi." Ucap lexia. Dia tidak mau hadir dan menemui Carol, dia tidak mau diingatkan mengenai nency yang telah wafat karena waktu itu para penjahat mengira lexia yang keluar dari villanya.
"Kau yakin?" Tanyanya.
Lexia mengangkat bahunya. "Ya aku yakin." Ucap lexia sambil mengunyah makanannya. Daren mengamati lexia, tidak biasanya dia seperti ini, apalagi sekarang, dia akan pergi ke pesta pernikahan Carol.
Siang itu Daren mengenakan tuxedo, sementara lexia berada di perpustakaan sedang membaca, dia tidak mau melihat Daren pergi tanpanya apalagi di sana banyak wanita-wanita yang akan mendekatinya. Tetapi lexia tidak mau bertemu dengan Carol apalagi mengucapkan selamat kepadanya, padahal beberapa hari yang lalu dia mengecup pipi Daren.
Daren mencari-cari lexia, tetapi tidak menemukannya dimanapun, jadi Daren pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa, dia akhirnya melihat lexia dari atas jendela di perpustakaan.
Daren masuk kedalam mobilnya dan menatap lexia dari kaca spionnya, lexia tidak tahu jika dia dilihat oleh Daren yang sedang menatapnya dari jendela kaca perpustakaan.
~
Suasana cukup meriah di pesta itu, Carol mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang begitu terbuka, kali ini dia akan menikah dengan seorang pengusaha kaya yang berasal dari Perancis.
Daren baru saja tiba lalu memarkirkan mobilnya, hari itu dia bertemu dengan Xaphier yang datang seorang diri di pesta itu.
"Kau datang ?" Tanya daren menatap kedatangan Xaphier yang tidak biasanya. Dia melambaikan tangannya ketika melihat daren, dia melepaskan sunglassesnya.
"Aku tamu dari pihak pria, dan kau sendiri?"
"Aku tamu dari pihak wanita." Ucap daren berjalan beriringan dengan Xaphier, pria tampan itu berjalan beriringan tentu saja menjadi perhatian banyak kaum hawa di sana.
"Oh ya, dimana lexia?" Tanya Xaphier. Daren menatap Xaphier penuh arti. "Apakah wanita hamil selalu seperti itu?" Ucap Daren kepada Xaphier, dia menceritakan bagaimana sikap lexia selama ini kepadanya dan selalu marah kepada Daren apapun yang dikerjakannya. Xaphier hanya tertawa mendengarkan semua yang di ceritakan Daren.
Pesta itu berlangsung cukup singkat, Daren pun kembali ke villa tidak begitu lama, Daren segera keluar dari mobilnya dan masuk kembali ke dalam villa, Daren mencari lexia tetapi dia tidak ada di manapun, kemudian dia mencari di dekat pantai dan melihatnya sedang berjalan-jalan sendirian di dekat pantai sambil mengambil kerang-kerang.
Lexia menatap Daren yang berjalan kearahnya, dia berdiri di sana menunggunya mendekat. Daren memeluk lexia yang berdiri di sana. "Kau baik-baik saja?" Tanyanya. Lexia menganggukkan kepalanya. "Ya, aku baik bagaimana pestanya kenapa kau pulang begitu cepat?"
"Kau tidak mau aku pulang cepat?" Ucap Daren memberikan kecupan singkat di bibirnya.
"Bukan begitu, biasanya pesta pernikahan kan cukup lama."
"Aku pulang setelah mereka mengucapkan janji, oh ya aku bertemu Xaphier di sana, dia diundang di pesta itu."
"Oh ya? Emm..buatkan aku makanan yang kau masak." Ucap lexia. Daren tersenyum dan memeluknya erat. "Kau ingin makan apa sayang?"
__ADS_1
"Em coba kupikirkan? Makanan apa saja yang kau buat aku akan memakannya."
"Baiklah, aku juga belum sempat makan sayang " bisiknya.
~
Hari itu Alvin seharian menemani lovelia di mansion. Dia mengajaknya berkeliling mansion dan mengajarinya silsilah dari keturunan keluarga Robert, Alvin selalu tertawa dengan keluguan lovelia yang terlalu penurut dan melakukan semua yang diminta oleh Alvin.
"Paman suka membaca? Di sini banyak sekali buku-buku sejarah." Ucapnya.
Alvin mendekati lovelia, dan membawanya ketempat favoritnya di ruang baca dipenuhi buku-buku menarik mulai dari buku roman, petualangan, misteri dan sejarah, lovelia terkagum-kagum melihat berbagai macam buku yang di pajang di sana, dia sedikit ternganga melihat banyaknya buku-buku di sekitarnya.
"Apa paman yang mengoleksinya sendiri?" Tanyanya. Alvin tersenyum tipis. "Aku bersama-sama temanku mengoleksi buku-buku di sini." Alvin seakan menyembunyikan sesuatu dan tidak menceritakan Semuanya kepada lovelia.
Lovelia membaca salah satu buku dengan serius di dekat jendela, pancaran matahari menyinari wajahnya yang cantik, mata hijaunya bersinar melalui pantulan sinar matahari. Lovelia sangat menyukai jika sinar matahari mengenai tubuhnya, dia begitu menikmatinya karena selama dia sakit dia hanya melihatnya dari balik perban yang selalu menutupi seluruh tubuhnya.
Alvin mencari-carinya lalu menatapnya yang berdiri tidak jauh dari jendela kaca, matanya seakan terhipnotis menatap wajah manis yang sedang membaca buku, dia seperti terpaku menatap lovelia begitu lama.
Lovelia mendapati Alvin sedang menatapnya dia tersenyum dan segera kembali membaca bukunya.
"Aku pasti gila." Gumam Alvin memukul-mukul kepalanya.
~
Hari itu mereka berdua berangkat ke mansion tuan caesaar, Karena permintaan ayahnya agar lexia berkumpul bersama ayah dan kakaknya. Mereka tiba di mansion dan di sambut oleh semua orang yang ada di mansion.
Tuan Caesaar begitu gembira dengan kedatangan putrinya Celia dia memeluknya dan menatapnya lekat-lekat. "Aku seperti melihat Veronica di wajahmu Celia, kau sangat mirip dengan ibumu." Ucap tuan Caesaar, lalu mengecup kening putrinya, semua orang yang ada di sana menatapnya dengan bahagia, para pengawal dan pelayan membungkuk ketika lexia berjalan dan lewat di depan mereka semua.
Para pelayan mengangkat barang-barang milik daren dan lexia dan membawanya ke kamar yang di sediakan untuknya. "Kau ingin istirahat?" Ucap Daren memeluk lexia.
Lexia balas memeluk tubuhnya dan bergelayut manja. "Aku ngantuk daren." Ucap lexia bermanja-manja di pelukan Daren. "Tapi nyanyikan sesuatu untukku, bayi kita ingin mendengar suara daddnya." Ucap lexia sambil menutup mulutnya agar kikikannya tidak di ketahui oleh Daren.
"Kau ingin aku menyanyi?" Ucap Daren tidak percaya dengan yang di dengarnya. Lexia menyembunyikan tawanya di kemeja daren.dia berpura-pura mengaduh kalau perutnya sakit. Daren membawanya ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sana sambil bersenandung kecil lalu mengusap perut lexia yang sudah begitu besar.
"Mm, bukan senandung Daren, aku mau kau menyanyi untukku, aku akan ngantuk kalau mendengarkan suara nayanyianmu, Hem." Ucap lexia menutup matanya menunggu Daren menyanyi.
Daren mulai menyanyi lalu mengelus perut lexia, suara Daren cukup bagus untuk di dengarkan, lexia menutup matanya sambil sesekali menahan tawanya.
"Kau tertawa lexia?" Tanyanya. Lexia menggelengkan kepalanya dengan mata tertutup, Daren kembali melanjutkan nyanyiannya, membuat lexia tidak bisa lagi menahan tawanya, dia tertawa terbahak-bahak. "Kau menertawakanku sayang?" Ucap Daren tersenyum, dia sangat suka dengan tawa lexia saat ini, karena beberapa hari ini lexia selalu cemberut dan jarang tertawa, Daren akan melakukan apa saja agar lexia tertawa bahagia seperti itu di depannya.
~
Hari itu tuan Robert bertemu dengan tuan caesaar di salah satu restaurant terkenal di Oklahoma, mereka yang bertahun-tahun bermusuhan karena salah paham yang terjadi di antara mereka kini telah terselesaikan.
"Bagaimana kabar putrimu? kudengar dia sebentar lagi akan melahirkan." Ucap tuan Robert.
"Ya, Sebentar lagi kami akan menyambut Anggota baru keturunan Caesaar, oh ya bagaimana dengan cucumu? Dia sudah kembali sehat?" Tanyanya.
"Ya, dia sudah sehat, Oh ya lovelia itu seumuran dengan lexia."
"Oh ya benarkah? Bagaimana jika lain kali kita berkumpul dan makan malam bersama." Ucap tuan Caesaar.
"Ide yang bagus." Ucapnya.
Mereka kembali bersama dan bercerita sampai lupa waktu, setelah masalah itu terselesaikan, pertemanan mereka akhirnya kembali.
~
Malam itu mereka semua berkumpul di meja makan yang begitu besar dengan orang-orang baru yang ditemui oleh lexia. Mereka menatap lexia seakan lexia memiliki satu penyakit aneh, Karena sepengetahuan mereka Celia sudah wafat 16 tahun yang lalu dan tiba-tiba duduk seorang gadis yang begitu mirip dengan Veronica. Tentu saja mereka tercengang.
"Sebelum kita makan malam, kalian harus mengetahui bahwa putriku Celia sudah hadir di tengah-tengah kami, dia kembali kepada keluarga caesaar meskipun dia lama menghilang."
Semua orang yang mendengar pidato tuan caesaar Melihat ke arah di mana lexia duduk, salah satu wanita dengan dress serba hitam, usianya kira-kira pertengahan 40 memandang angkuh ke arah lexia.
"Dan kenapa dia hamil di usianya yang masih sangat muda?" Tanyanya. Lexia lalu menjawab pertanyaan wanita itu tanpa ragu sedikitpun.
"Mungkin karena aku menikah, jadi aku bisa saja hamil kan?" Ucap lexia menatapnya dengan pandangan sama yang angkuh, wanita itu mendelik melihat tingkah lexia yang kurang ajar padanya. Lexia yang akhir-akhir ini selalu emosi dan tidak bisa ditentang membuat emosinya naik ke permukaan.
Daren menggenggam tangannya, menahannya untuk bicara lagi. Tuan caesaar terkekeh, dia tidak marah sedikitpun melihat sikap lexia.
"Jangan cari masalah Melda, dia bukan Veronica yang selalu mendengarkan nasehat-nasehat anehmu." Ucap tuan Caesaar.
"Dia adalah putriku Celia, dan dia pun punya pemikiran sendiri kau tidak bisa mengaturnya seperti ketika kau mengatur-atur Veronica.
"Ck benarkah? kita akan lihat kan Seberapa hebatnya putrimu itu?"
Lexia mengangkat bahunya seperti tidak mendengarkan semua kata-kata yang diucapkan oleh bibi itu, dia hanya menyandarkan kepalanya di bahu daren, sambil mendelik menatap bibi dengan full make up itu. 'Mengapa bini seperti ini selalu muncul di mana-mana Daren?' bisiknya kepada Daren dengan terang-terangan.
__ADS_1