
Mansion Caesaar 03.10
Hanna membuka matanya di dalam kamar gelap, dia berkedip beberapa kali mencoba menyesuaikan penglihatan matanya dari gelapnya ruangan di kamarnya, terdengar suara dari napas Dazon yang sedang tidur terdengar mengalun normal, dengan sangat perlahan Hanna mengangkat tangan Dazon dari pinggangnya. Dia bergerak dengan sangat perlahan, dia mengambil kimono tidurnya yang tersampir di atas sofa, setelah mengenakannya, Hanna menyelinap dari kamarnya, dia menatap Dazon sebentar, lalu dengan perlahan membuka pintu kamarnya lalu menutupnya.
Dia berjalan perlahan ke kamar putranya Darko dengan berjinjit, agar tidak ada seorang yang mendengar langkah kakinya. Setelah Hanna masuk ke kamar putranya, dia tidak menyalakan lampu kamar Darko, dengan cepat, Hanna mengganti pakaiannya yang telah dia siapkan sejak tadi siang di kamar putranya, semua kebutuhan yang dia perlukan untuk lari dari mansion ini, Hanna mengenakan Hoddy dan jaket serta jeans agar dia lebih mudah bergerak, seluruh barang-barangya sudah dia siapkan, sejumlah uang, Passport serta akun bank yang telah sengaja dibuatnya tanpa sepengatahuan Dazon, sehingga dia tidak akan mudah untuk di lacak.
Baju-baju Darko pun telah siap di tas ransel yang tidak begitu besar, tidak begitu banyak yang dia bawa, hanya seperlunya saja, karena jika Hanna membawa barang-barang berat, nanti akan menyusahkan pelariannya.
"Darko sayang? Darko ayo bangun, kita akan pergi sekarang." Bisik Hanna perlahan.
Darko lalu membuka kedua matanya dan menguceknya, "Ehhmm Mommy? Kita akan pergi berpetualang sekarang? tapi darko masih ngantuk Mommy." ucap Darko.
"Ya sayang, kita akan berpetualang sekarang, jadi bangunlah, nanti Darko bisa tidur, ketika kita tiba mobil." Hanna segera mendudukkan putranya dan mengambil jaket lalu mengenakannya untuk Darko. Sebelum Darko tidur, Hanna telah mengganti pakaian putranya, agar ketika dia bangun, dia akan langsung mengenakan jaketnya.
"Kemarilah sayang, kita pergi sekarang." Bisik Hanna.
Hanna memprediksikan Dazon tidak akan bangun sampai besok pagi, karena sebelum tidur, dia sengaja membuat Dazon mabuk dan tertidur lelap.
Dengan hati-hati Hanna melangkah, ruangan di setiap sudut mansion sungguh gelap, hanya satu lampu di tengah-tengah ruangan yang cukup menerangi ruangan itu, berpendar dan mengeluarkan cahaya keemasan.
Dia menggendong Darko menuruni tangga dan melangkah dengan perlahan. Setelah tiba di ruang tengah, dia masuk lebih dalam lagi dekat pintu belakang, akses mudah untuk keluar masuk, apalagi cctv di dapur sedang tidak berfungsi karena Hanna sengaja merusaknya.
Dia kini berada di dapur, dan memegang gagang pintu belakang, terdengar langkah kaki seseorang menuju dapur.
Hanna cepat-cepat bersembunyi di belakang lemari yang cukup besar, pada jam seperti ini kepala pelayan biasanya memeriksa dengan detail setiap ruangan, untung saja kepala pelayan itu hanya mengecek sebentar keadaan dapur dan tidak menyalakan lampunya, Hanna menghembuskan napasnya lega, setelah kepala pelayan itu pergi, Hanna membuka pintu belakang, untungnya dia sudah menyembunyikan kunci cadangan sejak kemarin. Dengan langkah perlahan Hanna menggendong Darko menuju ke arah taman.
Udara malam berhembus begitu dingin, Hanna memeluk Darko dengan erat agar putranya tidak merasakan dingin yang menggigil. Dia menuju ke taman, di mana pohon-pohon pinus berbaris rapi dan tempat paling aman untuk keluar dari mansion yang luas itu.
"Mommy, gelap." Ucap Darko. Segalanya menjadi gelap ketika mereka memasuki taman pohon pinus, layaknya hutan buatan yang di penuhi kabut dan terlihat mengerikan.
"Jangan takut sayang, mommy ada di sini." Bisik Hanna, dia melangkah lebih cepat menuju jalan keluar yang sudah di persiapkannya. Sejak mendengar kejadian tentang dua orang pencuri memasuki mansion, hanna mendengar mereka masuk lewat taman pohon pinus, Hanna akhirnya mencari tahu dan menemukan lubang di dalam semak belukar, tempat itu adalah jalan keluar dari mansion ini, Hanna sudah memeriksanya kemarin siang, dia menemukan lubang menganga yang belum di temukan oleh para pengawal, dia sengaja menambah dedaunan dan ranting-ranting cukup besar untuk menutupi jalan keluar itu.
Semuanya telah Hanna persiapkan dengan matang, bahkan mobil yang sengaja dia beli sudah terparkir di sana, di luar mansion.
Suara napas Hanna terdengar memburu, dia tetap berjalan dengan cepat tanpa mengenakan senter atau flashlight agar menjadi penerang, karena para pengawal akan mudah melihat cahaya dari kejauhan, dan dia tidak boleh ketahuan.
"Mommy?" Ucap Darko.
"Ada apa sayang?" Hanna menatap putranya seakan putranya melihat sesuatu di belakangnya.
"Paman itu mengikuti kita, paman menakutkan dan berjenggot itu ada di belakang mommy." Ucapnya.
Hanna sangat terkejut, dia mengambil pistol dari saku jaketnya dan mengarahkan tepat ke depan seorang pria yang mengikutinya.
"Siapa kau, apa kau seorang pengawal?" Ucap Hanna dia mundur beberapa langkah, wajah pria itu tidak nampak sama sekali, dia mengenakan mantel yang menutupi bagian kepalanya.
"Katakan, aku tidak akan segan-segan menembakmu jika kau tidak menjawab pertanyaanku."
Tangan Hanna bergetar hebat dan ketakutannya meningkat, tetapi semua itu ditutupi dengan keberanian Hanna untuk melindungi putranya, dia bediri tegak, senjata masih terarah kepada sosok di hadapannya yang terus melangkah.
"Kau mau kemana Hanna, kenapa kau meninggalkan mansion bersama Darko."
__ADS_1
Suara itu sangat Hanna kenal, suara bisikan parau dan terdengar mengerikan, Hanna menurunkan pistolnya dan melihat pria itu di bawah sinar bulan sehingga tampak wajahnya yang setengah tertutupi oleh tudungnya.
"Riel?" Bisik Hanna, dia begitu terkejut.
"Kau, kak Riel?" Ucapnya tidak percaya.
"Aku sudah mengatakan kepadamu, aku akan melindungimu dan Darko, meskipun kau tidak tahu keberadaanku, aku pasti akan melindungi kalian."
Hanna ingin sekali berlari dan memeluk kakaknya, tetapi ketika Hanna maju selangkah, Riel tiba-tiba mundur beberapa langkah.
"Jangan mendekat Hanna, aku masih berbahaya, sebaiknya kita menjaga jarak." Ucapnya menyesal.
Hanna mengangguk, tetapi tetap berjalan mendekat kepada Riel, dia tidak menyangka kakaknya ternyata masih hidup dan selama ini mengawasi dirinya dan Darko.
"Aku sangat merindukanmu Riel, aku pikir kau sudah pergi untuk selamanya." Ucap Hanna sambil terisak.
"Maafkan aku, terpaksa aku harus menghilang darimu Hanna, aku harus menjauh dari orang-orang, dan hidup menyendiri, kau tahu bagaimana mengerikannya diriku jika penyakit itu menyerang tubuhku lagi." Ucap Riel.
Hanna tiba-tiba memeluk Darko dengan erat dan tidak bisa membayangkan akan nasib putranya jika dia berakhir menyedihkan seperti Riel, dia hidup dan bernapas tetapi dia terlihat seakan dia telah mati, dan semua orang menginginkan kematiannya.
"Kenapa kau ingin pergi Hanna."
"Aku tidak bisa lagi tinggal di mansion ini, Riel." Ucap Hanna sambil menggelengkan kepalanya.
"Mereka ingin membawa Darko dariku, mereka ingin menjauhkan Darko dariku dan membawanya entah kemana, tanda-tanda penyakit itu telah muncul di tubuh Darko, dia telah menyerang beberapa orang, aku takut mereka akan memperlakukan Darko seakan dia seorang pembunuh, jadi lebih baik aku membawanya dan aku akan merawat dan membesarkan anakku sendiri tanpa bantuan keluarga ini." Ucap Hanna dengan suara marah.
"Apapun yang kau lakukan, aku akan selalu mendukungmu Hanna, Darko tidak boleh di kucilkan apalagi di kekang dan orang-orang memperlihatkan kebencian atau ketakutannya di depannya, dia pasti akan sangat sedih dan kecewa hal itu bisa memicu kadar racun dalam tubuhnya." Ucap Riel.
"Kalau begitu pergilah sebelum mereka menyadari kau telah menghilang dari mansion, tekan nomor ini jika kau ingin menemuiku." Ucap Riel.
"Jaga baik-baik Darko." Balasnya. Hanna menganggukkan kepalanya, dia segera melepaskan pelukannya dan kembali berjalan dengan sangat cepat menuju semak belular. Darko telah tidur lelap di pelukan ibunya, dia menyandarkan kepalanya di bahu ibunya.
Hanna telah tiba di semak-semak itu, dia membangunkan Darko dari tidur lelapnya, agar dia bisa menyingkirkan ranting-ranting dan dedaunan liar yang menutupi jalan keluarnya.
"Darko, darko bangun sayang, bangun."
"Emmh mommy, Darko ngantuk." Ucapnya sambil mengucek matanya.
"Tahan sebentar sayang, setelah kita keluar dari sini, kau bisa melanjutkan tidurmu lagi di dalam mobil." Hanna menurunkan Darko dan segera melihat lubang menganga yang tembus ke jalan, di luar mansion.
"Kemarilah sayang, ikuti mommy." Hanna merangkak dan mengikuti kemana lorong kecil itu membawanya, Darko berada di samping ibunya juga ikut merangkak, mengikuti apa yang dilakukannya.
Di ujung lorong terdapat banyak dedaunan yang menutupi jalan keluar itu, Hanna cepat-cepat menyingkirkannya dan segera keluar dari sana sambil memegang putranya. Mereka berhasil keluar, Hanna berjalan cepat dan melihat mobil hitam SUV sudah terparkir di sana.
Dia membuka pintu mobilnya dan segera mengangkat Darko dan mendudukkannya, lalu memasangkan seatbelt di tubuh Darko. Semua barang-barang yang di bawanya dia lempar begitu saja di samping kemudi dan segera saja Hanna sudah masuk ke dalam mobil.
04.15
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, untung saja tidak banyak kendaraan berlalu lalang ketika menjelang fajar, Hanna masih melaju dengan kecepatan tinggi hingga dia sudah melewati beberapa kota, Hanna akan membawa Darko jauh dari pusat kota, jauh dari pengawal-pengawal Dazon yang pastinya akan mencarinya di setiap sudut kota ini, ketika mereka sudah tahu pelariannya bersama Darko.
"Kita akan pergi ke Desa tempat dimana nenekmu di lahirkan Darko, East Rosewell." Ucap Hanna.
__ADS_1
Desa itu jauh dari kota, tempat ibu asuh Hanna yang mengadopsinya, mereka pernah membawa Hanna ketika masih kecil ke desa itu, di tempat itu ada sebuah villa kecil yang merupakan milik Keluarga Tan, tepatnya milik ibunya. Dia sengaja membuat villa di sana karena desa itu tempat kelahirannya dan desa itu sangat tenang dan jauh dari kota. Ibu Hanna mewariskan villa itu kepadanya, villa kecil yang mungkin sudah tidak terawat lagi dan tempatnya sungguh terpencil. Tidak akan ada yang tahu lokasinya, dia bahkan tidak pernah memberitahu lokasi itu kepada siapapun, bahkan kepada Dazon sekalipun.
~
07.15 pagi hari di mansion
Dazon perlahan membuka kedua matanya, tiba-tiba kepalanya terasa pusing, dia memegang kepalanya dan mencoba menyadarkan dirinya dari pusingnya, dan dari silaunya matahari.
Tangannya menggapai-gapai di sampingnya, dia berbalik dan melihat tempat tidur Hanna telah kosong.
"Hanna, bawakan aku air, Ugh kepalaku sangat pusing, aku tidak mengerti, kenapa kau memberikan botol wine itu kepadaku semalam, dan menghabiskannya begitu saja." Ucap Dazon sambil menahan pusing di kepalanya dan segera bangun dari tidurnya.
"Hanna? Sayang?" Ucap dazon, dia menatap ruangan kamarnya, tidak ada tanda bahwa Hanna berada di dalam kamar, atau suara percikan air dari dalam kamar mandi. Dazon akhirnya bangun dan berjalan perlahan menuju ke kamar mandi lalu mulai membersihkan tubuhnya agar segar kembali dan pusing di kepalanya segera menghilang.
Setelah beberapa lama di kamar mandi, Dazon masih mengenakan handuk di pinggulnya lalu mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
"Ck, akhirnya sakit di kepalaku berhenti juga." Ucap Dazon, matanya melirik ke kanan lalu menatap jam di atas meja. "Sudah jam segini, kenapa Hanna tidak membangunkanku?" Dia tidak mencurigai apapun, karena sehari-hari Hanna akan bangun pagi sekali dan langsung menuju ke kamar putranya, dia akan menemani putranya sampai waktu sarapan pagi tiba.
Dazon melempar handuk kecil itu di atas sofa, dia membuka pintu ruangan pakaiannya, dan mencoba mengambil kemeja dan jasnya, tiba-tiba dia menghentikan kegiatannya, dia lalu berbalik dan menatap ruangan itu, biasanya Hanna telah menyiapkan pakaiannya dengan lengkap, sampai ke sepatu yang akan di kenakannya dan tergantung rapi di sana, tetapi anehnya tidak ada apapun yang di persiapkan oleh Hanna seperti biasanya.
Matanya melirik dan melihat pakaian milik Hanna, sama sekali tidak ada yang aneh, pakaian Hanna masih lengkap, tas dan sepatu di dalam kaca juga masih utuh, tiba-tiba saja perasaan Dazon terasa aneh, seakan keberadaan Hanna tidak dapat dia rasakan, dia berjalan begitu saja dan membuka brangkas milik Hanna, dia membukanya dan dia sangat terkejut, passport dan sejumlah uang penyimpanan Hanna yang sengaja Dazon sediakan untuknya berkurang begitu banyak, hampir semuanya telah di ambil.
Dazon berjalan cepat menuju lemari Hanna, dia membukanya lebar-lebar, semua dokument penting milik Hanna juga sudah tidak ada di tempat yang dia sediakan.
Jantung Dazon berdegub kencang, dia melangkah lebar-lebar keluar dari ruangannya, dia hanya mengenakan kemeja putih dan celana front pants yang biasa dia kenakan untuk bekerja. Dazon membuka pintu kamarnya dan menuju kamar Darko.
"Hanna, kau di kamar Darko? Hanna?" Ucap Dazon dengan suara keras. Pintu kamar putranya terbuka lebar, dia membuka lemari pakaian putranya, beberapa helai baju-bajunya tidak ada, matanya lalu mengelilingi ruangan itu dan menatap kimono tidur Hanna tergeletak begitu saja di atas lantai kamar Darko.
"Hanna, Hanna, kau dimana." Dazon berlari dan turun ke lantai satu sambil berteriak keras.
"Thomas, Paulo, Kalian di mana." Semua pelayan yang mendengar teriakan Dazon begitu terkejut, mereka berhenti mengerjakan tugasnya dan berdiri mematung menatap wajah murka Dazon. Langkah sepatu terdengar, Thomas dan Paulo segera menghadap kepada Dazon.
"Periksa semua cctv di mansion ini, cari keberadaan Hanna dan putraku, dia ada dimana." Bentak Dazon, sebelum kedua pengawal setia itu bergerak, Loue sudah berlari, wajahnya tampak pucat.
"Tuan Dazon, anda harus lihat ini." Mereka semua pergi ke ruang monitor di mana semua sistem di jalankan di mansion itu.
"Jam 03.14 menit, Nyonya Hanna tertangkap di monitor nomor 6 di ruang tengah, dan coba perhatikan monitor nomor 8 tuan, nyonya Hanna membawa tuan Darko menuju taman." Ucap loue.
Dazon menatap video itu dengan wajahnya yang tiba-tiba menjadi pucat, dia melihat tas ransel dan tas tangan berada di tubuh Hanna, dia terlihat berjalan cepat menuju ke arah taman.
Tanpa mengucapkan apapun, Darko langsung beranjak dari sana, dia berlari kencang menuju ke arah taman pohon pinus, matanya mengelilingi setiap sudut, hanya angin berdesir yang di rasakannya, tubuhnya terasa dingin membeku, dia keluar tanpa mengenakan jaket tebal, hanya mengenakan kemeja tipis di tubuhnya.
"HANNA, HANNAAA." Dazon berteriak keras, para pengawal mulai bergerak mencari Hanna dan Darko di setiap sudut taman yang luas itu, tetapi tidak ada jejak sama sekali.
"Tuan, lewat sini, anda harus lihat ini, sepertinya nyonya Hanna dan tuan Darko melewati lubang kecil ini agar bisa keluar dari mansion." Ucap Paulo.
Diujung taman itu terdapat lubang kecil, tapi cukup untuk di lewati oleh orang dewasa, di tutupi dengan semak belukar dan ranting-ranting patah, serta dedaunan liar yang tumbuh subur sampai menutupi lubang yang merupakan akses masuk ke mansion itu. Wajah Dazon bertambah pucat.
"Apa maksudmu dia melewati lorong sempit itu? kau ingin bilang Istriku telah melarikan diri dari mansion dan melarikan diri dariku?"
Mereka semua terdiam, tidak ada penjelasan lain selain nyonya Hanna telah melarikan diri, bukti bahwa dia membawa tuan Darko telah terekam jelas di cctv, suara desiran pohon di dalam taman itu terdengar mengerikan, apalagi bercampur dengan napas Dazon yang keras dan memburu menahan amarahnya.
__ADS_1
"Kerahkan semua pengawal ke setiap sudut kota Atlanta untuk mencari mereka, dalam waktu 24 jam, Istri dan putraku sudah harus ada di hadapanku, kalian mengerti."
"Baik tuan." Para pengawal berucap serempak.