
Mansion Caesaar satu hari menjelang kepergian Darko.
Hanna tak henti-hentinya memeluk Darko, dia tidak bisa merelakan kepergian putranya seperti ini, hal terkonyol yang menjadi permintaan putranya ini. Hanna memegang kedua bahu Darko, berbicara kepadanya dengan serius, dan memintanya untuk jujur kepadanya.
"Darko, katakan kepada mommy, apakah kau betul-betul ingin berpisah dengan mommy? Kau tidak sungguh-sungguh kan sayang?" Darko menatap ibunya dengan wajah kecilnya yang terlihat serius.
"No mommy, Darko bersungguh-sungguh mommy, bukankah Prof itu mengatakan kepada Mommy kalau di eropa ada pengobatan yang lebih efektif di bandingkan di negara ini? Mommy mau melihat Dakro sembuh dengan cepat bukan?" Ucap Darko.
"T-tentu saja mommy ingin Darko sembuh, tetapi kenapa Darko harus berpisah dengan mommy? Kau tidak ingin mommy ikut denganmu ke Eropa? Kau tidak ingin sayang?" Ucap Hanna membujuknya sekali lagi.
Darko menghembuskan napasnya seakan dia adalah orang dewasanya dan ibunya adalah anak kecil yang sedang merengek, "Mommy, di sana ada grandma dan grandpa, mereka akan menjagaku dengan baik, lagi pula kapan saja mommy bisa menjengukku bersama Daddy." Ucap Darko menyakinkan ibunya.
Hanna kembali memeluk putranya, "baiklah sayang, jika kau ingin bersama Grandma dan Grandpa, Mommy dan daddy akan sering menjengukmu, kapanpun itu, apalagi jika merindukan kami, kapanpun kau bisa menelepon, dan Mommy akan segera menyusul ke London, kau mengerti sayang." Ucap Hanna sambil memeluk putranya.
Setelah perpisahan yang menguras banyak air mata, akhirnya Darko ikut bersama mereka berempat ke Eropa, Hanna dan Dazon mengantar sampai ke bandara, saat mereka akan berangkat, Hanna berlari dan kembali memeluk putranya, mereka akhirnya pergi, sekilas Darko berbalik dan melambaikan tangannya kepada ayah dan ibunya.
"Sampai jumpa mom, Dad." Ucap Darko sambil melambaikan tangannya kepada ayah dan ibunya.
"Apakah baik-baik saja mengirim Darko bersama Ayah dan ibu, aku sangat khawatir." Ucap Hanna.
"Sayang, ada Bibi Lexia dan ayah di sana, dia bisa mengatasi dan menjaga Darko, kita harus percaya kepadanya. Hanna menganggukkan kepalanya, menyerahkan putranya kepada para Grandma dan Grandpanya.
Sebulan setelah keberangkatan Darko ke london, Hanna dan Dazon berkunjung ke laboratorium milik Professor Vandash, mereka ingin bertemu dengan Riel, sudah lama Hanna ingin bertemu dengan kakaknya dan dia merindukannya.
"Selamat siang Tuan dan Nyonya Caesaar, silahkan masuk." Ucap Prof itu lalu mempersilahkannya duduk.
"Saya tidak menyangka akan mendapat kunjungan dari tuan dan Nyonya, Oh ya beberapa hari yang lalu, Prof Ernest meneleponku dan memberitahukan perkembangan pesat Darko, sepertinya putra anda bisa mengatasi penyakitnya, selama pemeriksaan rutin, tidak ada gejala yang aneh."
"Kami sangat berayukur mendengarnya Prof, Darko pergi ke london merupakan hal yang tepat." Ucap Dazon.
Hanna menatap ruangan Prof Vandash seakan mencari seseorang. "Apakah anda mencari Riel" Tanyanya, ketika melihat Hanna seperti memperhatikan sekelilingnya.
"Ya, saya mencari Riel, sudah begitu lama saya tidak melihat kakak saya, Prof."
Prof Vandash terdiam sejenak, "Jadi anda belum mendengar kabar tentangnya?" Ucapnya cukup terkejut.
"Apa sesuatu terjadi dengan Riel?" Tanya Dazon.
"Sebelum kepergian Darko ke London, Riel menyerahkan dirinya, saat ini dia telah ada di penjara pusat di New york." Ucapnya. Hanna dan Dazon begitu terkejut.
"A-apa yang terjadi, kenapa dia tidak mengatakan sesuatu padaku?" Ucap Hanna dengan sedih.
"Dia mengatakan ini jalan terbaik yang seharusnya sudah lama di lakukannya, sudah sejak dulu dia ingin menyerahkan dirinya, tetapi banyak masalah yang menghalanginya, jadi sekarang ini waktu yang tepat untuk menyerahkan dirinya." Mendengar kabar itu, Hanna sangat sedih, tetapi itu adalah keinginan dan keputusan Riel.
~
__ADS_1
Dia di tempatkan di penjara pusat, pria itu mengenakan pakaian seragam berwarna abu-abu, dia seorang diri duduk di dalam kegelapan sambil melihat dari jendela jeruji, cahaya bulan yang masuk menerangi sisi gelap ruangan kecilnya. Hari itu dia mengingatnya, kaki kecilnya melangkah dan berdiri tepat di hadapannya ketika ibu dan ayahnya sedang sibuk berbicara dengan Prof Vandash.
Dia berdiri di sana sambil tersenyum kepadanya. "Apakah paman Riel tidak bosan?" tanyanya.
"Bosan? kenapa paman bosan, Darko?"
"Hidup seperti itu." Ucap Darko.
Mata Riel melebar, dia tidak menyangka anak sekecil itu mengatakan hal yang membuat jantung Riel berdebar kencang.
"Hidup seperti itu?" Ucap Riel.
"Ya, hidup dalam pelarian, Darko akan berangkat ke eropa, bukankah paman juga seharusnya pergi ke tempat yang tepat?" Ucap Darko sambil tersenyum.
"Tempat yang tepat?"
Darko bersenandung lalu terdiam sejenak, "Semua itu keputusan paman Riel, selamat tinggal paman Riel, suatu hari kita akan bertemu kembali."
Saat itu Riel menyadari maksud perkataan Darko, dia memang benar, sudah saatnya dia menyerahkan dirinya dan menerima hukuman atas segala kesalahannya, entah hidupnya akan bagaimana kedepannya, tidak ada masa depan untuknya, vonis hukumannya sudah pasti, dan dia sudah pasrah akan nasibnya.
~
~
Pertama kali tiba di London
"Ermm, di mana?" Tanyanya.
"Kita sekarang berada di mansion london, mulai sekarang kita semua akan tinggal bersama, dan kau akan mulai belajar di negara ini.
"Oky Grandma, Ermm Grandma aku lapar, aku ingin makan." Ucap Darko. Nara membelai rambut cucunya dan mengecupnya.
"Tunggu sebentar sayang, grandma akan membawakanmu."
"Okey Grandma." Ucap Darko.
Pintu tertutup, Darko duduk seorang diri di kamarnya, senandung terdengar dari bibirnya, matanya menerawangi kamar itu, dia lalu turun dari tempat tidur dan segera keluar dari kamar.
Mansion itu sangat besar di bandingkan yang ada di Atlanta ataupun di Oklahoma, layaknya seperti kastil kerajaan, semua hal baru yang di saksikan Darko membuat dirinya sangat tertarik, dia mengeksplor tempat itu dan berjalan-jalan seorang diri di mansion yang gelap.
"Ini layak, setidaknya aku tidak akan melihat professor itu lagi, dan paman Riel." Gumam Darko sambil bersenandung.
Darko berlari mengelilingi mansion sesukanya tanpa ada lagi yang mengawasinya, tetapi semua itu hanya ada dalam pikirannya, ketika dia berlari dan ingin bersembunyi, Lexia telah berdiri di hadapannya sambil menyilangkan kedua tangannya. Dia kemudian tersenyum miring kepada Darko yang terkejut dengan kemunculan Lexia.
"Waktunya makan malam sayang, setelah itu Darko akan tidur bukan?" Ucap Lexia.
__ADS_1
"Key Grandma." Ucap Darko dengan wajah kecewa, dia berjalan bersama dengan Lexia menuju ruang makan.
Mereka semua duduk di meja makan, Xaphier dan Nara serta Daren dan Lexia, tanpa putra dan putri mereka.
"Darko, mulai minggu depan kau akan mulai belajar, semua yang dibutuhkan untuk menjadi penerus keluarga Caesaar, jadi mulai sekarang Darko akan memiliki kelas belajar, selain itu kita akan berkunjung ke Prof Ernest untuk melakukan pemeriksaan rutin, banyak hal yang bisa kita lakukan di sini sayang." Ucap Lexia sambil ikut bersenandung, dia mengambilkan sepotong daging dan menaruhnya di atas piring Darko.
"Yeah, Grandma and Grandpa." Ucapnya dengan suara yang lesu.
Sepertinya kali ini pilihanku datang ke eropa benar-benar sebuah kesalahan. Mereka berempat lebih ketat mengawasiku dari pada Mommy dan Daddy.
•••••
London, 14 tahun kemudian.
"Setidaknya kita bisa meloloskan diri dari orang-orang Caesaar, aku tidak mau berhadapan dengan mereka lagi, kita semua bisa hancur, hanya beberapa orang saja yang tersisa, sialan!"
"Bastard killer itu, betul-betul tidak menyisakan satupun dari kelompok Chrounus."
"Berhenti bicara, kita melarikan diri saja dari negara ini." Ucap pria yang berjongkok di sampingnya.
Mereka berempat berlari dan hendak naik ke dalam mobil sport yang berada di ujung jalan. "Ayo nyalakan, apa yang kau lakukan." Teriak pria itu, tetapi sayang sekali, mereka semua terlambat, sekitar 3 mobil mewah berwarna hitam telah memblokir kendaraan mereka sehingga mereka berempat terperangkap dalam mobil dan tidak bisa kemana-mana.
Pria-pria berpakaian hitam, lengkap dengan senjata keluar dari mobilnya, salah seorang pria mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
"Tuan, kami menunggu perintah dari anda."
Sebuah smirk terlihat di wajahnya, dia menatap mereka dari kejauhan, limousine hitam sedang terparkir di sudut gank kecil yang gelap.
"Habisi mereka semua." Perintahnya.
"Baik tuan."
Malam itu suara senjata api terdengar di malam yang gelap, kala itu musim dingin segera telah tiba, tetapi tampaknya tidak membuat pria yang berada di dalam mobil merasa terganggu, dia sedang asyik mengisap cerutunya, tembakan mengalun di udara, terdengar seperti sebuah senandung indah baginya, suara senandung pelan terdengar di dalam mobil mewah itu, ponsel kembali berbunyi.
"Tuan, semua sudah selesai, kelompok Chrounus tidak ada lagi yang tersisa." Ucap pengawal itu.
"Tch, membosankan, secepat itu? Seperti biasa berikan peringatan kepada kelompok lainnya, Chrounus sudah berada di bawah kaki kelompok Caesaar."
"Baik tuan."
Matanya yang tajam terlihat kemerahan, dia menatap kaca spion sambil menyandarkan satu tangannya di kepalanya.
"Jalan."
"B-baik tuan."
__ADS_1
Senandung itu terus terdengar dari dalam mobil, dia menatap suasana malam ketika memasuki bulan Desember, dia tersenyum lalu memandang jalanan malam yang lengang.
"Sudah cukup lama aku tidak mengunjungi Mom dan dad." Gumamnya.