
Mansion itu terlihat megah dan luas, siapa saja yang memandangnya akan berdecak kagum, dikelilingi dengan pohon-pohon Pinus dilengkapi dengan berbagai macam bunga liar yang tumbuh di sekitar tembok besar mansion itu, bunga pale Indian plantain tersebar di tanah didekat bebatuan sepanjang jalan, lovelia sangat senang memandangi bunga pale sejenis bunga matahari ini, meskipun terlihat liar dan warnanya tidak secantik bunga matahari, namun bunga itu begitu kuat dan selalu hidup meskipun terinjak.
Gadis itu berdiri di jendela paling atas dilantai 7 dengan penerangan yang terang serta dinding yang di cat putih bersih serta harus steril dan tidak boleh ada sedikitpun kotoran di dalam ruangan itu, gadis yang menyukai bunga itu hanya mampu menatap bunga dari luar jendela tanpa menyentuhnya. Lovelia berbalik dan melangkahkan kakinya tatkala mendengar bisik-bisik pelayan di koridor ketika mereka telah selesai mengantarkan makanan untuk lovelia.
"Aku mendengarnya sendiri, kau lihat nyonya Barbara sampai hampir pingsan mendengar berita itu, beruntung sekali gadis itu menikah dengan tuan Daren yang keren dan tampan."
Suara-suara itu berbisik, meskipun begitu lovelia masih bisa mendengarkan dengan jelas karena gema suara mereka terpantul.
"Kemarin pagi tuan Daren datang dan kau tahu apa yang dikatakannya? Seluruh pelayan di sini membicarakannya, katanya dia sudah menikahi gadis bernama lexia, yang dulu tinggal di sini."
Mereka menutup mulutnya tetapi bisik-bisik itu masih bisa terdengar dari kejauhan.
Lovelia mengerenyitkan alisnya. "Lexia? Aku tahu gadis bermata safir itu, aku pernah sekali bertemu dengannya, jadi..paman telah menikah dengan gadis itu, Sepertinya dia seumuran denganku." Ucap lovelia.
"Jika sekarang aku bertanya kepada mom, dia pasti naik darah, Mommy orangnya tidak sesederhana itu menerima seorang wanita yang akan menjadi istri paman, tetapi apapun pilihan paman selama dia menyukainya tentu saja aku mendukungnya, meskipun mommy menentangnya." Lovelia berjalan ke arah meja dan mengambil buku roman pemberian Alvin.
"Apakah jika aku sudah sembuh, aku juga bisa menikah seperti gadis itu? Dan menemukan orang yang mencintaiku? Matanya tertuju pada Novel yang dipeluknya erat-erat. "Aku berjanji akan segera sembuh dan selalu bersemangat menjalani hidupku." Bisik lovelia dan mencium wangi buku yang ada di pelukannya.
~
Lexia menggenggam jari-jari panjang yang memeluk pinggangnya, lalu merasakan tubuhnya menjadi hangat dan berat, dia membuka kedua matanya dan menyadari napas teratur meniup-niup tengkuknya.
'Daren? Dia sudah kembali? Sejak kapan?' gumam lexia.
"Sayang kau tidur?" Tanyanya.
Lexia dengan bodohnya menganggukkan kepalanya, Daren lalu tersenyum.
"Jadi, kau sedang tidur?" Godanya. Dia menarik ikatan pada baju tidur lexia perlahan-lahan dan menyusupkan tangannya ke tempat favoritnya.
Lexia masih membelakangi daren, kecupan daren di tengkuk lexia membuat dia berbalik, dan menghindari ciuman daren. Mereka saling menatap.
"Aku merindukanmu lexia." Bisik daren mencoba membujuk lexia, tangannya sudah menggoda di sana, dia memeluknya dengan erat.
"Kau tidak lelah?" Erangan kecil keluar dari mulutnya.
"Tidak, jika bersamamu aku sama sekali tidak lelah." Dia menarik lexia lebih erat ke pelukannya.
"Mengapa kau tidak lelah? Bukannya kau harus pulang pergi dengan helikopter itu dan kembali naik mobil menuju ke perusahaanmu, tentu itu akan menguras tenagamu daren."
Daren kemudian mengernyitkan dahinya mendengarkan panggilan lexia kepadanya.
"Panggil aku dengan ucapan 'sayang'." Bisiknya.
Mata lexia seketika melotot, ucapan itu seakan menggelitik lidahnya.
"Ayolah, sekarang aku suamimu lexia, panggil aku sayang." Dia menarik wajah lexia tepat di depan wajahnya.
"Gigiku ngilu, nanti saja jika aku sudah terbiasa." Ucap lexia mengelak dan menarik kembali wajahnya ke samping, mencoba melepaskan tangan Daren di wajahnya.
Daren tersenyum licik. "Jika kau tidak memanggilku dengan sebutan sayang jangan salahkan aku jika tubuhku dan tubuhmu menyatu dengan sendirinya."
Lexia terbelalak, "kau menyebalkan daren."
"Jika aku tidak menyebalkan, kau tidak akan mengucapkannya, katakan sekarang dan aku tidak akan mengganggu tidurmu jika aku mampu." Dia menopang kepalanya agar dapat melihat semburat kemerahan di wajah cantik istrinya.
"Ayo katakan." Daren mendekati lexia dengan intim, tangannya masih bermain-main di gundukan bulat favoritnya, membuat lexia tidak tahan untuk mendesah.
"Sa...sayang." ucap lexia dengan terbata-bata. Daren lalu tertawa, sedangkan lexia mendelik marah kepadanya.
"Kau mempermainkanku? Aku tidak mau mengatakannya lagi." Lexia memutar tubuhnya memukul tangannya dan menjauhi Daren.
Tiba-tiba tubuhnya terangkat begitu saja dan jatuh di atas pelukan daren. "Kau marah lagi Mrs. Daren? Kerjamu hanya marah-marah saja, bagaimana kalau besok kita jalan-jalan? Kau mau?" Ucap daren lembut.
Lexia mengangguk dengan memperlihatkan wajah menggemaskan dengan bibir mengkerucut. "Oke."
"Tapi ada syaratnya." Goda Daren, dia menunjuk-nunjuk ke arah bibirnya. "Kau mengertikan?"
__ADS_1
Lexia mendorong tubuh Daren menjauh.
"Dan kau bisa berjalan-jalan ke manapun tempat yang kau inginkan." Bisik daren kembali.
Hal itu menghentikan dorongan lexia pada tubuh Daren.
"Ba...baiklah." ucap lexia merona kembali, hal itu membuat Daren gemas dan ingin sekarang juga memiliki Lexia tetapi dia cukup kuat untuk menahannya.
Kecupan kecil mendarat dibibir Daren, "sudah, sekarang aku mau tidur." Ucap lexia mencoba menyingkir dari rengkuhan Daren.
"Tidak semudah itu sayang." Daren menggeram dan menarik tubuh lexia hingga posisinya kini berada di bawah Daren.
"Waktumu habis." Bisik daren dengan senyum liciknya.
Kali ini lexia kembali berada didalam kuasa Daren, dan tubuhnya hanyut di bawa oleh gairah Daren malam itu, sekali lagi lexia seakan di tarik ke dunia Daren yang penuh dengan ciuman serta gerakan-gerakan liarnya yang membuat lexia selalu menjerit dan seakan-akan dibawa ke tepi jurang yang dalam ketika dia mencapai puncaknya.
~
"Kau sudah menemukan gadis itu?" Suara berat itu menatap beberapa pengawal yang memberikan amplop berwarna coklat ke hadapan tuan Robert.
Dia membuka amplop coklat itu dan menatap beberapa foto Daren dan lexia yang sedang melangsungkan pernikahan meskipun terlihat sederhana tanpa kehadiran orang-orang.
"Mereka menikah?"
"Ya tuan, mereka telah menikah."
Wajah tua itu terlihat geram manakala menatap wajah lexia. "Dia gadis pembohong itu bukan? Jadi, Daren merencanakan semua ini dan mengelabuiku, bukankah gadis ini bekerja kepada Daren, dan katamu dia seorang pemulung?"
"Ya sir, tapi nampaknya tuan Burchard jatuh hati kepada gadis ini, sehingga dia menikahinya."
Tuan Robert memegang foto-foto itu lalu berpikir sebentar.
"Bawa gadis ini ke hadapanku, serta atur pertemuanku dengan Daren."
"Villa itu dipenuhi penjaga sir, keamanannya tiga kali lipat dari biasanya dan mereka merupakan penjaga profesional yang sangat terlatih." Ucapnya.
Sekali lagi pembicaraan ayahnya di dengarkan oleh Alvin, dan itu membuatnya tidak suka, ayahnya terkenal mengerikan jika itu tidak berkaitan dengan keluarganya atau tidak ada ikatan darah, tidak seperti lovelia dan ibunya dapat dimaafkan dengan mudah. Tetapi lexia, di mata tuan robert, lexia hanyalah seorang gadis pembohong yang harus di berikan pelajaran.
Alvin segera berjalan ke ruangannya, dia melewati koridor besar yang terhubung dengan ruangan ayahnya, tetapi tiga pengawal telah berdiri dan menahan langkahnya.
"Jangan ikut campur kali ini Al, jika seseorang bersalah bukankah dia harus menerima hukumannya? Jangan berani menyembunyikan gadis pemulung itu lagi, dan jangan ikut campur, biarpun kau putraku, aku tidak akan membiarkan kau melakukan semaumu." Mata tajamnya menatap Alvin. Tuan robert kemudian berbalik dan kembali masuk ke ruangannya.
"Sial! Kali ini aku tidak bisa bergerak dan berbuat banyak untuk membantumu lexia, kau harus menyelamatkan dirimu sendiri dari ayahku." Ucap Alvin.
~
Pagi itu lexia dan Daren masih terlelap, kegiatannya semalam menguras tenaga keduanya hingga Daren berhenti ketika lexia beberapa kali memukul wajah Daren dengan bantal, hingga akhirnya dia melepaskan lexia.
Daren terbangun karena suara gedoran pintu terdengar dari kamarnya. Dia bangkit dari tempat tidur lalu mengenakan kimono tidurnya berwarna hitam.
Daren membuka pintu, dan menatap tajam Barbara dan Carol yang berdiri di hadapannya.
"Daren??"
Teriak Carol menatap heran wajah daren, air matanya mengalir, "kata kakakmu kau sudah menikah Daren, padahal kau tahu dengan pasti perasaanku kepadamu Daren."
"Dimana gadis tidak tahu malu itu?" Bentak barbara.
Daren menatap tajam keduanya. Kesabaranya sudah habis, dia benar-benar menahan amarahnya.
"EVAN!" Teriak daren mengagetkan Barbara dan Carol, lexia yang tertidur juga terbangun mendengakan suara Daren yang menggelegar.
Evan berlari cepat menghampiri Daren.
"Ya sir." Ucapnya.
"Apakah kau tidak mendengarkan perintahku? Jangan membiarkan siapapun masuk ke villaku!!" Bentak daren.
__ADS_1
"DAREN??" Tegur Barbara tatkala enam orang pengawal sudah datang dan berdiri di hadapannya.
"Keluarkan mereka dari sini, bawa mereka."
Wajah melotot Barbara seperti seseorang yang kehilangan pegangan, emosinya kian memuncak manakala dari sudut matanya dia melihat lexia yang duduk di atas tempat tidur tanpa mengenakan apapun hanya tertutup dengan selimut.
"Wanita ****** ! Kau betul-betul wanita sampah, berapa Daren membayarmu sampai kau mau menjual tubuhmu? Sampai kapanpun aku tidak akan mengakui kau sebagai bagian dari Burchard." Teriaknya.
"Tega sekali kau daren, kupikir aku satu-satunya wanitamu, kali ini aku rela bercerai karena menunggumu kembali kepadaku dan...
"BAWA MEREKA SEKARANG !" Teriak Daren.
"Daren ! Berani-beraninya kau memperlakukan aku kakakmu seperti ini, demi wanita ****** itu dan...
"Ingat ! Sekali lagi kau berbicara, dan mencampuri urusanku, kau akan lihat besok pagi apa yang akan terjadi denganmu Barbara, kau harusnya sadar bukan? Jangan selalu membuatku tertawa dengan selalu menggunakan nama Burchard untuk mengancamku." Ucap daren.
Dia langsung terdiam, tubuhnya menjadi kaku dan terhenyak.
"Kau pikir aku tidak mengetahuinya? Jadi sebelum aku mengungkitnya kembali, tutup mulutmu ! Dan terima semua keputusanku, seharusnya kau sudah kuperingati sejak awal, karena sekarang kau jadi lupa diri dan sudah di luar batas."
Daren membanting pintu di depan keduanya. 'Tidak ada yang bisa menghalangi apa yang kuinginkan, bahkan kau Barbara, aku tentu ingat dengan jelas siapa dirimu, kau hanyalah anak yang di asuh oleh orang tuaku dan mereka mengangkatmu menjadi putrinya, salahkan dirimu aku mengungkitnya kembali, kau terlalu ikut campur dengan hidupku.'
Mereka berdua berdiri di depan gerbang villa tatkala para pengawal membawa mereka keluar dari gerbang villa itu. Mereka terdiam, Carol menatap wajah pucat Barbara yang sepertinya dia butuh seseorang untuk memegangnya.
"Kakak tidak apa-apa?" Tanyanya.
matanya masih memandang dari kejauhan villa mewah yang di kelilingi oleh penjaga itu.
"Dia, mengetahuinya..tapi sejak kapan?"
"Sebaiknya kita kembali ke hotel, kakak kelihatannya tidak sehat."
"Tidak, aku ingin pulang dan menemui lovelyku." Bisiknya. Dua mobil itu kini menunggu mereka berdua untuk naik, sementara Carol membantu Barbara naik ke dalam mobil, dia berdiri dan menatap dari kejauhan villa pribadi milik daren.
"Aku tidak tahu kau memiliki villa seperti ini Daren? Siapa sebenarnya gadis yang kau nikahi itu? Barbara bilang dia hanyalah seorang gadis pemulung yang kotor, Bukankah aku masih bisa memiliki kesempatan?" Senyum Carol, dia masuk ke dalam mobilnya dan menghapus air mata palsunya.
~
Daren mengacak-acak rambutnya, lalu melangkahkan kakinya menuju pantry dan menuangkan air ke dalam gelas dan meneguknya. Lexia masih di atas tempat tidur, menatap Daren dengan kebingungan, mata safirnya memperhatikan raut kesedihan meskipun hanya sepintas dari wajah Daren.
"Kau baik-baik saja?" Ucap lexia mengamati Daren yang masih diam.
Dia kemudian berbalik dan menghampiri lexia. "Tentu, jangan mendengarkan ucapan kakakku."
Lexia menaikkan bahunya, tanda tidak mempermasalahkannya. "Bukan masalah, sejak awal dia tidak menyukaiku." Lexia ingin mengatakan sesuatu tetapi ada keraguan di wajahnya. Dia menggigit bibirnya agar mulutnya tidak spontan bertanya kepada Daren.
"Ada apa? Kau ingin menanyakan sesuatu?"
"Itu...ehm bukankah wanita tadi Carol? Mantan tunanganmu?" Tanyanya sambil mengamati ekspresi Daren.
"Ya, dia Carol dan kau tidak perlu merasa cemas karenanya, dia bukan apa-apa bagiku, dia hanyalah masa lalu....kau cemburu?" Ucap Daren menatap wajah lexia yang memerah.
"Jangan bermimpi, siapa yang cemburu, mi..minggir aku mau mandi." Ucap lexia.
Daren tentu saja menghalanginya, dia mengangkat tubuh lexia dan membawanya ke kamar mandi, seharusnya kita sudah selesai mandi dari tadi jika pengacau itu tidak datang kemari.
~
Alvin mengerahkan orang-orangnya lalu membuntuti pengawal ayahnya, dia harus mengetahui lokasi Daren dan lexia, dia harus membawa lexia dari Daren jika tidak, maka ayahnya yang akan membawanya.
Malam itu Alvin tiba di sebuah klub ternama di Manhattan, musik yang berdentum-dentum serta penari yang bergelayut manja ketika para tamu baru saja masuk, mereka yang berdansa bergerak-gerak liar meliukkan tubuhnya.
Alvin mencari pemilik dari club ini, dan tentu saja tempatnya di ruangan VVIP yang dijaga oleh beberapa pengawal.
Alvin tidak banyak bergerak maupun berbicara, Ov yang mengerjakan semuanya, dia mengatakan sesuatu kepada mereka dan langsung saja pengawal itu membuka pintu dan mempersilahkan Alvin masuk.
William mempersilahkan Alvin duduk lalu diapun kembali duduk di hadapannya.
__ADS_1
"Senang sekali bisa berbincang denganmu tuan luther, seperti yang aku ucapkan tempo hari, apakah anda sudah memikirkannya? Permintaanku tidak begitu sulit bukan?" Seringai Alvin menatap wajah William yang masih berpikir dengan permintaan aneh Alvin kepadanya.