The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Seorang Penyusup 2


__ADS_3

Malam itu daren tidak bisa tidur meskipun beberapa botol minuman menemaninya, dia mengacak rambutnya, matanya tajam menatap pemandangan kota dari jendela kamarnya yang besar, waktu sudah menunjukkan pukul 02.13 dini hari tetapi matanya masih belum ngantuk.


Daren merebahkan tubuhnya, dan tiba-tiba saja bayangan dirinya sedang mencium lexia waktu itu terputar ulang di memorinya.


"Apa yang terjadi denganku? Mengapa gadis itu selalu menyusup di otakku." Gumam daren menutup matanya.


~


Lexia melemparkan berbagai barang yang ada di dekatnya kepada William, tetapi dengan cekatan William dapat menangkapnya.


"Keluar dari kamarku!" Ucap lexia.


William hanya tersenyum melihat lexia yang marah dan teriak padanya.


"Aku akan melaporkanmu pada daren, kau akan di pecat dan keluar dari rumah ini!" Ucap lexia masih menutup tubuhnya dengan selimut.


"Bukan ide yang buruk lexia tapi apakah kau mempercayai daren begitu saja? Kau tidak pernah berpikir jika daren menyembunyikan sesuatu yang penting darimu."


"Apa maksudmu brengsek!" Ucap lexia.


"Kau bisa melaporkanku kepada daren tapi selamanya kau tidak akan tahu apapun jika aku pergi dari sini." Ucapnya.


William menatap wajah lexia yang terlihat ragu, dia mengambil kesempatan itu untuk mendekatkan dirinya kepada lexia, dengan sekali dorongan lexia terhimpit diantara tubuh William, senyum merekah di wajahnya, bibirnya dengan cekatan menyerang bibir lexia, ciuman liar William membuat lexia memberontak, dia bermain-main dengan bibir lexia agar membuka, lidahnya begitu saja menyusup ke dalam bibirnya hingga lexia mengerang.


Ciuman kasar William masih berlangsung, kedua tangannya di pegang erat oleh William, napas kasarnya membuat lexia merinding, suara pintu dari ruangan depan menghentikan William dari serangannya kepada lexia.


Dengan cepat william memadamkan lampu tidur lexia dan segera mencari tempat yang aman.

__ADS_1


Lexia segera menarik selimutnya dan menutupi tubuhnya, dia menggigit bibirnya yang masih terasa hangat.


Seseorang membuka kamarnya, dan menatap lexia yang sedang tertidur, daren menghampiri lexia dan menatapnya di dalam kegelapan, sementara itu William masih berdiri di belakang pintu memandang daren.


"Daren?" Ucap lexia memutuskan untuk bangun dan menyalakan lampu tidurnya.


Daren menatap lexia dan sedikit mengernyitkan alisnya. "Dimana pakaianmu? Mengapa kau tidur tidak mengenakan pakaian?" Tanyanya.


"Kau mabuk daren." Ucap lexia. Daren berdecak, "Aku tidak mabuk, aku hanya sedikit pusing, daren mengerling lexia dan menatapnya lekat-lekat.


"Ada apa dengan bibirmu? Ucap daren memegang dagu lexia dan menarik ke arahnya. "Terlihat sedikit bengkak." Ucapnya sambil memperhatikan bibirnya.


Tetapi tanpa daren duga lexia mencium daren dan memeluknya, meskipun begitu terkejut daren tidak menolak ciuman lexia, Seseorang menatapnya dari belakang punggung daren dan menyipitkan matanya, William terlihat marah.


Lexia masih berlama-lama di bibir daren, tetapi matanya tajam memandang William, akhirnya dia keluar dari kamar lexia. Sementara itu daren telah hanyut dengan ciuman dan dekapan tubuh lexia.


Lexia hanyut dengan ciuman daren, wangi napasnya membuat lexia merekatkan pelukannya kepada daren. Tangannya mulai menjelajahi tubuh lexia dan merasakan hal yang selama ini berputar di kepalanya, gerakan daren yang membelai tubuh lexia membuat lexia sedikit teriak, daren tersenyum miring, dan bermain-main digundukan bulat yang selama ini di dambakannya. Lexia merasakan gelenyar aneh merayap di tubuhnya, daren kini melepaskan bibirnya dan beralih ke payudara lexia, mata lexia membelalak merasakan sensasi aneh ketika daren mengecupnya di sana, seketika lexia mendorongnya keras dan mengambil selimut dan menutup tubuhnya.


Mereka saling menatap, rahangnya mengeras, matanya bersinar tajam dia kemudian berdiri dan masih menatap lexia yang tidak mau menatapnya.


"Ck sial !" Umpat daren, dia hampir saja kehilangan kontrol dan melepaskan hasratnya kepada lexia.


"Tidurlah!" Ucapnya, dia kemudian melangkahkan kakinya hingga mencapai pintu kamar lexia dan berhenti lalu berbalik menatap lexia yang tidak mengalihkan wajahnya tidak mau menatap daren.


"Tidurlah ! Besok aku ingin bicara." Ucap daren dia mengerling lexia dan menggaruk kepalanya kemudian dia keluar dari ruangannya, dengan cepat lexia mengunci pintu kamarnya.


"Bodoh, bodoh ! Apa yang telah kulakukan? Apa yang harus kukatakan jika bertemu dengannya besok pagi." Ucap lexia sambil menggigit selimutnya lalu bersembunyi di dalam selimutnya.

__ADS_1


"Bagaimana jika aku mengatakan aku tidak sadar menyerangmu Karena aku bermimpi aneh, aku bermimpi mencium seorang pria dan tiba-tiba saja kau datang dan, dan....ugh tidak, sial ! Gara-gara pria itu semuanya menjadi kacau, aku benci menjadi canggung di hadapan daren nanti, atau aku mengatakan kepadanya anggap saja semalam tidak terjadi apa-apa dan....., Ugh ! Aku pasti sudah gila !


~


Daren masuk ke kamarnya dan menutupnya, wangi tubuh dari Lexia masih melekat di otaknya, dia memandang tangannya yang memegang tubuh lexia, bibir lexia masih hangat terasa di bibir Daren.


"Gadis itu menyerangku duluan, tentu saja aku tidak bisa menolaknya, ada apa dengan lexia? Mengapa sikapnya tiba-tiba seperti itu?"


Daren beranjak dari tempatnya berdiri dan segera menghangatkan tenggorokannya dengan minuman diatas meja dan meminumnya dengan sekali teguk.


"Sial ! Dia begitu liar, lincah seksi dan...." Daren membanting tubuhnya di atas tempat tidurnya, kejadian tadi masih berputar-putar di kepalanya.


"Lexia, kau yang memulainya jadi jangan salahkan aku jika aku tiba-tiba menyerangmu nanti." Bisik daren.


~


Deruman mobil itu berhenti tepat di depan rumah mewah yang sudah gelap. Dia membuka pintu mobilnya dan menutupnya, William masuk ke dalam rumahnya dan melihat beberapa orang tengah berjaga di halamannya, mereka menunduk ketika melihat William Luther melewatinya.


"Sir, tuan Rodrigo datang kemari mencari anda." Ucapnya.


"Benarkah? Dia mengatakan sesuatu?" Tanyanya.


"Dia ingin bertemu dengan anda besok siang di tempat biasa", ujarnya.


"Katakan kepadanya, besok aku akan menemuinya." Ucap william. Bayangan tadi nampak jelas ketika lexia mencium daren dihadapannya, dan bermain-main di bibirnya.


Dia masuk ke rumahnya langsung menuju ke pantry dan menuangkan minuman di dalam gelas, "Kau akan menyesalinya, aku akan membuatmu membenci daren dan segera pergi dari tempat itu."

__ADS_1


__ADS_2