
Suasana di tempat kejadian masih terlihat ramai, di padati oleh orang-orang, sosok pria bemantel hitam itu berdiri di sana dan berbaur dengan orang-orang yang hadir di sana. Tubuhnya tinggi dengan garis rahang yang tegas.
Dia kemudian berbalik menjauhi kerumunan, dia kemudian kembali ke flat yang baru-baru ini di sewanya, tempat itu menjadi salah satu tempat untuk menyembunyikan jati dirinya, tempat untuk melepas lelah dari tugas-tugasnya, sudah sekuat tenaga dia berusaha menjauhkan dirinya dari sifat iblisnya, tetapi dia tidak mampu untuk menahannya, rasa ingin melenyapkan itu semakin kuat tumbuh di dalam dirinya, bahkan dia hampir tidak bisa mengontrol dirinya, hampir saja hal itu membuatnya kesulitan.
Dia duduk di tepi tempat tidur, lalu menatap kedua tangannya. Tangan itu sudah banyak melenyapkan banyak nyawa, meskipun begitu, entah mengapa perasaan bersalah atau empati sudah menghilang dari dirinya. Hanya wajah datarnya yang sanggup menyelamatkannya, sehingga dia tidak di curigai.
~
Dazon sedang berada di salah satu Restaurant mewah, dia akan menemui Daneil di sana, sepertinya Daneil akan membawa seseorang yang istimewa dan memperkenalkan wanita itu kepadanya.
Dazon mengambil gelas wine yang sudah terisi di hadapannya, dia menyesapnya sesekali sambil memperhatikan jam di tangannya.
"Ck aku datang terlalu cepat." Suara berisik terdengar dari seberang mejanya, nampak 4 sampai 5 wanita saling berbisik-bisik ketika Dazon melewati mejanya. Dazon duduk seorang diri di salah satu meja yang di sediakan untuknya, wanita-wanita yang duduk tidak begitu jauh dari meja Dazon begitu berisik, seakan mereka menangkap tangkapan besar, kehadiran dazon membuat para wanita saling berbisik-bisik dan melirik, meskipun begitu, Dazon sama sekali tidak memperdulikan kehadiran mereka.
Rambutnya yang rapi di sisir ke belakang, garis rahang yang tegas dan karakter yang kuat terlihat mendominasi, setelan yang mewah dan terlihat elegan, membuat siapa saja dapat mengetahui dari kelas sosial mana dia berasal, serta mata coklat yang tajam dan tubuh yang atletis menyempurnakan semuanya, dia seperti magnet yang membuat para wanita ingin dekat dengannya.
Dia seorang diri duduk di sana, sesekali mengambil ponselnya dan melihat pesan masuk.
Tiba-tiba seorang wanita berjalan di hadapannya, dengan percaya diri menghampiri Dazon.
"Permisi, erm maukah kau membantuku? aku kalah taruhan dari teman-temanku yang duduk di ujung sana," sambil menunjuk teman-temannya yang melambai kepadanya.
"Bolehkah, bolehkah aku duduk di pangkuanmu dan memberikan kecupanku untukmu? Aku sama sekali tidak bisa menerima tantangan teman-temanku untuk meminum alkohol jadi maukah kau membantuku menyelesaikan tantangannya?" tanyanya, wajahnya sedikit memelas, dia berkedip beberapa kali lalu mencoba memainkan bibirnya, tengah memohon.
"Terlibat dengan urusan orang lain, aku sungguh membencinya." Gumam Dazon tanpa menatap wajah wanita berpakaian minim di hadapannya.
"Jangan menjadikan masalahmu, alasan untuk mengganggu ketenanganku nona, sebaiknya kau pergi!" ucap Dazon dengan tenang.
Wajah wanita itu seketika pucat, dia kemudian mundur dengan hati-hati dan menggeleng kepada temannya, seakan memberitahu jika pria ini tidak mudah di ganggu dan diberikan umpan, tidak mudah membuatnya masuk ke dalam permainan mereka.
Dazon menyesap minumannya sambil menatap pintu, terlihat Daneil baru saja datang bersama Jenifer. Dengan senyum lebar, Daneil menggenggam tangan Jennifer.
"kenapa kau membawa Jennifer? Katanya kau akan memperkenalkan wanitamu?" Tanyanya tanpa basa basi.
Daneil tersenyum ironis, "Haruskah ucapan itu yang kudengar pertama kali ketika kita akhirnya bertemu setelah sekian lama Dazon? Ya, kau benar, Jennifer akan menikah denganku, kami sudah menjalin hubungan 3 tahun lamanya." Ucap Neil tanpa malu-malu mengecup bibir Jenni di hadapan Dazon.
"Ck, bagaimana kau bisa menerima pria kikuk dan kaku seperti Daneil, Jenni?" Tanyanya.
"Kenapa? Kaku membuatnya terlihat seksi, setiap orang memiliki pandangan berbeda mengenai kesukaan masing-masing daz." Ucap Jennifer, dia kembali membalas ciuman Daneil.
Dazon tersenyum miring menatap kemesraan mereka berdua.
"Kapan kau akan balik ke Manhattan Daz?" Tanya Daneil.
"Nanti, setelah urusanku di sini selesai." Jawabnya.
"Kau tidak memiliki seseorang untuk menemani malam-malammu, apa kau tidak bosan hanya mengurusi dunia mafiamu?" tanya Daneil sambi berdecak.
"Ck, aku begitu sibuk, aku tidak memiliki kesempatan mencari seorang wanita." Ucapnya.
"Bagaimana kalau aku memperkenalkanmu dengan temanku, aku bisa mengatur pertemuan kalian, kalau kau begitu sibuk dan tidak memiliki waktu untuk mencari pendamping." Ucap Jennifer. Dazon menggeleng pelan, tidak suka dengan ide Jennifer.
"Tidak perlu Jenni, aku tidak ingin di perkenalkan dengan temanmu, bisa saja dia tidak ada bedanya dengan wanita yang pernah mengejar-ngejar Ax dahulu." ucapnya.
"Maksudmu Ros?" Ucap Jennifer heran, "sudah lama aku tidak mengetahui kabarnya, tenang saja, teman-temanku tidak akan mengecewakanmu Daz."
"Aku menghargai bantuanmu Jenn, aku akan menghubungimu jika nanti aku membutuhkannya kelak."
~
Setelah makan siang, mereka akhirnya berpisah, Dazon akan segera berangkat ke tempat kerjanya, terlihat Truck Coffe mengalihkan pandangannya. Sekali lagi dia menatap wanita penjual kopi di jalanan itu sambil bersandar dan menunggu para pembeli.
Jari-jari panjangnya di bibirnya, matanya masih menatap wanita itu, tiba-tiba mulutnya berbicara begitu saja, entah dorongan apa yang membuat Dazon ingin singgah ke Truck Coffe itu.
"Hentikan mobil."
Dia kemudian keluar dan menyeberangi jalan dan menghampiri Truck kopi, dimana penjualnya sedang memainkan ponselnya.
"Espresso." Ucap Dazon.
__ADS_1
Wanita itu masih menatap layar ponselnya, dia mengerjap tatkala mendengar suara Dazon ditelinganya.
"Ha? Espresso? Ok espresso, tunggu sebentar."
Dazon meneliti wanita di hadapannya ini, pelayan yang pernah kerja di mansionnya, tumbuh menjadi wanita yang cantik, dan dia masih saja memakai celemek yang akan menarik perhatian pria-pria, Dazon kemudian melirik tulisan di dadanya, dan Hanna mendapatinya sedang menatap dadanya.
"Apa yang anda lihat sir?" Tanyanya menatap celemek yang di pakainya. Ekspresi tidak suka terpancar dari wajah Hanna.
"Aku melihat tulisan di dadamu, sepertinya aku tertarik." Ucap Dazon terus terang. Bibir Hanna menipis, dia tidak perlu mendengar ucapan kurang ajar dari pria bermata coklat yang tanpa ekspresi itu, yang tengah menatap dadanya, Hanna kemudian meletakkan paper cup di hadapannya dengan sedikit keras.
"Semuanya 2 dollar." Ucap Hanna, dia ingin segera mengusir Dazon dari truck kopinya.
"Dazon mengeluarkan uang sebanyak 100 dollar, "Ambil kembaliannya, itu bayaran untuk pemandangan celemek di dadamu, jika kau tidak melepasnya, bukan aku saja yang akan selalu membaca tulisan itu dan memandangnya." Ucap Dazon, dia kemudian berbalik tanpa menunggu umpatan kasar dari hanna.
Hanna sangat geram, dia kemudian mengambil kembaliannya lalu berlari mengejar Dazon.
"Pria kurang ajar itu, awas saja." Ucap Hanna mengejar Dazon.
Dazon telah menyebarangi jalanan, Hanna menyusul tepat di belakangnya sambil berlari, dia kemudian menarik jas yang dikenakan Dazon hingga tubuhnya berbalik sempurna, lalu menatap intens Hanna yang sudah berdiri dihadapannya, dia terlihat sangat marah, namun dia terlihat begitu cantik dan liar.
"Ambil kembalianmu sialan, aku tidak butuh uang dari pria kurang ajar sepertimu." bentak Hanna, wajah Dazon menggelap, dia tidak suka seseorang yang tidak patuh, baru kali ini seorang wanita memberikan umpatan kepadanya, dia menggertakkan giginya lalu
tanpa Hanna sangka, Dazon menarik pinggangnya keras dan memegang Tengkuknya kasar, dia kemudian membenamkan bibirnya di sana dan perlahan mencium Hanna kuat-kuat hingga dia kesulitan bernapas, entah berapa lama dia mencium Hanna dengan kasar, bermain-main di sana, pukulan-pukulan Hanna tidak membuat Dazon bergeming dari ciuman intensnya. Bibir mereka kini terpisah, napas memburu dari Hanna membuat Dazon tersenyum miring.
"Kalau begitu, itu bayaran untuk ciumanmu." Bisik Dazon ditelinganya. Dia kemudian berbalik dan masuk begitu saja ke dalam mobilnya, meninggalkan Hanna di jalanan dengan wajah merah padam menahan kemarahannya.
~
Hanna masuk ke dalam flatnya dan membanting tubuh letihnya di atas tempat tidurnya, dia kemudian memejamkan matanya, tiba-tiba ingatan mengenai ciuman intens dari pria bermata coklat itu membuatnya menggertakkan giginya.
"Pria sialan!" Teriak Hanna, tiba-tiba duduk dari tidurnya, dia lalu melemparkan bantal tidur ke lantai. "Pria kurang ajar itu berani menciumku, jika aku bertemu lagi dengannya, lihat saja aku akan balas perbuatannya padaku." Setelah puas marah-marah, Hanna Kemudian merasa gerah dan ingin berendam sejenak di bathtub.
Hanna melepaskan pakaiannya begitu saja, kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Setelah berendam beberapa menit, dia keluar dari kamar mandi dan mengenakan handuk kecil yang melilit di tubuhnya, dia lalu berjalan dan memeriksa email yang masuk di laptopnya.
Matanya tiba-tiba membelalak. "Apa? Benarkah??" Hanna melompat dengan senang, dia seperti meninju udara yang kosong.
~
Pukul 03.15,
Thomas mengintip dari balik tembok, dia melihat seseorang berjalan pelan di tengah malam itu, seorang pria mengenakan jaket panjang berwarna Hitam di tengah malam buta seperti ini.
"Sir, semua sudah siap, persenjataan kita sudah masuk ke dalam gudang, kita tinggal menunggu perintah dari tuan Dazon." Ucap salah seorang pengawal.
"Sstt, jangan berisik." Bisik Thomas, matanya kini tertuju pada seorang pria tinggi berjaket hitam yang mondar mandir dari satu jalan ke jalan lainnya, dia terlihat menunggu sesuatu, jalannya kelihatan aneh.
Thomas dan pengawal-pengawalnya sedang berada di salah satu sudut gang, tempat biasanya dia melakukan transaksi atau membawa senjata yang akan di kirimnya ke Italia, matanya tiba-tiba teralihkan ketika langkah seseorang terdengar jelas.
"Tuan orang itu kelihatan aneh." Bisik salah satu Pengawalnya. Thomas mengangkat tangannya menyuruh mereka diam, lelaki itu nampak berbahaya dan terlihat sangat aneh.
"Jangan berisik, kita tidak mau ada masalah malam ini, transaksi ini harus berjalan mulus, dan aku tidak mau pria aneh itu datang kemari karena mendengar kalian, kita tidak ikut campur dengan apa yang akan di lakukan lelaki aneh itu." Ucap Thomas, matanya masih menatap lelaki yang berjalan seperti hendak mencari mangsa. Siluetnya terlihat familiar, tetapi entah dimana, dia pernah melihat pria itu.
~
Pagi itu udara sejuk terasa di kota Atlanta Georgia, sejuk dan masih terlihat gelap, Hanna sudah terbangun sejak tadi, dia telah menyiapkan sarapannya dan memilih-milih pakaian yang akan di kenakannya ketika wawancara nanti, dia harus terlihat rapi dan terlatih.
Kesan pertama sangat penting ketika wawancara pertama kali berlangsung, jantungnya berdetak seiring mentari pagi sudah mulai terlihat menapaki bumi.
Hari ini wawancaranya di adakan pada jam 9 pagi dan dia harus tiba tepat waktu.
Kali ini, Hanna mengirimkan lamaran kerjanya di suatu perusahaan besar yang ada di Complex city, karena wawancara kerjanya beberapa kali tidak berjalan lancar, Hanna dengan gilanya melamar pekerjaan di salah satu perusahaan besar di sana, dan siapa yang sangka dia berhasil, dan hari ini dia akan melakukan wawancara kerjanya.
Hari ini Hanna mengenakan kemeja berwarna biru dengan Rok pensil berwarna hitam, dengan sedikit makeup yang tidak berlebihan, serta high heels yang hanya beberapa centi saja, dia akhirnya terlihat sempurna, dia mengintip sekali lagi dirinya di depan cermin dan menganggukkan kepalanya bersemangat.
Hanna berjalan dengan percaya diri, dia keluar dari flatnya pagi-pagi, dia kini sedang berdiri di perhentian bus menuju Complex city, 5 menit menunggu, akhirnya bis itu muncul juga dengan warna oranyenya yang cerah.
Hanna naik ke atas bus, duduk di dekat jendela dan membuka sedikit jendelanya agar udara yang segar masuk ke dalam bus. Hanna membuka tasnya dan sekali lagi mengecek dirinya di cermin kecil yang di bawanya sehari-hari.
Bus berhenti, Hanna turun dari bus dan menatap bangunan tinggi menjulang yang seakan menyambut kedatangannya, senyum merekah terlihat di wajah cantiknya.
__ADS_1
Dia melangkah masuk ke gedung tinggi itu dengan percaya diri. Sekarang pukul 08.45 pagi, Sebentar lagi wawancaranya akan dimulai, dia menarik napas saat menunggu lift membuka, tiba-tiba sesuatu membuatnya berbalik, ketika melihat banyak karyawan di pagi itu menyingkir dan terlihat membungkuk.
"Kenapa tiba-tiba hening?" Ucapnya pelan. Kini dia bisa melihat apa yang membuat mereka terdiam tanpa protes.
Seorang pria berjalan dengan langkah pelan, terlihat seakan menyeret kakinya, sepuluh pria berpakaian hitam berjalan di belakangnya dan mengelilinginya, seakan melindunginya dari suatu serangan.
"Pasti dia pemilik perusahaan ini?" Ucap hanna, dia kemudian masuk ke dalam lift, ketika lift itu masih membuka, sosok pria yang berjalan itu tiba-tiba berhenti, dia menatap wanita yang telah diciumnya kemarin sedang berada di dalam lift.
"Apa dia kerja di sini?" Gumam Dazon menyeringai.
~
Bangunan itu tidak jauh dari kantor pusat kepolisian Atlanta, heavyweight case merupakan salah satu tempat bagi para detektif menyelesaikan kasus berat mereka di sana.
Seorang detektif bernama Nick Harvey sedang membuka-buka beberapa berkas lama, dia membaca setiap kasus yang menyerupai kasus pembunuhan ini, sudah setengah hari dia duduk di sana, memeriksa setiap berkas dari tahun ke tahun, salah satu yang menarik perhatiannya adalah kasus Ben Rivear, dia adalah pembunuh sadis yang membantai Keluarganya sendiri, dan yang membuatnya tertarik adalah karena Ben Rivear berambut pirang, hanya kebetulan saja dia menemukan seorang pembunuh dengan rambut pirang mencolok seperti itu.
"Kau menemukan sesuatu?" Ucap salah satu pria yang baru saja membuka pintu dan membawakannya segelas kopi dan meletakkan di depannya.
Dia mengangkat bahunya, lalu menutup berkas-berkas itu. "Aku tidak memiliki banyak hal yang bisa di gali di sini, hanya satu petunjuk saja, dan yang kutemukan hanya karena kebetulan."
"Apa maksudmu Nick?" tanyanya, dia kini duduk di atas meja.
"Ben Reaver, kau tahu pria itu kan? pembunuh yang terkenal karena membantai keluarganya sendiri, serta keluarga-keluarga orang lain, dia di dakwa dengan hukuman seumur hidup dan setelah itu dia mendapatkan hukuman mati, setelah kejadian pembunuhan selama dia berada di penjara."
"Owh dia, tentu aku ingat meskipun kejadiannya terjadi sudah beberapa puluh tahun yang lalu, Ben Reaver salah satu pembunuh berantai yang sadis, ada apa dengannya?" tanyanya.
"Kasus pembunuhan yang dilakukan Ben Reaver mengingatkanku dengan kasus pembunuhan yang sekarang terjadi" ucapnya.
Dia mengangkat alisnya terlihat ragu. "Apa yang membuatmu yakin kasus ini ada kaitannya dengan kasus Ben Rivear." ucapnya begitu ragu.
"Jangan menghubungkan segalanya Nick, hanya kebetulan saja rambut Ben Pirang, dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kasus pembunuhan ini."
"Mungkin kau benar," Ucapnya sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Kita makan siang sekarang, kau pasti belum makan.
~
Jantungnya berdetak lebih cepat, sudah dua peserta wawancara yang masuk, mereka terlihat tegang, dan ada juga yang berkomat Kamit, seakan mengulangi kata-kata yang sudah tersusun di kepalanya. "Kenapa mereka lama sekali?" gumam Hanna menatap jam di pergelangan tangannya. Tidak lama kemudian kedua peserta itu telah selesai. "Hanna Tan silahkan masuk." ucap wanita Asia itu.
Hanna berdiri, Sebelum dia masuk, dia mencoba memperbaiki penampilannya dan menghembuskan napas, untuk menghilangkan kegugupannya. "Ok Hanna, kau pasti bisa." gumamnya.
~
"Tuan, ini berkas yang anda minta." ucapnya. Dazon mengambil beberapa berkas yang di berikan kepadanya. Pria itu masih berdiri di sana, Dazon kemudian menatapnya.
"Apakah ada wawancara kerja hari ini?" tanyanya.
"Ya sir, mereka mencari beberapa staf untuk mengisi beberapa bagian yang kosong di bagian resepsionis dan beberapa divisi yang kosong." jawabnya.
"Oh ya," Dazon memutar-mutar pena di tangannya.
"Di mana wawancara itu akan di lakukan?"
"Wawancaranya akan di laksanakan di lantai 27 sir, tepat jam 9 pagi ini."
ucapnya.
"Sepertinya terdengar menarik, aku akan ke sana." ucap Dazon, dia kemudian berdiri dari kursinya.
"Apa?" tanyanya heran. "Le..lewat sini tuan." Pria itu menyeka keringat di wajahnya, dia terlihat panik, tentu saja dia panik, karena pemilik perusahaan raksasa ini, ingin melihat langsung wawancara staf yang menurutnya tidak penting untuk seseorang sepertinya.
Kedatangan tuan Dazon membuat mereka yang berada di ruangan itu tampak kikuk dan terlihat tidak nyaman, tidak ada suara yang terdengar di ruangan itu.
"Kau bisa memanggil peserta selanjutnya." perintahnya.
"Baik tuan."
Setelah Hanna mengambil napas, dia kemudian membuka pintu itu dan segera masuk dan duduk di depan keempat orang yang tengah memandangnya. Dazon tersenyum miring, menatap Hanna dengan kegugupan yang terlihat jelas di wajahnya.
Dia tidak akan di terima di perusahaan ini, jika dia tidak bisa menghilangkan sikap gugupnya. pikir dazon.
__ADS_1