The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 88


__ADS_3

"Kakaaaak, aku ingin ikut kakak, kemana kalian akan membawanya, lepaskan kakakku." Teriakan itu terdengar keras di ruang belakang khusus kamar pelayan, bocah kecil bernama Luke Forton menangis sejadi-jadinya ketika melihat kakaknya Crystal di bawa oleh dua orang pengawal.


"Jangan menangis Luke, kakak akan segera kembali, aku berjanji." Ucapnya.


Gadis itu mengikuti dua orang pengawal yang akan membawanya entah kemana, dia ketakutan memikirkan nasibnya, apa yang akan mereka lakukan? Gadis itu terlihat tidak takut sedikitpun, dia tetap mengikuti pengawal itu dengan tenang, dia di bawa ke sebuah ruangan mansion yang berada tingkat paling atas, mereka semua memasuki lift, setelah menunggu beberapa menit mereka tiba di sebuah ruangan yang besar, hanya ruangan luas dengan lantai keramik indah tanpa apapun lagi di sana, mereka membawanya ke sebuah pintu besar berukir harimau, mereka mengetuk dan terdengar suara seseorang dari dalam.


"kau bisa masuk sekarang." Ucap pengawal itu, seakan kata-katanya terdengar seperti sebuah vonis kematian untuknya.


Gadis itu masuk ke sebuah ruangan besar, tetapi jika di perhatikan dengan seksama ruangan itu adalah sebuah kamar yang sangat besar, ruangan itu terlihat rapi dengan langi-langit yang tinggi terukir indah, seorang pria mengenakan kemeja hitam dan celana panjang hitam, dia berdiri di depan jendela membelakanginya.


Wajah tampannya terlihat jelas di wajahnya, matanya tajam menatap langsung ke wajah Crystal yang sedang berdiri di hadapannya, seakan dia adalah harimau yang lapar yang akan memangsa kelinci kecil yang gemetar ketakutan.


Pria itu berjalan ke tempat berdirinya Crystal. Suasana menegangkan terasa mencekam bagi gadis itu. Tidak ada suara yang keluar darinya, dia hanya berdiri dan memperhatikan Crystal dan mengelilinginya seakan melakukan penilaian dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Apakah dia Darko Caesaar pembunuh keji dan brutal itu? dia di sebut Beast killer, apa sekarang dia ingin membunuhku? Apa yang harus ingin dia lakukan.


"Namamu Crystal?" Tanyanya.


"Y-ya namaku Crystal."


"Cocok, kau sesuai." Ucapnya tiba-tiba.


Crystal sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan pria di hadapannya ini.


"Kau akan menikah denganku besok."


"A-apa? Apa maksud anda S-sir." Mata Crystal membelalak mendengar perkataan pria di hadapannya itu, apa dia segila itu memutuskan seenaknya.


"Hidupmu dan adikmu akan baik-baik saja, jika kau ikuti keinginanku, kau mengerti." suaranya terdengar dalam dan dingin.


"Apa, apa yang anda inginkan dengan pernikahan ini, tuan."


"Mudah saja, kau hanya harus mengandung anakku."


"A-apa? mengandung anakmu?" Tanyanya dengan wajah melongo heran.


"Ya, tugasmu hanya mengandung anakku, tentu saja kau harus merawat mereka."


Apa yang pria ini katakan? Tangan Crystal gemetar dan begitu dingin, usianya baru saja menginjak 18 tahun dan dia harus menikahi mafia kejam dan pembunuh gila ini.


"Kau boleh pergi, kepala pelayan akan membawamu ke tempat yang seharusnya."

__ADS_1


Darko berbalik seakan apa yang dikatakannya hanya sebuah lelucon untuknya atau hanya angin lalu yang tidak membutuhkan waktu untuk di pusingkan.


Seorang pelayan membuka pintu dan mempersilahkan gadis itu keluar dan mengikutinya, dia tidak bisa berkata apa-apa, kaki dan tangannya seakan tidak mau mengikuti keinginan otaknya. Kepala pelayan itu membawanya ke lantai bawah tepat di bawah lantai kamar Darko, sebuah ruangan mewah begitu besar dan elegan.


"Silahkan masuk nona, mulai hari ini, kamar ini akan menjadi kamar anda, saya harap anda akan mendengarkan segala rincian mengenai pernikahan ini, dan saya akan membacakan apa saja kewajiban yang akan anda lakukan selama menjadi istri tuan Darko Caesaar, silahkan duduk nona."


Mereka duduk di sofa tanpa ada seorangpun ada disana, pria tua itu mengeluarkan secarik kertas dari dalam laci dan membacakannya di hadapan Crystal.


"Selama anda menjadi istri tuan Darko, ada beberapa hal yang harus anda taati dan laksanakan."


Jantung Crystal seakan di pompa, dia sama sekali tidak memiliki pilihan atau kesempatan untuk menolak karena dia tahu pria itu tidak akan segan-segan membunuhnya.


"Pertama, setelah anda menikah dengan tuan Darko, anda harus melakukan kewajiban anda sebagai istrinya, anda harus melayaninya 2 kali dalam seminggu, anda pasti mengerti dengan apa yang saya maksudkan nona."


"Kedua, anda hanya harus mengikuti apa yang dikatakan tuan Darko, jika dia mengingikan sesuatu, anda harus menurutinya, jika tidak, anda tahu persis apa taruhannya jika anda menolak.


"Dan yang ketiga, ketika anda bertemu dengan orang tua Darko, anda harus menjadi istri yang mencintai suaminya, dan jika anda melakukan semua kewajiban di atas, hidup anda dan hidup adik anda akan terjamin, segala keinginan anda akan di penuhi apapun permintaan anda, nona."


Crystal tidak bisa berkata-kata, untuk apa dia bicara, toh sama sekali tidak ada pilihan untuk menolak permintaan itu, dia hanya harus mengikuti keinginan pria iblis itu, dia hanyalah seorang tahanan dari keluarga Forton yang dibumihanguskan oleh Darko Caesaar, Crystal hanya diam tetapi tetap menganggukkan kepalanya.


~


Crytsal hanya mengelus rambut adiknya yang terlihat gembira, dia akan melakukan apa saja agar adiknya dapat hidup normal dan tidak merasakan penderitaan seperti yang terjadi di mansion pamannya, hanya sebuah nama saja mereka di panggil dengan nama belakang Forton, mereka di perlakukan layaknya barang tidak berharga, bahkan adiknya tidak di biarkan ke sekolah dan disuruh bekerja di mansion itu seperti seorang pelayan, untung saja pamannya itu masih waras tidak menjualnya atau melakukan tindakan mengerikan, meskipun mereka bekerja sebagai pelayan di mansion pamannya sendiri asalkan dia selalu bersama adiknya.


Kini, dia harus menikah dengan seorang mafia yang menginginkan anak darinya, Crystal menghela napasnya, "Jika kau bahagia, kakak juga akan bahagia." Ucap crystal kepada adiknya.


~


Matahari telah bergulir, mata saphiernya mengerjap dan terbuka, hari ini adalah hari pernikahannya dengan wanita itu, Darko berdiri dari tempat tidurnya, dia berdiri di depan jendela masih dengan mengenakan kimono tidurnya, "Salju lagi, hari ini aku akan menikah, dan gadis itu akan menjadi istriku, dia menyukainya atau tidak, itu adalah takdirnya." Ucap Darko.


Segala persiapan telah di laksanakan, mereka akan menikah di mansion taman belakang yang telah di atur dengan sederhana dan elegan, tidak ada tamu yang hadir, hanya para pengawal dan orang-orang Caesaar, mereka semua berkumpul di sana agar mereka dapat melihat bagaimana pernikahan tuannya.


"kakak betul-betul tidak apa-apa, meskipun aku ingin sekali memuji kecantikan kakak yang dibalut gaun indah ini, tetapi kakak akan menikahi psikopat gila itu."


"Luke. Sst, hati-hati kalau bicara, mereka nanti mendengarmu, aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu."


"Ups maaf, aku akan berhati-hati." Bisik luke.


"Acara akan segera di mulai, anda harus berada di luar, tuan Darko telah menunggu."


"B-baik." Ucapnya gugup, dia mengambil napas panjang, lalu menghembuskannya, dia lalu beridiri dan memegang tangan pria itu menuju pintu coklat yang terbuka lebar untuknya.

__ADS_1


~


~


Hari yang sangat melelahkan setelah pernikahan mereka berdua, helikopter telah menunggu mereka, pengantin baru itu akan berbulan madu di perancis. Hal itu membuat Crystal cukup heran, apa mafia seperti dirinya masih memikirkan mengenai bepergian bulan madu? Pasti ada satu hal lain yang akan di kerjakannya di negara itu, untuk itu, dia menjadikan bulan madu mereka sebagai sebuah alasan kepergiannya.


"Nyonya, jangan khawatir tuan Luke akan kami jaga dengan baik, anda hanya harus melayani tuan Darko setibanya di sana."


Crystal mengangguk, "Saya mempercayakan luke kepada anda, jaga adikku baik-baik."


"Jangan khawatir luke, kakak akan pulang sesegera mungkin, kau percaya kan kata-kataku." Luke mengangguk dan memeluk kakaknya.


Mereka akan segera berangkat, Crystal melirik sosok di sampingnya, sejak selesainya pernikahan mereka, pria itu sama sekali belum berbicara dengannya, bahkan menegurnya saja tidak pernah.


Crystal tiba-tiba terkejut, pria itu bergerak cepat seperti sedang memeluknya, ternyata dia hanya memakaikan seatbelt keamanan di tubuhnya dan memasangkan earphone di telinganya.


"Ceroboh." Gumamnya pelan.


Perjalanan mereka cukup melelahkan, setibanya di sebuah apartemen mewah yang juga milik Caesaar, Crystal terhuyung dan langsung saja menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, tanpa memperhatikan ada seseorang yang memperhatikan segala gerak geriknya.


Dia sangat lelah, dia menutup kedua matanya dan merasakan hening yang terasa aneh, dia lalu membuka kedua matanya, Crystal terduduk, matanya mendapati pria itu sejak tadi memandangnya dalam diam, seperti predator yang mengawasi mangsanya.


"A-anda tidak lelah? aku akan keluar sebentar untuk membuatkan minum." Ucapnya ketakutan.


"Mandilah." perintahnya.


"A-apa? Ah, baik." Crystal segera mengambil barang-barangnya di dalam kopernya, karena begitu terburu-buru segala perlengkapannya jatuh di lantai, dia segera mengumpulkannya dengan menaruhnya ke sembarang tempat.


"Untuk apa barang-barang itu?"


"Maaf? ini perlengkapan mandiku." Jawabnya.


"Buang, kau hanya perlu gunakan apa yang kusediakan."


Matanya seakan memindai segala gerak gerik Crystal, menatapnya seakan dia tontonan yang menyenangkan.


Crystal segera memasuki kamar mandi dengan sedikit berlari, meskipun pria itu telah menjadi suaminya tetapi sekamar dengan pembunuh mengerikan membuat Crystal ketakutan, tubuhnya bergetar, bibirnya tidak kuasa menahannya untuk ikut bergetar.


"Crystal tenanglah, kau pasti bisa, ini semua demi masa depan Luke."


Crystal mulai mandi dan setelah beberapa menit dia keluar dengan mengenakan Barhrobenya. Pria itu tidak ada di sana, terdengar suara-suara dari luar balkon, pria itu sedang menerima telepon. Crystal duduk di depan meja rias dan mengeringkan rambutnya. Dia kembali melirik ke luar pintu balkon, pria itu sudah tidak ada di sana. Matanya kembali menatap ke cermin dan Crystal sangat terkejut ketika pria itu sudah ada di belakangnya, menatapnya dengan sorot mata yang tajam.

__ADS_1


__ADS_2