The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Tim penyelamat


__ADS_3

Jangan Lupa Tekan Vote, like and comentnya yaaaa tmn2 readers 😆 Selalu ku tunggu


🌺HAPPY READING🌺





Dahinya telah di perban, Daren tengah berbaring tepat di sampingnya Axton putra Kecilnya yang masih tertidur lelap, suara-suara dari luar membuat Daren perlahan membuka kedua matanya. Tubuhnya terasa nyeri dan sakit, luka di tubuhnya sungguh nyeri, tetapi memorinya kembali kepada lexia, cincin itu masih ada di sampingnya di atas meja dan sudah bersih dari noda hitam yang melekat akibat ledakan mobil.


Daren kembali menitikkan air matanya, dia menutup wajahnya dengan lengannya, dia tidak bisa menerima kenyataan pahit itu, kehilangan istri yang dicintainya. Matanya kini melirik kepada putra Kecilnya yang sedang terlelap di sampingnya.


Pintu kamar terbuka, Xaphier baru saja masuk dan tahu bahwa Daren sudah sadar dari pingsannya. Sementara di luar kamar rumah sakit itu terdengar suara teriakan tuan caesaar yang menangis sambil tertunduk sedih.


"Lexiaku, lexia kenapa hal mengerikan ini terjadi padamu." Pria tua itu terduduk di lantai marmer rumah sakit sambil menangis dan tertunduk dalam.


Daren masih menutup wajahnya dengan sebelah tangannya menutupi kedua matanya yang basah oleh air mata.


Xaphier ada di sana, dia sangat sedih, dia duduk di samping Ax menungguinya lalu memperbaiki selimutnya yang sedikit tertarik ke bawah.


"Daren? Saya sudah ke lokasi tempat lexia terjatuh, dan saya sudah menyisir tempat itu dengan menggunakan alat-alat berat, mengangkat bebatuan dan menebang pohon-pohon yang lebat, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya, mobil yang hangus itu betul-betul melahap habis semuanya." Ucap Xaphier, meskipun berat dia harus menceritakan semuanya kepada Daren.


Daren tiba-tiba terduduk di atas tempat tidur dengan mata yang merah dia menatap Xaphier. "Sebelum aku melihat tubuh istriku, aku tidak akan mempercayai jika dia betul-betul pergi meninggalkanku, jadi jangan halangi aku Xaphier, aku akan terus mencarinya, bagaimanapun caranya." Ucap Daren. Dia mencoba kuat dan mulai berdiri, Tetapi tentu saja tubuhnya di tahan oleh Xaphier.


"Kau belum bisa bergerak Daren, tunggulah sampai tubuhmu benar-benar sehat dan jangan lupa kau masih punya Axton, dia menunggu ayahnya kau tidak boleh menyakiti dirimu sendiri, anakmu membutuhkanmu." Ucap Xaphier sambil tertunduk sedih.


"Aku juga tidak mempercayai kepergian lexia Sebelum aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, jadi kau tidak sendirian daren, sebaiknya kau istirahat." Ucap Xaphier menenangkan.


~


Adrick Rudolf berdiri dengan tangan terkepal kuat-kuat, kemarahannya mencapai puncak dari segala emosi yang di tahannya sudah bertahun-tahun kepada ayahnya.


Dia datang ke mansion dan langsung mendobrak ruangan ayahnya, dengan napas memburu dia menatap tajam ayahnya.


"APA SEBENARNYA YANG TELAH AYAH LAKUKAN?!" Teriak Adrick kepada ayahnya.


Pria tua itu masih duduk dengan ketenangan luar biasa dalam menghadapi putranya ini, dia tahu betul bagaimana menghentikan sikap posesif dan agresifnya Adrick, ya...seperti inilah caranya agar dia berhenti melakukan hal bodoh kepada wanita itu, pria tua yang kejam itu tidak akan ambil pusing dengan nyawa orang lain asalkan anaknya terlepas dari jeratan obsesinya yang mengerikan, meskipun tindakan kali ini telah menghilangkan nyawa wanita itu.


"Seperti yang kau lihat sendiri Adrick, ayah melakukan semuanya yang bisa ayah lakukan, selama itu dapat menghentikan kegilaanmu terhadap wanita itu." Ucapnya pelan.


"Jadi untuk menghentikanku kau tega membunuhnya, kau tega menghabisi putri keluarga besar Tuan Caesaar? Jika dia mengetahuinya, itu akan menjadi keuntungan tersendiri untukku untuk membalas kekejaman ayah terhadap apa yang aku sayangi, apakah ayah tidak pernah sadar? Semua yang kusayangi telah kau renggut??" Teriak Adrick marah.


Dia tersenyum miring. "Kau jangan khawatir Adrick, sudah dari dulu permusuhan diantara keluarga kita tercipta dengan keluarga besar caesaar jadi bukanlah masalah besar jika Keluarga Caesaar memusuhi ayah." Ucapnya tenang.


"Bukan aku yang gila di sini, tetapi ayah yang terlihat gila dimataku." Ucap Adrick dingin, dia kemudian meninggalkan ayahnya sambil menutup keras pintu ruangan ayahnya.


Dia melangkah sampai di luar mansion lalu menelepon seseorang. "Cari dia sampai ketemu, dia hidup ataupun dia mati, bawa dia kehadapanku, kau paham!" Dia kemudian menutup ponselnya dan segera meninggalkan mansion milik ayahnya.


~


Hari ketiga setelah kepergian lexia

__ADS_1


Pukul 07.00 pagi hari.


Daren masih berdiri di tempat itu, garis polisi sudah terbentang di sana, di larang melewati police line itu tetapi Daren berdiri di sana sambil menatap ke bawah dengan mencari-cari apa saja tanda yang membuatnya yakin bahwa lexia masih hidup.


Hari ini rencananya Daren akan turun langsung ke dasar jurang untuk mencari lexia, dia akan turun dengan beberapa orang pengawalnya dan tenaga ahli dalam melakukan pencarian. Mobil hitam mewah berhenti tepat di sisi jalan, dia kemudian turun dan menghampiri Daren yang mengenakan rompi penyelamatan berwarna orens dan beberapa tas yang ada di belakangnya serta beberapa alat untuk menopang tubuhnya agar tidak tergelincir nanti.


"Daren !" Ucap Xaphier ketika melihat Daren sudah bersiap-siap untuk turun ke bawah.


Daren berbalik dan menatap Xaphier yang menatapnya dengan pandangan khawatir. Garis hitam terpeta dibawah mata Daren yang kurang tidur beberapa hari ini.


"Kau yakin akan turun ke jurang itu? Di cuaca seperti ini? Tidak bisakah kau menunda pencarianmu daren, sepertinya akan turun hujan Sebentar lagi." Ucapnya khawatir.


Daren menggelengkan kepalanya. "Semakin lama aku mencari lexia semakin aku akan kehilangan lexia, Xaphier." Daren menunduk kemudian menatap Xaphier dengan permohonan yang amat sangat.


"Xaphier, jaga Axton untukku katakan kepadanya, ayahnya akan segera kembali membawa mommynya pulang." Ucap Daren dengan matanya yang masih sembab.


Xaphier mengangguk pelan. "Hati-hatilah Daren, gunakan ini jika kau membutuhkan bantuan, alat ini dapat melacak keberadaanmu jika sesuatu terjadi di bawah nanti." Ucap Xaphier menepuk bahu Daren yang tersenyum tipis.


"Aku mempercayai jika lexia masih hidup Xaphier, meskipun semua meragukanku tetapi aku mempercayai jika lexia masih ada untukku." Ucapnya perlahan.


Tim mereka sudah bersiap untuk turun ke jurang yang terjal itu, cuaca kini terlihat betul-betul tidak bersahabat.


Xaphier ingin menghentikan kepergian daren, tetapi pendiriannya yang teguh membuat Daren tidak mendengarkan segala ucapan Xaphier, akhirnya dia merelakan Daren pergi, dia kemudian mengangguk dan menatap kepergian Daren dan beberapa orang yang menemaninya untuk menuruni lereng yang terjal dan bebatuan yang curam.


Daren berbalik menatap Xaphier yang masih berdiri di sana, dia mengangkat tangannya dan mengangguk menyakinkan, akhirnya dia turun dengan mengenakan tali pengaman, Xaphier memandangi kepergian Daren sampai dia betul-betul menghilang di balik pepohonan yang lebat.


~


"Kami tidak menemukannya tuan, Seperti yang diucapkan oleh mereka yang menyaksikan ledakan itu, tidak ada yang akan selamat dengan ledakan sebesar itu tuan." Ucapnya.


"Baik tuan."


Adrick menatap jendela kaca yang terbentang luas dihadapannya, matanya masih mengingat wajahnya yang bersinar cantik, pandangan tajamnya berwarna safir terang, dia kemudian menutup kedua matanya, mengingat segala sesuatu yang di sayanginya telah di renggut oleh ayahnya membuat rasa sesak di hatinya semakin menganga, sampai kapan ayahnya akan ikut campur dengan segala kehidupannya.


Pencariannya masih belum menemukan hasil, apalagi laporan dari orang-orangnya memberikan informasi jika Daren selalu berada di sana, menatap jurang tempat terjatuhnya lexia dan hari ini dia akan turun ke jurang yang terjal itu untuk mencari lexia, dia sama sekali menolak untuk mempercayai kematian lexia.


~


Siang itu Ax menangis terus menerus, dia di gendong oleh Nara, dia mencoba menenangkannya tetapi Ax tidak berhenti menangis mencari-cari ibu dan ayahnya.


"Axton kita akan berjalan-jalan di taman yaaa, nanti mommy dan daddy akan pulang, sshh...kita akan melihat air mancur, bagaimana?" Ucap Nara membawa Ax secepat mungkin ke tempat favoritnya dan lexia ketika mereka berjalan-jalan, beberapa pelayan mengikuti mereka.


Akhirnya Ax sedikit demi sedikit mulai tenang dan menggapai-gapai air yang tengah dilihatnya, Ax masih memanggil-manggil ibunya dengan suara terbata-bata.


"Mom...my." Ucapnya perlahan.


Nara mengangguk-ngangguk ketika Ax ingin meraih air yang memercik dengan bunyi menenangkan. Nara menghapus air matanya yang terus menetes di pipinya, dia berdoa agar Daren yang sedang mencari lexia segera kembali dengan keadaan selamat.


~


"Sepertinya kita harus istirahat di bawah batu besar itu, apalagi hujan semakin lebat." Ucap salah satu tim penyelamat yang memakai rompi berwarna merah. Mereka bertujuh sudah kelelahan ketika perjalanan mereka dihambat oleh hujan deras yang turun serta angin saat itu cukup kencang.


Daren melepaskan tas dari punggungnya, kemudian mencari-cari botol air dan meminumnya, kemudian memberikannya kepada para pengawal yang tidak membawa perbekalan apapun.

__ADS_1


"Kita tunggu sampai hujan reda setelah itu kita lanjutkan perjalanan untuk menyisir kesemua tempat, setelah kita ke bangkai mobil, kita akan segera menyisir daerah selatan, di sana ada satu desa kecil paling dalam yang jarang di lalui oleh orang-orang." Ucap salah satu tim penyelamat itu.


Wajah Daren yang tadinya datar kini berubah sedikit bersemangat.


"Desa? Dimana desa itu?" Tanyanya.


"Letaknya sangat jauh dari sini sir, perjalanan untuk menuju ke desa itu membutuhkan waktu sekitar dua hari, apakah anda berencana pergi ketempat itu? Desa itu benar-benar sunyi dan terpencil sir." Ucapnya.


Daren kemudian mengangguk menyakinkan. "Ya, aku akan ke sana, setelah kita menyisir tempat jatuhnya mobil dan jika kita tidak menemukan tanda-tanda keberadaan istriku, aku akan pergi ke desa itu dan mencarinya." Ucapnya tegas.


Para tim penyelamat itu saling menatap, mereka berdua yakin jika istrinya benar-benar telah wafat, melihat ledakannya saja, tidak akan ada yang bisa lolos dari ledakan sebesar itu.


Hujan akhirnya berhenti, mereka melanjutkan perjalanan ke tempat dimana mobil itu meledak. Mereka melintasi bebatuan yang besar dengan kondisi tanah yang basah kerena hujan deras yang turun tadi sehingga mereka kesusahan untuk melangkah.


Setelah melewati beberapa batuan dan pepohonan, akhirnya mereka tiba di tempat mobil itu meledak, hanya puing-puing berwarna hitam saja yang dapat dilihat oleh mereka, Daren menghampiri mobil itu dan memeriksa segala isi bagian dalamnya, meneliti ke setiap sudut, sama sekali tidak ada jejak bahwa ada manusia yang habis terbakar karena ledakan mobil, meskipun orang-orang mengatakan kepadanya ledakan itu sangat besar sehingga tidak meninggalkan sisa apapun bahkan tulang belulang pun tidak.


Daren kemudian mengelilingi setiap sisinya dan memeriksa di bagian tempat di sekitar jatuhnya mobil, dia tidak menemukan apapun.


"Sir, sepertinya kita harus kembali, Sebentar lagi malam akan tiba, jika anda ingin melanjutkan pencarian sebaiknya menunggu esok hari dan ada jalur aman untuk menuju ke desa itu." ucapnya.


"Jalur aman? tetapi perlu berapa hari untuk sampai di desa itu?" tanyanya.


"Sekitar 3 sampai 4 hari sir, karena kita harus memutari perbatasan Oklahoma sampai ke ujung selatan sehingga jaraknya sangat jauh." ucap pria itu.


Daren menarik napas panjang. "Aku tidak bisa menunggu selama itu, apakah di desa itu bisa dijangkau dengan helikopter?"


"Tentu bisa sir, meskipun banyak bebatuan dan pohon-pohon yang lebat, kita masih bisa menemukan titik aman untuk melakukan pendaratan pada helikopter nantinya." ucapnya.


"Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk segera mencapai desa itu dengan menggunakan helikopter?" tanya daren yang sekarang mulai bersemangat.


"Hanya membutuhkan waktu sekitar 6 sampai 7 jam saja sir." jawabnya


"Bagus, kita akan menggunakan helikopter untuk melakukan pencarian di desa itu."


"Tapi sir, sepertinya hujan akan turun lagi dan Sebentar lagi akan gelap sebaiknya kita naik dulu ke atas dan melanjutkan perjalanan kita esok hari menuju ke desa itu, kita harus menyiapkan perbekalan untuk menuju ke desa itu, apalagi penduduk di desa tidak bisa menerima orang luar begitu saja, kita harus berhati-hati untuk meminta izin mereka."


"Baiklah, kita naik sekarang." ucap Daren.


Mereka memutuskan untuk melakukan pencarian esok harinya agar segala yang disiapkannya dapat berjalan dengan baik. Setelah beberapa lama berjalan mereka kembali naik ke atas, di tempat itu ada satu penginapan, sehingga mereka bertujuh menginap di sana.


Daren berada di kamar penginapan itu seorang diri setelah selesai membersihkan dirinya, dia duduk di sisi tempat tidur sambil memegang cincin milik lexia, Daren mengambil ponselnya dan membuka foto-foto lexia yang cukup banyak di galerinya. Menatap foto-foto lexia membuat Daren sangat merindukannya. Dia masih memiliki harapan yang besar bahwa istrinya masih hidup dan berada di desa itu.


~


Tepat pukul 6 pagi helikopter sudah berada di helipad, jenis helikopter yang dikirimkan oleh Evan adalah Westland lynx01 helikopter ini terbang dengan kecepatan 300km/ jam lebih, dengan muatan 6 kursi untuk enam orang saja. Hari itu pagi-pagi sekali Daren sudah siap-siap begitupun dengan yang lainnya, Setelah sarapan mereka berenam sudah siap akan berangkat ke Desa itu melakukan pencarian.


"Sir kita berangkat sekarang." ucap salah satu tim penyelamat, mereka akhirnya naik ke helikopter dan segera menuju ke desa tersebut.


Desa itu bernama Turtle The Reaves bagian selatan yang paling dalam, sebuah desa yang populasi penduduknya sangat sedikit hanya berkisar 234 orang saja, dan penduduk di sana masih memiliki peraturan yang ketat mengenai siapa saja yang masuk dan keluar desa mereka. Dilengkapi senjata seperti tombak ataupun panah, meskipun di zaman seperti sekarang ini, senjata api sudah dijual dimana-mana, tetapi masyarakat disana masih menggunakan peralatan yang berasal dari alam.


Mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan peternak, dan beberapa bekerja sebagai Officer yang menjaga desa mereka tetap aman.


Sudah tiga hari wanita itu berada di dalam rumah salah satu warga dengan balutan perban di lengan dan di kakinya, beberapa luka juga nampak di wajahnya yang cantik, dia sudah sadar sejak sehari ketika seseorang menolongnya saat itu, dia masih duduk di sana sambil mengintip dari balik jendela aktivitas warga di desa terpencil itu.

__ADS_1


"Sial ! sampai kapan aku akan berada di rumah ini?! mereka tidak membiarkan aku keluar selangkahpun, apa pria botak itu juga selamat? awas saja jika nanti kau bertemu denganku !" Ucapnya sambil memegang buku-buku jarinya.


__ADS_2