The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Apartemen Alvin


__ADS_3

New York adalah kota terpadat di Amerika Serikat, pusat wilayah metropolitan terdepan, sebuah kota global yang merupakan salah satu wilayah metropolitan terpadat di dunia, dan malam itu mobil sport yang membawa lexia masih berada di kawasan Mildtown Manhattan city yang masih padat dengan kendaraan yang melintas padahal sudah lewat tengah malam.


Mereka akan membawa lexia ke tempat persembunyian yang aman, dan tempat yang aman itu adalah di tempat Alvin untuk sementara waktu ini, karena ketika daren sudah mengetahui kepergian lexia dari mansionnya, dia pasti akan mengerahkan seluruh orang-orangnya untuk mencarinya di setiap sudut kota di Manhattan bahkan dia akan menyebarkan orang-orangnya hingga mengelilingi kota besar yang ada di Amerika.


"Nona, telpon dari tuan Alvin." Ucap Ov. Lexia menaikkan satu alisnya karena sudah lama dia tidak mendengar suara Ov yang selalu berwajah datar, semenjak Ov bekerja di keluarga Burchard suaranya jarang terdengar hanya beberapa kata saja setelah itu dia hanya bekerja dalam diam.


Lexia mengambil ponsel itu, kemudian menjawab panggilan telepon Alvin.


"Ha..halo?"


"Bravo lexia, kau sudah keluar dari sana, temui aku sekarang, Ov akan membawamu ke tempat aman, kita akan segera bertemu." Ucap Alvin dengan suara riang.


'kenapa dia riang sekali?' pikir lexia, dia kemudian menyerahkan ponsel itu kepada Ov. Perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh, mereka menghabiskan beberapa jam di dalam mobil, beberapa kali singgah untuk sekedar mengisi bensin dan membeli sesuatu di mini market dan kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Lexia menatap pemandangan malam yang terlihat dari sungai Hudson, tidak berselang mereka sudah ada di jembatan Brooklyn melewatinya dengan kecepatan tinggi seakan ada yang mengejar mereka.


'Kali ini aku akan memastikan kau tidak akan menemukan aku daren.' pikir lexia.


~


Suara sepatu berlarian menuju kamar Barbara, langkah itu terdengar terburu-buru, dia membuka pintu kamarnya, dengan heran menatap kepala pelayan yang mengekspresikan wajahnya dengan ketakutan.


"Nyonya... nyonya berita buruk, gadis itu..gadis itu melarikan diri, pagi ini beberapa pelayan bertugas membawakan sarapan untuk nona lexia, tetapi dia tidak ada di kamarnya begitupun dengan di taman dan di semua tempat." Ucapnya Dengan tergesa-gesa.


"Periksa semua cctv, terutama yang ada di depan kamar gadis itu, kita harus tahu siapa yang membantunya keluar dari sini, karena keamanan di sekeliling mansion ini sudah di tingkatkan, pasti ada orang yang membantunya melarikan diri." Ucap Barbara dengan sinis.


"Jangan beritahu tuan Daren dulu, biar nanti aku yang mengabarinya."


"Baik nyonya." Pelayan itu segera menuju ke basemen tempat semua pantauan cctv di tempatkan di sana.


"Gadis bodoh itu pintar juga, kau lari di waktu yang tepat, tuan Robert tidak akan membiarkanmu lari lexia, aku sudah meminta maaf dan berlutut kepadanya agar dia memaafkan kesalahan kami, bahkan membawa lovelia yang masih belum sembuh dengan resiko begitu besar, sekarang giliranmu lexia, jika kau tertangkap oleh tuan Robert, kau akan pergi untuk selamanya, tidak ada yang akan sudi menolongmu, dia tidak akan memaafkanmu." Barbara tersenyum licik dia kemudian masuk kembali ke dalam ruangannya.


~


Apartemen itu terletak di tengah kawasan Williamsburg, apartemen yang betul-betul mewah itu dengan luas bangunannya setiap apartemen adalah 743 meter, apartemen itu tertinggi ke dua di new York dilengkapi dengan fasilitas super mewah dengan interior yang begitu berkelas.


Lexia mengikuti langkah kedua orang yang berjalan di hadapannya, penampilannya yang kasual begitu bertolak belakang dengan kemewahan di tempat itu. Lexia menelan ludahnya dan matanya naik turun karena begitu tercengang dengan penampakan bangunan super mewah yang ada di depan matanya.

__ADS_1


"Lewat sini nona." Ucap Ov.


Lexia masuk ke dalam Elevator, mereka bertiga menunggu elevator itu berhenti di lantai 77 dengan bunyi Ding yang berdentang.


Ov keluar, begitupun pria yang ada di sebelahnya, mereka seakan terlatih dengan cemerlang, langkah kaki yang ringan dengan berjalan kaku dan berwajah datar.


Jika saja lexia mencoba menyerang mereka, Lexia tahu dia pasti langsung KO begitu saja, mereka bodyguard khusus Alvin yang terlatih dengan profesional.


Akhirnya mereka bertiga tiba di pintu besar satu-satunya di sana berwarna gold. Mereka membukanya dan mempersilahkan lexia masuk, tetapi mereka berdua tidak masuk ke dalam. Setelah mengantar lexia, mereka kembali berjaga di pintu luar.


Lexia melangkahkan kakinya dengan berjalan perlahan, tas ransel hitamnya masih berada di punggungnya, dia berdiri di tengah-tengah ruangan menatap kagum tempat mewah itu.


Langkah sepatu itu membuat lexia berbalik, dia kemudian melihat senyuman menghiasi wajah Alvin kepadanya.


"Akhirnya kau tiba lexia, aku sungguh ingin mengobrol denganmu." Ucapnya.


"Mengobrol? Kenapa?" Tanya lexia dengan wajah bingung.


"Haha, sejak bertemu denganmu kupikir aku betul-betul memiliki keponakan yang menarik, tetapi sayang sekali kau bukan keponakanku, tapi tidak apa-apa, kita bisa menjadi teman." Ucap Alvin.


"Teman?" Lexia menaikkan satu alisnya dan mendengus sedikit.


"O..Oky itu...." Lexia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Alvin menatapnya sambil menahan senyuman di wajahnya. Dia menunggu kalimat apa yang akan diucapkan lexia.


"I.. itu anu..mm terima kasih kau mau membantuku Alvin."


Alvin tersenyum, "jangan sungkan lexia, aku memang terkenal baik hati." Guraunya.


Lexia mendengus mendengarnya. "Seharusnya kau yang harus banyak istirahat, Sepertinya kau suka mengigau." Ucap lexia kemudian pergi menuju ke kamar yang di tunjuk Alvin untuknya.


~


Evan mengetuk pintu kantor Daren, terdengar perbincangan dari dalam kantornya, beberapa orang pria berbalik seketika Evan membuka pintu kantor.


Evan berjalan dan berbisik kepada Daren, seketika wajah murka Daren menghias di wajahnya.

__ADS_1


"Meeting kali ini kita tunda dulu, kita akan segera bertemu kembali." Ucap Daren, dia pergi begitu saja dan lari terburu-buru dengan Evan ya g mengikutinya.


"KENAPA MEREKA SEMUA TIDAK BECUS? BAGAIMANA BISA DIA MELARIKAN DIRI." Bentakan Daren membuat orang-orang yang mendengarnya berbalik menatapnya.


Daren segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju mansion Burchard. Rahangnya tertarik kencang, dia begitu marah sampai memukul dashboard mobil begitu keras.


"Jadi inikah jawabanmu lexia !? kau menolak menikah denganku!" ucap Daren, matanya tajam menatap ke depan, dia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya di mansion, Daren berjalan tergesa-gesa sambil menekan lift dengan menekan tombol 5, tetapi langkah kaki di belakangnya menghentikannya, dia berbalik dan menatap Barbara berdiri di sana sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Gadis itu telah pergi, dia melarikan diri di saat yang tepat." ucapnya.


"Apa maksudmu Barbara?"


"Aku sudah menemui tuan Robert dan memohon maaf atas segala kebohongan kita kepadanya, dan kau tahu bagaimana aku memohon kepadanya demi lovelia? aku berlutut dan membawa Lovelia ke hadapannya, agar dia melihat sendiri bagaimana sebenarnya kondisi cucunya, dan seharusnya kita tidak pernah melakukan kebohongan ini dari awal." ucap barbara.


Daren melangkah pelan, "Apa yang dikatakan tuan Robert?" tanyanya.


"Dia...dia akan memaafkanku kali ini, karena melihat kondisi lovelia, jadi dia membiarkan aku pulang, tetapi untuk gadis itu, aku tidak bisa menjamin keselamatannya, mungkin saja sekarang ini tuan Robert sudah menyuruh orang-orangnya mencari gadis itu yang sekarang entah dimana."


"Apakah kakak yang membiarkannya pergi karena aku berniat menikahinya?" tanya daren.


Barbara tertawa keras. "Ide itu memang terlintas di pikiranku Daren, tetapi sepertinya gadis itu mengambil pilihan yang tepat karena dia meninggalkanmu, gadis itu menolak untuk menikah denganmu."


Daren menatap tajam kakaknya. "EVAN." Teriak Daren.


Segera saja Evan berjalan cepat dan menghampiri daren.


"Ya sir."


"Kerahkan semua orang-orangmu di setiap sudut kota Manhattan, temukan lexia bagaimanapun caranya." bentaknya.


"Baik sir." Evan lalu pergi dan segera mengumpulkan seluruh orang-orang Burchard.


"Biarkan gadis itu pergi daren, biarkan tuan Robert yang mencarinya, bukankah dengan kepergiannya sudah menyelamatkan keluarga kita, dia sudah tidak ada urusan dengan keluarga ini, biarkan itu menjadi urusan tuan Robert." Dia memelototi daren dengan marah.


"Aku yang membawanya kemari, aku yang akan membuat keputusan bagaimana lexia di tanganku, bukan kau atau tuan robert, nasib apapun yang menunggu gadis itu semuanya ada di tanganku, jadi berhentilah mengurusi lagi urusanku Barbara."

__ADS_1


Dia kemudian berbalik dan menekan tombol 5 di lift itu, dan masuk setelah lift membuka. Barbara masih berdiri di sana menatap daren dengan marah.


__ADS_2