
Mobil SUV berwarna hitam terparkir tidak begitu jauh dari mansion Ax, dia mencoba turun dan mencari cara agar bisa masuk ke dalam mansion itu, "Siapa sih gadis sialan perebut Ax dariku? Aku akan pastikan dia akan menjauh dari Axton bagaimanapun akulah yang lebih dulu melihat Ax, sejak awal Ax adalah milikku, dia ditakdirkan untukku, bukan untuk gadis lain." ucapnya sambil melepas sungglassesnya.
Dai berjalan dan memeriksa pagar besar di depan mansion, wajahnya terlihat bersemangat ketika seseorang membuka pintu dan mereka kini saling berhadapan.
"Anda mencari siapa Nona." Tanyanya.
"Apakah tuan Axton ada? Erm aku adalah temannya, aku ingin bertemu dengannya." Ucapnya semanis mungkin.
"Tuan Ax belum pulang dari pesta Nona, dia belum kembali sejak siang tadi." Ucap pengawal itu.
Rose tersenyum tidak percaya, dia lalu memegang pinggangnya, "Apa kau pikir aku gadis bodoh, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Axton dan juga gadis itu masuk ke dalam mansion, aku tidak bodoh."
"Silahkan pergi, tuan Axton belum kembali." Pengawal itu menutup gerbang mansion dan meninggalkan Rose dengan wajah kebingungan.
~
"Ayo masuk, kita akan ke taman dulu, setelah makanannya siap, kita bisa makan siang." Ucap Ax.
Fairley mengikuti Ax sampai ke taman, memang taman itu sangatlah indah di tumbuhi berbagai macam pohon dan bunga-bunga, Ax membawanya cukup jauh dari mansion, sampai tiba di depan air mancur yang di sukai Ax.
"Kemarilah Fairley." Ucapnya.
Fairley berjalan menuju Ax tetapi tidak duduk seperti yang dikatakannya melainkan dia berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Mengapa kau membawaku kemari? Kupikir kau akan pergi ke sebuah tempat, tetapi kenapa kesini, dan lagi, kenapa aku harus mengenakan gaun ini dan berpenampilan seperti ini?" Ucapnya terlihat wajahnya begitu gusar, sejak tadi dia ingin menanyakan kepada Ax pertanyaan ini.
Ax belum menjawab apa-apa, dia hanya duduk sambil tersenyum mendengar kemaraha Fairley.
"Apa kau tidak tahu kenapa aku membawamu kemari Fairley?" Tanyanya.
Fairley menggelengkan kepalanya, dia sama sekali tidak mengetahui alasan kenapa Ax membawanya lemari.
"Kau tahu, aku bukan pria yang membawa gadis secara acak ke dalam mansionku apalagi aku membawanya di tempat ini."
"Apa maksudmu Ax?" Tanyanya.
Ax kemudian berdiri dan menghapus jarak diantara mereka.
"Aku menyukaimu, kau akan menjadi kekasihku." Ucapnya.
Fairley begitu terkejut mendengar hal yang tidak di sangkanya, dia mundur beberapa langkah mencoba membatasi jarak di antara mereka, tetapi Ax memegang pundaknya menahannya untuk bergerak.
"Apa yang kau katakan?"
"Seperti yang kau dengar, kau akan menjadi kekasihku yang kuinginkan." Ucap Ax lebih mendekatkan tubuh mereka berdua.
"Apa sih yang kau katakan, kenapa aku harus menjadi kekasihmu? Apa kau terbiasa mendapatkan semua yang kau inginkan? Kau tidak bisa...
"Ya, aku bisa Fairley, yang kau katakan tidak benar, tidak semua hal kudapatkan dengan mudah, ibu biasanya menyuruhku untuk bekerja keras agar aku mendapatkan apa yang aku inginkan, dan sekarang, setelah semua yang kulakukan, serta pertimbangan yang matang, aku bisa mengatakannya." Ucap Ax.
Tanpa Fairley duga, Ax menciumnya begitu saja membuat Fairley merasakan hembusan panas dari bibir Ax yang menyatu dengan bibirnya, ciuman ringan dan lembut terasa di bibir Fairley, dia masih tertegun sampai-sampai dia tidak bisa bergerak dengan ciuman Ax. Mereka saling menatap, senyum terbit dari wajah Ax, dia menarik tangan Fairley dan kemudian memeluknya.
"Mulai sekarang kau adalah kekasihku Fairley, kau mendengarku?" Ucapnya.
Kaki Fairley terasa lemas, seumur-umurnya dia tidak pernah sekalipun dekat dengan seorang pria, memiliki teman pria saja dia tidak punya, tiba-tiba saja dia sudah memiliki kekasih bahkan dia sudah merasakan ciuman pertamanya di usianya yang ke 17 tahun.
"Fairley? Kau baik-baik saja?" Tanya Ax menunduk sedikit, lalu menatap wajah Fairley yang seakan terhipnotis, dia tidak bisa beranjak dari pijakannya.
Tubuhnya terasa lemas, dia hampir saja terjatuh di tanah, dengan cepat Ax memegangnya agar tubuhnya dapat bersandar kepada Ax.
"Fairley kau baik-baik saja? Hei.. Fairley."
Cepat-cepat Fairley mencoba berdiri tegak tetapi sayangnya dia kehilangan keseimbangan dan sekali lagi dia hampir terjatuh, wajahnya merona, bibirnya bergetar, dia ingin sekali memukul pria yang telah mencuri ciumannya.
"Kau gila ya." Ucap Fairley, akhirnya suaranya dapat keluar setelah dia dapat menguasai dirinya.
"Aku masih waras, dan aku sudah memilihmu untuk jadi kekasihku, kau menyukainya atau tidak." Ucap Ax.
"Kau sinting." Teriak Fairley, dia berbalik dan ingin segera meninggalkan Ax dan berjanji tidak akan pernah kembali kemari, tetapi sayangnya Ax memegang tangannya sekali lagi menariknya hingga tubuh mungilnya jatuh kedalam pelukan Ax yang bertubuh tinggi dan berdada bidang.
"Lepaskan Aku Axton !" Perintahnya.
Ax tersenyum, dia masih memeluk tubuh mungil yang kini ada di pelukannya.
"Akhirnya kau menyebut namaku Fairley, kau tahu, sudah sejak lama aku menunggu-nunggu kau menyebut namaku dan sekarang aku mendengarnya." Bisik Ax.
"Aku akan teriak jika kau tidak melepaskan pelukanmu, biar para pengawal-pengawal itu melihat kelakuanmu." Ucap Fairley mendorong tubuh Ax sekuat tenaga tetapi mustahil karena tubuh mungilnya tidak sanggup memisahkan tubuh mereka bahkan dengan sekuat tenaga yang dikeluarkan Fairley.
Axton tersenyum senang. "Teriaklah jika pengawal-pengawalku datang, mereka akan mendapatkan hukuman karena mengganggu kita." Ucap Ax membuat Fairley panas dingin dengan pelukan intim darinya.
~
Lexia baru saja bangun dari tidurnya, dia memegang kepalanya yang sedikit berdenyut. "Ugh jam berapa sekarang?" Tanyanya, sambil menatap jam di atas Nakas dan mencari-cari Daren.
Pintu kamar terbuka, nampak Daren membawakan nampan berisi makan siang untuk lexia. "Kau sudah bangun sayang, makan ini, aku sendiri yang membuatnya." Senyum daren sambil duduk di tepi tempat tidur dan mengambil semangkuk bubur yang sengaja dibuat Daren karena akhir-akhir ini lexia tidak menyukai makanan yang berbumbu atau berbau menyengat, dia akan muntah.
"Erm, apa kau sudah menelepon Axton? Aku tidak sempat meneleponnya."
__ADS_1
"Jangan khawatir sayang, Ax bukan anak kecil lagi, dia akan mengerti."
"Apa dia tidak menimbulkan masalah? Aku khawatir terhadap Ax, Dia kan tipe pemaksa seperti dirimu." Ucap lexia kepada Daren.
~
Fairley mencoba melepaskan diri dari Ax, tubuh mungilnya masih terperangkap di dalam pelukan Ax, "Kau tidak ingin melepaskanku? jangan menyesal jika aku akan melakukan sesuatu yang membuatmu kesakitan." ucap Fairley.
Ax hanya tersenyum mendengar segala ocehan Fairley kepadanya. Tiba-tiba Fairley menendang tulang kering Axton dengan keras, pelukannya terlepas, Fairley mencoba melarikan diri tetapi tangan Ax masih menggenggam salah satu tangan Fairley.
"Sudah kubilang kan, aku sudah memperingatimu, lepaskan tanganku, kau sama sekali tidak mendengarkan aku, jadi sebaiknya lepaskan tanganku." ucap Fairley. Meskipun kaki Ax kesakitan, dia masih memegang erat tangan Fairley.
"Aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Dia hendak pergi tetapi lagi-lagi tangannya masih di genggam erat Axton.
"Jangan keras kepala, aku akan mengantarmu." ucap Ax. Fairley menghembuskan napasnya, dia juga tidak bisa pulang kerumahnya dengan kondisi pakaian seperti ini.
"Aku mau mengganti dulu pakaianku, aku tidak bisa pulang dengan pakaian seperti ini." ucapnya.
"Oke oke, lakukan yang kau inginkan, tapi aku akan mengantarmu pulang." Ax menarik tangan Fairley menuju mansion tetapi tanpa di sangkanya, di sana sudah datang Dazon , Daneil, Jennifer dan yang membuat Ax tidak percaya gadis pengganggu itu juga ada di sana, rose menatap Ax dan Fairley tajam.
"Aku tidak tahu kalau kalian akan datang ke mansionku." ucap Ax.
Mereka semua menatap Ax dan juga Fairley, "Apa kau tidak akan mengenalkan kepada kami kakak ipar baru kami?" Ucap dazon sambil tersenyum jahil kepada Ax.
Ax masih menggenggam erat tangan Fairley. "Kalian tidak perlu mengenalnya, kami harus pergi, jangan berkeliaran di mansionku, segera pulang !" Teriak Ax.
Ax masih menarik tangan Fairley hingga dia harus berlari-lari kecil mengikuti langkah kaki Ax.
"Tunggu Ax." Teriak Rose dengan wajah memberengut marah, tatapannya jatuh kepada Fairley.
"Siapa gadis ini, apa hubunganmu dengannya?" tanyanya dengan pandangan benci kepada Fairley.
Fairley mencoba berbicara ingin menampik ucapan Ax. tetapi sayangnya Ax mendahuluinya berbicara.
"Kau tidak perlu tahu, bukan urusanmu, kau sendiri siapa." Ucap Ax, dia segera berbalik tetapi rose menghalanginya.
"kau tidak bisa pergi sebelum kau menjawab pertanyaanku." ucapnya.
Ax memutar matanya, dia segera memberikan perintah kepada Dazon.
"Dazon, urus dia, kenapa kau membiarkan wanita hantu ini masuk ke mansionku?" ucap Ax heran. Tanpa memperdulikannya, Ax segera membawa Fairley ke parkiran mobil dan segera menyuruhnya masuk.
Dengan wajah merah padam, Rose menatap kepergian Ax dan Fairley, dia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
~
"Tidak, aku ingin pulang sekarang juga." Ucap Fairley marah.
Ax menghembuskan napasnya, dia akhirnya menuruti keinginan Fairley. Mereka tiba di jalan menuju rumah Fairley.
"Kau tahu dimana rumahku?" tanyanya heran.
"Ya, tentu aku tahu."
Fairley menyipitkan matanya, menatap Ax yang sedang menyetir di sampingnya. "Kau penguntit ya." tanyanya.
Ax tidak menjawabnya, dia masih mengendarai mobilnya dan berhenti tepat di depan rumah Fairley. Mereka berdua turun dari mobil Axton.
Fairley berharap Ax segera pergi dan tidak perlu mengantarnya.
"Kau tidak mengundangku masuk?" tanyanya.
"Kau mau masuk? ibuku sedang tidak ada jadi aku tidak bisa membiarkan pria masuk ke dalam rumahku." ucap Fairley dengan ketus.
"Buatkan aku makanan, aku belum makan siang, sekarang sudah jam 2 siang, ini salahmu jika nanti aku sakit perut." Ucap Ax. Tanpa Fairley mempersilahkan, Ax berjalan mendahului Fairley dan membuka pagar besi rumah Fairley.
"Ugh, dia betul-betul pemaksa." Fairley menyusul Ax yang berjalan di hadapannya.
Fairley membuka pintu rumahnya, membiarkan Ax masuk, Ax menatap rumah Fairley, dia masuk ke ruang tamu yang tidak begitu luas, dua kursi berwarna biru tertata dengan rapi serta meja di depannya, satu lemari di samping jendela serta satu lukisan yang melekat di dinding rumahnya.
"Kau tinggal di sini bersama ibumu?" tanyanya.
Fairley mengangguk, "Erm ya, kami hanya berdua." jawabnya.
"Kau tidak ingin membuat sesuatu? aku lapar sekali." Ucap Ax.
Fairley menatap Ax dengan ragu, "Ada apa?" tanyanya.
"Erm, aku akan segera membuatnya." Ucap Fairley segera masuk ke dapur dan memeriksa apa saja yang ada di dalam kulkasnya, Fairley memutuskan membuat makanan simpel yaitu sphagetti saus tomat, dia selalu berbalik dan melirik kepada Ax, dia heran karena tuan muda sepertinya mau makan di rumahnya, padahal dia bisa mampir di restaurant ketika pulang dari sini.
Ax yang tidak sabaran mengintip dari dapur Fairley. "Kau sedang buat apa?" tanyanya, dia mengintip dari bahu Fairley masakan yang dibuatnya.
Fairley terkejut, "Kenapa kau begitu terkejut?" ucap Ax.
"Kau perlu bantuan?" tanyanya.
__ADS_1
"Erm.. Sebentar lagi makanannya akan siap, kau bisa duduk di sana." Sambil menunjuk meja makan kecil yang berada di belakangnya.
Fairley menyiapkan dua piring sphagetti di atas meja, dia memberikan satu piring kepada Ax dan sepiring untuknya. Ax menatap sepiring sphagetti yang ada di hadapannya, lalu mulai mengaduknya.
"Hanya tomat saja?" tanyanya.
"Ya, hanya itu yang kupunya, kalau kau tidak mau aku bisa memakan semuanya." ucap Fairley acuh.
Ax mulai menyendok makanannya, dan memakannya. Fairley mengintip Ax yang memakan masakannya dengan lahap, tidak berapa lama, Ax sudah menandaskan makanannya.
"Masakanmu lumayan, kau nanti bisa membuatkanku lagi." Ax yang selesai makan memperhatikan Fairley yang makan dengan sangat Lambat.
"Apa perlu aku menyuapmu? kenapa kau lama sekali makan?" tanyanya sambil menopang dagu di tangannya, memperhatikan Fairley makan.
"Berisik, kau sudah makan, sekarang kau bisa pulang."
Ax berdecak, kemudian dia berdiri dari tempat duduknya. "Besok aku akan menunggumu di mansionku." ucap Ax.
Fairley mengantar Ax keluar rumah, tiba-tiba Ax berbalik dan memberikan kecupan singkat di bibir Fairley, "Aku pulang, trims untuk makanannya Fairley." Ucapnya sambil tersenyum, tanpa melihat wajah Fairley yang memerah, Ax segera meninggalkan rumah Fairley.
~
"Apa yang kalian lakukan ketika di mansionmu Ax? aku lihat wajahnya memerah, katakan kepada kami." desak Dazon.
Ax yang baru saja pulang ke Mansion Dazon langsung saja di banjiri pertanyaan beruntun oleh Dazon. "Memangnya kenapa?" tanyanya.
"Tidak usah kau sembunyikan, apa yang kau lakukan pada fariley." ucap Dazon, Ax menggelengkan kepalanya mendengar Dazon menyebut nama Fairley dengan salah.
"Namanya Fairley," ucap Ax.
"Ya ya namanya Fairley, katakan kepada kami, kau pasti melakukan sesuatu kepadanya." tuduhnya.
"Aku menciumnya, kau puas sekarang." Ucap Ax dengan enteng, dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil mengingat kembali wajah merah merona Fairley sewaktu dia menciumnya.
Daneil menggelengkan kepalanya, "Kau pasti menciumnya tanpa seizinnya." ucapnya.
"Apa aku harus meminta izin mencium kekasihku sendiri? kau cerewet sekali." Ucap Ax, dia kembali mengingat-ingat wajah Fairley yang merona, wajahnya terlihat kesal meskipun begitu dia tampak cantik.
"Kita keluar Daneil, orang yang sedang jantung cinta, sulit untuk di ajak ngobrol, dia sedang tidak waras." Ucap Dazon membuat Neil terkekeh.
~
Fairley berada di kamarnya, setelah membersihkan dirinya dan mengenakan pakaiannya, dia kembali mengingat ciuman Ax kepadanya.
Dia memegang bibirnya, dan tiba-tiba saja wajahnya merah merona.
Bunyi bel di rumahnya membuat Fairley terkejut, dia mengintip dari pintu rumahnya, seorang gadis berambut pirang sedang memencet bel berkali-kali seperti orang kesetanan.
Sebelum Fairley membukanya, pria yang tinggal di depan rumah Fairley bernama Erick menegur Rose yang memencet bel rumah orang dengan tidak sopan.
"Nona, apa yang kau lakukan?" tanya Erick.
"Bukan urusanmu, jangan menggangguku, enyah dari hadapanku, aku tidak Sudi berbicara dengan gelandangan seperti dirimu, jika saja kalau bukan karena Ax, aku tidak akan datang ke tempat gelandangan seperti ini." Omelnya.
Erick tersenyum miring, Fairley masih mengintip dari jendela, dia sebenarnya malas berurusan dengan wanita pirang itu.
"Yang punya rumah sedang tidak ada, sebaiknya kau pergi dari sini, tempat ini tidak cocok untuk gadis seperti dirimu, kau tahukan lingkungan di tempat seperti ini, kau bisa saja pulang dengan keadaan tidak utuh, kau tahu maksudku?" Ucap Erick menaikkan satu alisnya dan menatapnya dengan wajah sekurang ajar mungkin.
Rose merasakan tanda bahaya, melihat rumah-rumah yang tampak kusam dengan berbagai macam mobil Truck di sana sini, kemudian dia menyadari tempat yang di datanginya adalah tempat berbahaya untuknya.
Dia kemudian mundur beberapa langkah, dengan sikap angkuh dia melewati Erick dan masuk ke dalam mobilnya.
~
Pesan Dazon terkirim ke ponsel Ax.
"Sepertinya wanita itu mendatangi kekasihmu Ax, tetapi untungnya Fairley tidak bertemu dengannya."
Ax tiba-tiba saja terduduk di tempat tidurnya, "Sial ! wanita gila itu berani sekali dia." Ucap Ax kesal.
Terdengar ketukan beberapa kali dari pintu kamar Ax.
"Tuan, ada tamu untuk anda." Ucap seorang pelayan.
Axton segera keluar dari kamarnya dan menuju kamar tamu, di sana sudah duduk Dazon dan Daneil serta Jennifer, dan satu lagi yang membuat Ax kesal, wanita itu juga ada di sana.
Ax membuka pintu, dia masih mengenakan kemeja putihnya yang tadi di kenakannya.
"Ada apa?" tanya Ax menatap jengkel kepada Dazon.
Matanya kini beralih kepada Jennifer yang mengangkat bahunya, pertanda ini bukan salahnya.
"Axton, aku datang kemari untuk memberitahu mengenai wanita yang kau bawa di mansionmu, dia..dia membohongimu, dia bukan gadis seperti kami, dia hanyalah seorang gelandangan yang hidup di rumah-rumah kumuh, sepertinya dia sengaja mendekatimu karena mengetahui telah mendapat tangkapan besar, aku sudah mendatangi rumahnya, kau seharusnya lebih berhati-hati." Ucap Rose dengan suara nyaris habis ketika menceritakan hasil jerih payahnya mencari tahu mengenai Fairley.
Dazon menaikkan alisnya, menunggu Ax yang sewaktu-waktu bisa meledak. "Kau gila ya, atau kau sedang sakit? Kau ini siapa?" Ax kemudian berdiri dan menatap Jenni. "kenapa kau bisa berteman dengan perempuan gila ini Jenni." Bentak Ax.
"Ax, dengarkan aku, gadis itu memperdayaimu dia gadis miskin kotor dan tidak tahu diri."
__ADS_1
Terdengar Tamparan cukup keras di wajah Rose. "Seharusnya dari dulu aku melakukan ini, jangan pernah menghubungiku lagi Rose, mendengar dari orang-orang bahwa kau adalah temanku saja sudah membuatku malu, apa kau tidak sadar? kau itu sama sekali tidak di sukai oleh Ax, namamu saja bahkan dia tidak ingat, sebaiknya berhenti sekarang juga sebelum kau mempermalukan dirimu di depannya." Ucap Jennifer marah.
"Sepertinya Jennifer sudah mewakiliku berbicara, dan satu hal lagi, jika kau berani mendatangi kekasihku lagi, besok kau akan lihat sendiri bagaimana rasanya menjadi gelandangan." Ucap Ax menatapnya tajam.