The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Keberadaan Lexia 2


__ADS_3

Hari itu lexia bangun kesiangan, dia begitu lelah karena mereka datang larut malam. Udara pagi di kota terpencil itu serasa menyegarkan pernapasan lexia yang masih tertidur.


Dia tertidur lelap sampai sebuah ketukan membuat lexia menggeliat.


"Hmm....jangan bangunkan aku daren...aku masih ngantuk." Gumam lexia tanpa sadar menyebut nama daren.


Ketukan itu masih terdengar sehingga lexia akhirnya bangun dengan malas dan membuka pintu kamarnya.


Edo muncul di depan pintu kamar lexia dengan wajah serius, jari telunjuknya berada di bibirnya.


"Ada apa Edo?" Ucap lexia yang masih belum mengerti dengan situasinya.


"Sst jangan berisik cepat mandi dan kenakan pakaianmu, Sepertinya mereka menyusul kita ke sini, aku melihat beberapa orang berjas hitam sedang berkeliling di lingkungan ini "


Jantung lexia berdegup kencang, lexia dengan cepat membersihkan dirinya dan segera mengenakan pakaiannya.


Lexia menghampiri Edo yang mengintip dari jendela. Lima orang pria sedang berjalan-jalan dan menatap setiap rumah yang ada di lingkungan itu.


"Bagaimana Edo? Apa kita harus pergi?" Ucap lexia gelisah.


"Kalau kita keluar, kita akan tertangkap, tunggu saja di sini dulu dan jangan berisik." Ucap edo.


Seorang pria yang sedang melewati rumah nenek Edo menatap ke rumah itu dan berhenti sebentar, dia terlihat mencurigai sesuatu.


"Tutup jendelanya lexia" ucap Edo yang menunduk bersama lexia dan sembunyi di bawah gorden yang tertutup.


"Sial ! Cepat sekali mereka datang ke tempat ini, di sini sudah tidak aman lagi lexia mereka mengetahui keberadaan kita." Ucap Edo.


Lexia tertunduk dengan jantung yang berdetak kencang. Sepertinya kali ini daren betul-betul marah. Sebuah mobil baru saja berhenti tidak jauh dari rumah nenek edo, dengan cepat Edo dan lexia mengintip.


Seorang pria baru saja keluar dari mobilnya dengan mengenakan kacamata hitamnya. Beberapa penjaga sedang berdiri di samping kiri dan kanannya.


"Apakah di sini?" Ucapnya


"Ya sir." Ucap Evan.


Daren menatap rumah-rumah yang terbuat dari kayu yang saling berderet rapi. Lingkungan yang asri dan nyaman jauh dari kesan kota dan cukup tenang.


"Kalian sudah memeriksanya?" Tanya daren lalu melepaskan kacamatanya.


"Sial itu daren!" Ucap lexia lalu menunduk dengan cepat dan bersandar di balik dinding. Dia pasti marah besar, tapi lexia tidak perduli baginya kebohongan daren membuat lexia lebih marah kepadanya.


Sebuah langkah terdengar jelas mendekati pintu rumahnya dan akhirnya ketukan pintu terdengar, membuat lexia dan Edo begitu panik.

__ADS_1


"Naik ke atas lexia dan sembunyilah." Ucap Edo.


Lexia terburu-buru naik ke atas rumah itu lalu masuk kedalam kamarnya dan menutupnya, kemudian dia berdiri di balik pintu.


"Cukup hebat lexia, aku kagum dengan pelarianmu tapi jika kau terus berada di tempat ini mereka pasti akan menemukanmu." Ucap pria itu dengan senyum diwajahnya.


Lexia begitu terkejut jantungnya terasa di pompa dia berbalik dan menatap William sudah duduk di atas tempat tidurnya sambil menatapnya.


"Kau ! Bagaimana kau bisa masuk ke sini?"


Lexia mundur beberapa langkah sayangnya pintu yang terkunci membuat langkahnya berhenti.


"Menyelinap adalah keahlianku lexia." Wajah geli terpeta di wajahnya, dia merasa situasi lexia sedikit menghiburnya.


"Jadi, kau akan membawaku ke hadapan daren?" Tanya lexia menatapnya dengan tajam.


"Ck, akan kupikirkan jika kau menentangku untuk ikut denganku, tapi jika kau bersikap manis dan mau bekerja sama denganku, aku akan mengeluarkanmu dari tempat ini." Ucap William, matanya menari-nari melihat kebingungan yang di hadapi lexia.


Lexia sedang berpikir, jika dia mengikuti pria ini tidak akan ada bedanya dengan tinggal di mansion itu, pria ini akan mengurung dirinya, William tidak berbeda dengan daren, mereka berdua sama-sama berbahaya bagi lexia.


William berdiri dan melangkahkan kakinya mendekati lexia.


"Pilihanmu sebenarnya sudah tidak ada lexia kau hanya harus ikut denganku, aku bukan daren, aku tidak akan mengurungmu seperti dirinya, jika kau mau, kau boleh tinggal di tempatku.


Lexia menggigit bibirnya, dia sama sekali tidak memiliki pilihan lain, wajah pria ini sangat mencemaskan lexia, kesulitan lexia Sepertinya Sangat menarik baginya, apalagi lexia sekarang tahu siapa dia setelah penjelasan Edo mengenai William Luther.


"Jadi, bagaimana kau akan mengeluarkan aku dari sini jika orang-orang daren berada di setiap tempat."


Dia tertawa, "itu mudah lexia."


"Ba...baiklah aku ikut denganmu."


"Good girl." Dia mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi seseorang, tidak begitu lama menunggu, keributan terdengar dari luar.


Lexia mengintip dari balik gorden, terlihat asap yang membumbung tinggi, mobil milik mereka terbakar terlihat dari kejauhan asapnya yang mengepul.


"Kau membakar mobil mereka?" Ucap lexia, William telah berdiri di belakangnya begitu dekat membuat lexia terkejut.


Lexia berbalik dan menatap tajam william yang mengurungnya dengan kedua tangannya.


"Apa yang kau lakukan?" Ucap lexia dengan pandangan marah kepada William yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Tidak ada, aku hanya ingin memandangmu."

__ADS_1


"Aku mungkin akan berpikir ulang untuk ikut denganmu jika kau....


Sebuah kecupan kilat mendarat di bibir lexia.


"Kau tidak punya pilihan lexia, sekarang pilihanmu hanya ikut denganku, kau mengerti. Aku tidak akan bertindak kasar jika kau menurutiku." Ucap William.


"Aku memiliki banyak pilihan William, dan pilihanku tidak akan ikut denganmu, kau brengsek." Ucap lexia.


"Ck, jadi aku harus membawamu dengan paksa bukan?" Senyumnya, serangannya begitu tiba-tiba, dia menghimpit lexia di tembok dengan bibirnya mendarat di bibir lexia dengan kasar mencoba membuka bibir lexia.


Lexia memukul bagian apa saja dari tubuh William, ciuman kasarnya membuat lexia kesulitan bernapas.


Kedua tangannya di pegang erat oleh William, hanya kepala lexia yang bergoyang ke kiri dan ke kanan untuk menghindari ciuman William. Tiba-tiba bibir William terlepas dan kembali mendarat di ceruk leher lexia dan mengecupnya di sana.


"Tidak, pergi kau brengsek." Teriak lexia dengan sekuat tenaga mendorong tubuh William hingga dia mundur beberapa langkah.


Napas lexia begitu memburu, suara-suara gaduh dari luar rumah menutupi teriakan lexia.


"Kau brengsek!" Umpat lexia.


Suara langkah kaki membuat lexia berlari menuju kepintu kamar, tetapi William menangkapnya dan menariknya dengan paksa untuk bersembunyi di belakang pintu.


"Bibirmu sangat manis lexia." Bisik William sambil memeluknya dari belakang, tangannya berada di mulut lexia agar dia tidak bersuara.


Ketukan beberapa kali membuat lexia mencoba bersuara tetapi dekapan William kepadanya semakin erat.


"Sir, ini saya sir, keadaan di luar sudah aman mereka akhirnya pergi karena warga di sekitar lingkungan ini mulai curiga dengan keberadaan mereka, dan beberapa dari warga sudah menghubungi polisi."


William melepaskan tangannya dari mulut lexia tetapi sebagai gantinya dia memegang erat tangan lexia agar dia tidak kabur.


"Bagus, siapkan mobil, kita segera pergi."


"Aku tidak mau ikut denganmu." Teriak lexia.


"Kau tidak memiliki pilihan lain sayang, ikut denganku lexia dan jangan melawan karena aku tidak segan-segan untuk menyakitimu."


William menarik tangan lexia lalu keluar dari kamarnya. Mata lexia mencari-cari Edo dan terkejut ketika melihat tubuhnya berada di lantai.


"Edo ! Edo bangun edo..." teriak lexia.


"Jangan khawatir dia hanya pingsan, aku mengenal Edoardo jadi aku tidak akan membunuhnya." Ucap William enteng.


"A...apa membunuh?"

__ADS_1


William tersenyum miring, "Tidak perlu terkejut lexia kau pasti sudah mendengar dari Edo tentangku bukan?" Wajahnya membingkai dengan senang.


Dia menarik lexia menuju mobil yang sudah terparkir di belakang rumah nenek Edo dan membawanya masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan tempat itu.


__ADS_2