The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Bayi lexia


__ADS_3

Oklahoma, 08.00 pagi


Lovelia berjalan di halaman mansion sambil menikmati indahnya pagi hari, kali ini dia mengenakan dress panjang berwarna biru Senada dengan ikat rambutnya yang diikat tinggi hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang, dia duduk di taman sambil membuka-buka bukunya dan bersenandung senang.


Dia melihat jam di pergelangan tangannya, lovelia tersenyum senang, jam itu adalah pemberian Alvin kepadanya, dan dia sangat menghargainya, tiba-tiba lovelia melihat Edo sedang berjalan tidak jauh dari tempat duduk lovelia.


"Eh, bukankah pria itu teman lexia?" Ucap lovelia, dia mengingat saputangan pemberian Edo kepadanya dan dia bermaksud mengembalikannya, lovelia dengan berani berjalan mengikutinya tetapi tiba-tiba perhatiannya teralih dengan kehadiran Alvin yang menarik tangannya.


"Apa yang kau lakukan lovelia? Kau mau kemana?" Tanyanya.


Lovely berbalik dan menatap Alvin yang sudah berdiri di sana. "Kau mau kemana lovely?"


"Erm itu...aku..aku melihat teman lexia yang sedang berjalan ke arah sana." Ucap lovelia sambil menunjuk pintu gerbang mansion itu.


"Jangan kesana, di tempat itu penuh dengan para penjaga kau pasti tidak akan suka, kemarilah kita sarapan bersama." Dia menarik tangan lovelia dan masuk ke dalam mansion, lovelia berbalik dan Melihat Edo masih disana berdiri layaknya seorang pengawal.


~


Setelah malam itu lexia kembali memiliki seorang yang tidak menyukainya, dan dia terbiasa dengan hal itu, entah mengapa wanita paruh baya itu tidak menyukainya, tapi Lexia tidak perduli sama sekali.


Hari itu lexia sedang duduk-duduk di ruang tamu seorang diri, daren sedang berada di kantornya bersama Evan, langkah kaki itu membuat lexia mendongakkan kepalanya menatap wajah wanita yang betah berlama-lama di mansion ini ketika dia mengetahui jika lexia menginap untuk beberapa hari di sini. Dia menyilangkan kedua tangannya lalu menatap angkuh Lexia sambil mengetuk-ngetukkan kakinya di lantai.


"Kau di sini Celia, seharusnya wanita yang hamil harus banyak bergerak, jangan terlalu banyak duduk kau bisa saja menjadi malas." Lexia yang dari awal tidak suka dengan ocehan wanita ini, masih duduk dan memainkan ponselnya tidak memperdulikan ucapannya.


"Celia, kau mendengar kata-kataku, sebaiknya kau berjalan-jalan di luar untuk kesehatan dirimu dan bayimu, dari tadi kau hanya duduk saja."


Lexia menatapnya dengan tajam. "Apakah begini sifatmu ketika kau berbicara dengan ibuku dahulu, padahal usianya lebih tua darimu? Kau siapa? Kenapa kau mengatur-aturku?" Balas lexia dengan sengit. Wajah wanita itu memerah dia tidak suka dengan sikap lexia yang tidak mau mendengarkan ucapannya dia tidak terbiasa menerima perlakuan kasar seperti yang lexia lakukan.


"Aku? Kau tidak tahu ya, aku ini keponakan ayahmu, jadi kau harus mendengar semua kata-kataku dan...


lexia minum segelas air dan membantingnya begitu saja di atas meja, hingga wanita itu terkejut. Tanpa mengatakan apa-apa lexia pergi meninggalkannya. Wajah wanita itu memerah, dia heran dengan sikap lexia yang melawan padanya, baru kali ini seseorang memperlakukannya seperti ini.


Lexia masuk ke dalam kamarnya, perutnya sedikit mulas, dia tertidur di ranjangnya untuk beristirahat sambil menunggu kedatangan Daren. Sore itu Daren pulang cepat karena mengkhawatirkan kondisi lexia, sebab seringkali perutnya kontraksi, usia kandungannya sudah sembilan bulan dan Daren harus selalu berada di samping lexia.


"Ada apa lexia? Perutmu sakit?" Tanyanya.


Lexia mengangguk. "Tadi sakit tapi sekarang aku baik-baik saja, Daren?


"Hem, ada apa sayang." ucap Daren yang meletakkan tasnya dan mendekatkan dirinya ke lexia.


"Aku mau pulang, aku bosan bertemu nenek sihir di mana-mana." bisik lexia. "Aku tidak mau ketika melahirkan nanti wajah perempuan mengerikan itu terbayang di kepalaku." ucap lexia merinding.


"Nenek sihir?" Tanyanya, Daren mengernyitkan dahinya lalu melonggarkan dasinya dan membuka kemejanya.


"Kau tidak tahu? Wanita semalam yang mengomel kepadaku, dia membuatku geram ketika melihatnya, dia menyuruhku bergerak-gerak Daren, katanya baik untuk kandungan, jadi kutinggalkan saja dia."


Suara ketukan baru saja terdengar, daren membuka pintu dan menatap wanita bernama Melda membawa sesuatu di atas nampan.


"Aku membawakan makan siang untukmu Daren, kau kan baru pulang dari kerja, sebaiknya kau makan dulu, lexia pasti tidak bisa melayanimu karena dia tidak bisa banyak bergerak." Dia tersenyum manis sambil menyerahkan nampan itu.


Lexia yang mendengarnya, betul-betul geram kepada wanita tua ini, dia berdiri di depan daren dengan wajah murka. Matanya melotot menatap tingkah wanita tua ini, mengapa di bersikap genit kepada daren. "Kau wanita tua tidak tahu diri." Ucap lexia memandangi wajah wanita di depannya. Dia mendorong nampan itu hingga jatuh berserakan di lantai.


Wanita bernama Melda begitu geram tangannya terangkat hendak menampar lexia tetapi dengan sigap daren menangkap tangannya lalu mendorongnya kebelakang hingga dia melangkah mundur beberapa langkah.


"Jangan berani kau menyentuh istriku." ucap Daren, dia memegang tubuh lexia agar dapat berdiri dengan seimbang.


"Kau gila ya !" Teriak lexia, Daren memegang tubuh lexia agar dia tidak mendekati wanita itu. Xaphier baru saja tiba, dia mendengar suara-suara ribut lalu menghampirinya.


"Ada apa ini?" Xaphier baru saja tiba dia melihat Melda dan makanan yang berserakan di lantai, lalu tahu apa yang terjadi ketika melihat melda ada di sana, dia tidak bisa melihat pria tampan ada di depan matanya.

__ADS_1


"Pergilah Melda, jangan ganggu lexia, jangan samakan lexia dengan gadis-gadis yang biasa kau suruh dan perintah, sebaiknya kau pergi dari sini, karena ayah yang akan mengusirmu jika sesuatu terjadi kepada putrinya."


"Ck, gadis ini betul-betul berbeda dengan ibunya." Ucapnya, Dia mendelik kepada lexia dan segera pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Wanita itu gila !" Teriak lexia.


Dia berbalik lalu menatap tajam wajah lexia, dia tidak menyangka putri dari Caesaar sangat kasar dan berani melawannya, bahkan ibu lexia yang usianya lebih tua darinya tidak berani bicara seperti itu kepadanya, dia selalu mendengarkan kata-kata melda.


Daren memegang lexia agar dia berjalan dengan perlahan.


"Sebaiknya kita kembali ke villa lebih cepat, Kau akan bertambah marah jika kita berada di sini terlalu lama lagi pula...


"Lagi pula apa Daren?" Tanya lexia berbalik menatap Daren yang kelihatan berjengit.


"Wanita itu mengerikan lexia, kau lihat caranya memandangku?" Ucap Daren sambil memeluk lexia.


Xaphier tertawa mendengar kata-kata Daren. "Ya, aku setuju padamu daren dia wanita yang mengerikan, kenapa ayah masih mengundangnya? Aku heran, dia masih berani hadir di pertemuan keluarga seperti ini sejak perlakuannya kepada ibu." Ucap Xaphier.


Lexia mengernyitkan alisnya menatap Xaphier dengan pandangan tidak mengerti. "Apa maksudmu Xaphier? apa yang dilakukan wanita itu pada ibu." geram lexia.


Daren memberikan isyarat kepada Xaphier agar dia berhenti berbicara karena lexia yang sangat emosional akhir-akhir ini dan tidak bisa di tentang membuat Daren kewalahan menghadapi sikapnya, jadi sebaiknya dia tidak mendengarkan dulu cerita yang membuatnya marah.


"Aku akan membicarakannya kepada ayah, agar Melda diberikan peringatan ketika dia datang ke mansion ini." Xaphier kemudian pergi, Daren dan lexia segera masuk ke dalam kamar mereka dan menguncinya.


~


Xaphier masuk ke dalam kamarnya, tiba-tiba saja wajah seseorang terbayang sekali lagi, wajah yang tiba-tiba saja menyusup di kepalanya tanpa di minta. Dia kembali mengingat pertemuan ketiga kalinya dengan wanita bernama Nara.


Siang itu....


Resort yang akan dibangun oleh Xaphier berada di dekat kota tulas, perjalanannya lancar begitupun pertemuan dengan rekan bisnisnya pun sukses, tiba-tiba dia Melihat wanita bernama Nara sedang berjalan di sisi jalan dengan mengendarai sepedanya. Dia terlihat begitu cantik Dengan mengenakan baju kasual berwarna putih di padu dengan jeans bututnya yang berwarna abu-abu.


Nara Berbalik menatapnya, dia sedikit terkejut mendapati Xaphier sedang berdiri di sana dengan senyum angkuhnya.


"Kau !" ucap Nara sambil menunjuk Xaphier yang berdiri di sana. Xaphier tersenyum miring melihat wajah pucat itu terkejut melihatnya ada di sana.


~


Mereka berdua sudah kembali begitu cepat dari kediaman ayahnya, lexia berbaring di tempat tidur seorang diri karena daren sedang bekerja di ruangannya bersama Evan, perutnya mulai kontraksi, dia mencari-cari ponselnya lalu menekan nomor Daren.


Bunyi ponsel Daren membuatnya mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas yang menumpuk didepannya, dia melihat nama yang ada di layar ponsel, Daren segera berdiri dan berlari menuju ke lantai atas di villanya.


Daren membuka kamarnya dan mendapati lexia terlihat kesakitan, lexia mengerang, Daren berpikir lexia mungkin mengalami kontraksi palsu karena hal itu kerap terjadi, tetapi ketika lexia mengerang dan beberapa tetes cairan jatuh di lantai Daren dengan panik berteriak kepada Evan untuk menyiapkan mobil menuju ke rumah sakit. Daren segera membawa lexia menuju rumah sakit bersama Evan, ketika sampai ke rumah sakit lexia tidak mau melepaskan pelukannya dari Daren.


"Kau harus menemaniku Daren, aku takut..." Ucap lexia dengan suara yang terdengar kesakitan.


"Aku akan menemanimu sayang, pegang tanganku erat." Kamar persalinan sudah di siapkan, lexia Sebentar lagi akan melahirkan bayinya, daren berada di sampingnya menggenggam tangannya terkadang mengecup keningnya dan membantunya selama proses persalinan, setelah waktu yang cukup lama di tunggu akhirnya lexia melahirkan putranya, bayi laki-laki dengan berat 2,7 kg telah lahir ke dunia, Daren mengecup kening lexia dan menghapus peluh yang ada di keningnya.


Hari itu hari yang sangat bahagia bagi keluarga Caesaar, setelah mendapatkan telepon dari Evan, tuan caesaar segera berangkat ke rumah sakit, dia begitu gembira karena anggota baru dari keluarga caesaar telah bertambah.


~


Tuan Robert melihat ada yang aneh dengan sikap Alvin kepada lovelia, dia tidak pernah melepaskan pandangannya kepada cucunya, tuan Robert menghela napasnya. "Apa yang dipikirkan Alvin mengapa tatapannya seperti melihat kepada kekasihnya ketika melihat lovelia." ucap tuan Robert.


Tuan Robert mengambil ponselnya lalu menghubungi Alvin, tidak berapa lama Alvin datang dan membuka pintu ruangan ayahnya.


"Ada apa ayah?" tanyanya.


Tuan Robert belum memulai pembicaraannya, dia belum memutuskan mau mengatakan apa kepada Alvin.

__ADS_1


"Ada apa Dad?" tanyanya.


"Erm..dimana lovelia?" tanyanya.


"Dia ada di perpustakaan, Aku sedang membantu lovelia belajar." ucap Alvin dengan nada biasa yang normal tanpa menaruh kecurigaan kepada pertanyaan ayahnya.


"Erm..sejak kematian nency, ayah begitu terkejut dan terpukul, meskipun sikapnya seperti itu, tetapi dia tetap keponakan ayah, dulu...ayah ingin menjodohkanmu dengan nency meskipun kalian sepupu tapi hal itu di tentang oleh ibunya nency, aku ingin tahu apakah kau memiliki seseorang yang kau cintai?" tanyanya.


Alvin tidak menyangka dengan pertanyaan yang diajukan oleh ayahnya. "Dad? bagaimana mungkin ayah mau menjodohkan aku dengan nency." ucap Alvin tidak percaya, tetapi hal itu tidak ada gunanya lagi karena nency sudah tidak ada lagi.


"Jadi, apa kau memiliki seseorang yang di hatimu? ck, sebenarnya aku sudah mendengar kabar kalau putri Caesaar telah melahirkan dan mereka memiliki putra kecil yang lahir kemarin, akupun menginginkan ada anggota baru keluarga kita yang hadir seperti halnya keluarga caesaar." ucapnya.


"Dad? apa sih yang ingin ayah katakan!"


"Sebaiknya kau menikah Alvin, ayah akan memperkenalkanmu dengan putri-putri teman ayah kau harus menemuinya, aku akan mengatur jadwal pertemuanmu nanti." ucap tuan Robert tanpa menatap mata putranya.


"Menjodohkan lagi? apakah aku harus bernasib sama seperti kakak yang menikah dengan wanita yang dijodohkan, dan akhirnya kakak bertemu dengan Barbara, wanita seperti itu?" ucap Alvin marah.


Dia hendak keluar dari ruangan ayahnya. "Hentikan perasaanmu kepada Lovelia, dia bukan seorang wanita di matamu tetapi dia adalah keponakanmu yang harus kau lindungi." ucap tuan Robert.


Al ini berbalik terkejut mendengar ucapan ayahnya, tetapi dia tidak membantah setiap ucapan ayahnya. "Hemm, apa yang harus aku lakukan? mengapa keadaan bertambah sulit seperti ini." ucapnya.


~


Lexia sedang berbaring dan tertidur, sedangkan Daren setia menunggunya sambil menatap bayi mungil yang sedang tidur disampingnya ibunya. Kamar itu kemudian di ketuk beberapa kali. Daren membuka pintu dan nampaklah wajah tuan Caesaar sedang berdiri di sana, dia datang seorang diri dengan wajah senyum di wajahnya.


"Bagaimana dengan lexia, apakah dia baik-baik saja?" tanyanya.


"ya dia baik-baik saja, dia sedang tidur." jawab Daren.


Senyuman itu terus melekat di wajah tuan Robert saat melihat bayi mungil tengah tertidur di samping ibunya. "Dia sangat tampan." ucap tuan Robert, sambil menggendongnya sebentar lalu memberikannya lagi kepada Daren.


"Baiklah aku harus pergi, jaga putri dan cucuku baik-baik Daren." ucap tuan Caesaar, setelah itu dia pergi sambil tersenyum senang ketika melihat wajah cucunya dan kemudian menutup pintu.


Daren menggendong bayinya memberikan kecupan ringan di keningnya. Lexia mendengar suara-suara lalu membuka matanya perlahan, senyuman terukir di wajahnya ketika melihat Daren sedang menggendong putranya.


"Kau sudah bangun sayang." bisik daren setelah meletakkan putranya di samping lexia. "Hemm, Daren? aku ingin menggendong bayiku." ucap lexia. Dia lalu menggendongnya dan menyusui bayinya, Daren duduk dihadapannya melihat bayinya sedang menyusu membuat Daren tersenyum karena baru kedua kalinya dia melihat hal yang menakjubkan dalam hidupnya, dia tidak pernah menyangka sama sekali akan menjadi seorang ayah dan melihat buah hatinya, istri dan anaknya sekarang berada di hadapannya dan dia sangat bersyukur memiliki mereka berdua.


~


Wajah Alvin terlihat kesal karena ucapan ayahnya, dia berjalan menuju ke taman dan tiba-tiba matanya tertuju pada sosok lovelia yang sedang mengobrol dengan seseorang.


dia mendekat dan mendengar semua pembicaraan di antara mereka.


"Aku tidak tahu kau bekerja di tempat ini, apa kau sudah bertemu dengan lexia?" tanyanya. Edo menaikkan bahunya dan tersenyum tipis. "Ya, aku sudah bertemu dengannya, dan dia kelihatan baik-baik saja setelah menikah." ucap Edo.


"Kau tidak sedih?" tanya lovelia.


"Sedih, kenapa? aku senang lexia menemukan kebahagiaannya, yah meskipun dulu aku menyukainya tetapi sekarang aku menganggap lexia seperti saudaraku sendiri, jadi parasaanki bukan masalah sama sekali." ucap Edo.


"Kau tinggal di sini?" tanyanya.


"Ya, Aku tinggal di sini, kakek dan pamanku tinggal di mansion ini." ucap Lovelia tersenyum lembut.


"Sebaiknya kau masuk, udara mulai dingin lovelia." ucap Edo, kemudian diapun pergi.


Lovelia kembali dan melihat Alvin berdiri di sana sambil menatapnya. "Paman? kenapa paman berdiri di sini?"


"Kau mengenal pria tadi?" tanyanya.

__ADS_1


"Dia teman lexia, kebetulan saja aku mengenalnya." ucap lovelia. Alvin menatap kepergian edo, lalu kembali berjalan bersama lovelia masuk ke dalam mansion.


__ADS_2