The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Paman Lovelia 2


__ADS_3

Sayup-sayup suara terdengar dari balik pintu hingga seseorang yang sedang membaca buku di kursinya yang menghadap ke jendela besar lalu berbalik.


"Mengapa pelayan itu begitu berisik, apa yang terjadi?" Gumamnya. Lovelia memutar kursi rodanya dan mendekatkan telinganya di pintu kamar, seorang pelayan berbisik-bisik sambil terkikik genit.


"Ah, kau lihat wajah tuan Daren, baru kali ini aku melihat langsung wajah tampannya, ugh siapa wanita beruntung yang akan menjadi miliknya." ucapnya sambil memegang erat peralatan makan di tangannya.


"Suaramu begitu berisik, nanti nyonya mendengarnya bodoh." Kata pelayan satunya yang sedang memperbaiki letak piring-piring di atas troli dorong.


"Oh iya, kau lihat tunangan tuan daren dia tetap saja datang dan pergi sesuka hatinya, meskipun dia memiliki banyak lelaki tetapi tuan Daren tidak bisa menolak wanita jalang itu, sial!"


"Sstt suaramu bodoh, bagaimana kalau ada yang mendengarmu." Ucap temannya yang mendelikkan matanya.


"Paman Daren ada di sini? Mengapa dia tidak menemuiku?" Ucap lovelia terdengar kecewa, dia memutar kursi rodanya dan kembali ke depan jendela lalu memegang tirai menatap dari kejauhan orang-orang yang berjalan diluar sana dengan bebas. Matanya sedikit berair, kesepian selalu datang menghampirinya hingga kadang kala ia ingin menyerah dan meninggalkan semuanya.


~


"Turunkan aku, paman!" Ucap lexia sambil menekankan kata paman untuk Daren.


Sudut mulut daren sedikit terangkat, ia lalu menurunkan lexia ke lantai tetapi kaki lexia yang sakit tidak bisa melangkah, jadi lexia harus menyeret kakinya, dia masih berpegang pada jas yang di kenakan Daren.


"Sampai kapan kau mau memegangku? Atau kau butuh bantuanku untuk mengganti gaunmu?" Ucapnya.


Lexia mendorongnya, lalu bertumpu pada kakinya yang di tahannya setengah mati. 'pria tua mesum', gumam lexia tetapi tubuhnya belum bergerak dari Daren yang berdiri di hadapannya.


"Pria tua mesum?" Ucap daren dengan memiringkan kepalanya dan sedikit menunduk menatap lexia dan menghapus jarak di antara mereka sehingga lexia harus menahan napasnya dan sedikit mendorong tubuhnya ke belakang.


"Kau tahu artinya mesum lexia?" Tanyanya.


"Mau..mau apa kau? Me..menyingkir dari hadapanku! Kau tahu kakiku sakit dan tidak bisa bergerak."


"Seharusnya kau memikirkan hal itu sebelum kau mengucapkan kalimat itu padaku." Lexia menatap matanya yang menyala seakan-akan dia begitu terhibur dengan pembicaraan ini.


"O..oke aku minta maaf, aku ingin mengganti pakaianku jadi keluarlah." Ucap lexia menunjuk pintu kamar mandi.


"Waktumu 5 menit lexia, jangan berlama-lama, kita harus mengobati kakimu sebelum tuan Robert kembali." Daren melangkah menuju pintu keluar dia sedikit mengerling lexia lalu menutup pintunya.

__ADS_1


"Kalau aku tidak bekerja padanya sudah kutonjok wajahnya." Ucapnya, dengan kasar dia melepaskan gaunnya dan mengenakan gaun yang disiapkan untuknya.


~


Ponsel Daren berdering, dia lalu mengangkatnya.


"Sebentar lagi kami akan keluar, Luther bersamamu? Bagus, siapkan mobilnya kami akan segera bersiap.


Akhirnya lexia keluar dari kamar mandi, kakinya sedikit lebih membaik setelah pijatan ringan dari lexia sendiri, sakit seperti itu tidak ada apa-apanya bagi lexia, dia bahkan pernah mengalami luka lebih mengerikan di bandingkan hanya karena keseleo di kaki.


"Bagaimana dengan kakimu?" Tanya daren menatap kaki jenjang lexia yang mengenakan dress di atas lutut.


"Aku baik-baik saja." Jawabnya.


"Bagus, sekarang kita kembali ke ruang makan, sebelum tuan Robert mencarimu." Daren berjalan di depan lexia tanpa menunggunya.


Seseorang menghampiri lexia dan menatapnya, "Ada apa dengan kakimu lovely?" Tanya Alvin melihat kaki lexia yang sedikit di seret olehnya ketika berjalan.


"Aku..tadi keseleo, hanya keseleo ringan." Jawab lexia menatap Alvin yang terlihat khawatir.


'Sweetie, orang ini pasti gila?' gumam lexia dengan suara kecilnya.


"Sepertinya kau tidak bisa, kakimu pasti sakit." Ucap Alvin, dengan kedua tangannya dia mengangkat tubuh lexia sehingga lexia begitu terkejut.


"Jangan sungkan, aku akan membawamu ke dining room, kita akan mengobati lukamu sweetie." Lexia hanya membelalakkan matanya menatapnya, sementara itu Daren menyipitkan matanya menatap pemandangan itu. Lexia membuang wajahnya ketika melihat Daren.


Semua pelayan menatap mereka, alvin kini mendudukkan lexia di atas kursi empuk dan mengangkat kakinya di atas sebuah bantal dan melepaskan sepatunya.


"Bagian mana yang sakit?" Tanyanya.


"Aku..aku baik-baik saja, lukanya tidak...


"Tidak, aku akan memanggil dokter, kakimu harus di obati." Alvin segera bergegas keluar dari ruangan itu, tidak lama kemudian Daren masuk ke dalam ruangan dan melipat kedua tangannya dihadapan lexia.


"Kau bilang kakimu tidak sakit?" Tuduhnya.

__ADS_1


"Hanya sedikit sakit saja." Jawabnya.


Daren berdecak, dia lalu mengurung lexia dengan kedua tangannya di kursi itu. "Jangan melakukan hal ceroboh lexia, kalau kita ketahuan, ini semua salahmu, kau mengerti?" Ucap Daren, tatapannya begitu liar, matanya menatap lekat wajah lexia dan berlama-lama menatap bibir lexia yang sedikit terbuka, membuat urat di lehernya menegang.


"Ada apa denganmu? Mengapa kau begitu tegang?" Tanya lexia melihat urat leher Daren yang menonjol dan bibirnya sedikit terbuka, tatapannya terlihat gelap dan napasnya memburu.


"Bukan urusanmu." Ujarnya, dia kemudian berdiri sambil membelakangi lexia dan mencoba mengendalikan dirinya.


Alvin membuka pintu dan masuk dengan seorang wanita cantik mengenakan dress biru selutut dan dibalut dengan kemeja putih. Senyum hangat menghiasi bibirnya, tatapannya jatuh kepada Daren yang berdiri tidak jauh dari lexia.


"Hai, jadi kau lovely? Beruntung sekali aku bertemu denganmu, kakekmu sering kali membicarakanmu, oh ya namaku nency aku dokter pribadi di keluarga Robert dan juga sepupu Alvin." Dia menjabat tangan lexia, dia wanita ceria yang cantik, rambut blonde yang diikat tinggi, kulitnya begitu bening dan mulus, Senyumnya begitu menawan, Sepertinya usianya tidak jauh dari Alvin paman lovely.


"Hai, senang berkenalan de..denganmu, aku lovely." Ujarnya, berkenalan dengan cara sopan seperti ini membuat gigi lexia terasa ngilu, matanya mengerling daren, dia berpikir apakah perkenalannya sudah sempurna? Ataukah masih terdengar kasar.


Wanita itu berbalik menatap daren yang berdiri di sana, Senyumnya terlihat cerah dan matanya hangat menatap daren.


"Hai daren lama tidak bertemu denganmu." Ucap nency berhenti di depan daren.


"Ya lama tidak berjumpa denganmu dokter nenncy." Ujar daren. Alvin menghampiri lexia dan duduk di dekat kakinya. "Bagaimana keadaanmu lovely, apakah masih terasa sakit?" Tanyanya.


Suara tawa terdengar dari nency, "tentu saja masih sakit Alvin, aku belum mengobatinya bukan, minggirlah biar aku memeriksanya."


Lexia duduk tenang dan membiarkan wanita itu memegang kakinya, "cedera kakinya tidak parah, hanya jangan terlalu banyak bergerak dulu, lalu kompres dengan es agar pembengkakan di kakimu berkurang." Ucapnya.


"Ok, terima kasih." Ucap daren, matanya beralih ke Alvin.


"Dimana tuan Robert? Aku ingin menemuinya, kami akan segera pulang untuk mengobati kaki lovely.


"Em Sepertinya tidak perlu, pertemuannya cukup lama, nanti aku akan menghubungi lovely lagi setelah jadwal ayah kosong, dia begitu sibuk." Ucap alvin masih memperhatikan lexia yang terlihat senang.


"Baiklah, kalau begitu kami pulang." Daren melangkah mendekat kepada lexia tetapi tangannya di tahan oleh wanita bernama nency. "Bagaimana kalau kita bicara sebentar Daren, sudah lama kita tidak bertemu dan....


"Aku minta maaf, kaki lovely harus segera di rawat." Ujar daren memandang nency yang memperlihatkan wajahnya yang kecewa.


"Kalian bisa bicara sementara aku akan merawat kaki lovely." Ujar Alvin menatap nency yang tersenyum sumringah mendengar tawaran Alvin.

__ADS_1


"Baiklah." kata daren yang tidak memiliki pilihan lain.


__ADS_2