The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Mata safir yang sama


__ADS_3

Malam itu lexia berpura-pura tertidur setelah mendengar teriakan-teriakan Daren yang sedang mencarinya. Dia mendengarkan bisikan Daren dan membuat tubuhnya merengkuh bantal itu erat. Lexia mencoba mengatur napasnya agar tetap terlihat sedang terlelap.


Daren membawa lexia ke kamar mereka lalu membaringkannya di atas tempat tidur. Daren kemudian berdiri dan melepaskan pakaiannya dan hendak mandi, lexia mengintip dari balik selimut menatap pemandangan di hadapannya.


'hmph, bau apa ini? Aku tidak pernah mencium bau parfum seperti ini.' gumam lexia, Daren kemudian berbalik karena mendengar suara-suara. Lexia segera menutup kembali matanya rapat-rapat.


Daren melangkah dan berjalan lalu mendekat ke wajah lexia dan memperhatikan kedua matanya. "Lexia?" Bisik daren di wajahnya. Dia memegang pipinya dan mengelus dan memberikan kecupan kilat. Setelah itu Daren masuk ke kamar mandi.


Lexia duduk di atas tempat tidur dan mengendus wangi parfum wanita di pakaian daren, lexia kemudian mengambil kemeja Daren yang dipakainya tadi lalu membuangnya di kolam renang, dia kembali keluar dari kamarnya dan kembali tidur di kamar belakang yang kosong dan mengunci pintunya.


"Ck, bau parfum itu seperti parfum nency, apa yang mereka lakukan sampai-sampai baunya melekat seperti itu?" Ucap lexia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang untuk satu orang itu dan menutup wajahnya dengan selimut.


Daren baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya yang basah, kegiatannya terhenti ketika dia tidak melihat lexia ada di sana. "Lexia?" Ucapnya.


Daren kembali memeriksa semuanya lalu melihat kemejanya terapung di atas kolam renang. "Lexia?" Daren dengan cepat mengenakan kaos putihnya lalu turun ke lantai 1, ia kembali memeriksa kamar tidur dan memeriksa kamar tidur yang tadi di tempati oleh lexia dan ternyata terkunci.


"Lexia buka pintunya !" Ketukan keras terdengar di tengah malam di ruang belakang villa itu. "Lexia! Jika kau tidak membukanya aku akan mendobraknya." Teriak Daren.


"Buka pintunya." Gedoran keras Daren tidak menyusutkan lexia untuk membukakan pintunya. Daren berpikir bagaimana caranya lexia membuka pintu ini tetapi tidak mengancamnya. Daren lalu berhenti mengetuk-ngetuk, dia bersandar pada pintu lalu mulai berbicara.


"Apa kau tahu? Kamar yang sekarang kau tempati adalah kamar seorang pelayan yang pernah meninggal dunia, tidak ada yang berani menginap di kamar itu karena pelayan wanita itu biasanya muncul di waktu-waktu seperti ini." Ucap Daren.


Bunyi klik pada pintu membuat daren tersenyum, dia menunggu lexia untuk keluar, tetapi yang di tunggu tidak keluar juga. Daren lalu mencoba mengintip dari dalam kamar, tetapi kosong.


Dia mengedarkan pandangannya, tetapi lexia tidak berbaring di ranjang itu. Daren kemudian berbalik hendak pergi dari kamar itu tetapi lexia sudah berdiri di hadapannya memakai selimutnya dan menutupi tubuhnya. Daren terlonjak, dia benar-benar terkejut.


Lexia menahan tawanya, dia mencoba tidak tertawa ketika melihat ekspresi ketakutan Daren.


"Lexia kau !" Daren mencoba menormalkan napasnya dan memicingkan matanya ketika lexia menutup mulutnya agar suara tawanya tidak terdengar.


"Kau pikir aku takut dengan cerita seperti itu?" Ucap lexia enteng.


"Kau mau tidur di tempat ini?" Ucap Daren.


"Em, ya..aku tidak mau kembali ke kamar dan menghirup bau parfum wanitamu." Ujar lexia sambil duduk di tepi tempat tidur.


"Wanitaku? Siapa yang kau sebut wanitaku?"


"Jangan pura-pura, jadi kau tidak ingat foto yang dikirimkan kepadaku?" Lexia menatapnya dengan pandangan menuduh.


Daren menghembuskan napasnya, dia lelah berdebat, apalagi sekarang sudah lewat tengah malam. "Aku mau tidur di atas, terserah kalau kau mau tidur di sini, aku hanya mengingatkanmu jika kamar ini tidak aman." Ucapnya, Daren melirik wajah lexia yang sudah mulai ragu.


"A...aku tetap akan tidur di sini." Kukuh lexia membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan mengabaikan Daren yang masih berdiri di sana.


Daren menutup pintu kamar itu dan beranjak dari sana. "Ugh, siapa yang mau tidur di kamar lalu menghirup bau itu." Dia melirik ke kanan dan kiri, dengan perlahan lexia membaringkan kepalanya di atas bantal, tatapannya jatuh ke lukisan seorang wanita yang balas memandangnya.


"Sial!" Umpat lexia.


Lexia tiba-tiba bangun begitu saja dan berlari keluar dari kamar, dia naik ke lantai 2 dan membuka perlahan kamarnya, ia melihat daren sudah terbaring di sana, hanya lampu kecil yang redup sebagai penerang di kamar mereka.


Dengan perlahan Lexia membaringkan tubuhnya, lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Daren tersenyum puas ketika melihat lexia kembali tidur di sampingnya, tangan Daren menarik tubuh lexia ke arahnya lalu memenjarakannya dengan memeluk tubuhnya erat.


"Lepas Daren ! Jangan mengganggu, kau sungguh berat." Ucap lexia mendorong tubuh Daren menjauh.


"Hemm, tidak ! aku suka posisi seperti ini." Bisiknya mulai menggoyangkan pinggulnya ke lexia.


"Daren ! Jangan, aku tidak bisa." Daren menatap tidak mengerti penolakan lexia kepadanya.


"Aku tidak bisa. Aku...sedang datang bulan." Ucap lexia ragu dan mulai bergerak menjauhkan dirinya dari Daren.


Hembusan napasnya terdengar kecewa membuat lexia berbalik menatapnya. Wajahnya yang masih kukuh ingin memiliki Lexia malam itu membuat Daren mulai menjalarkan tangannya.


"Kau tidak berbohong kepadaku lexia?" Tanyanya.


"Tidak ! aku tidak berbohong." Ucapnya. Sontak tangannya meluncur di kelembutan lexia.


"Daren!" Tegur lexia ketika tangannya berada di sana.


"Hem, Oky aku percaya, kemarilah aku hanya ingin memelukmu lexia. Satu kecupan kecil mendarat di leher lexia, kemudian menjalar di rahang dan bibirnya.


"Lepas Daren, aku tidak bisa tidur jika kau tidak berhenti menciumku." Dorongan lexia membuat daren lebih semangat menarik wajahnya dan memberikan kecupan mesra kadang lembut dan kadang kasar membuat lexia mengerang, dia akhirnya berhenti ketika memberikan satu ciuman liar kepada lexia hingga membuatnya terbenam di bantalnya sendiri.


"Oke sayang selamat tidur." Ucapnya tersenyum mengejek melihat wajah lexia terlihat kecewa ketika daren berhenti menciumnya.


~


Xaphier melangkahkan kakinya di mansionnya di Manhattan, tubuh tegapnya serta otot tubuh yang menyertainya membuat siapa saja akan berbalik melihat pemandangan indah itu. Dia sedang melonggarkan dasinya dan meneguk segelas air.


Sewaktu di pertemuan tadi dia bertemu rekan bisnisnya bernama Louis dan anehnya dia langsung tertawa begitu saja ketika melihatnya, Xaphier lalu menanyakannya.


"Mirip ! Aneh tapi lucu, mengapa kau mirip adik perempuan seseorang?" Xaphier berdecak dan mendekati louis.


"Apa maksudmu aku mirip adik perempuan seseorang?" Tanyanya. Lalu Louis menceritakan mengenai pertemuannya di villa Burchard dan bertemu dengan adik Daren yang terlihat mirip dengannya.


"Tidak banyak orang yang mengatakan aku mirip dengan seseorang apalagi seorang wanita, kau pastilah salah lihat, mana mungkin aku mirip dengannya." Louis mengangkat bahunya lalu berpikir sebentar.


"Bagaimana jika kau bertemu dengannya, aku ingin kembali bertemu dengan gadis itu, bagaimana?" Ucapnya.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Aku akan membuat pesta Minggu ini dan kau bisa melihatnya di pesta itu, kau pasti tidak akan percaya kata-kataku, jika kau tidak melihatnya sendiri dan memastikannya." Ucap Louis.


Dia duduk sambil menyilangkan kedua kaki panjangnya. "Aku tidak membuang waktuku hanya untuk melihat seorang gadis Louis, tapi karena kata-katamu itu membuatku sedikit penasaran, bagaimana bisa aku mirip dengan wajah seorang wanita?"


"Kebetulan seperti ini jarang bukan? aku akan mengundang mereka, dan kau akan melihat sendiri seberapa miripnya gadis itu denganmu." Ucap Louis.


~


Evan melangkah ke ruangan tuannya pagi-pagi, seperti biasanya dia akan memberikan laporan kepada Daren. Ketukan terdengar dari luar pintu ruangannya.


"Masuk." Ucapnya.


Evan membungkuk sedikit lalu memberitahukan mengenai jadwal Daren serta informasi yang di terimanya hari ini.


"Hari ini jam 10.00 pagi akan diadakan rapat para pemegang saham sir, serta pertemuan anda dengan tuan Marquez di jam 2 siang." Ucap evan.


"Sir, anda di undang ke pesta perusahaan besar milik Louis Vuitton besok malam, ini undangannya sir." Ucap Evan. Daren mengambil undangan itu dan membacanya.


"Pesta lagi?" Ucap Daren sambil membaca undangan itu.


"Dan sir...ada kabar dari mansion di Manhattan."


"Kabar apa itu Evan?' tanyanya.


"Nyonya Barbara masuk rumah sakit sir, menurut laporan salah satu penjaga di sana, nyonya Barbara mengkonsumsi minuman keras terlalu berlebihan hingga dia tidak sadarkan diri dan akhirnya di bawa ke rumah sakit.


"Bagaimana kondisinya."


"Dia masih tidak diperbolehkan pulang sir, karena tubuhnya masih lemah." Ucap Evan, dia mundur beberapa langkah dan akhirnya meninggalkan Daren di ruang kerjanya.


~


Lexia hari ini sedang bosan, ia lalu berjalan-jalan di sekitar pantai seorang diri dan memainkan pasir putih di kakinya yang terasa lembut.


Suara deburan ombak membuat lexia rilkes, dia merasakan angin laut yang menerpa tubuhnya di pagi itu terasa nyaman. Lexia berjongkok dan memperhatikan kepiting yang berjalan cepat.


"Kau sedang apa lexia?" Suara Daren membuat lexia terkejut, dia berbalik dan menatapnya.


"Kenapa kau di sini? Kupikir kau sedang kerja?" Tanyanya.


Daren mendekat ke arah lexia dan memeluknya erat. "Aku butuh istirahat lexia, dan kau harus membuatku nyaman." Ucapnya. Lexia mengernyitkan alisnya.


"Membuatmu nyaman? Bagaimana caranya." Ucap lexia. Daren berbisik di telinganya lalu membisikkan sesuatu di telinga lexia.


"Jangan lari nanti kau jatuh sayang." Bisiknya.


"Aku masih muda daren, lari seperti ini bukan masalah bagi tubuhku, tidak sama sepertimu." Ejeknya. Daren menaikkan satu alisnya lalu menyergap lexia.


"Jadi, kau meragukan staminaku lexia? Aku cukup kuat untuk membuatmu tidak bisa bergerak selama beberapa hari di tempat tidur, jika itu yang kau inginkan sayang." Bisiknya sensual di telinga lexia.


Dia lalu memeluk tubuh lexia dengan erat. Lexia menginjak kaki Daren membuat Daren terhuyung dan melepaskan pelukannya.


Lexia menjulurkan lidahnya lalu berlari menjauh dari Daren yang tersenyum menatap lexia yang berlarian di pantai.


~


Pesta itu di selenggarakan di kediaman Louis Vuitton, tepat jam 7 malam Daren sudah siap dan telah menunggu lexia di ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Lexia turun dari tangga dengan balutan gaun indah melekat di tubuhnya yang seksi, Daren mendongakkan kepalanya dan terlihat tidak setuju dengan gaun yang di kenakan lexia.


"Tidak adakah gaun lain yang bisa kau kenakan? Mengapa gaun ini yang kau pilih lexia." Ucap Daren, kemudian mendekat ke lexia dan memperhatikan gaun panjang berwarna sifon lembut tanpa lengan hingga payudara lexia tampak lebih menonjol karena belahan dadanya yang menantang.


"Aku suka gaun ini jika kau mengenakan hanya di depanku saja, aku tidak mau orang-orang menikmati memandangmu apalagi di tempat favoritku ini." Ucap Daren tanpa ragu menyentuh bagian privat lexia dengan kedua tangannya hingga lexia terkejut karena tangan Daren yang seenaknya.


Lexia memukul tangan Daren agar berhenti seenaknya. Lexia menyipitkan matanya menatap kepada daren. "Kau yang memilihkan gaun ini untukku kau tidak ingat." Ucap lexia jengkel.


"Benarkah? Ck, baiklah untuk pesta kali ini saja aku membiarkanmu untuk mengenakannya." Ucapnya lalu memegang tangan lexia dan membawanya ke pintu luar menuju tempat parkiran.


~


Pesta itu begitu mewah banyak para tamu undangan penting yang hadir di sana termasuk Xaphier yang sudah datang dan seperti biasanya bersandar di salah satu tembok lalu para pengawalnya berada di kanan dan kirinya.


Louis datang dan mendekat kepada Xaphier yang terlihat bosan. "Kau kelihatan bosan, pestanya tidak cukup membuatmu betah untuk beberapa jam ke depan?" Ucap Louis menaikkan alisnya.


"Banyak wanita cantik di sini Xaphier, kau tinggal menunjuknya dan aku akan memperkenalkannya kepadamu, mungkin saja malam ini kau bisa tidur sambil memeluk seseorang."


Xaphier berdecak, tidak tertarik dengan ucapan Louis, dia mengabaikan kata-katanya. Louis menyadari sesuatu dan tersenyum senang melihat kedatangan mereka berdua.


"Aku akan menunjukkan gadis itu Xaphier, kau pasti terhibur ketika melihat wajahnya bahkan warna pada matamu pun persis." Ucapnya.


Louis menghampiri tamunya Daren yang sedang menggandeng lexia, mereka berjalan sambil saling berbisik sesuatu.


Louis tersenyum tipis dan menghalangi jalan mereka berdua. "Selamat datang daren, aku senang kalian hadir di pestaku." Ucap Louis, ia lalu menatap lexia dengan senyum di wajahnya.


"Ya, terima kasih Louis atas undangan pestamu malam ini." Ucap Daren memicingkan matanya karena dia tidak pernah melepaskan pandangannya dari lexia.


"Ngomong-ngomong mengapa kau datang bersama adikmu daren? Bukankah banyak wanita yang mengantri untukmu?" Ucapnya.

__ADS_1


Lexia menatap daren dan menyenggol lengannya. 'Banyak yang mengantri?' gumam lexia tetapi tentu saja gumamannya di dengar oleh Daren.


"Oh ya, aku ingin memperkenalkanmu dengan temanku, kau pasti mengenalnya Daren."


Louis mengajak mereka berdua di disalah satu meja yang sudah diduduki oleh seorang pria tampan, matanya tidak lepas dari pandangannya terhadap lexia.


Xaphier menaikkan alisnya manakala pandangannya bertemu dengan lexia dan kemudian dia mengerutkan hidungnya, lexia jelas mengingat wajah Xaphier sewaktu di restaurant itu. Dia tersenyum miring melihatnya.


"Xaphier perkenalkan mereka berdua tamuku dia Daren Burchard dan adiknya...yang cantik." Louis sadar karena begitu bodohnya melupakan nama adik Daren yang cantik itu.


"Halo tuan Daren, senang berjumpa denganmu." Ucap Xaphier, tapi pandangannya tidak lepas di wajah lexia, hal itu membuat Daren tidak suka, ia menyalami pria di hadapannya dengan memberikan senyum palsunya.


"Dan perkenalkan dia istriku, Lexia Burchard." Ucap Daren, terpampang senyum di wajahnya. Wajah Louis seketika membeku, dia menatap lexia dan daren tidak mengerti.


"Aku minta maaf sebelumnya Louis, sepertinya istriku sedikit bermain-main hari itu dengan mengucapkan kata 'adik' hari itu."


Pipi lexia berubah menjadi merah, dia sedikit malu karena telah berbohong. "Be.. benarkah dia istrimu, aku tidak mendengar kabar pernikahanmu Daren." Ucap Louis terkejut.


Daren hanya setengah tersenyum mendengar kekagetan yang terlihat jelas di wajah Louis. Xaphier tidak berkomentar apa-apa, dia masih memperhatikan wajah gadis dihadapannya. Seperti yang dikatakan louis, kemiripan mereka berdua tampak menonjol, bahkan warna kedua matanya pun sama, safir yang indah.


"Senang berjumpa dengan anda." Ucap Xaphier tiba-tiba. Lexia mengangguk dan segera pergi meninggalkan mereka berdua.


"Ck, jadi selama ini aku sendiri yang salah paham? padahal aku berniat mengajaknya kencan malam ini." Ucap louis, Daren betul-betul sialan beruntung." Ucap Louis.


Louis meninggalkan Xaphier seorang diri di sana menyambut tamu lainnya yang berdatangan. Xaphier mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang.


"Ini aku, cari identitas gadis ini, namanya lexia Burchard, laporkan segera jika kau sudah menemukan identitasnya." titahnya.


Dia kembali menyimpan ponselnya tetapi tatapannya jatuh pada lexia. "Mengapa ia begitu mirip dengan wajah ibu? Sial ! Dia terlalu mirip, jika ayah melihat ini, apa yang akan dia lakukan? Tentu aku pasti akan memastikannya, wajahnya yang begitu mirip dengan mom, tidak mungkin kebetulan bukan?" Ucapnya.


~


"Berdansa? Aku tidak mau !" Ucap lexia memalingkan wajahnya dari Daren.


"Aku tidak bisa berdansa daren." Bisik lexia yang berjalan menuju tengah-tengah tempat dansa karena tarikan Daren pada tangannya.


"Kau sudah pernah berlatih dengan nona Lucie dan kau bilang tidak bisa? Kau bisa sayang, kau hanya harus mengikuti setiap langkahku." Senyum Daren lalu mengecup pipi lexia.


"Kalau aku menginjak kakimu, jangan salahkan aku Daren, aku sudah mengingatkanmu." Bisik lexia yang mulai menggenggam tangan Daren dan mengikuti langkahnya Dengan kikuk.


Daren memberikan senyum miringnya dan menarik tubuh lexia posesif dan mereka berdua berdansa saling menatap.


"Apakah ini dansa egoismu? Aku lihat orang-orang yang berdansa di sekitar kita tidak sedekat ini tuan mesum." Bisik lexia. Lexia terkejut karena Daren mengecupnya lalu memeluknya mesra.


"Daren bodoh, berhenti orang-orang akan menatap ke arah kita." Bisik lexia mencoba menjauhkan tubuhnya dari daren.


"Jangan banyak bergerak lexia, aku mencoba menahan dengan keras diriku beberapa hari ini, jadi ikuti iramaku sayang." Bisik daren.


Xaphier masih menatap mereka berdua dan berdecak lalu mengalihkan perhatiannya kepada seorang wanita yang menatap ke arah daren dan lexia dengan tatapan membunuh.


Wanita itu tidak lain adalah nency, dengan balutan gaun yang seksi berwarna merah dia dengan berani menghampiri Daren dan lexia.


"Hai Daren, kau datang? aku sejak tadi menunggumu ternyata kau di sini." ucapnya tanpa sekalipun memandang keberadaan lexia.


"Bagaimana kalau kita minum di sana, aku kesepian di sini tidak ada.....


Lexia melepaskan pelukannya kepada Daren, dia tidak tahan dengan sikap nency kepadanya seolah-olah dia tidak berada di sisi daren. Lexia bersedekap memalingkan tubuhnya di hadapan nency, dia menyeringai karena wanita ini betul-betul keras kepala.


Lexia mendorong bahu nency hingga dia mundur beberapa langkah. "Kau ! wanita tidak tahu malu, Daren adalah suamiku bodoh ! kau tidak mengerti berbahasa ya?" Lexia tidak perduli dengan pandangan orang-orang lagi, wanita ini harus di berikan pelajaran.


Nency terkejut karena serangan lexia yang tanpa ragu mempermalukan dirinya di depan banyak orang, padahal orang-orang yang berkumpul di sana adalah para pengusaha penting dan dia tidak ingin menjadi wanita barbar yang berbicara tanpa sopan santun karena hal itu akan merusak reputasi pamannya tuan Robert.


Lexia maju beberapa langkah, sejak melihat foto itu dia sudah lama menunggu untuk bertemu wanita culas ini, dengan tubuh yang tidak jauh berbeda dengan nency, lexia kembali mendorong tubuh nency.


"Apakah aku harus belajar bahasa hewan agar kau bisa mengerti perkataanku jika Daren sudah memiliki seorang istri, dan dia sama sekali tidak tertarik dengan wanita sepertimu, bahkan sebelum dia menikah denganku bukankah kau di tolaknya beberapa kali? Apa kau tidak punya malu, wanita bodoh !" ucap lexia kasar dengan sikap bossy dan berkacak pinggang di hadapan nency.


Nency begitu malu karena semua orang menatapnya dan kini mereka menjadi pusat perhatian. Tiba-tiba saja Carol datang ingin menjadi pembela nency yang tersudut dan sepertinya air mata sudah menggenang di matanya, dia mengharapkan Daren membantunya tetapi dia hanya berdiri di sana membiarkan lexia menumpahkan segala kemarahannya agar dia lega.


Orang-orang mulai tertarik manakala Carol mencoba mendorong lexia tetapi lexia terlalu cepat untuknya, lexia mendorong Carol hingga terhuyung ke belakang. "Gadis tengik, kau betul-betul seperti yang diucapkan kakak Daren, ular kecil yang senang menyusup di tempat yang nyaman, bagaimana bisa Daren menyukai gadis yang tidak jelas asal usulnya, kau pasti gila Daren."


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Carol, lexia begitu geram jika mereka membicarakan mengenai asal usulnya, Carol yang mendapatkan serangan tiba-tiba itu menjadi naik Darah dia bermaksud membalas lexia tetapi seseorang berjalan diantara lexia dan Carol.


"Berhenti ! ini peringatanku!" ucap Xaphier sekilas berbicara kepada carol ketika berjalan melewati mereka berdua. Carol berhenti dan terkejut dengan ucapan Xaphier, mengapa dia hanya mengatakan itu kepadanya saja? mengapa dia membela gadis licik ini.


~


Setelah pertengkaran itu, mereka berdua mundur sambil menatap lexia dan Daren yang menjauh. "Aku tidak mengerti mengapa ular kecil itu mengenal Xaphier, mengapa dia membelanya, awas saja kalau ketemu dengannya akan aku balas perbuatannya hari ini." Ucap Carol menahan amarahnya. Nency duduk mematung menatap punggung Daren, melihat kemesraan diantara lexia dan daren membuatnya sangat sakit hati.


"Sudahlah nency, jangan biarkan ular kecil itu mengganggu kesenanganmu malam ini, kau mau kuperkenalkan dengan kenalanku, dia seorang pengusaha di Texas." ucap Carol menyenggol tubuh nency.


"Sudahlah ! lupakan Daren, dia sudah terhipnotis dengan ular kecil itu lebih baik kita bersenang-senang." bisiknya.


"Siapa pengusaha dari Texas itu Carol, aku ingin bersenang-senang dan meluapkan kekesalanku Karena gadis kecil itu." ucapnya sambil menggandeng tangan Carol.


~


Mereka sekarang berada di dalam mobil, lexia masih melipat kedua tangannya, dia marah dan geram. Matanya beralih kepada pria di sampingnya.

__ADS_1


"Sudahlah lexia, jangan marah lagi sayang, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan mereka, dan mengenai foto itu aku masih menyelidiki pengirimnya, siapa yang mengetahui nomor ponselmu dan mengirimkan kepadamu, padahal aku sudah membereskan mata-mata Barbara, siapa lagi yang menyelinap dan memata-matai kita.


__ADS_2