The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 64


__ADS_3


Hanna menatap bayi mungilnya yang berada di sampingnya, tuan Caesaar menamainya dengan Darko Caesaar, nama yang keren, pikir hanna. Sementara hanna sedang menyusui putranya, dazon baru saja keluar dari kamar mandi, dia tersenyum dan duduk di samping hanna memperhatikan putranya yang sedang menyusu.


"matanya mirip denganmu dazon." Senyum hanna, sambil mengecup puncak hidung putranya. Dazon duduk di samping istrinya memperhatikan kebahagiaan yang terpancar di wajahnya.


"Hidungnya mirip denganmu sayang." Bisik dazon memeluk erat istrinya, dengan menatapnya penuh cinta, matanya beralih kepada bayi mungil yang ada di pelukan ibunya. Dazon akan berupaya keras agar putranya akan mengikuti jejaknya, jejak keluarga Caesaar, bukan jejak kakeknya bernama Reaver.


"Dua hari lagi kita akan kembali ke mansion sayang, kau tidak boleh banyak bergerak, akan ada beberapa pelayan yang akan melayanimu." Ucap dazon, dia sudah mengambil pelayan lain dari mansion ayahnya di Oklahoma, kerena dazon tahu hanna akan menolak semua uluran tangan mey.


"Itu bagus, aku baru akan mengatakannya kepadamu dazon, kenapa kau tidak memecat saja wanita itu? Apa kau tidak percaya padaku? Wanita itu memiliki sesuatu yang di sembunyikannya, aku tahu itu."


"Sayang, kita tidak bisa membuktikan apapun dan memecatnya begitu saja, mey bekerja sesuai dengan prosedur dan kualifikasi seorang pelayan yang profesional, dan dia direkrut bukan di sembarang tempat, dia dulunya pernah melayani keluarga terkenal lainnya, dan aku tidak bisa memecatnya begitu saja tanpa ada kesalahan yang di perbuatnya." Ucap dazon


"Sudahlah, jangan bicarakan wanita itu jika kau tidak menjauhkan wajahnya dariku, cukup kau memberikan pelayan dari luar mansion, dan aku akan menerimanya." Ucap hanna.


Dazon mengambil napas, dia tidak mau membicarakan mey lagi, dia hanyalah seorang pelayan dan selalu menjadi sesuatu yang membuatnya bertengkar dengan hanna.


Setelah hanna menyusui dan beristirahat, dazon segera keluar dari kamarnya, ada dua penjaga yang berada di koridor, menjaga pintu masuk. Dazon ingin keluar sebentar dan tidak menyangka mey datang dengan membawa kado dan bunga.


"Selamat siang tuan dazon, aku barus saja datang, ingin menjenguk Nyonya Hanna, ini ada sedikit bingkisan dari kami para pelayan di mansion." Senyumnya.


"Oh, terima kasih mey." Ucap dazon.


"Aku akan menaruhnya diatas meja di dalam ruangan." Tambahnya.


"Tunggu mey, tidak perlu, taruh saja di atas kursi di sana, hanna sedang tidur, nanti dia terbangun kalau kau masuk." Ucapnya.


"Baiklah tuan." Mey segera berjalan dan menaruh beberapa bingkisan yang ditaruhnya di atas kursi.


"Saya dengar-dengar anda mengambil pelayan dari luar kota tuan dazon, mengapa anda mengambilnya? Saya memiliki pelayan yang bisa ajukan, mereka lebih terampil dalam membantu pemulihan nyonya hanna serta mampu membantu Nyonya merawat putra anda."


Dazon menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Tidak perlu mey, hanna sepertinya lebih menyukai pelayan yang telah aku pilihkan, jadi kau tidak perlu menyiapkan pelayan lain."


"Tapi tuan dazon, kita tidak bisa percaya pelayan di luar sana, kualifikasi mereka belum tentu sebaik kualifikasi pelayan yang aku ajukan tuan."


"Biarkan aku bicara dengan Nyonya hanna, mungkin dengan bicara kepadanya....


"Tidak perlu mey, istriku sedang beristirahat, sekarang kau boleh pulang." Ucap dazon tegas.


Dia menundukkan kepalanya, "Baik tuan, saya permisi." Dia segera pergi meninggalkan rumah sakit. Dazon menggelengkan kepalanya dan segera kembali ke ruangan hanna tanpa mengambil barang-barang yang dibawa oleh mey, hal itu akan membuat hanna akan marah.


~


"Kau dari mana semalam Riel?" Tanya prof Vandash, dia menatap riel dengan pandangan biasa saja tetapi nada suaranya seakan menyelidiki riel.


"Aku hanya keluar sebentar, setelah itu aku kembali ke lab dan tidur, kenapa prof?" Tanyanya.


"Jangan mengikuti keinginanmu, hal yang menyenangkanmu hanya akan membuatmu lebih tersiksa lagi, dan percobaan kita selama ini akan tidak berguna sama sekali jika kau tetap melakukan pembunuhan." Ucapnya.


"Tidak, aku sama sekali tidak melakukan hal itu, sudah lama aku tidak melakukannya, sejak aku tinggal dan mengalami masa percobaan dan pengobatan, aku tidak pernah melakukannya lagi, erm hanya sekedar menakuti-nakuti orang yang berbuat jahat saja." Ucap riel sambil terekekeh mengerikan.


Prof menatapnya kemudian menggelengkan kepalanya, "Kupikir itu sebuah peningkatan riel, kau masih bisa menahan dirimu, artinya tubuhmu masih belum di kuasai sepenuhnya oleh racun itu, kau masih bisa sadar dan bisa di sembuhkan." Ucap prof Vandash.


"Setelah masalah ini selesai, aku akan segera pergi prof, meskipun aku sembuh, aku harus membayar semua perbuatanku." Ucap riel.


~


~


"Kapan hanna kembali ke mansion?" Tanya fairley ketika mereka semua duduk di meja makan dan akan makan siang.


"Sore ini, dazon meneleponku tadi pagi, katanya mereka bertiga akan pulang sore ini." Ucap Ax.


"Sepertinya dazon mengambil dua pelayan dari Oklahoma, kenapa?" Tanya Daneil.


"Tuan dazon menginginkan seseorang membantu Nyonya hanna di luar dari pelayan di mansion ini, katanya dia tidak mempercayai mereka semua yang berada di bawah pimpinan mey." Ucap daneil menggelengkan kepalanya.


"Akupun akan berbuat seperti Hanna, jika aku berada di posisinya, proritasku yang utama adalah melindungi putraku." Ucap fairley.


Tiba-tiba suara dari dalam menyela perkataan fairley.


"Tapi nyonya, tindakan seperti itu sangatlah tidak bijaksana, pelayan dari luar, pekerjaan mereka belum tentu bisa terjamin, padahal di dalam mansion ini ada beberapa pelayan yang memiliki kualifikasi dalam mengasuh bayi." Ucap mey sambil meletakkan sepiring sandwich di tengah-tengah mereka, dia bertindak seakan dia adalah ibu dari mereka semua dan menasehati mereka karena berbuat tanpa seizinnya.


"Apa kau diizinkan berbicara dan menyela pembicaraan kami, sementara kami bicara disini?" Ucap fairley, menatap mey dengan pandangan sebal.


"Kau seharusnya mengerjakan tugasmu saja tanpa mengurusi urusan tuan di rumah ini." Tegas fairley.


Mey tiba-tiba berhenti berucap, dia kembali menunduk dan undur diri dari ruang makan.


"Sekarang aku paham mengapa hanna membencinya, dia sama sekali tidak menghormati tuan di rumah ini, aku ingin tahu orang bodoh mana yang menerima dia bekerja sebagai kepala pelayan di mansion ini." Ucap fairley dengan nada sinis.

__ADS_1


Tiba-tiba daneil mengangkat tangannya, "Ck, aku memilih begitu saja tanpa menyelidiki dengan benar latar belakang mey." Ucap daneil sambil menaikkan bahunya.


"Erm ngomong-ngomong jangan beritahu bibi lexia, nanti dia mengamuk." Daneil menatap fairley dengan menghela napasnya.


Mey berjalan dan masuk ke dapur, dia tersenyum tipis, lalu mengetukkan jarinya di atas meja sambil bersandar di meja pantry. "Dia sudah mulai bersikap sama dengan istri tuan dazon, rupanya dia belum merasakan bagaimana kamarahanku." Senyum wanita itu sambil memegang kalung yang ada di lehernya.


~


Sore itu Dazon dan hanna bersama putra kecilnya telah tiba di mansion, mereka di sambut dengan gembira, semua berkumpul di pintu mansion.


"Selamat hanna, aku sangat senang kau baik-baik saja, selamat datang pangeran kecil, kami sudah menunggu kedatanganmu." Ucap fairley sambil menatap bayi yang berada di pelukan hanna.


Seluruh pelayan dan beberapa pengawal ada di sana, tidak terkecuali si meyna Howard, dia berdiri di antara para pelayan memberikan hormat dan turut tersenyum menyambut kedatangan mereka.


"Kami akan istirahat sebentar, hanna sedikit lelah." Ucap dazon.


"Tuan, kami akan menghidangkan makanan special hari ini, jadi...


"Hari ini aku dan jennifer berencana membuat makanan kesukaanmu hanna, jadi kau jangan khawatir." Potong fairley.


"Trims hanna, aku menghargainya." Ucap hanna, dia segera masuk dengan perlahan, di bantu oleh dazon yang mendampinginya setiap saat.


Hanna tidak memperdulikan keberadaan mey di sana yang menunduk dengan memperlihatkan wajah senyum manisnya kepada semua orang. Mereka terus berjalan hingga masuk ke kamar yang di sediakan di lantai bawah, karena hanna masih tidak bisa naik turun tangga, jadi dazon mempersiapkan kamar khusus mereka, di kamar utama.


"Kau suka dengan pengaturan kamar ini sayang?" Ucap dazon membawa istrinya ke tempat tidur, hanna meletakkan putranya di box bayi yang berada persis di sampingnya.


"Ya daz, aku suka, kamarnya juga sangat luas." Ucap hanna lalu duduk di tepi tempat tidur. Suara ketukan terdengar dari luar kamar.


"Masuk."


Pintu kemudian membuka, mey masuk dan membawa dua orang pelayan yang akan melayani hanna, dia ingin memperlihatkan kepada mereka berdua pelayan baru itu.


"Apa kau bodoh? Mengapa kau sangat tidak peka, aku baru saja tiba dan butuh istirahat, kenapa kau tidak bisa menunggu, apalagi ruanganku harus selalu steril, keluar !" Ucap hanna keras. Menatap tajam wanita itu. Dazon memijat-mijat keningnya, dia tidak ingin istrinya marah-marah begitu dia kembali ke mansion.


"Maaf Nyonya, tetapi kupikir ini waktu yang tepat, jadi anda tidak akan kesusahan...


"Mey, keluar, masalah pelayan nanti saja hanna akan mengurusnya." Ucap dazon.


"Baik tuan." Ucap mey membungkuk sedikit lalu keluar dan menutup pintu.


"Dasar wanita tua bodoh ! Aku bisa terkena darah tinggi gara-gara wanita menyebalkan itu." Geram hanna. Dazon menghadap kepada hanna dan melipat kedua tangannya.


"Jangan membicarakan wanita tidak penting itu, kalau kau ingin membahasnya, sebaiknya kau keluar, aku ingin beristirahat." Ucap hanna mulai dengan intonasi seperti biasanya, suara kasar, dan selalu membuka konfrontasi dengan dazon.


Dazon lebih memilih keluar dari kamar jika hanna kembali bersikap seperti ini, dia meninggalkan hanna sambil memijat-mijat keningnya.


Hanna menatap pintu yang menutup, menatap tajam sosok dazon. Dia tidak akan melupakan pembicaraan rahasia yang di dengarnya waktu itu mengenai putranya, dan darah yang mengalir di tubuhnya.


~


"Seorang Putra, adikmu melahirkan bayi laki-laki, riel." Ucap paulo di telepon.


Sontak riel seperti termenung, ketakutannya menjadi nyata, dia berdoa setiap hari untuk adiknya, tetapi hal yang paling tidak diinginkan telah terjadi, keinginannya kembali ke jeruji telah pupus, dia ingin menyertai dan melindungi adiknya, dia ingin menyaksikan tumbuh kembang putra hanna dengan mata kepalanya sendiri.


"Jangan panik Riel, adikmu akan baik-baik saja, ingat ! Di dalam darah anaknya memang mengalir darah reaver tetapi yang selama ini kita ketahui bahwa pemicu racun itu, jika orang yang mengenai racun itu terpicu oleh sesuatu, sehingga kesadarannya akan hilang, mengenai kasus putra hanna, dia akan tumbuh layaknya bayi pada umumya, dia memiliki ayah dan ibu yang menyayanginya, jadi kau tidak perlu khawatir." Ucap prof Vandash menenangkan riel.


"Aku mengerti prof."


~


Dazon berjalan-jalan di taman, mencoba menenangkan pikirannya. Dia tidak biasanya seperti ini, dia ingin hanna bahagia, memecat mey adalah salah satu yang ingin di lakukannya, tetapi wanita itu tidak pernah melakukan kesalahan, dia hanya selalu mencoba membantu di waktu yang salah, sehingga hanna selalu salah paham dengan kebaikan wanita itu, dan menurut dazon hal itu tidak adil, memecat seseorang tanpa alasan.


~


Suara ketukan terdengar dari luar pintu."Masuk." Ucap hanna.


Fairley dan jennifer masuk membawakan makanan untuknya, "Aku merepotkan kalian berdua, terima kasih." Ucap hanna dengan senyum tulus.


"Apa pangeran kecil kita masih tidur?" Bisik fairley, sambil menatap box bayi yang berada di samping hanna.


"Oh ya hanna, aku mendengar tadi ribut-ribut di kamarmu, ada apa?" Tanya fairley.


"Apa mey lagi?" Ucap jennifer.


Hanna mengangguk, "yup, dia lagi, wanita itu seperti sengaja membuat emosiku naik, dia sengaja melakukan sesuatu yang membuatku marah." Ucap hanna.


"Ya, aku tahu, kadang dia menjengkelkan, sepertinya tuan-tuan di mansion ini terlalu baik kepadanya sehingga dia merasa menjadi nyonya di rumah ini, lihat saja dari cara menyela pembicaraan kita sewaktu makan siang tadi." Ucap fairley sebal.


"Ya, mey juga mulai membuatku sebal." Tambah jennifer.


"Syukurlah, kupikir hanya aku yang menyadari tingkah aneh wanita itu, lihat saja bagaimana dia mengambil hati mereka, ketika dia berbicara kepada dazon dan daneil, begitupun kepada kak Ax." Ucap hanna.

__ADS_1


"Aku juga menyadari tingkah anehnya saat dia mulai ingin mengatur segalanya di rumah ini, kalau ada ibu, dia pasti sudah KO." Ucap farley.


"Maksudmu bibi lexia?" Tanya jennifer.


"Aku ingin menyaksikan waktu itu tiba, dimana bibi lexia mengungkap kebusukan wanita tua itu." Ujar fairley.


Hanna senang berbincang dengan mereka berdua, hal itu terasa meringankan beban yang selama ini di pikirkannya, tetapi bukan hanya itu saja yang menjadi pikiran hanna, dia memikirkan mengenai anaknya, keluarga ini takut jika putranya akan sama seperti ayah dan juga kakaknya, karena di dalam tubuhnya mengalir darah Reaver, hanna memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi sampai tingkat yang paling jauh, yaitu membawa pergi anaknya dari rumah ini, jika suatu hari, sedikit saja anaknya diperlakukan tidak adil atau anaknya akan berubah seperti yang di takutkannya maka, jika saat itu tiba hanna sudah siap dan akan melindungi putranya bagaimanapun caranya.


~


Axton dan fairley sedang berada di ruangan mereka, kedua anaknya sudah tertidur lelap, mereka berdua sedang duduk di balkon kamarnya, sambil bermesraan di bawah sinar bulan, Ax melepaskan ciumannya ketika fairley mengeluarkan suara putus asa dari bibirnya.


"Ada apa sayang?" Ucap Ax menatap fairley, yang mendorong keras tubuh suaminya.


"Aku mendengar kekehan seorang wanita Ax, kau tidak mendengarnya?" ucap fairley.


"Tidak sayang, aku tidak mendengarnya sama sekali." Ucap Ax.


Fairely segera menatap dari kejauhan, seseorang berdiri di dekat taman, memperhatikan mereka sejak tadi. Tetapi dia sudah pergi dan menghilang di balik pepohonan, "siapa dia?" ucap fairley, dia kemudian berdiri dan menatap suasana taman yang gelap dari kejauhan.


Langkah kakinya begitu pelan, suara sepatunya teredam karena menginjak daun-daun yang mengering, kekehan terdengar dari suaranya yang nyaring.


"Wanita itu boleh juga, seperti yang dikatakan pelayan-pelayan di sini bahwa dua dari Nyonya di rumah ini berasal dari kalangan menengah ke bawah, betul-betul seorang wanita yang pada dasarnya tidak memiliki apapun, Nyonya yang pertama seorang penyebar brosur di jalanan dan kerja serabutan dari kecil, dan nyonya yang ketiga seorang penjual kopi di pinggir jalan, betul-betul hebat dan mengagumkan dan yang tidak kalah pentingnya lagi, putri tuan Caesaar, dia pernah menghilang selama 17 tahun, dan dia di temukan sebagai seorang pemulung hahaha keluarga aneh yang lucu, aku ingin lihat bagaimana sampah-sampah itu menghadapiku." gumamnya.


~


Tatapan itu tajam, berkilat di malam yang gelap, seluruh ucapan wanita itu di dengarnya, saat ini dia sedang berada di taman malam hari, ketika dia mendengar telepon dari paulo mengenai adiknya, dia segera keluar lagi dari lab itu, dan ingin menatap dari kejauhan keponakannya yang baru saja kembali dari rumah sakit.


Tetapi tanpa sengaja dia mendengarkan semua ucapan wanita itu di dekat taman tempatnya bersembunyi.


"Lihat, bagaimana j4lang itu menghadapiku."


Dia berbalik arah, dia kemudian mengikuti wanita tua yang sedang masuk ke gudang tempat penyimpanan anggur milik keluarga ini. Ruangan itu gelap, layaknya seperti basemant, tangga yang meliuk menurun ke bawah, udara yang dingin di tempat itu membuat suasana semakin mencekam, segala jenis anggur dengan tahun dan merek tertentu tersusun dan tertata dengan rapi berdasarkan tahunnya.


"Aku akan membawakan anggur ini kepada tuan dazon ketika dia berada di ruangannya nanti, dia pasti senang dengan pelayananku, akhir-akhir ini istrinya hanya membuatnya stres dengan marah-marah saja, tanpa pernah melayaninya, haha aku ingin menjadi orang yang paling dibutuhkan di keluarga ini, sehingga nyonya-nyonya yang tidak tahu berterima kasih itu tahu bahwa mereka tidak di butuhkan." Ucapnya sambil menghirup wangi anggur yang di simpannya ke dalam keranjang hingga mendekati hidungnya.


"Kau tidak ada bedanya dengan kakakmu yang j4lang."


Tiba-tiba suaranya kembali tercekat, ada tali di lehernya, jeratan keras di lehernya membuat mey menggapai-gapai udara yang kosong. Dia kemudian melepaskan anggur yang berada di keranjang, botol anggur itu jatuh dan pecah begitu saja, wanita itu kembali tersungkur di lantai yang dingin itu.


Ck ck ck, aku tidak bisa menikmati permainan ini lebih jauh lagi, karena aku masih dalam tahap..., ck kau tidak perlu tahu, yang perlu kau tahu, aku menikmati saat-saat menyenangkan ini nyonya mey.


tangannya menggapai-gapai, seketika tali itu terlepas, dia kembali duduk dengan terbatuk keras, dia berdiri ketakutan, menatap ruangan temaram dikelilingi dengan kegelapan dengan tubuh yang gemetar.


"Si..siapa !" Ucapnya mencoba memberanikan dirinya. Suara kekehan terdengar kembali, tanpa mengambil anggur, wanita itu lari terbirit-birit membiarkan ruangan anggur itu membuka.


"Ck, ini belum menarik, kau tunggu saja permainanku, Meyna Howard, semakin kau mengganggu adikku, akupun akan semakin membuat hidupmu menderita."


Riel segera pergi dan kembali ke lab sebelum prof Vandash mengetahuo kepergiannya lagi.


Dia berlari terbirit-birit, sampai di ujung pintu belakang dia segera masuk, kemudian dia berlari ke kamarnya dan menguncinya debgan cepat, matanya menerawangi kamarnya seakan dia sedang kesurupan, "Siapa? siapa pria itu." bisik Mey, dia mengambil selimut di atas tempat tidurnya dan kemudian menyelimuti tubuhnya. Malam ini dia tidak akan keluar dulu, hanya untuk menemuai tuan di rumah ini, dia masih ketakutan, mungkin saja pria itu masih ada di luar sana.


~


Dazon kembali ke kamarnya, dia menatap hanna sudah tertidur pulas, akhir-akhir ini selama kehamilan hanna, dia jarang sekali menyentuhnya, hanna selalu menolaknya dengan berbagai alasan hingga membuatnya mengeluarkan kata-kata atau umpatan kasar.


Dazon menyadari perubahan diri hanna semenjak dia mengandung, dia seakan menganggap orang-orang di mansion ini adalah musuhnya.


Dazon berjalan dan menghampiri Box bayi yang berada di samping hanna, dia membungkukkan sedikit tubuhnya dan menatap bayinya lekat-lekat.


"Darko, namamu adalah Darko Caesaar, bukan darko Reaver, ayah tidak akan membiarkanmu menjalani hidup yang sama dengan kakek dan pamanmu." ucap Dazon.


Dazon segera berbalik dan melepaskan pakaiannya dan segera masuk ke kamar mandi, hanna membuka kedua matanya menatap punggung dazon sampai dia masuk ke kamar mandi. "Aku yang akan melindungi putraku." Ucap hanna.


~


~


Hari dan bulan berlalu begitu cepatnya, ketika hanna merawat sendiri bayinya merupakan anugrah baginya, dua pelayan yang membantunya juga cukup terlatih dan telaten, mereka sangat membantu hanna, apalagi mereka berasal dari Oklahoma dan tentu saja dia sedikit mengingat siapa hanna, meskipun begitu, mereka selalu berada di pihak hanna, tanpa mendengarkan arahan mey sebagai kepala pelayan di mansion itu.


Dazon akhir-akhir sibuk, dia terkadang keluar kota mengurusi pekerjaannya, kadang dia berangkat ke milan dan seminggu atau dua minggu kemudian dia baru akan kembali, hanna tahu, hubungannya dengan dazon merenggang, tidak ada kemesraan diantara mereka, perasaan cinta terasa mati di antara keduanya, entah bagaimana hubungan kasih di antara mereka akan kembali menyatu. Meskipun begitu, Dazon selalu menghubungi hanna ketika dia berada di luar kota, maupun berangkat ke italia.


"Kau pergi lagi daz, apa tidak apa-apa kau selalu meninggalkan hanna? apalagi putramu sebentar lagi berusia satu tahun." Ucap Ax ketika berada di ruangan dazon.


Dazon sedang mengumpulkan berkas-berkasnya di dalam tasnya yang akan di bawanya ke milan. "Ayah membutuhkanku, dia kurang sehat untuk mengurusi segala persoalan di sana, aku harus pergi jika tidak, semua berantakan." Ucapnya.


"Kau baik-baik saja kan dengan hanna?" Tanya Ax. Dia terlihat khawatir ketika melihat wajah dazon yang muram dia hanya mengangguk sebentar dan menepuk punggung ax.


"Jangan khawatir, kami baik-baik saja." Dazon segera keluar dari ruangannya dan segera masuk ke dalam kamarnya.


Hanna sudah tidur, dia selalu tidur membelakanginya, hanya berbalik kepada putranya Darko, dia juga jarang berkomunikasi dengan dazon, dia berubah, entah karena mey atau karena anak itu, tetapi seakan hanna menjaga jarak dengannya. Dazon menatapnya dari kejauhan, dia mengambil tasnya dan segera keluar dari kamar.

__ADS_1


__ADS_2