
Tiga mobil melaju cukup kencang, perjalanan mereka cukup jauh, beberapa kota telah mereka lewati hingga sampai ke perbatasan desa, sekarang sudah pukul 7 malam hari. Terdengar telepon berdering, Ax segera mengangkatnya.
"Tuan, perjalanan kita masih dua jam lagi, sebaiknya kita istirahat di salah satu penginapan, karena jika dilanjutkan perjalanan akan cukup berbahaya, selain karena lampu di desa itu selalu bermasalah, juga jalanan yang sangat licin, serta adanya jurang di desa itu, sebaiknya kita melanjutkan perjalanan esok hari." Lapor Paulo.
"Oke paulo, cari penginapan di luar desa itu, kita akan melanjutkan perjalanan esok hari."
Mereka akhirnya mendapatkan penginapan yang cukup nyaman. "Kau yakin kita harus berhenti, padahal sekarang baru pukul 7 malam." Ucap Dazon.
"Sangat berbahaya jika kita melanjutkan perjalanan Daz, apalagi dalam keadaan gelap, bisa-bisa mobil kita tergelincir di dalam jurang, kita juga butuh istirahat, sejak pagi kita sudah berkendara." Ucap Ax.
Untung saja mereka singgah di penginapan, lexia sangat letih untuk melanjutkan perjalanan. Dazon duduk di balkon di lantai dua kamarnya, udaranya memang sejuk tapi terasa dingin, dia mengeluarkan asap rokok dari mulutnya, sambil memikirkan Hanna dan putranya.
"Kau lari dariku sejauh ini, di tempat terasing ini hanya untuk menghindariku?" Gumam Dazon menatap langit malam. Seringai di wajahnya terlihat jelas, dia kembali mengeluarkan asap dari mulutnya, "Kenapa kau begitu kejam Hanna, aku memang bersalah, tapi jangan lari dariku, aku tidak bisa kehilanganmu."
~
"Kau tidak apa-apa Riel?" Ucap Hanna khawatir, dia menatap wajah Riel, seakan-akan Riel bisa berubah kapan saja, dan kembali menjadi pembunuh berdarah dingin. Riel kemudian tersenyum.
"Luka seperti ini tidak ada apa-apanya, kau jangan khawatir." Ucap Riel sambil tersenyum, dia menatap kakinya yang telah di perban oleh Hanna. Malam itu mereka duduk di meja makan, masih dengan penerangan lilin seadanya, kali ini Riel tidak kemanapun, dia selalu menemani Hanna, setelah kejadian itu, Hanna tidak pernah melepaskan pandangannya kepada putranya, dia lalu memikirkan berbagai cara untuk menyembuhkan putranya, apapun itu akan dia lakukan.
"Riel, Emm prof Vandash, apa dia khusus mengobati penyakit seperti yang kau derita?" Tanyanya.
"Kenapa kau bertanya?" Ucap Riel sambil menyesap kopi yang telah dibuatkan oleh Hanna malam itu.
"Aku melihatmu baik-baik saja, apakah penelitian yang dia lakukan betul-betul membuat perbedaan untukmu, Riel?" Tanya Hanna.
Riel mengangguk, "Setidaknya aku mengetahui cara agar diriku tidak berubah menjadi monster pembunuh, dengan cara menjaga dan menstabilkan diriku dari amarah atau sesuatu yang menstimulusku, banyak hal yang harus aku hindari, misalnya berjalan-jalan di tengah malam yang sepi, melihat rambut berwarna pirang serta menghindari wewangian, aku menghindari itu semua, jadi saat ini aku bisa mengontrolnya dengan baik." Jawab Riel.
"Apa, apa prof itu melakukan penelitian padamu, sehingga meskipun kau tidak menemukan obatnya, setidaknya kau mengetahui cara agar kau tidak berubah lagi?" Tanya Hanna.
"Ya, aku cukup lama berada di laboratorium prof Vandash, begitu banyak cara yang dia lakukan, sehingga ada hasil yang dia temukan, meskipun sampai sekarang dia masih belum menemukan obatnya."
"Be..benarkah? Ucap Hanna dengan mata berbinar, masih ada harapan akan kesembuhan Darko.
Bagaimana dengan Darko, Riel? Apakah ada kemungkinan dia bisa di sembuhkan, misalnya dengan terapi? atau apapun itu."
Riel kembali menyesap kopinya, matanya menatap lantai atas tempat di mana Darko saat ini sedang tidur.
"Kasusku dengan kasus Darko berbeda, Hanna, kita sebenarnya tidak boleh terlalu lama berada di tempat ini, jika kau ingin mengetahui cara agar Darko sembuh, atau setidaknya dia bisa bersikap normal, dia harus segera di bawa ke prof Vandash, bukan hanya sekali atau dua kali kau membawanya kesana, tetapi Darko harus di teliti secara mendalam dan terus menerus secara rutin, sehingga prof tahu cara mengobati Darko."
Hanna menghela napasnya. "Kau benar, Riel. Aku terlalu egois membawa putraku ke tempat terpencil seperti ini dan menjauhkannya dari ayahnya dan dari semua orang, meskipun aku marah kepada Dazon, tetapi aku ingin Darko sembuh dan menjadi normal." Ucapnya.
__ADS_1
"Ikutlah denganku ke prof vandash, sebaiknya Darko di periksa olehnya, jika kau tidak menginginkan kejadian lebih bertambah buruk kedepannya untuk putramu, maka kau dan Dazon harus menekan ego kalian masing-masing, dan berpikir untuk masa depan putra kalian, sebelum terlambat." Ucap Riel.
Hanna mengangguk, "Kau benar Riel, besok, kita akan kembali ke Atlanta, aku ingin menemui prof Vandash, meskipun memakan waktu cukup lama agar Darko dapat di obati, aku akan menemani Darko sampai kapanpun itu." Ucap Hanna.
"Bagus Hanna, besok pagi-pagi sekali, kita akan berangkat." Ucap Riel.
Lantai dua di villa itu masih terlihat gelap, meskipun ada lilin yang menjadi penerang di kamar Hanna, seseorang berdiri di sana sambil memegang pembatas tangga, matanya berkilat ketika mendengarkan percakapan mereka berdua, dia bersenandung pelan, senyum tipis terlihat di wajah kecilnya.
"Aku sangat suka di tempat ini mommy, dan Darko tidak akan pergi kemana-mana." Gumam Darko.
~
Pukul 07.10 pagi hari.
Mereka semua sudah berada di dalam mobil, setelah sarapan pagi-pagi sekali, "Semoga Hanna betul-betul berada di villa itu, aku takut sesuatu terjadi dan kita tidak mengetahuinya." Ucap lexia khawatir.
Dazon mengetuk-ngetukkan tangannya dengan tidak sabar, perjalanan mereka masih dua jam lagi, dan karena jalanan yang licin dan beberapa jalan yang mereka lewati cukup parah, mereka harus berhati-hati melajukan mobil mereka.
Pukul 07.00 di villa
Hanna bangun pagi-pagi sekali dan membuat sarapan pagi sebelum keberangkatannya ke Atlanta, dia lalu kembali ke lantai atas dan mengepak kembali pakaian mereka, meskipun pakaian dan segala kebutuhannya tidak terlalu banyak, tetapi membutuhkan waktu cukup lama, dia melihat tempat tidur di sampingnya tertutup oleh selimut, Hanna menatap selimut itu dengan aneh, karena tidat terlihat suara atau napas normal ketika Darko masih terlelap, karena curiga, Hanna menarik selimut yang di gunakan Darko dan ternyata bantal dan guling tersusun di sana seakan Darko sedang tidur.
Hanna sangat terkejut, "Darko? Darko kau dimana sayang? Darko." Teriak Hanna, dia mencari di seluruh kamar, dan tidak menemukannya juga, Hanna berlari menuju ke lantai bawah, dia memeriksa semua tempat dan ruangan, dan Darko tidak ada di manapun.
"Aku tidak bisa menemukan Darko dimanapun, Riel, aku tidak tahu dia dimana." Ucap Hanna sambil menangis.
"Kita cari sekali lagi." Ucap Riel, Mereka berdua memeriksa di semua tempat dan di setiap ruangan tetapi Darko sama sekali tidak di temukan.
"Tunggu di sini, aku akan mencarinya di hutan." Ucap Riel, dia dengan cepat keluar dari villa dan masuk ke dalam hutan, meskipun di hutan itu cukup berkabut dan penglihatan pun cukup buruk ketika kita memasuki hutan di pagi hari, tetapi Riel tetap masuk ke dalam hutan dan berteriak-teriak mencari Darko.
Hanna berdiri di depan villanya, dia lalu mengelilingi villla itu dan berteriak mencari Darko. "Kau dimana Darko, mommy mencarimu Darko, ayo keluarlah sayang, kita bermain petak umpet, Darko." Ucap Hanna putus asa.
Sudah sejam lebih mereka mencari keberadaan Darko, tetapi Darko sama sekali tidak bisa ditemukan, langkah kaki Riel membuat Hanna berbalik, dia menggeleng kepadanya ketika dia baru saja keluar dari hutan.
"Tidak ada?" Tanya Hanna, Riel menggelengkan kepalanya. "Tidak ada jejak Darko di hutan, meskipun sedikit telapak kaki yang berbekas di tanah yang basah, juga tidak ada sama sekali." Ucap Riel.
"Darko sembunyi di mana?" Ucap Hanna menangis, dia lalu berlari sekali lagi ke dalam villa dan berteriak-teriak mencarinya, dia membuka ruangan sampai ke lemari-lemari kecil yang tertutup, tetapi Hanna sama sekali tidak menemukannya.
~
Mereka beberapa kali singgah hanya untuk sekedar bertanya mengenai Villa terdekat di desa itu, beberapa orang penduduk di desa itu menunjuk villa yang terletak cukup jauh di dekat hutan, satu-satunya villa yang berada di sana, mereka pun menjelaskan jika di villa itu, sudah ada yang menempatinya. Mereka mengatakan, seorang pria dan wanita serta anak kecil yang menempati Villa itu. Dazon begitu terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Seorang pria?" Gumamnya.
"Jangan berpikir yang bukan-bukan Daz, kita ke sana sekarang." Ucap Lexia.
"Aku yakin dia Hanna, sebentar lagi kita akan bertemu dengannya." Gumamnya. Dazon mengepalkan tangannya, dia sangat merindukan Hanna dan Darko, segala emosinya kembali menjadi satu, Dazon sangat marah, rindu dan sangat ingin memeluk Hanna dan putranya, dia akan membawa Hanna kembali ke mansion, bagaimanapun caranya meski dengan cara mengikatnya sekalipun, dia akan membawa istrinya pulang.
Dari kejauhan, mereka sudah melihat Villa yang berdiri kokoh yang berada di tepi hutan, tidak ada bangunan lain di sana, tempatnya pun sangat terpencil dan sepi, ketiga mobil itu berhenti tidak jauh dari villa, Dazon segera keluar dari mobil, begitupun dengan Ax dan lexia, Thomas dan Paulo ikut keluar beserta dua pengawal yang berada di mobil paling belakang.
Mereka sangat terkejut ketika telah tiba di villa berwarna putih itu, hal pertama yang mereka lihat adalah Riel yang baru saja keluar dari rumah itu, dia berbalik dan sangat terkejut dengan kedatangan mereka semua.
"Riel? Kenapa kau ada di sini?" Tanya Thomas, matanya tajam menatap Riel. Sebelum Riel menjawabnya, Hanna keluar dari Villa dengan wajah panik dan air mata masih berbekas di wajahnya. Dia berbalik dan juga sangat terkejut dengan kedatangan mereka semua, matanya langsung tertuju kepada Dazon, mereka saling menatap dalam diam, Dazon melangkah dengan cepat, dia kini berdiri di hadapan Hanna. Terlihat rahangnya terkatup rapat, dan matanya menahan mata coklat Hanna, dia seakan menghipnotisnya hingga matanya tidak bisa beralih ke manapun kecuali kepada Dazon.
Hanna tidak bisa berkata apa-apa, Dazon lalu memeluk erat tubuh Hanna seakan dia tidak akan melepaskannya.
"Kenapa kau lari dariku Hanna? Apa kau tahu, aku akan gila tanpamu." Ucap Dazon, dia memeluk erat istrinya, seakan seluruh kemarahan yang telah mencapai ambang batasnya telah meluap begitu saja ketika melihat Hanna ada di hadapannya. Dia kini melepaskan pelukannya kepada Hanna, lalu mengernyitkan alisnya melihat air mata di pipinya.
"Apa yang terjadi, kenapa kau menangis?" Tanyanya. Matanya lalu tertuju kepada Riel yang berdiri di belakang Hanna. Matanya mengelilingi tempat itu. "Dimana putraku?" tanyanya.
"Darko menghilang sejak pagi tadi." Ucap Riel.
Mereka semua berdiri di depan Villa dan mendengarkan penjelasan Riel, Hanna tidak bisa berkata-kata, suaranya tercekat, dan Dazon tidak melepaskan pelukan eratnya di pinggang Hanna, dia seakan tidak mau melepaskannya.
"Kalian sudah mencarinya di mana saja?" Tanya Dazon.
"Kami sudah memeriksa di semua tempat, tetapi kami tidak menemukannya, bahkan sampai masuk ke dalam hutan, tidak ada jejak Darko sama sekali."
"Kita akan mencarinya sekali lagi, jangan khawatir Hanna, kita pasti akan menemukan Darko, sayang." Ucap Lexia.
Mereka sekali lagi berpencar, Thomas dan Paulo masuk ke dalam hutan dan dua pengawal mencari di sekeliling desa, sementara itu lexia mencari di dalam villa, sementara Dazon mencari di sekitar villa, Dazon menggenggam tangan Hanna, dan tidak melepaskannya sama sekali, mereka mencarinya bersama-sama.
Mereka berdua mengelilingi sekali lagi tempat itu, Hanna menatap Dazon dan pertanyaan muncul begitu saja di kepalanya.
"Apa kau masih berencana membawa putraku dan memisahkannya dariku?" Tanyanya.
Dazon berhenti berjalan, dia lalu berdiri di hadapan Hanna, "Tadinya aku masih berniat membawa Darko, tetapi aku tidak akan membawanya ke tempat itu, aku akan mencari cara untuk menyembuhkan putra kita, jadi jangan coba lari lagi dariku dan menjauhkan putraku, aku hanya ingin yang terbaik untuk anak kita, kau mendengarkanku sayang, penyakit Darko harus segera di sembuhkan, kita berdua akan mencari cara untuk menyembuhkannya." Ucap Dazon.
Hanna mengangguk, air matanya terus mengalir, ucapan Dazon membuatnya menjadi kuat dan memiliki harapan, Hanna lalu memeluk erat Dazon, "Aku takut sesuatu yang buruk terjadi kepada Darko," ucap Hanna. Dazon memeluk erat tubuh Hanna dan menatapnya, dia menghapus air mata istrinya dan memberikan ciuman panjang yang selama ini sangat dirindukannya.
"Daddy? Hehe permainan akan semakin seru."
Bisik Darko di antara semak belukar, senyumnya tampak di wajah kecilnya, matanya menatap tajam sosok mereka berdua.
__ADS_1
"Aku ingin bermain petak umpet bersama Daddy." Gumam Darko.