
Dering telepon membuat tuan Caesaar mengalihkan perhatiannya dari berkas-berkas yang sedang di bacanya. Dia mengangkatnya dan seketika suaranya berubah menjadi bersemangat.
"Thomas, bagaimana? Kau sudah mengetahui keberadaan putri Ben Reaver?" tanyanya.
"Saya sedang mengirimkan Telegram kepada anda, semua bukti akurat akan saya cantumkan di sana, tuan."
"Kerja bagus Thom, berkatmu jadwal pernikahan dazon tidak akan diundur, ngomong-ngomong pernikahan dazon tidak akan di adakan di Milan, saya sudah memutuskan pernikahannya akan diadakan di Atlanta Georgia." Ucap tuan Caesaar.
"Baik tuan."
Tidak lama setelah perbincangannya dengan Thomas, maka terkirim hasil penyelidikannya mengenai Ana reaver kepada tuan Caesaar, seorang pelayan masuk dan membawakan telegram hasil dari penyelidikan thomas di Atlanta kepada tuan Caesaar.
"Tuan makan siang telah siap." Ucap sang pelayan. Tuan Caesaar mengangkat tangannya menyuruhnya diam.
Dia membaca dengan mengernyitkan alisnya. "Bukankah kekasih dazon bernama Hanna Tan?" Ucapnya.
Dia kemudian membaca lagi semua bukti-bukti yang menunjukkan jika Hanna Adalah sosok gadis yang selama ini di carinya, dia kemudian memegang sandaran kursi agar tidak jatuh.
"Wanita yang telah kutolak dan kukatakan tidak berjodoh dengan keluarga Caesaar adalah putri kandung Ben Reaver?" Tuan Caesaar tertawa tertahan, permainan nasib apa yang membuat semua ini terjadi, dia seakan berputar-putar di tempat yang sama.
Lexia dan Nara berjalan sambil menjinjitkan kaki mereka, dia menempelkan telinganya di pintu ruangan tuan Caesaar. "Kau dengar tadi Nara? Suara ayah yang tertawa-tawa?" Ucap lexia.
"Iya, aku mendengarnya, apa yang sebenarnya terjadi, suara tawa ayah cukup besar." Ucap Nara.
"Penasaran seperti ini terasa membunuhku." Ucap lexia, Tiba-tiba pintu ruangan itu membuka, lexia dan hana seketika jatuh di lantai di hadapan tuan Caesaar.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya tuan Caesaar lalu menyipitkan matanya menatap lexia dan menantunya Nara.
"Kami hanya penasaran, kenapa ayah tertawa seperti itu? Apakah Ada kabar menyenangkan Dad?"
Tuan Caesaar berdehem dan sekali lagi memperbaiki letak kacamatanya. "Erm, kalian semua akan tahu jika watunya tiba." Dia melangkahkan kakinya meninggalkan mereka berdua yang masih duduk di depan ruangannya.
~
01.15, Night Club
Wanita itu terus berpesta, memanggil semua teman-temannya untuk menghibur dirinya, hari ini dia telah di pecat dari pekerjaan yang begitu sulit di dapatkannya, membangun karirnya bertahun-tahun dan di pecat begitu saja, seakan bertahun-tahun pekerjaan yang dilakukannya tidak berharga, tetapi dia tidak terlalu bersedih dengan pemecatan sialannya itu, karena dengan kepintarannya dan koneksinya di mana-mana, Audy berpikir akan menemukan pekerjaan yang lebih layak dan lebih pantas untuknya.
Wanita itu turun ke dance floor, seperti kehilangan kesadaran, menari dan meliuk-liukkan tubuhnya bersama para prianya dan teman-temannya.
Pukul 2 Dini Hari
"Aku bisa pulang sendiri koq, aku tidak begitu mabuk." Ucapnya, sambil mendorong tubuh seorang pria yang menemaninya.
"Ouch tidak sayang, kau akan ikut denganku, kau tidak bisa jalan di tempat berbahaya seperti ini."
"Oke, oke aku akan pergi denganmu tapi tidak untuk tidur, kau mengerti ! dan aku akan lihat sampai mana kegigihanmu untuk memilikiku." Dia lalu tertawa-tawa.
Mereka berdua berjalan beriringan, bernyanyi seperti melupakan waktu dan apa yang menunggunya.
Pria itu berdiri di tengah-tengah jalan, dia mengenakan mantel panjang berwarna hitam. Pancaran matanya sangat menakutkan, membuat keduanya berhenti berjalan, melihat pria aneh di tengah jalan pada jam seperti ini.
"Siapa pria itu Audy, kenapa dia berdiri seperti itu di tengah jalan?" Tanya pria itu.
"Entah, orang gila yang suka mencari perhatian?" Jawabnya, kemudian dia tertawa. Pria bernama kurz menggelengkan kepalanya, dia tahu orang yang berdiri di tengah jalan itu bukan orang yang sekedar mencari perhatian saja.
Tiba-tiba ingatannya kembali ketika pagi ini, dia menonton berita pagi mengenai kaburnya pembunuh berantai yang sangat sadis, hal itu membuat pria bernama kurz mundur selangkah dari tempatnya berdiri.
"Sial Audy, sepertinya kita harus pergi secepatnya, dia berbahaya." Bisiknya.
Audy menatapnya dengan wajah mencela. "Kau pengecut Kurz, begitu saja kau ketakutan, ck ck lupakan tidur denganku malam ini, aku lebih memilih pria itu dari pada pengecut sepertimu." Ucapnya sambil memukul-mukul pipi pria itu.
"Tidak ! Kali ini dengarkan aku Audy, kita harus putar arah, sebelum dia bergerak, sial ! Mobilku kutinggalkan di depan club, kita terlalu mabuk untuk membawanya." Gumamnya.
"Kita pergi !" Pria bernama kurz menyeret audy meninggalkan lokasi di mana pria itu berdiri, tiba-tiba kekehan mengerikan terdengar darinya. Dia bergerak, berjalan, membunyikan sesuatu di tangannya.
mereka berdua berbalik dan melihat pria itu juga turut berhenti ketika mereka berhenti.
"Ayo jalan, sebaiknya kita bergegas, mungkin masih ada orang-orang di Night club." Ucapnya. Langkah di belakangnya semakin cepat, lalu tanpa pria itu sadari tengkuknya telah di serang hingga ia jatuh pingsan. Audy berteriak histeris, ketika pria itu menyeretnya memasuki gank sempit, dia masih cukup kuat untuk memberontak, Riel membungkam mulutnya, tetapi wanita itu cukup tangguh untuk melawan, waktu yang diinginkan oleh audy, mencoba melawan sekuat tenaga dan memohon siapa saja dapat melihatnya, dan benar saja satu mobil polisi sedang berpatroli, melihat mobil itu dari kejauhan, Riel mengambil waktu menarik rambut wanita itu dan mengguntingnya dengan kasar, hingga audy berteriak histeris, tidak lama kemudian Riel lalu menghilang di kegelapan malam ketika satu mobil polisi berhenti dan segera menuju ke tempat audy yang menangis dan berteriak histeris.
~
"Kenapa kita harus kembali ke Amerika, apa yang kakek sedang mainkan?" Ucap Dazon kepada ayah dan ibunya.
"Ikuti saja kemauan kakekmu Daz, jangan membantahnya." Tegur Xaphier.
"Aku cukup sibuk di Milan, pekerjaanku masih belum selesai di sini Dad." Keluhnya.
"Mau bagaimana lagi daz, ini perintah kakekmu, seluruh keluarga kita akan berangkat ke Amerika besok, jadi bersiap-siaplah." Ucap Xaphier sambil menepuk-nepuk punggung putranya.
Dazon tidak ingin kembali ke Amerika, hal itu hanya akan membuat dirinya ingin bertemu dengan Hanna, apalagi sekarang ini dia begitu sangat merindukannya.
__ADS_1
Dazon menyelinap dan pergi ke tempat yang cukup jauh dari tempat ayah dan ibunya makan di restaurant itu, dia kemudian menghubungi Loue.
"Ya Tuan, loue di sini."
"Erhm, bagaimana keadaan di sana, apakah aman?" Tanyanya.
"Aman sir, kami menempatkan dan menambah penjaga, sesuai dengan permintaan sir Thomas."
"Menambah penjagaan, kenapa? Mengapa thomas meminta menambah penjaga di apartemen Hanna?" Ucapnya jengkel, apa yang sebenarnya terjadi.
"Perintah itu turun dari Thomas sir, jadi kami memfalitisasi keamanan Nona Hanna sampai tingkat No 1 sir, sistem keamanan kita mungkin saja di retas oleh kelompok Crounus." Ucapnya.
"Oh ya, laporkan semuanya kepadaku, dan apapun perintah dari Thomas, laporkan kepadaku."
"Baik Tuan."
Dazon menutup ponselnya, dan berpikir apakah ini semua perintah kakeknya? Dia memang pernah berjanji untuk melindungi Hanna sampai hari pernikahannya tiba. Meskipun dazon sedikit curiga tetapi selama kakeknya melindungi Hanna dari bahaya, dia tentu akan setuju.
"Sudah seminggu aku tidak mendengar suaramu Hanna." Bisik dazon.
~
~
Detektif Nick dan Rainy mendengarkan penjelasan wanita yang tidak lain adalah audy Ricardo yang telah di serang oleh seorang pria dan telah menggunting rambutnya, sekarang ini rambut wanita bernama Audy terlihat aneh, terpotong sembarangan.
"Pria sialan itu menarikku ke dalam Gank, dan mengambil gunting dari sakunya, lalu menggunting rambutku," teriaknya histeris.
"Bersyukurlah Nona, bukan nyawamu yang di ambilnya, karena sedikit saja mobil patroli tidak datang malam itu, mungkin saja kau tidak bisa mengumpat seperti sekarang ini." Ucap detektif Nick.
"Siapa pelaku pembunuhan itu, aku ingin dia di tangkap dan lebih baik di lenyapkan saja, dia mengganggu ketentraman masyarakat di kota ini." Ucap Audy berapi-api.
"Kami juga menginginkan hal itu nona, sebaiknya anda pulang dan untuk sementara anda jangan keluar dulu dari rumah, mungkin saja pelaku itu masih berkeliaran." Ucap detektif Rainy.
"Tidak keluar dari rumah?? Anda ingin mengurungku hanya karena pria sialan pembunuh gila itu?
Oh ya, dimana kameranya, dimana wartawannya, seharusnya mereka mewancaraiku, aku salah satu korban yang selamat dari pembunuh gila itu." Ucapnya tiada henti.
Nick berpaling dan secepatnya menjauh dari wanitu itu. Detektif rainey memutar bola matanya.
"Kenapa aku menjadi lelah hanya berada di dekat wanita itu? Dia tidak berhenti bicara dan selalu memandang tinggi dirinya." Ucapnya.
"Tapi kenapa Riel kembali menyerang seseorang? Apa yang memicunya? Padahal sudah lama sejak kasus korban ke 8, dia tidak menyerang wanita berambut pirang lagi, kenapa sekarang dia menyerang, apa yang memotivasinya?" Ucapnya.
"Jangan berpikir terlalu keras Nick, seorang pembunuh tetaplah pembunuh, jika dia melihat kesempatan ada di depan matanya, dia akan melakukannya."
~
~
Hanna sedang memasak di dapurnya, masakan sehat penuh dengan sayuran dan protein agar tubuhnya menjadi kuat, hari ini dia ingin membuat tumisan sayuran serta ayam panggang yang di tabur bawang putih dan merica, makanan simple yang sering dibuat oleh jessy untuknya, dia juga merindukan masakan ini, jadi dia berencana akan membuatnya untuk mengenang sahabatnya jessy.
Hanna membuka kulkasnya dan melihat tidak ada bumbu yang diinginkannya, padahal bumbu itu adalah hal utama ketika dia memasak.
"Oke aku akan keluar, lagi pula ada mini market di depan apartemen ini, keluar sebentar tidak apa-apakan." Ucap Hanna. Dia segera mengambil kardigannya berwarna hitam dan mengenakannya, dia lalu mengunci pintunya.
Untungnya pengawal yang sedang berjaga siang ini sedang makan siang, jadi tidak ada seorangpun yang menyadari kepergian Hanna.
Hanna membuka gerbang apartemen itu, lalu berjalan sepanjang trotoar dan mencari-cari minimarket, untungnya minimarket itu betul-betul tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Dua orang pria berjas hitam mengikuti Hanna dari belakang, tiba-tiba dia memegang sisi kanan dan kiri lengannya. Hanna sangat terkejut, dia berteriak sekuat tenaga, melawan mereka berdua. Hanna di tarik ke dalam salah satu mobil Van besar berwarna Hitam, tetapi sebelum itu terjadi, seorang pria memakai hoddie berwarna hitam memukul kepala salah satu pria itu dengan kayu di tangannya.
Hingga pegangan mereka kepada Hanna terlepas.
Pria itu kemudian menyerang membabi buta kepada kedua pria yang hendak menculik Hanna, hingga mereka tidak sanggup menghadapinya dan kemudian naik ke dalam Van dan melarikan diri saat itu juga.
Hanna berdiri dengan lutut gemetar, dia terjatuh dan duduk di jalan, pria yang menggunakan tudung yang menutupi separuh wajahnya itu hanya berdiri di sana, memperhatikan Hanna yang ketakutan dan menangis, dia hanya berdiri dan terus menatap hanna, tiba-tiba dia ikut duduk di jalan di hadapan Hanna, kemudian dia menggaruk-garuk jalanan itu dengan tangannya, berulang kali dia menggaruk jalanan itu dengan kukunya, hanna menatapnya heran.
"A..apa yang kau lakukan?" Tanyanya. Hanna menatap keheranan dengan tingkah pria asing di depannya. Dia berulang kali menggaruk jalan beraspal hingga kukunya terlihat memerah.
"He..hentikan, tanganmu nanti sakit."
Entah mengapa garukan yang dilakukan pria itu terasa familiar, bukan pertama kalinya dia melihatnya, di memorinya yang paling dalam, dia merasa mengenal dan mengingat seseorang menghiburnya dengan garukan yang jika orang lain mendengarnya terdengar mengerikan, tetapi bagi Hanna tidak mengerikan sama sekali, hanya dia merasakan begitu akrab dengan apa yang dilakukan pria itu.
Hanna berhenti menangis, dia lalu menatap pria itu, wajahnya tidak begitu jelas karena separuh wajahnya di tutupi oleh tudung berwarna hitam.
Terdengar langkah kaki pengawal dari kejauhan, Riel segera beranjak dari sana, dia pergi dan menghilang dengan cepat. Sebelum dia pergi, senyum terlihat di wajahnya, dia telah bertemu langsung dengan adiknya setelah bertahun-tahun mereka berpisah, meskipun Hanna tidak akan mengingatnya lagi, setidaknya dia masih bisa melindunginya.
~
~
__ADS_1
Thomas, loue dan beberapa pengawal lainnya berada di ruang tamu Hanna di apartemen, hanna duduk di sana seperti seorang anak kecil yang akan di omeli, karena tidak mau mendengarkan apa yang di katakan oleh thomas maupun Loue.
"Bagaimana ciri-ciri pria yang menolong anda?" Tanya Loue masih dengan sikap sopan yang sama kepada hanna.
"Dia tinggi, mengenakan hoodie berwarna hitam separuh wajahnya tertutup, sehingga saya tidak melihat dengan jelas wajahnya." Jawab Hanna.
"Bisa anda jelaskan pria yang menyerang anda tadi?" tanya Loue kembali.
"Mereka mengenakan jas berwarna hitam dan mereka pergi dengan mobil Van hitam." Ucap hanna, dia mengintip kepada thomas, entahlah perasaan hanna saat ini bahwa dia telah melakukan kesalahan kepada mereka yang telah berusaha menjaganya.
"Periksa semua cctv di dekat market itu."
"Baik sir." Ucap loue.
Tatapan thomas tajam, tetapi masih bersikap sama kepada Hanna, hormat dan tanpa kemarahan di suaranya, tetapi kata-katanya menusuk, membuat hanna semakin merasa bersalah.
"Jadi, jika anda menginginkan sesuatu, cukup hubungi penjaga yang ada di luar pintu apartemen nona, jangan berani keluar dulu dari sini karena keadaaan masih tidak aman, setidaknya anda harus berada di sini sampai waktu yang penting itu tiba." Ucap thomas.
"Wa..waktu yang penting? Apa maksudmu waktu yang...." Tiba-tiba dia menyadari satu hal, hari penting yang dia maksud adalah sampai hari pernikahan dazon tiba, dia tidak boleh meninggalkan apartemen jangan sampai dia membuat keributan dan mengacaukan acara pernikahan mereka.
Hanna ingin mendengus, meskipun dibayarpun, dia tidak akan mau hadir di acara pernikahan dazon dan mempermalukan diri sendiri.
"Anda tenang saja, aku tidak akan kemana-mana sampai hari penting itu tiba, kalau perlu, aku akan tidur saja seharian sampai acara mereka selesai." Ucapnya.
Hanna jengkel dengan ucapan pengawal itu, seakan-akan hanna akan merusak pesta pernikahan dazon sampai-sampai dia di jaga seketat ini, seperti halnya dia seorang calon pengantin yang akan menikah, bukankah yang harus mereka jaga adalah mempelai wanita dazon? Bukannya dia. Hanna mengambil napas panjang, dia lalu masuk ke kamarnya.
Penjagaan bukan lagi di pintu masuk luar apartemen, melainkan pintu masuk ruangan apartemen Hanna, sehingga dia betul-betul merasa di kurung.
Hanna membaringkan tubuhnya di tempat tidur, dia mengingat kembali pria itu, entah siapa dia, sikapnya terlihat aneh, tetapi dia menolong hanna, bahkan sampai melukai dirinya sendiri, bajunya pun terlihat robek di sana sini, seperti hanya itu saja baju yang dia punya, siapa pria itu.
~
~
Pesawat itu telah berangkat dari milan menuju Georgia Atlanta, Tuan Caesaar sengaja memilih pernikahan Dazon di laksanakan di kota itu, selain karena dia ingin bertemu dengan Hanna, diapun ingin bertemu teman lamanya, dia juga salah satu pengawal yang setia padanya, tetapi beda dengan Ben Reaver, sahabatnya itu bekerja dalam bidang yang lain, sejak muda dia lebih tertarik mengenai pembuatan obat-obatan, serta pembuatan zat-zat kimia dan penangkalnya, dia sudah lama tinggal di Atlanta di salah satu pusat penelitian terbesar di kota itu, dan juga dia sudah mendapatkan gelar professor dengan berbagai penemuan obat-obatan serta serum yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit, tetapi ada beberapa hal yang di sembunyikan oleh profesor itu dan masyarakat tidak tahu, dia juga membuat racun ganas yang dapat menjadi malapetaka bagi musuh-musuhnya.
Tuan Caesaar selalu berkunjung, dan biasanya berkonsultasi dengan temannya itu. Kali ini dia selalu berkonsultasi dengannya mengenai keadaan Ben Reaver yang tersuntik racun ganas, sampai-sampai masih belum di temukan obatnya sampai sekarang.
Hanya obat penenang, sehingga kesadarannya mulai membaik, tetapi untuk tidak membangkitkan sisinya yang lain, Ben harus mengkomsumsinya, jika tidak, malapetaka akan segera menimpanya dan hal itu telah terjadi.
"Halo Dokter Ray, sebentar lagi aku akan tiba di Amerika tepatnya kota Georgia Atlanta, kita akan segera bertemu." Ucapnya
~
Thomas sudah berdiri di sana menunggu tuannya yang akan segera tiba dari Milan, pesawatnya akan segera mendarat, nampak dari kejauhan pesawat itu kini mendekat.
pintu pesawat terbuka, Tuan Caesaar keluar terlebih dahulu dan beberapa pengawal turut turun, tidak lama berselang, seluruh keluarga Caesaar keluar dari pesawat. Mobil mereka semua masing-masing telah menunggu mereka semua.
Dazon turun dari pesawat, wajahnya tidak menunjukkan ketenangan tetapi sarat dengan kecemasan, karena sebentar lagi pernikahannya akan di gelar di kota ini, di tempat yang sama Hanna berada, entah apa tujuan kakeknya memilih tempat ini.
~
Malam itu hanna sedang duduk di depan Tv memutar-mutar saluran tv tetapi tidak ada sama sekali yang menarik, tiba-tiba bunyi bel membuat Hanna mengernyitkan alisnya, lalu menatap jam di atas meja.
"Sudah jam 10 malam, siapa yang datang pada jam seperti ini?"
Hanna mengintip dari pintu dan dia begitu terkejut, karena orang yang berdiri di sana, sangat dia rindukan, dia begitu saja membuka pintu apartemennya, mereka saling menatap, kerinduan jelas terlihat di wajah keduanya.
Hanna menghambur di pelukannya dan memeluknya erat-erat, begitupun dazon, dia membenamkan kepalanya di leher Hanna dan mengecup puncak kepalanya.
"Kau datang? kapan?" tanya Hanna.
"Sst, aku datang sembunyi-sembunyi, jangan ribut nanti Thomas tahu aku ada di sini." bisik Dazon. Hanna menarik dazon ke dalam apartemennya, lalu menghambur di pelukannya, masih memeluknya erat.
"Kau terlihat kurus." Ucap dazon sambil mengernyitkan dahinya tidak setuju.
"Erm, benarkah? mungkin karena aku memikirkan seseorang." Ucap Hanna malu-malu. Dazon mengangkat tubuh hanna dan mendudukkanya di meja dapur.
Dazon memerangkap hanna di kedua tangannya, menahan matanya agar tidak berpaling. "Aku merindukanmu." bisik dazon.
Hanna tersenyum manis, dia mengalungkan kedua tangannya di leher Dazon, lalu memberikan kecupan singkat untuknya.
"Aku sangat merindukanmu." bisik Hanna.
Dazon tersenyum, dia tidak perduli lagi dengan pernikahan yang sebentar lagi akan di laksanakan, lagi pula sampai detik ini, dia masih belum bertemu dengan wanita yang akan di nikahkan dengannya.
Dazon mencium Hanna, membuatnya terjebak di antara pelukannya, hingga Hanna terhipnotis dengan ciuman panjang dazon yang membuatnya seakan meleleh dan hanyut. Dazon melepaskan ciumannya, dan tersenyum mengejek, ketika Hanna merasa kehilangan pegangan akibat ciuman intens dazon.
"Sebentar lagi aku akan menikah Hanna, tetapi aku ingin bilang hal ini kepadamu, biar bagaimanapun aku tetap akan mengatakan hal ini."
"Aku mencintaimu Hanna." ucap dazon.
__ADS_1