
Setelah mendapatkan telepon dari dazon, hanna segera berbalik dan memberikan ponsel itu kepada loue yang masih menunggunya di sana, sementara hanna segera masuk ke dalam mobilnya bersama putra dan pelayan yang sedang menggendong anaknya.
Loue mendekat ke mobil hanna, "Nyonya, sebaiknya saya mengantar anda ke mansion, agar anda bisa beristirahat, sambil menunggu kita tiba di mansion." saran loue.
"Aku tidak apa-apa loue, aku baik-baik saja, kau bisa pergi, aku akan langsung menuju ke mansion." Ucap hanna, dia segera pergi dan memutar mobilnya, loue masih berdiri di sana menatap kepergian hanna.
Hanna melirik dirinya di kaca spion, "Astaga, apa wajahku sekacau ini? Sial, loue pasti melihat wajahku yang tadi menangis dan kacau begini sejak tadi." gumam hanna.
30 menit perjalanan dan hanna tiba di mansion, dia segera turun dari mansion dan menggendong putranya masuk, lexia yang melihat kedatangannya segera menyambutnya, lalu memberikan kecupan di pipi hanna dan kemudian menggendong darko yang baru saja terbangun.
"Haa, dia baru saja bangun tidur." Lexia menggendong darko dan menghela hanna masuk ke dalam mansion. Di sana sudah duduk semua anggota keluarga mereka, hanna lalu duduk di sana, Nara lalu berdiri dan mengambil darko dari gendongan lexia.
"Dia baru bangun tidur ya." Tanya Nara kepada Hanna.
"Darko tadi kecapean bermain di mobil, jadi dia tertidur sebentar." Ucap hanna, pandangannya melirik kepada Xaphier yang terus-terusan mengetik di ponselnya.
Beberapa pelayan keluar dan menyediakan cemilan sore untuk mereka yang sedang duduk di ruang santai, mereka semua duduk sambil berbincang-bincang. Semuanya berkumpul dan entah mengapa hanna merasa canggung dengan situasinya di keluarga ini.
"Apa tadi dazon meneleponmu?" Tanya Xaphier tiba-tiba.
"Iya ayah, dia tadi meneleponku sebentar, katanya dia akan pulang ke Atlanta." Ucap hanna.
"Syukurlah hanna, masih sempat jika kita merayakan ulang tahun darko ketika dazon tiba nanti." Ucap Nara. Hanna mengangguk ragu sambil tersenyum canggung.
~
Pukul 7 malam, Hanna baru saja keluar dari kamar mandi, sambil mengeringkan rambutnya dan mengenakan bathrobe di depan cermin, dia kemudian beranjak ke tempat tidur, darko sekarang tidur bersamanya, dia tidak tidur lagi di box bayinya.
Hanna menepuk-nepuk lembut punggung putranya yang terbaring miring sambil mengecupnya, dia kemudian mengambil ponselnya dan memeriksa pesan di teleponnya, tidak ada pesan sama sekali ataupun telepon.
"Sudahlah, aku mau tidur." Ucap hanna. Suara-suara terdengar dari balkon kamarnya membuat hanna bergerak dan menatap ke arah balkon, dia kemudian berdiri di sana, mengintip dari balik balkon, hanna membukanya, hanya angin yang bertiup dan kegelapan yang menyambutnya, padahal sekarang belum terlalu malam, tetapi di luar sudah gelap gulita.
Hanna mundur dan menutup pintu balkonnya, dia berbalik dan sangat terkejut, karena di dalam kamarnya telah ada seseorang yang berdiri di sana, dia memakai mantel berwarna hitam pekat sampai ke lututnya, wajahnya pun tidak terlalu tampak. Dia berdiam di sana, lalu perhatiannya tertuju kepada bayi mungil yang sedang tertidur pulas.
Hanna melangkah sedikit mendekat, selama ini dia sangat berusaha keras untuk menemui riel, tetapi dia selalu menolak untuk di temui, tapi malam ini hanna tidak menyangka dia datang dan masuk begitu saja seperti angin, sampai-sampai hanna tidak menyadari kehadirannya.
"Kak Riel?" Ucap hanna memanggilnya. Dia terlihat tersentak dan tersadar dari pikirannya sendiri.
"Hanna? Bukan, kau adikku Ana."
Ucap riel pelan, suaranya terdengar teredam, tidak begitu jelas, karena dia mengenakan masker yang menutupi separuh wajahnya.
"Apa yang kau pikirkan Ana? Apa kau sudah siap untuk hidup seorang diri? Aku dengar hubunganmu dengan tuan dazon memburuk." Ucap riel tiba-tiba.
"Aku tidak bisa menjelaskan semuanya kak riel, aku....
"Jika saatnya mereka tidak menerima keberadaan Darko, aku akan selalu bersamamu, meskipun kau tidak melihatku seperti normalnya orang-orang yang nampak, tetapi percayalah selama aku masih hidup, aku akan melindungi kalian berdua." Bisik riel dengan suara tercekat dan tertahan.
Suara langkah kaki membuat keduanya berbalik menatap pintu kamar yang menutup. Riel segera keluar melewati balkon dan segera menghilang kembali di kegelapan malam.
Jantung hanna masih berdetak kencang, setelah sekian lama, dia ingin bertemu dengan kakak kandungnya, akhirnya malam ini mereka berdua bertemu, meskipum kakaknya memang tampak aneh, tetapi kedatangannya membuat hati hanna menghangat.
Pintu membuka tanpa di ketuk, hanna kembali menatap pintu itu dan menatap dazon yang masuk ke ruangannya. Mereka saling menatap.
"Kau belum tidur? Kenapa kau berdiri di sana?" Tanyanya, dazon segera menaruh tasnya di atas kursi dan membiarkan kopernya tergeletak begitu saja di atas karpet yang halus.
"Aku hanya baru selesai mandi." Ucap hanna, dia segera berjalan menuju ke tempat tidur, dazon memperhatikannya dari belakang, sudah begitu lama dia tidak memeluk tubuh istrinya, apalagi menciumnya, sikap dingin hanna membuat hasrat dazon menjadi padam, tetapi hari ini, melihat hanna berdiri di hadapannya membuat hasrat dan keinginannya kembali terbangun.
Dia segera melepaskan kemeja yang dia kenakan, dan melepasnya begitu saja, lalu mengambil handuk dan segera masuk ke kamar mandi.
Jantung hanna berdebar, dia lalu berbaring di samping putranya dan segera memejamkan matanya, sambil memeluk putranya.
Seakan hanna tengah bermimpi, tubuh hanna terasa bergerak udara dingin langsung menyentuh kulitnya, dan terdapat jejak-jejak basah di permukaan kulitnya, hanna mengeluh ketika sesuatu yang berat menindih di atas tubuhnya, hanna segera kembali sadar dari tidurnya.
"Apa, apa yang kau lakukan daz?" Ucap hanna mulai berontak dari serangan dazon. Suara geraman terdengar dari mulut dazon, dia menutup bibir hanna dan menciumnya dengan kasar, membuat hanna mengeluh.
"Kau mabuk, lepaskan aku daz !" ucap hanna mendorong sekuat tenaga dazon yang mulai bergerak di tubuhnya, hanna tidak siap dengan semua itu, dia terperangkap di kedua tangan dazon, tubuhnya mengkhianatinya, diapun mengikuti irama yang diberikan dazon untuknya, malam itu hanna tidak bisa menahan keinginan dazon, entah dia sadar atau tidak, tetapi dazon menghentak seluruh hasratnya malam itu kepada hanna.
~
Hanna membuka matanya, dan memegang kepalanya karena terasa berdenyut, dia menggerakkan tubuhnya, tetapi dia tidak bisa banyak bergerak, dia mencoba duduk dan menatap tempat tidur yang berantakan, pakaiannya tersebar di lantai di sembarang tempat. Selimut putih hanya menutupi separuh tubuhnya, dia terkejut dan menatap darko tidak ada di sampingnya.
Hanna segera bangkit dari tempat tidur, dia berjalan ke arah balkon, menahan nyeri yang terasa saat dia berjalan, sambil merekatkan selimut di tubuhnya. Matanya beralih kepada dazon, dia sedang menggendong putranya di taman, hanna melihat mereka dari kejauhan, tidak lama kemudian, Ibu dan ayahnya bergabung bersama dazon, mereka terlihat sedang berbicara serius di taman, entah apa yang mereka sedang bicarakan.
__ADS_1
~
"Kau sudah menemui hanna daz?" Tanya Xaphier.
"Ya dad, kami tidak berbincang terlalu banyak tadi malam." ucap Dazon. Nara sedang menggendong darko dan berjalan-jalan di taman, sementara dazon dan Xaphier berbicara di bangku taman.
"Bicaralah sekali lagi kepada hanna, tata dan perbaiki kembali hubungan kalian." Ucap Xaphier. Dazon menatap wajah putranya yang menatap taman tanpa ekspresi di wajahnya.
~
Pagi itu mereka semua sarapan di meja makan, semua telah duduk di sana, begitupun hanna, dia tidak begitu banyak bicara, dia hanya mekan, sesekali tersenyum mendengarkan cerita bibi lexia tentang putrinya Alexa.
"Oh ya kak dazon, kenapa foto kakak ada di sebuah bar bersama seorang wanita? foto kakak jelas terlihat di sosmed lho, aku pikir bukan kakak yang...
"Alice diam !" tegur Nara kepada putrinya, suasana nampak canggung ketika alice selesai berbicara.
"Oh, waktu itu rekan bisnisku sedang berpesta dan mengadakan pesta setelah selesai penandatanganan kontrak, wanita itu hanya rekan bisnisku, kami hanya minum sebentar." ucap dazon, dia sempat melirik kepada hanna yang masih makan sarapannya.
Semua terdiam, gara-gara alice dengan pertanyaannya membuat suasana lebih canggung lagi.
Hanna sebenarnya sudah melihat foto-foto itu, ada beberapa foto dazon dengan wanita cantik dengan wajah cantik khas wanita italia, mereka tampak akrab dan mereka sering berbincang bersama, terkadang ayah mertuanya juga berada di salah satu foto, mereka foto bertiga dan tampak akrab, di foto itu dazon tertawa lepas, terlihat bebas, sangat berbeda dengan dirinya yang sekarang berada di mansion, wajahnya terlihat serius, senyum tidak pernah terlihat di wajahnya yang selalu muram.
Hanna tidak mempertanyakannya, dia hanya diam sambil makan.
Hanna ingin tertawa, melihat dirinya sendiri dengan ironi, semalam mereka bercinta dan pagi ini dia mendengar kisah dazon bersama wanita italia, entah siapa wanita itu, tetapi dia selalu ada saat dazon juga ada di setiap post sosial medianya.
Mereka selesai sarapan pagi, Nara dan lexia sedang sibuk mempersiapkan pesta ulang tahun darko untuk dirayakan sore nanti, lexia dan Nara begitu antusias mempersiapkan semuanya.
Hanna terlihat melamun sambil memeluk dan menidurkan anaknya di ruang nonton, sambil memperhatikan orang-orang yang sibuk lalu lalang mempersiapkan acara pesta.
"Berikan darko kepadaku, kau bisa beristirahat di kamar." Ucap dazon tiba-tiba, dia berdiri di hadapan hanna.
"Tidak perlu, aku tidak apa-apa." Ucapnya dingin tanpa menatap dazon. Dia bersedekap menatap hanna dengan tajam.
"Apa sebenarnya yang terjadi padamu Hanna, kenapa kau bersikap seperti ini." Ucap dazon pelan. Wajahnya tajam menatap hanna.
"Kau sudah tahu jawabannya, aku tidak perlu menjelaskan lagi." Ucap hanna juga pelan tetapi dengan suara tertahan.
"Jawaban apa yang sudah aku ketahui? sikapmu yang terlebih dahulu berubah kepadaku, sebaik apapun aku mencoba menata kembali hubungan kita, kau akan selalu menolaknya, apa sebenarnya yang kau inginkan." Ucap dazon
Dazon terdiam, matanya hanya menatap langsung wajah hanna. "Aku tidak bisa berbuat apa-apa mengenai racun itu, kami sudah melakukan segalanya untuk mencari obatnya, aku hanya berharap darko tidak mengikuti jejak kakek dan pamannya, tetapi di dalam darahnya sudah terlanjur mengalir darah reaver, untuk itu sebagai anggota keluarga Caesaar kami harus berjaga-jaga." Ucap dazon.
Hanna menarik napasnya, keinginannya sudah bulat, dia akan mengatakannya sekarang, mungkin dengan jalan ini, dia dan anakya tidak akan tersakiti suatu hari nanti.
"Jika kau begitu takut nama besar Caesaar akan hancur karena kami, maka lepaskan saja kami berdua, sebaiknya kita berpisah." Ucap hanna, matanya tajam menatap dazon yang berubah mematung mendengar ucapannya.
Tanpa mereka berdua sadari, suara pertengakaran mereka cukup besar di ruangan itu, membuat orang-orang yang berada di dalam ruangan berbalik dan terkejut mendengarkan pernyataan hanna.
"Hanna apa yang kau katakan !" Ucap lexia.
Hanna segera berdiri, sambil menggendong putranya dan segera meninggalkan ruangan dan langsung menuju ke kamarnya. Hanna mengunci kamarnya, air matanya menetes di pipinya.
Suara ketukan pintu terdengar, bukan dazon, tetapi ibu mertuanya Nara. "Hanna sayang? kau di dalam, bisakah kita berbicara sebentar?" ucapnya. Hanna tidak sanggup berbicara lagi, jadi dia mengabaikannya dan duduk di tepi tempat tidur sambil menatap putranya bermain dengan botol susunya.
"Dia bahkan tidak menghentikanku darko, dia tidak menyusulku untuk menepis keinginanku berpisah dengannya, setidaknya dia harus datang untuk menggendong putranya.
"Sepertinya berpisah adalah jalan yang terbaik, dia tidak menginginkan kita berdua." bisik hanna. Hanna menghapus air matanya, dia berbaring di samping putranya dan tertidur lelap.
~
"Hentikan dia dazon, apa lagi yang kau tunggu," Desak Nara kepada putranya. "Nara sayang, biarkan dazon berpikir, jangan mendesaknya, biarkan dia memutuskan semuanya." Ucap Xaphier.
Dazon masuk ke dalam kamar di lantai bawah, dia tidak bisa tidur, dia memikirkan semua kata-kata hanna tadi siang. "Jadi, ini yang kau inginkan." Gumam dazon.
Dazon kembali bangun dari tidurnya, matanya tidak bisa terpejam sama sekali, tidurnya pun gelisah, dia akhirnya memutuskan bangun dan kembali ke ruangan kerjanya.
"Halo daz, kau tidak tidur?" Tanya Ax ketika dia hendak ke dapur, dia ingin membuatkan susu untuk putrinya.
"Aku tidak ngantuk." Jawab dazon.
"Pembicaraan ini tidak bisa dihindari dazon, apa kau akan mengabulkan keinginan hanna?" tanya Ax kepadanya. Dazon duduk sambil memandang foto mereka berdua yang mesra yang terpajang di atas meja kerjanya.
"Jika itu yang diinginkan oleh hanna, aku mungkin akan mengabulkan keinginannya." Ucap dazon. Wajahnya nampak lelah, dia membuka-buka berkas yang ada di hadapannya, menatap dengan pandangan kosong.
__ADS_1
"Kalian jangan memutuskan terburu-buru dazon, pikirkan kembali." Ucap Ax. Dazon mengambil napas panjang.
"Aku akan memikirkannya kembali."
Malam itu hanna terbangun, dia mendengar suara-suara dari putranya yang sedang mengoceh di sampingnya dengan suaranya yang lucu. Hanna tersenyum melihat putranya dan menciumnya. "Apa kau akan sanggup hidup tanpa kemewahan darko? setelah kita pergi dari sini, ibu mungkin akan sibuk mencari pekerjaan, setidaknya ibu masih memiliki tabungan sampai kau besar nanti." Bisik hanna kepada putranya.
~
~
Pagi-pagi sekali terdengar suara ketukan dari pintu kamar hanna, seorang pelayan mengetuk cukup keras agar hanna dapat mendengarnya.
"Nyonya, nyonya."
Suara pelayan itu terdengar teredam dari luar, hanna cepat-cepat membukanya, untung saja dia sudah bersiap-siap sejak pagi tadi begitupun dengan putranya.
"Nyonya, tuan Caesaar menunggu anda di ruang sarapan." Ucap pelayan itu. Dia kemudian pergi setelah menyampaikan pesannya. Mata hanna membulat sempurna.
"Kakek, dia datang?" Gumam hanna, dengan cepat dia menggendong darko dan segera turun ke lantai satu tempat berkumpulnya keluarga Caesaar.
Hanna membuka pintu dan di sambut dengan tatapan mata yang melihat kedatangannya, begitupun dengan dazon yang duduk di antara mereka. Hanna duduk cukup jauh dari dazon, dia memangku anaknya, entah apa yang akan di katakan Tuan Caesaar, jantung hanna seakan mau berhenti seakan menunggu vonis apa yang diberikan kepada mereka.
Dia memperbaiki kaca mata yang dikenakannya, tongkat berada di kedua tangannya, matanya lurus menatap hanna dan dazon. "Aku sudah mendengarkan semua mengenai apa yang terjadi, khususnya mengenai hubungan Dazon dan Hanna, dan kakek juga sudah mendengarkan alasan kenapa kalian berubah menjadi seperti ini." Tatapannya jatuh kepada dazon.
"Apa keputusanmu dazon?" Tanya tuan Caesaar.
"Aku akan mengabulkan keinginan hanna, jika itu yang dia inginkan." Ucapnya. Semua orang terdiam, mulut lexia sudah gatal sejak tadi, dia ingin berbicara tetapi daren menahannya, melarangnya untuk ikut campur.
"Hanna bagaimana denganmu." Tanya tuan Caesaar.
"Aku lebih memilih berpisah untuk melindungi putraku, aku tidak mau ketika dia besar nanti, dia mendengar orang-orang akan mengatakan di dalam darahnya terdapat darah seorang pembunuh, dan aku tidak ingin dia menghancurkan nama baik keluarga ini, jika memang anakku akan berubah seperti yang kalian takutkan, jadi sebaiknya dari awal kami lebih baik pergi." Ucap hanna dengan nada sinis.
Dazon berbalik, lalu menatap ke arah hanna, tatapannya tajam menusuk seakan dia ingin berbicara kembali, tetapi saat itu tuan Caesaar kembali berbicara.
"Kalau begitu alasan kalian, dan keputusan kalian sudah bulat, kakek akan menyetujuinya, sebaiknya kalian berpisah saja, tapi satu hal yang ingin kakek katakan, sebelum kalian betul-betul berpisah dalam arti berpisah secara hukum, maka kakek akan memberikan kalian kesempatan selama 3 bulan untuk rujuk kembali dan memperbaiki hubungan kalian, tetapi jika dalam 3 bulan hubungan kalian tidak membaik, maka tidak ada cara lain, kalian akan bercerai dan akan menjadi asing satu sama lainnya, yang mengikat kalian hanyalah darko, putra kalian berdua." Ucap tuan Caesaar.
"Oh ya hanna, kakek sudah mengatur tempat tinggalmu, aku dengar kau sedang mencari rumah, kau jangan mengkhawatirkan apapun, kakek akan mengurus segalanya dan seluruh kebutuhanmu, kau hanya harus fokus pada putramu. Semua orang, termasuk dazon terkejut dengan pengaturan dari kakeknya, Kini dia beralih kepada dazon.
"Dazon sebaiknya kau berlibur dulu, jangan mengurusi pekerjaan kakek di Milan, ambillah libur dan pikirkan semuanya." Ucapnya.
"Aku sudah terlalu tua untuk mengurusi rumah tangga kalian." gumam tuan Caesaar
Semua orang yang ada di sana menatap ke arah tuan Caesaar. "Ayah, apa yang ayah lakukan? kenapa ayah membiarkan mereka mengambil keputusan itu, apa tidak ada jalan lain." Ucap Lexia. Matanya terarah kepada Xaphier.
"Katakan sesuatu Xaphier, kenapa kau diam saja." Ucap lexia marah.
"Dazon dan hanna telah mengambil keputusan, mereka sudah memikirkan semuanya dengan matang, aku sudah memberikan waktu kepada mereka, tetapi hal ini yang terjadi."
"Jangan bilang karena wanita italia itu? jika saja kau menyetujui perpisahan dazon dan hanna karena wanita italia itu, aku tidak akan membiarkan wanita itu masuk ke dalam keluarga kita, aku akan mengusir dazon jika dia berani membawa seorang wanita lain masuk ke dalam keluarga Caesaar." Serunya.
"Astaga lexia, apa maksudmu, wanita italia yang kau maksudkan itu rekan bisnis keluarga kita, dia juga sudah menjadi tunangan thomas, bagaimana bisa dia bersama dengan dazon." Ucap Xaphier sambil menggeleng, daren lalu menarik lexia agar duduk kembali, lexia kemudian mendengus sambil menatap tajam ke arah kakaknya.
~
Hanna sengaja berkumpul bersama yang lainnya, dia tidak mau kembali ke kamar dan bertengkar dengan dazon, sejak selesai pesta sederhana yang di persiapkan bibi lexia karena ulang tahun putranya, matanya melirik kepada dazon, dia duduk di sana dengan tatapannya yang tajam. Dazon terus menatap hanna.
Pukul 10 malam, semuanya telah kembali ke kamar mereka masing-masing, hanna segera menggendong putranya yang sejak tadi tertidur di pelukan bibi lexia.
Hanna naik ke lantai dua dan membuka kamarnya, sebelum pintu menutup, dazon kembali membuka kamar itu lalu berdiri di sana dengan wajah menyeringai menyeramkan.
"Kau menuduhku akan menyakiti putraku kelak? kau bilang akan melindungi darko dariku, aku ini ayahnya hanna, kau tidak bisa mengatakan bahwa aku akan melukai putraku sendiri, akupun ingin melindunginya." Ucap dazon dengan matanya yang memerah di bakar amarah.
Hanna begitu lelah, sejak tadi dia ingin tidur karena sudah ngantuk, ketegangan tadi pagi membuat energi di tubuhnya seakan terkuras. "Aku tidak mau bertengkar sekarang, aku mau tidur." Ucap hanna, dia melewati dazon begitu saja dan mengganti pakaiannya, kemudian dia hendak ke tempat tidur di samping putranya.
Dazon menarik tangan hanna dan menyentaknya hingga dirinya tertarik dan membentur tubuh dazon.
"Apa yang kau lakukan, lepaskan tanganmu." ucap hanna mencoba melepaskan genggaman erat dazon di lengannya.
"Baik, aku akan mengabulkan keinginanmu, kita akan berpisah, tetapi aku tetap akan datang mengunjungi putraku, dan kau tidak bisa menghalanginya."
"Kata-kata itu yang kutunggu darimu selama ini dazon dan kau baru mengatakannya sekarang, darko butuh ayahnya, saat dia sakit, apa kau pernah ada untuknya? apa kau pernah lihat darko tertawa? berapa kali kau menggendongnya saat usianya baru beberapa bulan, jadi kau masih ingin tanya alasan kenapa aku ingin berpisah denganmu." Ucap hanna dengan napas tertahan.
Tangan dazon terlepas dari menggenggam tangan hanna, dia memijat-mijat kepalanya dan menatap putranya dari kejauhan, dazon berdiri mematung di sana, perlahan dia kemudian keluar dari kamar, ketika dia baru menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya selama ini, hanya karena darah sialan yang mengalir di tubuh anaknya.
__ADS_1
Langkahnya terasa berat, dia berjalan di koridor gelap menuju ke ruangannya, kali ini dia salah, dia sama sekali tidak menyadari kesalahannya, dan alasan mengapa hanna bersikap dingin dan menjauh darinya.
Dazon masuk ke dalam ruangan kerjanya, dia membuka lemari dan mengambil sebotol minuman dan meneguknya sekaligus dari botolnya tanpa menggunakan gelas. Apa dia begitu bodohnya sampai-sampai dia terpengaruh dengan ucapan mereka semua? hari di mana darko lahir, dia pernah berjanji untuk menjaga putranya agar dia jauh dari sikap mengerikan kakek dan pamannya, sekarang bagaimana? Hanna ingin berpisah dengannya, dan dia akan jauh dari putranya.