
Thomas Flashback
Setelah merasa yakin, bahwa pria itu adalah yang selama ini menjadi pelaku pembunuhan, maka tentu saja Thomas tidak akan membiarkannya begitu saja, dia harus meringkusnya agar pembunuh itu keluar dari nama besar Caesaar, Sebelum polisi dan detektif mencium jejak pelaku dan mengarah pada keluarga Caesaar dan akan melibatkan pekerjaan tersembunyi mereka yang tidak di ketahui orang-orang.
Sebagai kepala keamanan yang menjunjung tinggi integritas dalam menjalankan tugas, Thomas akan mengambil tindakan tegas, meskipun nyawanya akan menjadi taruhannya, untuk itu dia akan melakukan penangkapan pada pelaku itu seorang diri, karena dia belum memiliki cukup bukti untuk menangkapnya Secara terang-terangan dan meringkusnya, jadi dia harus menjebaknya, agar dia mengakui kesalahannya.
Ada dua orang yang di curigai olehnya, Paulo dan Riel, keduanya memiliki postur tubuh yang sama, tinggi yang sama, hanya saja kepala Paulo tidak memiliki rambut, dia berkepala plontos sejak dulu, sedangkan Riel berambut cepak, dengan selalu menampilkan wajah sedatar mungkin, dia sangat jarang bercengkrama dengan sesama pengawal, Riel selalu terlihat menghindari komunikasi yang tidak berarti.
Thomas tahu bahwa si pelaku selalu memakai tudung hitam yang menutupi seluruh kepalanya. Sehingga tidak ada seorangpun yang bisa melihat wajahnya.
Malam itu di ruang makan para pengawal.
Thomas masuk ke dalam ruangan makan, semua pengawal duduk di sana sambil menikmati santap malamnya.
"Paulo, Riel, tuan Dazon memerintahkan kita untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh kepada seluruh kamar pengawal yang ada di sini." Ucap Thomas.
"Benarkah? Jam berapa?" Tanya Paulo.
"Periksa mereka setelah makan malam, jangan biarkan mereka kembali ke kamar mereka masing-masing dulu." Perintah Thomas.
Paulo segera mengumpulkan para pengawal-pengawal itu bersama Riel, sementara itu, thomas seorang diri masuk ke kamar-kamar pengawal melakukan pemeriksaan, ini hanyalah alasan thomas agar dia bisa mendapatkan bukti yang menguatkan, bahwa dia memang pelakunya.
~
Kamar itu terletak paling sudut di lantai 3, sekarang ini seluruh pengawal berada di ruang pemeriksaan, jadi semua kamar itu tidak berpenghuni. Thomas membuka kamar milik Riel, sejak awal, dia mencurigai riel sebagai pelaku pembunuhan berantai itu.
Thomas menutup pintu itu perlahan, matanya mencari-cari bukti sekecil apapun yang bisa menjadikan pria itu sebagai tersangkanya.
Kamar itu tampak rapi, sama halnya dengan semua kamar-kamar seorang pengawal, satu tempat tidur, lemari pakaian, dan lampu tidur di atas meja kecil.
Thomas membuka laci-laci meja itu, dan menatap seluruh isinya, tidak ada yang mencurigakan, sisir, cincin berinisal huruf T, pena dan note kecil.
Dia kembali menutup meja itu, matanya kembali menatap tempat tidur berukuran satu orang, dia kemudian mengintip di bawah tempat tidur, dan kosong tidak ada apapun.
Bau yang menyengat seperti parfum atau apa saja wewangian tidak ditemukan oleh thomas. Sama sekali tidak ada jejak yang membuktikan bahwa Riel adalah pelaku berantai itu.
Thomas hendak keluar kamar, dia sudah memegang gagang pintu itu, tetapi matanya menangkap sesuatu yang membuatnya berhenti bergerak.
Di sepanjang pintu itu terdapat banyak cakaran begitu panjang, bukan hanya satu tetapi garis panjang hingga ke bawah, Thomas mundur beberapa langkah, dia hendak menatap dengan jelas cakaran di sepanjang dinding itu. Pintu tiba-tiba membuka, Thomas mengalihkan perhatiannya kepada orang itu, yang tidak lain adalah Riel.
"Anda berada di sini sir." Ucapnya pelan.
"Ya, aku sudah memeriksa kamar yang lainnya dan terakhir, aku harus memeriksa kamarmu." Ucap thomas tenang, tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali.
"Saya sudah seleai, kembalilah ke tempat paulo." Perintahnya.
Thomas melangkah perlahan, dia melewati Riel, dan melirik kepadanya, tiba-tiba saja kekehan mengerikan terdengar dari suaranya.
"Sepertinya kau sudah terlalu banyak tahu," ucapnya. Thomas hendak berbalik tetapi pria itu lebih cepat, dia menyerang Thomas langsung di perutnya berkali-kali.
__ADS_1
~
01.00 Malam hari.
Dazon berada si ruangannya, dia masih betah berada di ruang kerjanya, dia sedang memikirkan mengenai penyerangan terhadap Thomas. Pria yang menyerang thomas sangat berbahaya, meskipun belum ditemukan bukti kuat yang menunjukkan bahwa dia pelaku pembunuhan berantai itu, tetapi penyerangan kepada thomas sudah menjadi bukti bahwa pria itu harua dengan cepat di singkirkan.
Apalagi pria pembunuh itu berada di pentahousnya lalu berpura-pura menjadi seorang pengawal.
Dazon kini beranjak dari tempat duduknya, dia lelah dan ingin segera kembali ke kamarnya. Dazon masuk ke ruang utama, untuk menuju ke kamarnya.
Ruangannya begitu gelap, cahaya yang masuk hanya bantuan yang berasal dari kaca jendela yang terbentang luas dari luar. Dia menutup pintu ruangannya dan berjalan menuju kamarnya.
Seseorang sembunyi di belakangnya, mengenakan tudung hitam menutupi wajahnya, dia menatap dazon yang kini berdiri di depan kamarnya. "Ck, gadis itu menguncinya lagi, apa dia tidak lelah, mengunci terus menerus, aku kan punya kunci cadangan." Sebelum dazon hendak mengeluarkan kuncinya, pintu kamar terbuka, hanna membuka pintu kamarnya, tetapi apa yang dilihatnya sangat membuatnya terkejut dan membelalakkan matanya, menatap sosok itu di belakang dazon.
"Ada apa?" Ucap dazon tidak mengerti, tanpa menunggu lagi, Hanna menarik tangan dazon keras, hingga dia masuk ke dalam kamar dan menabrak tubuh hanna.
Pintu mentutup dengan kencang, hanna cepat-cepat menguncinya. Jantungnya berdetak kencang.
"Hei, ada apa? Kenapa kau membanting pintu." Hanna menarik tangan dazon dan meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. Kedekatan mereka sangat intens, dazon menelan ludahnya kasar, tubuhnya menjadi panas tak terelakkan dia menarik wajah hanna dan melepaskan ciumannya yang selama ini di tahannya. Dia kemudian menjelajahi bibir itu, tiap kali selalu hinggap di kepalanya tanpa di minta, kini dia bisa meraup sebanyak mungkin dari gadis ini, suara hanna tertahan, dia lalu memukul-mukul dada dazon, agar dia melepaskannya.
Hanna memaksa melepaskan pertautan bibir mereka, dia tidak menyangka di situasi seperti ini, dazon malah menciumnya dengan intens dan begitu mendesak.
Hanna mencoba mendorong dazon sekuat tenaga, akhirnya ciuman mereka terpisah dengan paksa, hanna menatap dazon dengan marah. Dia hendak mengumpat dan memukul-mukul tubuh dazon, tetapi suara tapak kaki dari luar pintu kamar membuat keduanya berbalik, dazon mendesis tajam, dengan cepat dia menyerbu pintu dan hendak membuka pintu untuk mengejar pelaku itu.
"Ja..jangan, bagaimana jika dia menyerangmu? Kita tidak tahu dia memegang senjata atau tidak." Ucap hanna memegang lengan dazon dan menahannya untuk membuka pintu. Dazon melepaskan pegangan hanna di tangannya dan menatapnya dengan ucapan yang menyakinkan.
"Aku akan baik-baik saja, Kau tunggu di sini, jangan kemana-mana, apalagi keluar." Ucap dazon, dengan cepat dia keluar dari kamar, dan mengejar pelaku itu, bisa-bisanya pria pembunuh itu dengan seenaknya keluar masuk di daerah kekuasaan miliknya, dazon tidak akan membiarkannya.
"Sial !" Ucap dazon, dia kemudian berjalan ke ruangannya dan menekan intercome dengan marah. "Kumpulkan seluruh pengawal." Perintah dazon.
Seluruh pengawal, kini berada di Hall khusus, semuanya sudah berkumpul dan berbaris dengan rapi, tidak lama kemudian, dazon tiba, dengan wajah yang mengerikan terpeta di wajahnya.
Dia kemudian memberikan isyarat kepada paulo, lalu muncullah hasil rekaman cctv di aula itu dalam ukuran besar. Para pengawal masih bingung, tetapi setelah menyaksikan dengan seksama, ketika tuannya baru saja keluar dari ruangannya, seseorang tengah berdiri di belakangnya, dengan memakai hoddie berwarna hitam dan menutupi seluruh wajahnya.
Mereka semua terkejut, mereka saling melirik satu sama lain, dan saling bergumam-gumam.
"Rekaman cctv ini baru saja terjadi, kalian tahu maksudnya? Seseorang telah menyelinap di antara kalian semua, menyamar menjadi seorang pengawal dan bergabung di antara kita semua." Ucap dazon.
"Aku ingin mengatakan langsung kepada pelaku yang tengah bergabung dan menyamar sebagai pengawal. Sebaiknya kau pergi dari kediamanku sebelum aku menangkapmu, karena ketika aku menangkapmu di tanganku, jangam harap kau akan bertahan hidup." Gelegar dazon.
Dazon memberi isyarat kepada Loue, dia adalah kepala pelayan di penthouse itu, untuk melakukan pemeriksaan kembali kepada setiap pengawal. Dazon meninggalkan ruangan itu.
Tatapan matanya seakan mengejek kepada tuannya, dia sudah cukup lama mengabdi kepada keluarga ini, dia sama halnya dengan para pengawal lainnya, setia dan menghormati keluarga besar Caesaar, tetapi dia hanya memiliki satu kekurangan, yaitu dia memiliki jiwa yang rusak, sakit tidak terperih, nampak dirinya menahan segala pemberontakan yang bersemayam di dalam jiwanya, dia ingin mengehentikan keinginan iblisnya untuk membunuh, tetapi dia tidak mampu menahannya, dan bukan hanya itu saja, dia harus berada di penthouse ini, harus ! Dan dia harus menyingkirkan siapa saja yang mencurigainya.
~
Napasnya naik turun dengan teratur, hanna tertidur dan telah di buai mimpi, dia tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi, meskipun rasa penasarannya sangat kuat, tetapi akhirnya dia tertidur dengan sembarangan, tanpa mengenakan selimut dan bergelung di tepi tempat tidur.
Dazon sejak tadi telah kembali, dia menatap hanna yang tertidur nyenyak dan tidak menyadari kedatangannya. Dazon melepaskan pakaiannya, dia kemudian memutuskan masuk ke dalam kamar mandi agar tubuhnya yang lengket menjadi segar.
__ADS_1
Dia keluar dari kamar mandi dan matanya langsung tertuju kepada hanna yang bergelung di atas tempat tidurnya.
"Apakah aku harus memberitahunya bahwa sejak awal kamarnya sudah tersedia tepat di samping kamarku?" Ucap dazon, pandangannya masih betah berlama-lama di wajah hannanyag sedang tertidur pulas.
Sejak kedatangan hanna, dazon telah memerintahkan pelayannya untuk menyiapkan kamar untuk hanna, tetapi saat dia datang, wanita itu lebih memilih melabuhkan pilihannya di kamar milik dazon, dan tentu saja keberuntungan ini membuat dazon tutup mulut.
Entah mengapa kehadiran Hanna di dekatnya membuat dirinya nyaman tanpa terganggu sedikitpun, keberadaannya mengobati jiwa dazon yang letih karena sibuk mengurusi pekerjaan-pekerjaannya.
Dazon duduk di tepi tempat tidur, dia kemudian memutuskan berbaring tepat di sebelah hanna, dazon menatap wajah wanita yang selalu menolaknya ini, dia kemudian berlama-lama menatap bibirnya yang setengah terbuka, "Sebaiknya bibirmu kau tutup rapat hanna, atau kau akan berakhir besok pagi di pelukanku tanpa mengenakan sehelai benangpun." Gumam dazon.
~
Matahari sudah menyinari ruangan itu, pagi hari di tengah kota yag sibuk sangat sulit mendengarkan alarm alam yang indah, kicauan burung tidak kau dapatkan di kota yang penuh dengan gedung tinggi menjulang. Meskipun mentari telah memberikan kehangatannya, tetapi sosok hanna melabuhkan dirinya di sumber kehangatan yang lebih dekat darinya, hanna merasakan sesuatu menjalari punggungnya dengan perlahan, belaian menggelitik itu membuat hanna membuka matanya secara perlahan-lahan.
Tatapannya langsung menghadap pada dada bidang lebar di depannya, seinci lagi bibirnya akan mendarat tepat di dada dazon. Hanna mendongakkan kepalanya, lalu menggertakkan giginya.
Lelaki ini mengambil kesempatan dengan sesenaknya, penthouse ini sangatlah luas dan memiliki begitu banyak kamar dan ruangan, mengapa dia harus memilih tidur bersama dengan dirinya?
Hanna bangun dari posisi tidurnya, dia kemudian turun dari tempat tidur dengan pelan, agar pria iti tidak terbangun.
Hanna mengambil napas, kemudian kembali menatap dirinya, syukurlah, pakaiannya masih lengkap, pria itu tidak menyentuhnya selagi dia tidur dan terlihat rentan.
~
~
Jennifer tengah duduk seorang diri di salah satu restaurant terkenal di Atlanta, selain dia ingin membelikan makanan untuk Daneil, dia juga memiliki janji bertemu dengan Ketty, jennifer merasa sangat bersalah atas peristiwa waktu itu, dia juga menyesal telah memperkenalkan Dazon kepada Ketty, padahal dazon rupanya telah memiliki seorang wanita pilihannya sendiri.
Langkah kaki itu membuat Jenni berbalik, dia kemudian memberikan senyum cerahnya kepada ketty.
"Aku pasti sudah mengganggumu dari pekerjaanmu ketty," Ucap jennifer dengan suara permohonan maaf.
"Jangan khawatir Jenni, lagi pula aku memutuskan tidak akan menyerah begitu saja." Ucapnya dengan percaya diri.
"Apa maksudmu ketty?" tanyanya.
"Tenanglah jenni, aku memutuskan untuk merebut dazon dari wanita itu, dan kau tahu? aku sudah memeriksa latar belakang gadis itu, dan kau pasti sangat terkejut, pekerjaan wanita itu adalah seorang penjual kopi truck di pinggir jalan, kau tahu? aku sangat shock ketika membaca berkas itu."
"Penjual kopi?" ucap jenni.
"Ya, dia wanita penjual kopi di sekitar Complex city, aku bertanya-tanya bagaimana dazon bisa menemukan wanita seperti itu? apa dia kebetulan mampir di kedai kopinya? dan wanita itu mulai merayunya, aku tidak menyangka dazon tertarik dengan wanita seperti itu." ucapnya menggeleng menyatakan ketidaksetujuannya.
Wajah jennifer menyiratkan keterkejutan yang nyata, dia tidak menyangka ketty yang sudah lama berteman dengannya, juga memiliki karakter serta masalah seperti halnya Rose, merendahkan seseorang dan tidak menerima kenyataan bahwa dazon telah memilih wanita yang tepat untuknya, dia dan rose memiliki ego yang tinggi, dan tidak menerima kenyataan yang ada.
"Terserah padamu ketty, tetapi aku hanya mengingatkan satu hal padamu sebelum kau memutuskan lebih jauh keputusanmu, aku tahu karakter dazon, jika dia memutuskan suatu hal maka dia tidak akan melepaskannya, kau harus tahu ketty, jika kau ingin bertarung dengan wanita itu bersiaplah untuk terluka." Ucap jenni, dia mengambil minuman di depannya sambil menatap ketty.
Dia tersenyum meyakinkan. "Dazon Caesaar tidak memilihku hanya karena dia belum mengenalku lebih jauh, aku yakin, jika aku mendekatinya sedikit, dia akan tahu wanita yang pantas untuknya." Ucap ketty percaya diri.
"Aku hanya ingin meminta kau mendukungku jenni, aku akan berusaha menjadi wanita yang terbaik untuk dazon, dan akan menyingkirkan wanita tidak pantas itu." ucapnya.
__ADS_1
Jenni hanya terdiam, tidak mengiyakan permintaan ketty, dia kemudian merenung, apakah dia sama seperti dulu? memiliki teman yang salah yang hanya memanfaatkannya, hanya untuk dekat dengan teman-teman tampannya.