
Lexia berlari kencang melihat seseorang mengejarnya, dia melempar tasnya dari jendela besar di rumah itu, sekelompok orang berbaju hitam lari dengan mengejar lexia sambil berteriak keras.
Lexia terus berlari, mobil kusam itu sudah menunggunya di sudut gang jalan, ketika dia sampai dia melempar tasnya dan melompat ke dalam mobil yang setengah berjalan, setelah lexia betul-betul masuk ke dalam, mobil itu kian melaju begitu kencang hingga suara decitannya dapat di dengar.
Mereka yang berada di dalam mobil saling memandang, Edo tengah menyetir dengan wajah begitu serius.
"Sial ! Aku ketahuan. Umpat lexia.
~
~
Flashback
"Kau tidak bercanda kan Lea?"
Dia memutar matanya, "aku bukan tipe orang yang bercanda tentang kematian seseorang lexia, kau saja tidak tahu, memangnya kau kerja di mana?" Tanyanya.
Lexia tidak menjawabnya, tangannya bergetar, apakah ini yang di maksud oleh William? Sebuah rahasia? Jadi mereka semua tahu tentang Kematian nenek Rossie tapi mereka tidak memberitahuku.
Wajah lexia begitu marah, kepalanya terasa tertusuk-tusuk hingga terasa sakit, "berikan nomor ponsel Edo, sekarang !"
Setelah pertemuannya dengan Lea, lexia berjalan dan kembali ke ruangan itu, dia duduk di samping daren dengan menahan kemarahannya lexia lalu duduk di sana, dia masih mendengar percakapan antara Daren dan tuan Robert.
"Kau baik-baik saja lovely?" Suara Alvin membuat lexia tersadar.
"Apa? Ya, aku baik-baik saja." Ucap lexia perlahan.
Lexia mengerling daren, pria ini membohongiku, dia pasti mengetahui tentang nenek Rossie yang sudah meninggal, dan dia tidak memberitahuku.
Setelah percakapan yang panjang akhirnya pertemuannya berakhir, mereka menuju ke tempat parkiran, Alvin selalu mengerling kepada lexia dia mengetahui ada sesuatu yang tidak beres tentang lexia.
"Kau baik-baik saja lovely?" Tanyanya.
"Em ya, aku baik-baik saja."
"Kita akan bertemu lagi." Ucapnya.
__ADS_1
Daren mengetahui ada yang tidak beres dengan lexia dia begitu diam.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya.
"Ya, aku baik-baik saja." Ucap lexia datar.
Lexia tidak menatapnya, sungguh hati lexia begitu terluka mengetahui nenek yang di sayanginya telah meninggal, dia sungguh bertahan di rumah itu dan tidak membiarkan siapapun mengetahui penyamarannya tetapi sekarang tidak ada gunanya lagi, orang yang disayangi lexia satu-satunya telah pergi ironisnya dia tidak mengetahuinya sama sekali, semuanya gara-gara pria egois ini.
Lexia berpikir bahwa daren tidak akan memberitahukan kematian neneknya kepadanya karena jika lexia mengetahuinya dia akan berpikir ulang untuk melanjutkan menjadi lovelia walaupun dia sudah menandatangani kontrak perjanjian dengan Daren.
"Kau kenapa?" Tanya daren.
"Tidak apa-apa." Ucap lexia.
"Kau berbohong lexia, ada apa?"
Lexia melengkungkan bibirnya, berbohong? Bukankah kau yang berbohong kepadaku? Pikir lexia menatap marah pada daren.
"Sepertinya otakmu sedang bekerja keras, apa yang kau pikirkan?"
"Bahkan isi pikiranku pun kau harus mengetahuinya? Apa yang aku pikirkan bukan urusanmu." Ucap lexia jutek
"Katakan padaku ada apa lexia?" Dia menarik dagu lexia hingga ia menatap mata tajam daren di hadapannya.
"Sudah kubilang aku tidak apa-apa, kenapa kau begitu memaksaku?" Bentak lexia kepada Daren.
Daren tersenyum miring, "kalau kau tidak mengatakan padaku dan mencoba menyembunyikan sesuatu padaku, kau akan lihat bagaimana jika aku marah lexia." Ancam daren
"Kau hanya pandai mengancam dan...
Kalimat lexia terpotong, daren tengah memagut bibir lexia melumatnya tanpa ampun, tubuh lexia terdorong ke belakang jok kursi hingga lehernya terasa sakit karena tekanan dari daren.
Daren memperdalam ciumannya lalu mulai menjalankan tangannya ke tubuh lexia membuat lexia mendesah kuat, penolakannya begitu kuat dia mencoba mendorong daren sekuat mungkin tetapi tubuh kerasnya masih menghimpitnya di sana.
Daren akhirnya melembut dan melepaskan ciumannya kepada lexia hingga ia mendorong keras tubuh daren.
"Kau brengsek daren." Napasnya lalu memburu, dia menahan air matanya yang ingin tumpah, dan menatap benci kepada daren.
__ADS_1
Daren menyandarkan kepalanya di jok kursi mobil lalu mencoba mengendalikan dirinya yang sangat berhasrat kepada lexia. Jantungnya berdetak begitu cepat, dia mengintip ke arah lexia, lalu melihat bibir bengkaknya bergetar karena ulahnya.
Tanpa mengatakan apapun lagi daren kini melanjutkan perjalanannya dengan diam. Mereka telah tiba di kediaman Burchard, lexia keluar dari mobil dengan berjalan cepat, dia sangat marah.
"Lexia tunggu!" Ucap daren. Lexia tidak mau mendengarkan teriakan daren dia terus berlari hingga sampai di depan lift yang membuka dan dengan cepat menutupnya tanpa membiarkan daren masuk.
Bunyi lift yang berdentang membuat lexia keluar dari lift, dia berlari dan segera masuk ke dalam kamarnya.
Lexia memegang kepalanya, lalu mulai berjalan bolak balik, "Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa lagi tinggal di tempat ini, alasanku berada di sini semula karena aku benci dan muak hidup diantara sampah-sampah tapi alasan lainnya karena nenek Rossie dan sekarang Nenek Rossie sudah tidak ada."
Lexia menggigit kuku jarinya, dia tidak perduli dengan kontrak sialan itu, dia ingin keluar dari tempat ini.
Suara ketukan terdengar dari pintu kamar lexia, membuat lexia terkesiap.
"Lexia buka pintunya." Ucap daren masih dengan suara biasa saja.
Lexia tidak menggubrisnya, dia duduk di salah satu kursi dan merasakan denyutan di kepalanya.
Dia menutup matanya agar kepalanya yang pusing dapat reda, suara pintu yang dibuka tidak pula di perdulikan lexia dia masih berbaring di atas sofa.
Daren berjalan dengan marah menuju lexia, dia menarik lengan lexia.
Tubuh lexia tersentak dia masih menutup matanya. Daren kemudian menyadari kondisi lexia, dia lalu memegang kening lexia.
"Ck, Sepertinya kau demam." Ucapnya.
Daren mengangkat tubuh lexia menggendongnya ala bridal style membuat lexia begitu terkejut.
"Apa yang kau lakukan turunkan aku." Ucap lexia, daren tidak memperdulikan kata-kata lexia, dia membawa lexia di atas tempat tidurnya lalu membaringkannya di sana.
"Aku akan memanggil dokter, jangan banyak bergerak kau sedang demam, ngomong-ngomong sikapmu aneh sekali lexia."
Daren duduk di tepi tempat tidur, mereka saling memandang, daren memegang pipi lexia dan mengelusnya hingga mencapai rahangnya.
"bagaimana bisa tubuhmu terkena demam secepat ini lexia? lihat, tubuhmu begitu panas, dan kau sudah makan banyak sewaktu di restaurant."
Lexia menutup matanya, dia tidak mau meladeni pembicaraan dengan daren, bisa saja mulutnya akan terlepas begitu saja lalu meneriaki daren tentang kematian neneknya dan akan menghancurkan rencananya untuk pergi dari sini.
__ADS_1
Sejak saat lexia tahu tentang kematian neneknya dia tidak memiliki alasan lagi untuk tinggal di tempat itu, dia begitu marah pada daren dan ingin melarikan diri darinya meskipun dia sudah menandatangani kontrak perjanjian dengan daren tetapi lexia tidak perduli.