The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part dazon : 56


__ADS_3

Wanita itu keluar dari gedung hotel, sambil memaki-maki dan teriak histeris, orang-orang menatapnya, tetapi dia tidak perduli sama sekali.


"Sial ! Kacau, mengapa kalimat ejekanku tidak mempan, seharusnya dia malu, sebagai wanita terpandang, dia telah menampar seseorang yang tidak bersalah, tentunya dia akan malu dan menggunakan uang untuk menyelesaikannya, tetapi wanita itu tidak ! Dia terlihat seperti biasa menghadapi hal seperti ini, sepertinya aku harus merubah taktikku." Ucapnya.


Mercedes mewah telah berada di sana, menjemputnnya.


"Bagus, marco sudah tiba, aku tidak ingin jalan dan menunggunya datang dengan keadaan kacau seperti ini."


"Masuk sayang, kau kelihatan cantik dan seksi dengan warna merah menutupi wajahmu." Ucap pria itu terkekeh.


"Berisik, ayo jalan !"


~


~


Hanna mengucek matanya, menutup satu matanya karena silau dari matahari pagi, dia kemudian menoleh ke arah dazon yang tentu saja masih tertidur nyenyak, semalam dia pulang telat lagi karena pekerjaan. Meskipun begitu, dia tidak akan melupakan untuk menyentuh hanna, meski selarut apapun dia pulang. Jadi semalam, dia baru melepaskan tubuh Hanna ketika sudah lewat tengah malam, tubuhnya masih sakit dan nyeri, tetapi hanna sudah tidak begitu merasakan sakitnya, dia kemudian bangun dan mengenakan bathrobenya.


Hanna menuju ke kamar mandi, kemudian membersihkan dirinya. Bunyi ponsel milik dazon membuat hanna seketika mencari sumber suara.


"Ponsel daz, di mana? Berisik sekali." Ucap hanna, dia lalu menuju ke atas meja di samping tidur dan menatap nama yang tertera di sana.


"Thomas?"


Hanna mengangkatnya, dia ingin memberitahukan jika dazon masih tidur, dia bisa meneleponnya lagi ketika dia sudah bangun.


"Tuan, saya sudah menyelidiki keberadaan Riel, dia tidak menyerahkan diri ke kantor polisi, kami sudah memeriksa cctv di tempat terakhir dia berada, dia terlihat masuk ke sebuah mobil milik seorang pria, kami belum mengetahui siapa pria itu, tetapi kami akan tetap menyelidikinya tuan, halo...."


Hanna cepat-cepat menutup ponselnya, jantungnya berdegup kencang. Ternyata kakaknya terlunta seperti itu, hanna begitu sedih mendengarnya, belum pernah sekalipun dia bertemu riel dengan status sebagai adiknya, hanna cepat-cepat menyimpan ponsel milik dazon dan segera menuju ke kamar mandi.


Dia berdiri sambil menatap dirinya di depan cermin, dari penjelasan tuan Caesaar, ayah kandungnya terkena racun yang mengerikan, sehingga dia berubah menjadi sosok iblis yang haus akan darah, bukan hanya ayahnya saja, tetapi kakak kandungnya pun memiliki penyakit yang sama, hanna memegang wajahnya, apakah di dalam darahnya terdapat monster yang masih tertidur? Hanna menutup matanya karena takut.


"Aku tidak apa-apa, selama ini aku baik-baik saja, tidak ada yang salah dengan diriku." Gumam hanna di depan cermin kamar mandi.


~


Mereka sekeluarga telah kembali ke mansion Caesaar yang berada di Georgia, setelah pesta pernikahan Dazon dan hanna, kali ini pengantin baru itu belum berencana melakukan perjalanan pergi berbulan madu, di karenakan kesibukan dazon, sehingga mereka mengurungkan niatnya dan hanya bersantai ketika akhir pekan saja, atau ketika dazon memiliki waktu senggang saja.


Hanna berada di dapur, dia tidak bisa tinggal di kamar saja, dia turun ke lantai satu, di sana sudah ada bibi lexia dan sang ibu mertua Nara, serta fairley dan jennifer. Mereka semua tersenyum ketika melihat Hanna berjalan ke tempat mereka berkumpul.


"Kemarilah hanna, kami berencana akan membuat cake, kau pasti suka memasak kan?" Tanya lexia.


Hanna mengangguk, dia berkumpul di sana, mendengarkan cerita bibi lexia yang membuat hanna selalu tertawa ketika dia berbicara.


Ketika hanna berjalan menuju ke dapur, dan mencari beberapa bahan di sana, tiba-tiba tiga orang pelayan menghampirinya dan menghalangi jalannya.

__ADS_1


"Bukannya kau hanna Tan?" Tanya salah seorang pelayan bernama megan, memiliki rambut ikal kemerahan yang menjuntai di keningnya.


"Ya, aku hanna Tan, ada apa?"


Seorang pelayan bernama megan tersenyum dengan mencela, "Kau sekarang menjadi istri dari tuan Dazon? Membuatku ingin tertawa saja, ayo teman-teman." Wanita berambut ikal berwarna merah mempelototi hanna dan segera pergi dari sana.


Hanna menatap mereka bertiga, dan mengingat mereka, salah satu dari ketiganya adalah wanita yang dulunya suka menyuruh-nyuruhnya untuk mengerjakan tugasnya selama di mansion, hanna menarik napasnya, dia tahu, sesuatu seperti ini akan terjadi, dia harus kuat menghadapinya, wanita seperti mereka harus di hadapi sebagaimana status yang di pegangnya sekarang, dia sangat kagum dengan bibi lexia, dia kuat, cantik dan tidak takut apapun, meskipun tentu saja dia juga menyukai mertuanya, dia wanita lembut dan cantik, tetapi sekarang ini yang hanna butuhkan adalah kekuatan untuk menghadapi orang-orang yang tidak menyukai keberadaannya sebagai anggota keluarga besar Caesaar.


~


"Ck, ck kau lihat wanita yang tadi itu? sekarang dia menjadi istri tuan dazon." Ucap salah satu pelayan, mereka bertiga sedang mengintip dari balik tembok, salah satu dari pelayan itu mendengus.


"Kau ingatkan gadis berusia 16 tahun yang pernah bekerja di mansion Tuan Caesaar di Oklahoma?" Tanyanya.


"Ya dia itu, wanita itu yang sekarang menjadi istri tuan dazon, aku sangat heran, bukannya aku menyalahkan tuan dazon, tetapi mengapa harus si hanna? Wanita yang pernah menjadi pelayan di sini dan kita harus melayaninya? ck ck, sepertinya aku tidak sudi." Ucapnya dengan mata tajam begitu jengkel.


"Kenapa bisa? Kalau dia bisa merebut hati tuan dazon, akupun juga bisa, apalagi aku lebih berpengalaman, apalagi dalam masalah ranjang, lihat saja tubuh si hanna, ck tidak ada isinya, bahkan bisa dibilang tubuhku lebih menggiurkan." Ucap pelayan tadi.


Tiba-tiba saja mereka berhenti berceloteh ketika mereka menyadari ada seseorang yang berdiri di belakang mereka.


"Sekarang dia adalah bagian dari keluarga besar Caesaar, jika sedikit saja ada ketidaksopanan dari kalian bertiga kepada Nona Hanna, kalian harus segera pergu dari mansion ini." Ucap Fairley sambil melipat kedua tangannya menghadap mereka.


"I..iya Nyonya, kami hanya kaget melihat hanna, dulu dia kan memiliki status yang sama dengan kami, dulunya dia juga seorang pelayan." Ucapnya protes.


Fairley tersenyum tidak percaya. "Kau, siapa namamu?" Tanyanya.


"Bagus, aku akan mengingat namamu megan."


"Baik Nyonya." Dia kemudian terang-terangan mendengus di depan fairley, merasa lebih hebat di bandingkan fairley, mereka para pelayan suka bergosip mengenai istri-istri dari tuan muda di kediaman ini, mereka menganggap, semua wanita yang menjadi istri mereka berasal dari status sosial yang rendah.


"Ada apa fairley?" Tanya lexia.


Lexia menatap ketiga pelayan yang kini menunduk ketika lexia datang.


"Cuma masalah ketidaksopanan yang mereka tunjukkan kepadaku dan kepada Hanna, ibu." Ucap Fairley.


Lexia mengangkat alisnya. "Masalah ketidaksopanan? Kenapa?"


"Mereka mengatakan hanna juga dulunya pembantu di mansion ini dan mereka tidak bisa menerimanya, karena status hanna yang menurutnya lebih rendah darinya." Ucap fairley. Mereka semua tersentak kaget, mendengar ucapan fairley.


"Oh ya? Aku tidak tahu ada masalah seperti itu, jadi kalian merasa lebih tinggi dan hebat ya? Apa betul begitu?" Tanya lexia dengan suara sinis mencela.


Ketiga pelayan itu menunduk sambil mengernyitkan alisnya, mereka saling menyenggol kiri dan kanannya.


"Ya, nyonya kami tidak setuju, kami tidak ingin melayani wanita itu, dia di sini dulunya adalah seorang pelayan, sama seperti kami." Ucap megan sang pelayan itu dengan nekat.

__ADS_1


Lexia ketawa tertahan, dia menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Kalau begitu kalian bertiga angkat kaki dari mansionku, pelayan kurang ajar seperti kalian harus menerima pelajaran sebelum pergi dari sini, Heh, sial ! Mengapa banyak sekali wanita j4lang yang kuhadapi akhir-akhir ini fairley? Tetapi tidak apa, hal itu membuatku semangat." Ucap lexia tersenyum jahat.


Mata mereka membelalak, "Anda tidak bisa lakukan seperti ini nyonya, kami memiliki kontrak kerja di sini, dan....


Lexia malas mendengarnya, dia mengangkat tangannya menyuruhnya diam, kemudian mengambil ponselnya. "Jenet, urus ketiga pelayan tidak tahu diri ini, dan segera usir dia dari mansionku, periksa semua barang-barang mereka, jangan sampai dia mencuri barang-barang di mansion, lakukan sekarang !" Geram lexia.


Ketiganya berubah menjadi pucat pasi, wajah mereka masih menunduk dan melirik kepada megan dengan tatapan benci, ini semua karena dia terlalu iri dan menghasut mereka berdua, akhirnya mereka juga ikut-ikutan.


Kepala pelayan wanita bernama jenet tergopoh-gopoh datang, bibirnya setipis silet ketika melihat ketiga pelayan pembangkang itu.


"Masih banyak pelayan yang berdedikasi dan memiliki sopan santun yang butuh bekerja di mansion, pecat mereka bertiga, dan periksa seluruh barang-barang mereka, hari ini juga ! Saya tidak menerima ketidaksopanan terhadap anggota keluargaku dari pelayan seperti kalian yang berada di mansionku." Teriak lexia.


"Baik Nyonya."


Wajah ketiganya pucat pasi, tubuh mereka menjadi lemas dan tidak mampu mengangkat kaki mereka, mereka ingin menangis, karena bekerja di mansion ini, mereka di bayar dengan upah cukup tinggi, mereka butuh kerja keras dan begitu sulit di terima bekerja di sini, mereka semua tidak menyangka akan menghadapi kejadian seperti ini hanya karena iri dan tidak menerima status hanna.


Mereka bertiga angkat kaki sambil tertunduk.


~


~


Beberapa hari ini thomas mendapatkan informasi mengenai keberadaan Riel, dia sepertinya berada di sebuah laboratorium milik teman tuan Caesaar yang berkebangsaan india. Dia percaya, mampu membuat obat penawar dari racun yang bisa menyembuhkan kegilaan Riel.


"Kita harus tahu mengapa Riel bersusah payah ingin mencari obat untuk menyembuhkan dirinya, kalau hanya untuk dirinya sendiri, sepertinya dia tidak begitu perduli, apakah keinginannya itu ada hubungannya dengan adiknya?"


Menurutku semua itu ada hubungannya dengan Nyonya Hanna, dia tidak mungkin mau bersusah payah mengobati dirinya yang sudah terlanjur menghabisi banyak nyawa, kalau bukan untuk adiknya." Ucap Paulo.


"Kalau seperti itu keadaanya, kita harus segera melaporkan kepada Tuan Dazon, kita harus berjaga-jaga."


"Kemungkinan racun itu, mengalir di tubuh Nyonya Hanna 80 persen, kita harus mendapatkan bukti terlebih dahulu sebelum melaporkannya kepada tuan Dazon." Ucap thomas.


~


~


Di dalam sebuah kaca besar yang di desain agar tidak mudah pecah dan juga anti peluru, di dalam sana, Riel telah berdiri, berteriak-teriak histeris sambil memukul-mukul kaca yang terhubung dari luar. Dia terus memukul-mukulnya.


Saat ini kecenderungan iblis dari tubuhnya ingin memberontak, dia kesakitan, terlihat jelas dari wajahnya.


Prof Vandash menelitinya dari luar kaca, dia mengobservasi setiap gerakan dan suhu tubuhnya.


"KELUARKAN AKU ! KELUARKAN AKU."


"Tidak bisa Riel, kau jangan dulu keluar, kau sendiri yang meminta agar di kurung di dalam sana agar kau tidak lari keluar dan menyerang orang-orang." Ucap dokter Vandash.

__ADS_1


Riel, menahan dirinya dia membungkuk dan menekuk tubuhnya, kini dia mulai bernapas normal, dia kini mengingat adiknya, dia harus kuat, harus menahannya agar prof itu dapat menemukan obat yang mampu mengobati putri atau putra Hanna, dia tidak ingin keponakannya nanti akan berakhir seperti dirinya.


__ADS_2