The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Perseteruan 3


__ADS_3

Ungkapan Xaphier yang menyatakan keinginannya untuk menjadikan Nara wanitanya membuat Nara menolak mentah-mentah keinginan Xaphier itu.


"Apa maksudmu dengan menjadi wanitamu?" Nara tidak suka dengan kata-kata Xaphier, seakan dia bisa melakukan apapun kepadanya dengan memberikan uang?? Ck tidak akan, aku bisa menjadi sekretaris pribadinya tetapi tidak untuk menjadi wanitanya seakan-akan dentuman di telinganya mengatakan bahwa dia adalah wanita yang seenaknya akan diperlakukan hanya demi uang.


Nara menggigit bibir ranumnya, merasakan hembusan panas di tengkuknya karena ulah xaphir, mereka berdua berdansa di dance floor di tengah-tengah banyaknya orang yang sedang berdansa. Tangan panjangnya membelai punggung mulus dan putih pucat Nara.


Kau sengaja menyentuhku." Geram Nara. Sentuhan intens tangan daren membuat Nara berjengit, remasan di bokongnya membuatnya terlonjak. "Apa yang kau lakukan !" Bentak Nara. Senyum Xaphier masih belum menghilang, dia terkekeh dengan tingkah lakunya yang seperti hidung belang.


"Membosankan ! Begini caramu berdansa denganku? Beberapa kali kau menginjak kakiku Nara? Apa kau sengaja?"


Nara menatapnya dengan jengkel. "Sudah aku bilang aku tidak pernah datang ke pesta seperti ini sebelumnya, apalagi berdansa seperti ini tentu saja aku bisa melakukan kesalahan." Ucap Nara mulai berani menjawab pertanyaan Xaphier.


Xaphier tergoda untuk lebih meningkatkan gangguannya kepada Nara. Dia ingin gadis ini merona hanya untuk dirinya, hanya perasaan itu yang ada pada Xaphier, meskipun kata suka atau apapun itu masih belum jelas baginya tetapi yang Xaphier inginkan hanyalah gadis yang sedang berdansa di pelukannya bersemu hanya kepadanya. Mereka masih berdansa dengan diiringi musik klasik yang slow, seakan terhipnotis akan ketampanan Xaphier, Nara menatap mata safir itu dengan pandangan sayu, dirinya terbawa perasaan aneh.


Mata sayu itu seakan menggoda Xaphier, dia cukup kuat untuk menahan dirinya untuk tidak mengklaim gadis di hadapannya begitu saja, mata biru yang dalam itu memandangnya dengan sayu. "Sial !" Umpat Xaphier dia merengkuh Nara dan menariknya kasar ke sudut ruangan yang cukup sepi lalu mencium Nara disana.


~


"Bagaimana perasaanmu sayang? Kau sudah baikan?" Tanya daren menatap lexia yang masih terbawa emosi karena Melda. Daren membelai wajah lexia dan menyapu bibirnya. "Meskipun kau tampak cantik jika marah tetapi aku lebih memilih kau tersenyum manis kepadaku." Bisik daren memberikan kecupan manis di sudut bibirnya, lexia menatapnya lalu memberikan senyum tipis kepadanya.


"Aku terlalu emosi Daren, melihat wanita tua itu menggodamu membuatku tidak tahan untuk memberinya pelajaran." Ucap lexia memeluk Daren dan menyandarkan kepalanya di tubuhnya.


Lexia mengerling Ax yang masih tertidur pulas di atas tempat tidur dan memeluk aroma Daren yang menenangkannya.


"Mulai hari ini kau harus hati-hati sayang, setidaknya satu pengawal harus berada di dekatmu jika kau ingin bepergian, melihat wajah wanita itu, dia sangat menaruh dendam kepadamu." Ucap Daren.


"Bukan hanya dia saja yang menaruh dendam kepadaku Daren, tapi aku..aku juga begitu membencinya, aku akan melakukan segala cara agar wanita tua itu menghilang dari kehidupan kita.


"Jadi? Kau sudah selesai marah? Bolehkah kita melanjutkan lagi kegiatan kita yang tertunda tadi?" Tanyanya.

__ADS_1


"Bukankah kita baru saja selesai Daren? Dan ini masih siang." Lexia menyipitkan matanya menatap wajah Daren yang memasang wajah keinginan, dia tersenyum miring, dengan sekali angkat lexia sudah berada di atas tempat tidur dalam kuasa Daren yang tidak pernah puas memiliki tubuh lexia.


~


Xaphier memojokkan Nara di dinding yang dingin mulai memutar bibirnya dan mencecapnya dalam kuasanya, bibir Nara sudah tidak bisa menerima serangan kasar Xaphier di bibirnya, dia membutuhkan asupan oksigen, napasnya tidak kuat lagi, tubuhnya ambruk di tubuh Xaphier.


"Kita pulang?" Tanyanya. Nara mengangguk patuh, dia tidak bisa mengangkat kakinya seakan telah berubah menjadi jelly.


Xaphier menyibak rambut Nara yang terlihat berantakan akibat ulahnya, lalu menarik dagunya yang lancip memajukan bibirnya mendekati wajahnya, ciuman itu perlahan di bibir Nara, mata birunya memandang Xaphier, seperti menginginkan sesuatu selain dari ciuman.


Sentuhan Xaphier mengembalikan kesadaran Nara, dia mendorong tubuh Xaphier dan menutup bibirnya yang sudah membengkak, dia pergi begitu saja meninggalkan Xaphier yang masih berdiri di sana.


"Aku gila, aku pasti sudah gila, mengapa aku terpesona dengan ciuman pria itu, seakan diriku harus menerima ciumannya. Nara berdiri di dekat parkiran berdiri di sana, Nara menggosok kedua lengannya yang dingin karena gaun yang dikenakannya tidak bisa menghalau angin yang menembus tubuhnya.


Tangannya di pegang erat, dia berbalik menatap Xaphier yang mengejarnya tidak lama ketika Nara berlari darinya. "Kau mau kemana? kau tidak bisa kemana-mana Nara, apa kau mau lari dengan gaun yang kau kenakan saat ini? kita pulang, masuklah ke dalam mobil." perintahnya.


Nara tidak berkata-kata, dia terus memalingkan wajahnya, tidak mau menatap wajah Xaphier yang sedang menyetir, meskipun terkadang Nara mengerlingnya, dia tampak biasa saja padahal dia sudah mencuri untuk kedua kalinya bibirku.


"Bu..bukankah jika aku menyetujui untuk menjadi wanitamu, sama saja aku menjadi j4l4ngmu? kau akan memperlakukanku seenakmu?" tanyanya. Xaphier terkekeh mendengar penuturan Nara.


"Kau cepat mengerti Nara, tapi kau mengerti maksud menjadi wanitaku sesungguhnya bukan? menjadi wanitaku berarti kau harus menyerahkan semuanya, termasuk jiwamu dan tubuhmu dan sebaliknya apapun yang kau mau aku akan mengabulkannya." ucap Xaphier.


Siapa saja wanita yang mendengar penawarannya tentu saja akan menyetujuinya dengan sekali anggukan, pikir Xaphier. Tidak ada yang pernah menolak keinginannya itu.


"Aku cukup bekerja menjadi sekretaris pribadimu saja, aku..aku sudah cukup untuk itu, dengan gaji itu aku masih bisa memenuhi kebutuhan orang-orang di rumahku." ucap Nara.


Nara bergidik sewaktu Xaphier mengutarakan keinginannya menjadi wanitanya, apa dia bilang?? dengan menjadi wanitanya harus menyerahkan jiwa dan tubuh? pria konyol, dia pikir dia itu siapa? jika sekali lagi dia menciumku aku akan menamparnya dan lari dari penthousenya. pikir Nara.


"Benarkah?" ucap Xaphier, dia memiringkan bibirnya ke samping dengan senyum licik, 'Apa sekarang ini aku mendengar sebuah penolakan?' pikir Xaphier. Wanita kecil ini sedang menolakku?' Xaphier terkekeh membuar Nara berbalik dan menatapnya.

__ADS_1


'Kita akan lihat Nara sejauh mana kau akan menolakku, tidak ada yang berani menolakku dan aku tidak menerima kata penolakan.'


~


Wanita itu lagi-lagi terbangun di kamar hotel dengan bau tengik minuman keras semalam, dia tidur dengan muntahan di mana-mana tidak ada seorangpun yang mengurusnya tanpa imbalan yang besar yang diberinya. Matanya mengerjap-ngerjap dia melihat pantulan bayangannya di depan cermin masih dengan pakaian lengkap yang di kenakannya semalam.


"Bartender sialan, aku mabuk di sampingnya dengan sengaja dan membuat diriku rentan agar dia bisa mengambil keuntungan dariku, agar memilikiku semalam tetapi dia hanya membaringkan aku di tempat tidur lalu pergi begitu saja !" Napasnya meninggi, dia membuka pakaian minimnya berwarna merah menantang di depan cermin dan mengamati bentuk tubuhnya.


Tubuhku masih seksi, tidak kalah seksi dengan wanita-wanita muda di luar sana, kulitku masih begitu kencang, aku selalu merawat tubuhku dan memberikan suntikan dua kali sebulan agar kulitku tetap kencang, apalagi yang kurang !!"


Dia menatap ketelanjangannya dan berjalan begitu saja ke kamar mandi, menyalakan shower dan membasahi seluruh tubuhnya yang berbau muntahan. "Pria sialan itu akan datang padaku siang ini, lihat saja !" ucapnya. Tiba-tiba ingatannya membawa Melda kembali dengan kata-kata lexia hari itu, dia membasahi wajahnya di bawah shower dengan bibir yang berubah sangat tipis.


'Apa kau buta ?! Atau kau sengaja membutakan matamu, lihat wajah keriputmu itu, jadi kau pikir kau pantas? bahkan jika kau bersanding dengan pengawal rendahan sekalipun kau sama sekali tidak pantas, lihat dirimu yang sudah menua itu, wajah keriputmu itu tidak akan bertahan lama dengan hanya polesan luar, bodoh !'


"Gadis kurang ajar itu akan menerima pembalasanku, kau akan kehilangan semuanya, Sebelum dendamku terpenuhi, aku tidak akan kemana-mana, aku akan tetap di kota ini sampai aku puas menyiksamu lexia." ucap Melda, buku-buku jarinya mengetat mengingat bagaimana sombongnya lexia dihadapannya merasa menang atasnya.


~


Hari itu Lovelia akan segera kembali ke mansion ibunya, dia sudah ada di pelataran parkir ditemani oleh Sebastian dan kakeknya, lovelia masuk ke mobil dengan wajah murung, Alvin yang ditunggunya tidak datang mengantarnya, dia mendengar jika alvin mengantar wanita yang dijodohkan untuknya ke bandara pagi ini, wajah lesu lovelia terlihat dengan jelas oleh kakeknya, dia tahu penyebabnya tetapi dia tidak akan membahasnya.


"Jaga kesehatanmu Lovelia, dan hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu." ucap tuan Robert.


"Baik kakek, aku akan menghubungimu." ucap lovelia tersenyum tipis menatap kakeknya dari kejauhan.


Perjalanan kali ini cukup panjang yang ditempuh oleh lovelia, dia akan ke Manhattan, butuh beberapa jam hingga dia tiba di tempat ibunya. Ketika dia tiba di bandara menunggu beberapa jam dengan segala pemeriksaan barulah lovelia menunggu sebentar sebelum masuk ke pesawat.


Matanya menangkap sosok Alvin tengah berbincang dengan seorang wanita cantik, rambut coklat bergelombang dengan wajah putih dan tubuh yang seksi dan terlihat dewasa, betul-betul berbeda dengannya yang memiliki tubuh sakit-sakitan dan tidak terlihat seksi dan dewasa sama sekali. Lovelia membuang mukanya, dia menepis segala kegelisahannya, mungkin ini lebih baik, jika aku menjauh dari Alvin maka sedikit demi sedikit aku akan melupakannya. pikir lexia yang sudah duduk di pesawat.


~

__ADS_1


Lexia sedang duduk seorang diri di perpustakaan, sementara Daren bersama Ax di kamar, mata lexia menerawang memandangi semua jenis-jenis buku yang ada di sana, tiba-tiba ide untuk masuk ke kamar wanita itu membuat lexia bangkit dari tempat duduknya, tanpa ragu sedikitpun dia berjalan dan mendekati kamar yang tertutup itu. Lexia ingin tahu apa yang di sembunyikan wanita itu, dengan perginya Melda bukan berarti lexia tidak berhati-hati dan lengah karena wanita itu memiliki banyak intrik dan rahasia. Lexia membuka pintu kamarnya dengan suara pintu yang berdecit dia ingin melihat rahasia apa yang di sembunyikannya.


__ADS_2